
Jiyu melakukan meditasi selama sehari semalam penuh, hatinya bergejolak hebat seperti badai dan stunami menerjang secara bersamaan menghempas karang.
Meski sudah mencoba berusaha menenangkan amarah yang ada di pikiran dan hatinya, tetap saja Jiyu tidak bisa meredakan amarahnya itu sepenuhnya.
''Aaaaaaaaaaa,'' Jiyu memukul batu besar tempat dia bermeditasi sampai hancur jadi debu, dan tercipta sebuah lubang selebar 1meter dan sedalam ratusan meter di tempat dia tadi duduk.
Amarah yang di rasakan Jiyu belum juga mereda, sehingga dia kembali ke Kota Langit tempat selama ini dia tinggal dengan cara merobek ruang dimensi.
Di sebuah lapangan latihan yang sangat luas, terdapat beberapa orang sedang berlatih menunggang kuda, memanah, berpedang serta bertarung 1 sama lain.
''Yang Mulia,'' beberapa orang yang melihat kehadiran Jiyu di lapangan latihan menghentikan aktifitasnya dan membungkuk.
''Panggil semua jendral kemari cepat!!,'' seru Jiyu dengan nada penuh amarah yang tertahan.
''Baik Yang Mulia,'' seorang prajurit yang ada di lapangan latihan segera pergi dan memanggil semua jendral yang ada di Kota Langit.
''Yang ... yang mulia sudah kembali?,'' kata salah 1 jendral utamanya yang melihat sosok Jiyu di penuhi amarah dan aura yang menakutkan.
''Mari kita berlatih, aku ingin kalian menunjukkan apa yang sudah kalian capai selama ini.'' Kata Jiyu dingin, Jiyu ingin melampiaskan amarahnya dengan melawan para jendralnya dengan berkedok latihan.
''Yang ... yang mulia, kami masih sibuk. Masih banyak tugas yang harus kami lakukan, bagaimana jika 100th lagi? kita bisa berlatih bersama saat itu.'' kata salah 1 jendralnya yang lain dengan ekpresi takut dan mencoba pergi dari sana.
Jiyu menatap tajam mereka semua, lalu dia merobek ruang kosong di udara. Dan mendorong semua jendralnya yang berjumlah 50 orang itu masuk ke dalam celah ruang yang dia buat.
''Aku ingin latihan sekarang!, jadi tunjukan padaku.'' Perintah Jiyu tegas tanpa bisa di tolak oleh para jendralnya.
''Serang aku,'' kata Jiyu berdiri tegak.
Mereka saling pandang dan memutuskan untuk menyerang Jiyu seperti permintaanya.
''Dari pada di hajar tanpa perlawanan mending kita melawannya meski hasilnya sama saja,'' pikir mereka.
Para Jendral itu lalu mengelilingi Jiyu dan menyerangnya bersamaan, Jiyu melirik sekelilingnya dan ketika serangan datang dia menghindar dengan cara melompat tinggi ke atas.
Buuuummmm
Bunyi tapberakkan kekuatan terdengar keras, membuat orang orang yang tadinya menyerang Jiyu jadi terpental kesegala arah.
Jiyu kembali berdiri tegak di udara kosong, karna mereka bertarung di ruang hampa, Sebuah tempat kosong di antara planet planet yang tersusun di tata surya.
Jiyu kembali menunggu para jendralnya kembali menyerang, dan kali ini mereka menyerang dari dekat dan jarak jauh.
__ADS_1
''Tebasan petir pembelah langit''
''Tinju surya langit jagat''
''Pukulan tinju dewa''
''panah panca sona.''
Kali ini mereka menyerang jiyu mengunakan senjata, ada yang mengenakan sarung tangan pedang dan anak panah.
''Tebasan pemusnah,'' Jiyu menebas semua serangan yang datang ke arahnya dengan sekali tebas dan langsung lenyap.
Kali ini Jiyu maju menyerang lebih dulu, dia menyerang dengan tangan kosong bahkan tanpa mengenakan armor perang.
Jiyu meninju, menyikut dan menendang para jendralnya seperti karung tinju.
''Aaaaaaaa,''
Teriak semua orang yang terkena serangan jiyu.
Seorang laki laki gagah yang mengenakan jirah perang, bersenjatakan rantai merah membara memberi komando pada semua orang.
Jiyu semakin menggila. Dia menghancurkan banyak bintang asteroit dan planet yang terbelah hingga hancur, dari 50 jendralnya yang tersisa hanya 20 orang saja. Itupun dalam keadaan terluka cukup parah.
Han Bay An berhasil mengikat Jiyu yang lengah dan mengamuk. ''cepat pegangi Yang Mulia,'' teriaknya.
Para Jendral yang tersisa memegangi Jiyu yang memberontak, lalu mereka memukul wajahnya sekuat mungkin.
Booooommmmm
Tubuh Jiyu menabrak puluhan bintang sampai hancur, dan akibat bunyi ledakan yang keras membuat 12 dewa utama datang dan mencoba menghentikan ke gilaan Jiyu.
Imogi sebagai Dewa utama langsung memimpin semua dewa untuk menghentikan Jiyu.
Imogi mengirim tendangan ke dada Jiyu yang hendak bangun, tapi berhasil di hindari dengan berguling.
Jiyu lalu mengirim sebuah tinju ke arah Dewa Imogi tapi berhasil di tangkis Dewa Angin, meski harus terhempas dan muntah darah.
Dewi tumbuhan membuat tanaman merambat berduri untuk menjerat Jiyu, Jiyu membakarnya dengan mudah.
Rambut Jiyu yang tadinya putih berubah warna menjadi hitam legam, begitu juga warna matanya dari biru menjadi merah darah.
__ADS_1
''Gawat sisi gelap Kaisar Langit hampir menguasai Yang Mulia,'' teriak Jendral Lee Bay An.
Mendengar teriakan itu semua orang yang terlibat pertarungan menyerang Jiyu bersamaan, mereka mengeluarkan kekuatan terkuatnya saat itu juga.
Jiyu yang di kuasai amarah membuat kekuatanya meningkat 100× lipat dari biasanya, sehingga mudah menangkis serangan yang datang.
Dewa Petir dan Angin menggabungkan kekuatan mereka lalu menubruk Jiyu dari belakang, mereka Jatuh dan berhasil menindih Jiyu.
Dewa formasi dan Dewi Air serta Dewa Bumi membuat kurungan raksasa lalu menimpakan nya ke arah Jiyu dan 2 dewa lainya yang sedang bergulat.
Jiyu menyikut Dewa Petir dan Angin membuatnya lepas dan membentur kurungan, Jiyu lalu berdiri dan meninju kurungan raksasa itu sampai musnah.
Jiyu lalu membuat pedang qi lalu menyerang semua orang, dia menusuk menebas menyabet dan mengayun kan pedang dengan sangat cepat.
Jiyu juga menendang dan terkadang memukul, tempat pertarungan Jiyu sudah hancur porak poranda, planet bintang meteor dan semua benda langit yang ada di sekitarnya semua musnah.
Imogi sebagai Salah satu dewa utama akhirnya mengusulkan untuk menggabungkan semua kekuatan mereka, kecuali para jendral yang sudah mati semua termasuk Jendral Han Bay An.
Mereka lalu mengabungkan kekuatan mereka, dan membentuknya menjadi sebuah kubah emas raksasa, lalu mereka mendoronh Jiyu masuk ke dalamnya.
''Kubah semesta aktifkan!,'' teriak mereka semua lalu kubah itu bersinar keemasan yang amat terang, dan menyerang lurus ke arah kepala Jiyu yang sedang berusaha menghancurkan kubah itu.
''Aaaaaaaa,'' teriak Jiyu. Dia lalu jatuh berjongkok sambil terengah engah memegangi kepalanya dan memandang sekitarnya dengan bingung.
''Apa ... apa yang terjadi di sini?'' tanya Jiyu melihat sekitarnya yang sudah hancur tidak seperti semula.
''Untung Yang Mulia sudah sadar,'' kata Dewa Imogi menjawab pertanyaan Jiyu mewakili yang lain.
''Imogi apa ... yang terjadi?, kenapa semua dewa utama ada disini?,'' tanya Jiyu lagi kebingungan melihat 12 dewa utama dalam ke adaan compang camping, berdarah dan terluka parah.
''Anda di liputi amarah dan hilang kendali, dan menyebabkan semua ini.''
Jiyu termenung berusa mengingat apa yang terjadi, dan setelah di ingat ingat akhirnya dia ingat apa yang membuatnya marah.
Waktu itu ketika Giok Hong mengenalkan seorang pemuda bersama Helio Dan sebagai tunanganya, Jiyu merasa marah sekaligus tak berdaya karna Giok Hong tidak mengingatnya.
Apa lagi waktu itu ketika Jiyu juga menjelaskan bahwa dia adalah jodohnya yang sudah di takdirkan, Giok Hong malah bilang semua itu masa lalu dan dia juga bilang tidak ingin bersama Jiyu lagi.
Sebab itulah amarah Jiyu terpicu dan menyebabkan semua kekacuan itu terjadi, meski dia sebelumnya berusaha untuk tetap tenang.
''Yang Mulia bisa kembali dan menenangkan diri anda, aku akan mengurus semua kekacuan di sini.'' Saran Dewa Imogi di setujui Jiyu dan dia langsung pergi begitu saja kembali ke istana langit.
__ADS_1