Menantu Buangan

Menantu Buangan
Rumah dalam lukisan


__ADS_3

*Sayang, aku di depan, buka pintunya* pesan singkat dari dian.


*Malas, buka saja sendiri, kan ini rumah mu* balas amel masih dengan mood yang belum stabil.


* Sayang, aperteman ini memang milik ku, tapi kau yang jadi penghuninya* dian.


*Trus* amel.


*Tidak sopan rasanya jika aku menyelonong masuk. Apa lagi nanti bisa timbul fitnah* dian.


*Iii, selalu saja dia pandai merayu ku* gerutu amel. Lalu berjalan membuka pintu.


*Taraaaaa, ini untuk mu sayang* Dian menyodorkan sebuket bunga mawar pada amel.


*Kau menyogok ku, tidak mempan* judes amel melipat kedua tangannya di dada dan melihat ke arah lain.


*Sayang, sudah 8 jam kau marah pada ku, apa kau tak sayang pada ku lagi* dian berkata dengan nada sedih.


*Baru juga 8 jam, belum 8 tahun kan* amel masih jutek.


*Sayang, kau ini kenapa sih, kan aku sudah bilang, aku akan tetap menikahi mu, walaupun tanpa restu mama* tegas dian lansung pada intinya.


*Aku gak mau jadi duri dalam keluarga harmonis kalian* amel.


*Itu lagi yang kau katakan. dia tak penting bagiku dalam hal restu kita. Kau lupa sayang, dia hanya ibu sambungku* dian.


*Tapi dia yang merawat dan membesarkan mu bi* amel.


*Ulangi sayang* dian.

__ADS_1


*Apa nya* amel.


*yang di ujung kalimat mu tadi* dian.


*Yang mana* amel pura pura lupa kalau dia memanggil bi pada dian seperti biasanya. (Panggilan sayang).


*Ya sudah, lupakan, sekarang siap siap lah* dian.


*Malas, aku gak mau oergi kemanapun hari ini* amel.


*Sayangku, papa sudah menunggu kita di bawah* dian.


*Apa? Jangan bercanda bi* amel kaget.


*Aku serius sayang. Makanya cepat bersiap* dian.


*Emang mau kemana* amel.


Sesampainya di bawah lebih tepatnya di lobi aperteman Amel merasa sangat gugup melihat tuan baskara yang tengah duduk memainkan hp nya di sebuah sofa yang ada di sana.


*Aku akan di apain* bisik amel pada dian.


*Di makan hidup hidup* balas dian.


*Iiii takut, aku gak mau. Aku ke atas lagi ya* amel memang polos mau saja di kerjai oleh dian.


*Hahaha, udah gak usah takut, kamu polos amat sih. Ya gak mungkin lah papa makan kamu. Emang papaku kanibal* dian.


Mereka mendekat ke baskara.

__ADS_1


*Pa,* dian.


*Ha, ya* tuan bascara.


*Om, selamat pagi, maaf jadi menunggu lama* amel menyapa dengan menundukkan kepala.


*Tidak apa nak, lagian kami yang menggangu mu pagi pagi begini* ucap tuan bascara lembut.


*Kita berangkat sekarang ya, takut kesiangan* ajak tuan baskara Dian dan amel mengikuti langkahnya.


Di perjalanan, amel tak banyak bicara, hanya dian dan papanya yang sibuk bicara membahas pekerjaan mereka.


*bi, kita mau kemana sih ini* tanya amel berbisik pada dian yang ada di sebelahnya.


*Aku juga gak tau sayanh. Sudah duduk manis saja ya* dian.


1 jam perjalanan, Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang bisa di katakan minimalis namun elegan karena bergaya ke eropa eropaan.


*Ayo nak, kita turun. Seseorang telah menunggu kita di dalam sana* ajak baskara pada amel. Yang masih berdiri bingung melihat rumah yang cantik itu, di samping mobil.


*Sayang* dian mengejutkan amel.


*Ah ya* amel.


*Papa dari tadi bicara pada mu* bisik dian.


*Maaf om, amel gak dengar. takjub liat rumah nya, sangat cantik dan mirip bangat dengan yang ada dalam lukisan amel waktu masih SMP dulu.* junur amel tak enak hati pada baskara.


*Tidak apa nak, ayo masuk* lagi lagi baskara memanggilnya dengan kata nak.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2