
"Sesuai namanya. Dia berhasil menarik saya sampai titik ini."
"Harusnya Anda konsultasi ke psikolog, bukan pada saya, Pak."
"Tapi dia Nayanika, adikmu. Apa yang harus saya lakukan? adakah tempat yang lebih tepat untuk saya kunjungi?"
"Adik saya masih sangat kecil. Dia bukan wanita istimewa yang layak Anda inginkan. Masih banyak di luar sana yang lebih pantas."
"Tapi dokter Arga. Saya menyukai sesuatu yang bernilai tinggi."
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain terdiam. Cerita yang baru saja Abang perdengarkan, membuat aku benar-benar membeku.
"Apa dia laki-laki yang waktu itu membuat kesal setengah mati?" tanya Abang begitu penasaran.
Mengedipkan mata perlahan adalah jawaban dari pertanyaan Abang padaku. Entah kenapa, tapi setiap bercerita tentang dia, aku selalu terpaku. Ada rasa yang tidak dijelaskan dengan lisan. Tidak bisa aku ungkapkan karena aku sendiri tidak mengerti apa yang harus dijelaskan.
"Namanya Juna." Dua kata yang berhasil keluar sejak tadi. Sejak aku mendadak bisu.
"Kami semua tahu siapa dia. Meski Abang tidak begitu jauh mengetahuinya karena Abang ini, kan' beda profesi. Abang dokter bukan pengusaha. Tapi Abang sedikit banyak tahu dari Kakak dan Papi."
Tenggorokanku seperti tercekik. Juna yang selalu di khawatirkan Kakak, ternyata dialah orang yang memiliki cincin ini. Ada apa dengan hidupku? Kenapa Juna tiba-tiba bersikap seperti ini? Apakah dia jatuh cinta padaku? Sejak kapan? Dan kenapa? Apa selama ini dia mengawasi ku? Dengan kekuasaan yan dia punya, tidak ada yang tidak bisa dia lakukan. Banyak sekali pertanyaan dalam benakku
"Dek, Juna bahkan lebih tua dari kakak. Tapi sifat mereka jauh berbeda. Juna itu selalu menghukum orang tanpa belas kasih."
"Contohnya?"
Abang menoleh dan menatap tajam. Seakan dia bertanya padaku 'apakah aku tidak percaya tentang sosok Juna yang sering di bicarakan orang?' dan jawabannya adalah iya. Sebelum melihat dengan mata, telinga tidak bisa di jadikan satu-satunya hal yang bisa dipercaya.
"Sudah beberapa kali dia memecat karyawannya karena hal sepele. Selain itu, dia pernah masuk penjara meski tidak lama karena jaminan."
"Karena apa?"
__ADS_1
"Dia pernah menghilangkan nyawa seseorang. Meski tidak sengaja, tapi dia mengakui tidak pernah menyesal atas tindakannya itu."
"Dia memberikan cincin keluarganya padaku, Bang."
"What?"
Wajah Abang semakin terlihat cemas begitu dia melihat cincin yang melingkar di jari manisku.
"Lepas, Dek. Jangan kamu pake."
"Tapi aku ingin. Entah kenapa, tapi hatiku dan tubuhku tidak bisa menolak kehadirannya."
"Dek?"
Dengan kedua tanganku, kubelai wajah Abang yang sangat aku kasihi. Berusaha tersenyum agar dia tidak semakin cemas. Aku takut. Dada yang terasa sesak ini tertahan sejak tadi. Sekuat tenaga aku mengendalikannya. Jangan sampai mereka semakin cemas.
Bukan karena aku memiliki perasaan yang tidak bisa dijelaskan untuk Juna. Toh aku sadar, tidak ada pilihan lain selain menerima dengan baik niatnya. Kalau aku menolak, tidak ada jaminan dia akan menerima begitu saja bukan?
"Dia baik, Mi. Mungkin, dia kejam pada mereka yang melakukan kesalahan. Aku tidak melakukan apa-apa. Mami dan Papi jangan cemas. Kakak dan Abang juga tenang aja. Lebih baik, kita fokus pada acara pernikahan Abang dua pekan lagi."
"Sayang. Kamu itu anak paling kecil kami, tapi kedewasaan kamu tidak bisa di ragukan lagi."
"Nak. Jika kamu menolak, kami tidak masalah. Kamu–"
"Akan jadi masalah, Pi." Aku memotong ucapan Papi yang belum selesai. "Kita tidak tahu apa yang bisa dia lakukan jika aku menolak. Lagi pula, dia belum pasti melamarku bukan? dia hanya memberikan sebuah cincin."
"Sayang ... beberapa keluarga memiliki sebuah tradisi dari leluhur mereka yang tidak bisa dipermainkan. Salah satunya cincin keluarga. Cincin yang hanya diberikan kepada keturunan mereka yang dianggap berharga. Juna memilikinya dan dia memberikan itu padamu. Itu sudah cukup jelas apa niatnya."
Kami semua diam karena paham apa yang sedang kami bicarakan saat ini. Aneh memang, saat semuanya begitu tegang, aku sendiri tidak merasakan apa-apa. Tidak berkeringat. Dadaku merasa biasa saja. Pun tidak sesak nafas. Dalam pikiranku hanya satu. Bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Meski kalian begitu takut dan khawatir. Aku sendiri merasa baik-baik saja. Bahkan tidak ada satu tetespun keringat yang keluar. Aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Kami tidak akan mengorbankan kamu, Nak. Tidak pada juna. Papi tidak perduli meski usaha papi hancur."
"Jangan, Papi. Perusahaan Papi saat ini dibangun dengan penuh pengorbanan. Dia berdiri di atas air mata dan kesepian ku selama ini. Jangan hancurkan itu semua, jika tidak, maka akan menjadi percuma aku sabar selama ini. Percuma aku berusaha menerima setiap rindu yang hanya menjadi debu dalam ruang hatiku."
Mami terlihat begitu bersedih. Air matanya luruh. Dia sesenggukan menangis dalam dekapan Papi.
"Kami minta maaf, Nak. Maaf karena telah mengabaikan kamu selama ini. Mengabaikan kalian bertiga."
"Tidak apa-apa, Papi. Aku mengerti kenapa kalian seperti itu. Hasilnya pun kami nikmati bersama. Sekarang, jangan terlalu pikirkan masalah aku dan juna. Kita harus fokus pada pernikahan kakak dan Lidya."
Tidak ada lagi yang berbicara. Dengan sedikit mengusap sudut matanya, Kakak pergi meninggalkan kami. Disusul Papi dan juga Mami.
"Dek. Apa yang harus Abang lakukan sekarang?" dia tampak frsutasi.
"Bang ... aku masih di sini. Bukan alien atau pun iblis dari neraka yang akan menjadi suamiku. Dia sama-sama manusia. Tenanglah."
"Ayo, sebaiknya kita tidur. Abang akan menemani kamu sampai pagi."
"Tidak usah, Bang. Malam ini aku akan mencoba tidur sendiri. Nanti aku akan menyusun ke kamar Abang jika masih tidak bisa tidur juga."
"Kamu yakin?"
"Ya. Pergilah."
Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan lisan. Sebaik apapun lidah menyampaikan, rasa yang ada di dalam hati tidak bisa dibagi. Mereka hanya akan merasa terluka dengan rasa yang aku pun tidak bisa mengerti.
"Bagaimana aku bisa menjelaskan, jika aku sendiri saja tidak mengerti sama sekali."
Hati ini selalu berharap. Tubuh ini tidak bisa menolak. Hanya akal yang sedikit merasakan ragu. Ragu padanya. Pada sang penguasa yang berkuasa. Atas hidupku dan banyak kehidupan yang lain.
Penguasa jatuh cinta. Mencintai gadis biasa yang semestinya tidak pernah dia inginkan. Dari semua bunga, kenapa dia menginginkan bunga kecil seperti diriku?
__ADS_1
Haruskah aku bahagia, atau haruskah aku berduka. Mendapatkan cinta dari penguasa.