
Jiyu dan Giok Hong terus berkuda mereka menyusuri jalan setapak yang hanya bisa di lewati 1 kuda, mereka sebisa mungkin menghindari jalan utama dan bertemu penduduk desa.
Selama 2 hari mereka terus berkuda dan hanya berhenti ketika malam dan itupun mereka terpaksa tidur di hutan belantara.
Giok Hong tak percaya kata kata Jiyu, kalau pasukan elit yang selama ini selalu melindunginya berhianat.
Dia juga setengah tidak percaya jika di istana ada penghianat, tapi melihat dan mendengar apa yang di katakan Jiyu membuat Giok Hong menjadi biimbang dan dia tidak tau sipa yang harus dia percaya.
Mereka terus menungkang kuda dalam keheningan, sampai tiba tiba Giok Hong yang berkuda di depan menghentikan laju kudanya secara tiba tiba.
''Ada apa?, kenapa berhenti?," tanya Jiyu sambil menarik tali kekang kudanya kuat kuat membuatnya meringkik.
''Aku melihat ada seorang pemburu di sana, mungkin kita bisa bertanya padanya di mana desa terdekat dari sini," tunjuk Giok Hong ke arah rimbunan pohon dan seorang laki laki yang sedang memanah tupai.
Giok Hong lalu turun dari kudanya dan menghampiri pemburu itu. '' Tuan bolehkah aku bertanya di mana desa terdekat dari sini?," tanyanya.
''Nona?, kau mengagetkanku. kenapa Nona sendirian di hutan lebat seperti ini?, disini berbahaya,'' kata pemburu itu justru bertanya pada Giok Hong.
''Aku bersama saudara laki laki ku, kami seorang petualang dan saudaraku sedang menungguku di sana,'' Pemburu itu menoleh ke arah yang di tunjuk Giok Hong dan melihat Jiyu yang sedang duduk di atas pungung kuda.
''Desa terdekat dari sini hanya berjarak 1kilo lurus saja lalu belok kanan, ada pohon besar lalu belok kiri terus lurus,'' kata pemburu itu.
Setelah mendapat petunjuk Giok Hong lalu kembali ke tempat Jiyu menungunya dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Mereka memutuskan untuk kembali ke istana tapi sebelum kembali Giok Hong melakukan penyamaran dan memutuskan untuk singah di beberapa desa dan kota, dia berharap akan menemukan beberapa informasi yang berguna.
Mengikuti petunjuk yang di kasih oleh pemburu yang mereka temui akhirnya mereka sampai di Desa Younghai, sebuah desa yang ada di tengah tengah hutan. Meski begitu Desa Younghai tampak ramai dengan anak anak dan orang tua yang sedang beraktifitas, sehingga ketika Jiyu dan Giok Hong datang ke desa itu banyak orang yang menatap mereka.
''Desa ini kecil tapi penduduknya sangat banyak,'' gumam Giok Hong yang mengamati ke adaan di sekitarnya, dimana di sana banyak tenda tenda lusuh yang berdiri di samping rumah rumah kayu serta para lansia yang duduk bergerombol.
__ADS_1
Semakin dalam mereka mamasuki Desa Younghai mereka semakin aneh dengan kondisi di desa itu, karna mereka mendengar berbagai bahasa daerah yang seharusnya tidak mereka dengar di satu tempat, mereka juga banyak melihat penduduk yang berpakaian combang camping dan tubuh kurus kering.
Yang lebih mengherankan dari penduduk Desa younghai para laki laki mereka membawa senjata bahkan sampai anak anak sekalipun.
Seorang laki laki tua berusia 70an berpakaian putih bertelanjang kaki dan membawa tongkat sebagai penyangga menghampiri mereka.
''Anak muda apa tujuanmu kemari?,'' tanya kakek itu.
''Kami seorang petualang dan kami ingin singah di desa ini untuk beberapa hari, kami kehabisan bekal ketika di perjalanan," kata Jiyu memberi alasan.
''Desa ini hanya desa kecil, penghasilan kami hanya dari berburu dan menjual kayu bakar. Jadi tidak ada bekal yang bisa kalian beli disini jadi sebaiknya kalian cepat pergi dari sini,'' kata kakek tua itu.
Mendengar itu Jiyu dan Giok Hong terkejut atas pengusiran kakek tua itu, mereka saling pandang dan mereka semakin yakin jika desa itu menyembunyikan sesuatu.
''Biarkan kami tinggal di sini selama 1 minggu, kami tidak akan menggangu warga di sini. aku akan pergi berburu tapi aku kewatir meninggalkan adik perempuanku sendirian, jadi ijinkan kami tinggal sementara di sini,'' Jiyu berusaha membujuk kakek tua itu.
''Baiklah aku menginjinkan kalian tinggal, tapi ingat hanya selama seminggu. Lebih dari itu aku akan mengusir kalian pergi dari sini,'' kata kakek itu lagi.
Mereka akhirnya tingal di salah satu tenda yang di dirakan oleh warga, pada malam hari Giok Hong memutuskan untuk ikut berkumpul bersama warga desa yang sedang duduk ngobrol mengelilingi api unggun, sedangkan Jiyu memilih beristirahat lebih awal.
''Kenapa disini banyak orang membawa senjata bahkan anak anak?,'' tanya Giok hong setelah mereka mengobrol cukup lama, dia akhirnya bertanya hal yang membuatnya penasaran sejak dia datang ke desa.
''Orang orang yang bawa senjata untuk melindungi desa ini, jika sewaktu waktu kami di serang,'' kata salah satu warga.
''Di serang?,'' tanya Giok Hong tidak mengerti.
''Desa ini didikan oleh Kakek tua Hui, dia mendirikan desa ini untuk menampung penduduk desa yang desanya di serang pengikut Dewa Gelap. akhir akhir ini banyak desa yang di serang membuat kami kewalahan.''
''Nak, apa desamu juga di serang oleh kelompok itu?,'' tanya salah satu warga.
__ADS_1
''Ya, desaku juga diserang. Tapi aku dan saudaraku berhasil kabur,'' kata Giok Hong.
''Aku yakin pasukan kerajaan tidak akan bisa menghentikan pengikut Dewa gelap, karna rajanya juga bagian dari mereka,'' celetuk seseorang tiba tiba ikut bergabung dalam obrolan bersama mereka.
''Apa mangsudmu?, kenapa kau bicara begitu?,'' tanya Giok Hong pada seorang perempuan yang berpakaian kulit harimau dan membawa busur di pungung.
''Dulu murud kakek tua Hui di perintahkan untuk melapor apa yang terjadi di sejumlah daerah perbatasan, tapi justru dia melihat sang raja sedang menggigit leher seorang dayang di sebuah kamar. Raja itu menghisap darahnya sampai mengering.''
''Itu tidak mungkin yang mulia raja bukan binatang buas, mungkin murid kakek itu salah lihat,'' bantah Giok Hong yang tidak terima ayahnya di tuduh seperti itu.
''Bagaimana itu bohong kalau ada rekamanya, murid itu sempat merekamnya dan aku juga melihat rekaman itu,'' kata perempuan itu sambil menatap Giok Hong yang kelihatan marah.
''Bisakah aku lihat rekamanya?, aku tidak percaya jika tidak melihatnya secara langsung,'' kata Giok Hong.
''Buat apa?, atau jangan jangan kamu dan saudaramu mata mata yang di kirim kerajaan untuk memburu kami ya?.'' tuduh perempuan itu sambil mengambil busurnya dan menjauhi Giok Hong dengan waspada.
Melihat itu Giok Hong segera mengangkat tangan dan menurunkan nada bicaranya menjadi lebih lembut dan santai. ''aku hanya tidak percaya saja, aku bukan mata mata. Buat apa jadi mata mata kerajaan?, aku juga membenci mereka mereka membuat ibuku mati" kata Giok Hong berusaha meyakinkan perempuan itu agar tidak terjadi keributan.
Perempuan itu tetap melihat Giok Hong dengan lekap dan dia melihat kejujuran di mata Giok Hong.
''aku tidak bisa menunjukkan rekaman itu, tapi ...,'' perempuan itu lalu melambaikan tangan dan di udara terlihat sebuah cermin ingatan yang pemperlihatkan seorang laki laki berpakaian mewah sedang menghisap leher seorang dayang sampai mati.
Melihat adegan itu Giok Hong syok dia memundurkan duduknya dengan tatapan tak percaya ke arah cermin ingatan.
''Kau kau tidak sedang memanipusasiku kan?,'' tanya Giok Hong dengan nada tak yakin.
''Kau tau ingetan seseorang tidak bisa di manipulasi, begitu juga dengan rekaman yang ada di cermin tik tok. Tapi terserah jika kau tak percaya,'' kata perempuan itu kesel pada Giok Hong dan dia berlalu pergi.
Giok Hong yang masih kepiran dengan kejadian tadi akhirnya kembali ke tenda yang di sediakan untuknya bersama Jiyu.
__ADS_1