Mencari 9 Istri Kaisar

Mencari 9 Istri Kaisar
Bab 35 penyerangan Desa Eunsang


__ADS_3

Di sebuah desa kecil di daerah perbatasan antara kekaisaran Tang dan Kerajaan Han, ada sebuah desa bernama Desa Eunsang desa yang hanya punya penduduk sebanyak 800 orang itu sedang berkumpul bersama.


Malam itu seperti biasa saat bulan bersinar terang di langit mereka akan keluar rumah masing masing dan bercengkrama dengan para tetangga.


Mereka akan berkumpul sambil membakar daging hasil buruan para pemuda desa dan memakanya bersama, karna pada pagi hingga sore mereka sibuk di ladang membuat mereka hanya bisa berkumpul dan bersua di malam hari dan itu jadi semacam tradisi di desa itu.


''Malam ini bulanya bersinar lebih terang dari malam malam sebelumnya,'' kata seorang pemuda yang sedang duduk melingkar di dekat api ungun yang mereka buat untuk memanggang daging sebelumnya.


''Ya inikan malam bulan purnama, jadi bulan bersinar penuh dan tampak indah,'' sahut pemuda lainya.


''Udara juga tidak sedingan biasanya,'' timpal pemuda ke 3.


Malam itu Desa Eunsang tampak ramai dan hidup karna ada beberapa kerabat mereka yang mengunjungi desa itu, sehingga suasana terasa lebih ramai dari biasanya.


Anak anak tampak bermain dan berlarian di sekitar orang dewasa, sedangkan penduduk desa membentuk kelompok kelompok kecil dan saling berbagi cerita dan bergosip.


Sebuah bayangan hitam besar menutupi bulan yang sedang bersinar terang di langit, warga Desa Eunsang yang tadinya asik merumpi dan terdengar gelak tawa serta pekikan bernada riang dari anak anak yang sedang bermain mendadak sepi ketika suasana berubah menjadi agak gelap.


''Kenapa menjadi gelap, apa awan menutupi bulan?,'' tanya seseorang lantang di antara kerumunan yang hening. Orang itu memandang pantulan hitam besar yang menutupi sinar bulan, hanya terdengar suara meretih kayu yang terbakar dan menjadi satu satunya penerangan saat itu.


Suasana yang mendadak sunyi dan gelap membuat para warga bergidik dan merasa gelisah tiba tiba.


''Cepat masuk rumah kalian dan kunci pintunya!,'' teriak kepala desa Eunsang, memerintahkan warganya untuk masuk kedalam rumah karna dia merasa ada yang tidak beres.


''Anak anak kemari kita masuk rumah,'' para warga langsung berdiri dan mencari anak anak mereka dan hendak mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.


''Itu sayap!, sayap hewan besar!,'' teriak seseorang diantara kerumunan yang dari tadi mengamati benda hitam besar yang menutupi sinar bulan itu bergerak mengepak.


Boooommm


Api ungun tiba tiba padam setelah sebuah benda jatuh dari langit, membuat suasana berubah menjadi gelap.


Warga desa yang melihat itu tidak bergerak sama sekali, dari tempat mereka berdiri. Nafas mereka tertahan seketika dan mendekap anak dan keluarga mereka dengan erat, ketakutan seketika mencengkram semua orang.


Booommm

__ADS_1


5 buah api yang bersinar di gelapnya malam datang dari langit mengarah ke rumah rumah warga dan membakarnya seketika.


''Cepat lari desa kita di serang!,'' kembali sebuah teriakan menyadarkan semua orang, seketika suasana gaduh terjadi.


Warga Desa Eunsang seketika berlarian, mereka berlari tak tentu arah. Ada yang seketika berlari masuk ke dalam hutan, ada yang seketika lari masuk rumah dan ada juga yang langsung lari meninggalkan keluarganya.


Sosok sosok berjubah hitam turun dari langit dan membunuhi serta menangkap orang orang yang sedang berlarian itu, seketika Desa Eunsang di penuhi oleh jerit ketakutan kesakitan dan jeritan minta tolong.


''Tolong jangan bunuh aku.''


''Anaku anaku jangan sakiti anaku!.''


''Tolong jangan bunuh ibuku.''


Sosok sosok berjubah hitam tidak peduli dengan semua jeritan dan ratapan yang ada, mereka tetap membunuh dan menghancurkan Desa Eunsang tanpa perasaan.


''Jangan bunuh anak anak, pemuda dan gadis gadis, bawa mereka ke markas. Jangan lupa jarah rumah dan harta benda mereka.'' Perintah pemimpin sosok sosok berjubah itu, yang langsung di turuti oleh mereka.


Orang orang berjubah itu lalu membunuhi warga desa yang lanjut usia, tapi mereka menangkap anak anak sampai pemuda pemudi desa.


Mereka menangkap pemuda pemudi itu, membuat mereka pingsan lalu sosok berjubah itu membawanya pergi.


Dalam sekejab desa itu kembali menjadi sunyi tapi dengan suasana yang menakutkan dan mengiriskan hati, Sosok sosok berjubah itu telah pergi dari desa begitu juga dengan sosok bayangan hitam besar di langit.


Bulan kembali bersinar tanpa terhalang, tapi sekarang sinarnya menerangi sosok sosok mayat di Desa Eunsang.


Mayat mayat itu ada dalam kondisi yang mengenaskan, ada yang tertusuk pedang, tombak, anak panah dan ada yang kepalannya lepas dari badan serta ada yang kondisi tubuhnya terbakar.


''Cepat cepat kita harus pergi menolong orang orang di desa itu,'' sebuah seruan datang dari serombongan penungang kuda yang berjumlah 30 orang itu.


Rombongan itu berjumlah 30 orang membawa senjata di antaranya ada 5 orang perempuan yang juga membawa senjata dan sebuah tas selempang.


Rombongan itu memacu kudanya dengan cepat dan terkesan buru buru, mereka memacu kudanya di sebuah jalan tanah selebar 2 meter di tengah gelapnya malam tanpa mengurangi kecepatan.


Rombongan itu akhirnya sampai di Desa Eunsang yang kondisinya sudah berubah, 2 jam setelah rombongan sosok berjubah hitam itu pergi dari desa.

__ADS_1


''Kita terlambat,'' kata Pemimpin rombongan itu yang melihat kondisi desa dan mayat mayat yang bergelimpang mengenaskan.


''Kalian bentuk 2 tim dan susuri desa ini siapa tau masih ada yang selamat, jika tidak kumpulkan semua mayat ini dan bakar!.'' Perintah pemimpin rombongan yang seorang laki laki gagah berusia 40th, mengenakan jubah warna merah dan berambut hitam panjang di ikat, sambil membawa 2 pedang pendek terselip di pinggang.


Seruan perintah laki laki itu langsung di turuti kelompoknya, mereka lalu membagi 2 tim dan pergi ke arah berbeda.


Di kelompok ke dua yang memutuskan untuk pergi ke sebelah kanan, mereka di pimpin oleh seorang pemuda berusia 25th berambut hijau pendek, dengat ikat kepala biru dan mengebakan baju serta celana kulit, pemuda itu tidak membawa senjata tapi tangan dan kakinya mengenakan sarung tangan besi.


''Kondisi desa sudah seperti ini apa masih ada yang selamat,'' gumam pemuda itu sambil menungang kuda dan memimpin rombonganya menyusuri Desa Eunsang.


''Ketua ada orang di hutan!,'' teriak satu satunya perempuan di rombongan itu yang punya indra lebih tajam dari yang lain.


''Aku baru saja mendengar ada suara ranting patah dari sana,'' tunjuk perempuan itu ke arah hutan yang gelap di tumbuhi pepohonan lebat.


''Itu mungkin suara hewan Adik Chi,'' kata pemuda yang di panggil ketua itu.


''Tidak. Aku yakin itu orang, karna aku sempat melihat bayangannya sekilas,'' bantah perempuan itu.


Rombongan itu saling pandang, mereka lalu turun dari kuda. Dan memutuskan untuk memeriksanya sambil mempersiapkan senjata, mereka berjaga jaga jika seandainya itu musuh.


Mereka masuk ke dalam hutan dengan waspada dan tanpa suara, karna mereka adalah orang orang terlatih.


Rombongan itu akhirnya melihat ada 7 orang anak, dan 1 pemuda berusia 15th yang bersembunyi di balik pohon besar sambil berpelukan dan menangis.


Perempuan yang di panggil Adik Chu itu menyimpan senjatanya dan mendekati mereka.


''Nak apa kalian baik baik saja?,'' tanyanya.


Anak anak yang sedang bersembunyi itu berjengit ketakutan dan menangis kencang.


''Jangan takut kami akan menyelamatkan kalian, jadi jangan menangis.'' Perempuan itu berusaha menenangkan anak anak itu di bantu rekan rekanya.


Setelah beberapa menit akhirnya anak anak itu berhenti menangis, dan menceritakan jika mereka di tingal dan di suruh bersembunyi di sana oleh orang tua mereka.


Mereka juga bercerita jika yang menyerang desa adalah sosok sosok berjubah hitam bertudung merah dan mengenakan topeng menakutkan.

__ADS_1


Akhirnya rombongan berjumlah 30 orang itu pergi dari Desa Eunsang, setelah memastikan tidak ada yang selamat selain 8 orang anak dan membakar mayat mayat itu.


Pada malam Desa Eunsang di serang desa desa di perbatasan kekaisaran Tang juga di serang oleh sosok sosok berjubah hitam itu.


__ADS_2