Mencari 9 Istri Kaisar

Mencari 9 Istri Kaisar
Bab 24 cincin semesta dan kemarau Desa Jinwu


__ADS_3

Kerajaan Han Barat di pimpin oleh seorang Raja yang arif dan bijaksana, Raja Bao Han terkenal dengan kebaikan hatinya yang sangat menyayangi keluarga dan mengayomi rakyat.


Raja Bao Han duduk di ruang rapat mengunakan baju kebesaranya, sebuah baju berwarna merah bercorak emas yang rumit dengan dalaman warna kuning dan mengenakan penutup kepala dengan lambang naga kecil yang sedang menengadah membuka mulutnya.


''Aku mendapat laporan dari mentri kerakyatan, kalau Desa Jinwu mengalami kekeringan dan keracunan. Kirim bantuan dan seorang tabib ke desa itu'' perintah Raja Bao ke mentri mentrinya.


Di Ruang rapat terdapat sebuah meja panjang dengan 34 kursi di tengah ruangan.


Raja Bao Han duduk di kepala meja sedangkan 12 mentrinya duduk di kanan kiri meja.


Setelah mendapat laporan mentri kerakyatan tentang kondisi Desa Jinwu, Raja Bao memerintah mentri mentrinya untuk membantu desa itu.


''Bagaimana jika kita mengirim Dokter Jiyu untuk pergi ke Desa Jinwu, dia bisa membantu di sana'' usul mentri perdagangan.


''Tidak. Setatus Dokter Jiyu saat ini adalah guru alkemi dari Sekte Naga Sejati, kita tidak bisa meminta begitu saja untuk membantu. Apalagi dia juga seorang pendatang kita harus memberinya hadiah untuk itu'' sangah mentri lainya.


''Aku akan memberikan hadiah untuk bantuanya, jadi hubungi saja Dokter Jiyu'' kata Raja Bao.


''Yang mulia Dokter Jiyu adalah orang asing kita tidak tau asal usulnya, bagaimana jika dia meminta sesuatu yang merugikan kita'' kewatir salah satu mentri.


''Dia seorang alkemi yang berbakat dan jenius kemampuanya sangat di perlukan, jadi selagi kita bisa memenuhi dan membuatnya di pihak kita bukankah itu lebih baik'' kata Raja Bao.


Jiyu sedang minum teh jahe di dalam cincin semesta yang di dalamnya berisi sebuah dunia kecil.


Dunia dalam cincin semesta di baratkan sebesar pulau jawa, di dalam cincin semesta terbagi menjadi 3 area.


Area pertama area berbahaya disana ada sebuah gunung mati yang di selimuti kegelapan berisi monster dan segala sesuatunya mengandung racun.


Area ke 2 adalah area abu abu disana terdapat monster dan tumbuhan yang dapat membunuh manusia, tapi area abu abu tidak terlalu berbahaya.


Dan terakhir area ke 3 adalah area paling aman, di area ke 3 ini ada Istana Matahari yang sangat megah yang ke semuanya terbuat dari emas permata safir dan berlian.


Di area 3 juga ada pagodo 1000 tangga, sebuah pagodo yang berdiri di atas 1000 tangga yang menjulang ke langit dan ada di samping Istana Matahari.


Jiyu sesang duduk minum teh jahe di bawah pohon yang ada di cincin semesta, di temani Ergo dan sepasang phoenix Aro dan Ace yang sedang makan buah sepiritual.


''Bagaimana latihan kalian'' tanya Jiyu ke sepasang phoenix itu.


''Kami sudah bisa terbang sampai di tanga ke 777'' kata Aro.


''Tingkatkan terus kekuatan kalian'' Jiyu menyeruput tehnya sampai dia merasakan kehadiran salah 1 muridnya mendekat.

__ADS_1


Raga Jiyu yang tidak ikut masuk dan sedang duduk minum teh sambil baca buku di halaman kediamanya.


''Guru ini ada sudat dari kerajaan'' Peng Wan menyodorkan sebuah surat dengan cap naga, lambang Kerajaan Han.


Jiyu membuka surat itu dan membacanya.


''Panggil yang lain murid Peng'' perintah Jiyu ke Peng Wan yang langsung pergi memanggil yang lain.


''Persiapkan diri kalian besok, kalian akan ikut Guru ke Desa Jinwu untuk mengobati penduduk di sana'' kata Jiyu setelah ke3 muridnya berdiri di depanya.


''Ini kesempatan kalian untuk memperoleh pengalaman sekaligus mempraktekan apa yang kalian pelajari.''


Pagi hari Jiyu sudah bersiap bersama muridnya untuk pergi ke Desa Jinwu, mereka terbang mengunakan burung rajawali salah 1 hewan beast peliharaan sekte.


Dalam perjalanan Jiyu bertemu rombongan kerajaan yang menungang 2 beast pegasus di udara, masing masing pegasus di naiki 3 orang.


''Salam Dokter Jiyu, saya Cho Ko bawahan mentri kerakyatan'' kata Seorang laki laki berusia 25 berambut hitam bermata hijau mengenakan baju warna hitam tanpa lengan dan bercelana hitam panjang.


''Salam saudara Cho Ko'' Jiyu membungkuk sekilas sambil mengepalkan tangan kanan dan membenturkanya ke telapak tangan kiri.


Mereka terbang bersama menuju Desa Jinwu, karna menaiki hewan beast dalam 10 menit mereka sudah sampai di Desa Jinwu yang jauh dari ibu kota kerajaan.


Desa Jinwu tampak sepi tidak ada orang maupun anak anak di luar rumah, tumbuhan layu dan menguning tanah juga retak retak mengalami kekeringan.


Tok tok tok


''Permisi apakah ada orang.''


''Permisi apakah ada orang, kami prajurit kerajaan datang untuk memberi bantuan.'' Seru Cho Ko sambil mengetuk pintu.


Pintu di buka oleh perempuan berusia 30th berambut putih di sangul mengenakan gaun merah kembang kembang.


''Nona kami dari di utus kerajaan untuk membantu desa ini'' kata Cho Ko.


''Terimakasih aku Bi Yun kami sangat membutuhkan bantuan itu, untung Tuan Tuan cepat datang hingga kami tertolong'' kata perempuan itu.


''Bagaimana ke adaan para parga Nona Bi'' tanya Cho Ko setelah di persilahkan masuk dan duduk.


''Tadinya kami bertahan dengan hasil panen bulan sebelumnya dan hasil menjual ternak, tapi kemarau makin panjang. Kami masih bisa bertahan dengan menanam sedikit gandum dari air sungai di belakang desa.''


''Tapi sudah selama sebulan ini tanaman yang kami tanam mati, airnya berubah keruh dan banyak warga desa yang keracunan sehabis mandi di sungai'' kata Bi Yun.

__ADS_1


''Tolong Nona Bi panggil warga desa yang masih sehat untuk membantu kami membagikan bahan makanan'' pinta Cho Ko.


Dung Dung Dung


Bi yun memukul drum sebanyak 7×, warga yang masih sehat dan tadinya ada di dalam rumah mulai keluar dan mendatangi rumah kepala desa begitu mendengar suara drum di pukul.


Jiyu menyaksikan rombongan Cho Ko membagikan bahan makanan.


''Sekarang kita kumpulkan semua warga yang sakit dan biarkan Dokter Jiyu dan muridnya menyembuhkan mereka.''


Jiyu dan 3 muridnya mendirikan tenda darurat di halaman rumah kepala desa


Setelah semua orang menerima sekarung gandum, karna masih banyak warga yang sehat mereka lalu menggotong warga yang sakit ke halaman rumah kepala desa.


''Kamu Wang Ping dan Su Kiat periksa warga, Ansia kamu siapkan bahan untuk membuat pil atau ramuan (obat cair)'' intruksi Jiyu.


Jiyu sendiri memperhatikan pekerjaan murid muridnya, sesekali dia akan memberikan intruksi dan arahan ketika ada yang salah.


''Guru mereka terkena bisa ular'' kata Wang Ping.


''Tidak Guru Wang Ping salah mereka kena Remai kutu air, bukankah Nona Bi bilang mereka keracunan setelah mandi di sungai'' bantah Su Kiat.


''Tapi lihatlah kulit mereka membiru'' sangkal Wang Ping.


''Mereka terkena keduanya, jadi kalian harus membuat masing masing dua pil dan ramuan sekaligus dengan kemurnian 100%'' kata Jiyu.


''Ansia kamu bantu mereka''


''Baik Guru'' kata Ansia bersiap membantu ke duanya.


Sedangkan warga dengan di komandoi Nona Bi yang masih sehat, akhirnya memutuskan untuk membuat makanan dalam porsi besar dan banyak untuk di bagikan di bantu rombongan Cho Ko.


Tiga jam berlalu akhirnya semua warga kembali sehat dan kenyang mereka gembira, dan mengucapkan banyak terimakasih kepada rombongan Cho Ko dan Jiyu.


''Tuan Cho aku akan pergi dan memeriksa apa yang menyebapkan sungai teracuni'' kata Jiyu.


''Dokter Jiyu biarkan 2 prajurit ini ikut. Mereka berdua sudah ada di tingkat surga tahap akhir, 2 prajurit ini bisa membantu anda'' kata Cho Ko.


Jiyu akhirnya pergi menyusuri sungai bersama 2 prajurit Kerajaan Han ke hulu sungai.


Setengah jam berlalu dan akhirnya mereka sampai di hulu sungai Desa Jinwu.

__ADS_1


Jiyu membelalak melihat apa yang ada di hulu sungai,


''kenapa ada di sini'' batin Jiyu terkejut.


__ADS_2