
Jiyu terkejut ketika melihat kearah sungai yang mengaliri Desa Jinwu.
Seekor ular berkepala 3 berwarna hitam bermata merah yang terus menyemburkan bisa racun ke sekitarnya berdiri di tengah sungai.
''Kenapa bisa ada di sini, ?'' Jiyu terkejut melihat ular berkepala 3itu. Karna biasanya monster tingkat legenda mereka akan tinggal di pedalaman hutan, jauh dari pemukiman manusia.
''Kalian tingalah di sini. Ular kepala 3 sangat berbahaya,'' kata Jiyu kuwatir ke 2 prajurit yang mengikutinya.
''Tapi Dokter Jiyu, kami di perintahkan untuk membantu anda.'' Dua prajurit itu engan mengikuti kenginanya.
''Aku bisa mengatasinya, kalian jangan kewatir.'' Jiyu meyakinkan ke dua prajurit itu.
Jiyu yang melihat 2 prajurit itu ragu ragu dia kembali meyakinkannya.
''percayalah aku akan baik baik saja.''
Ular kepala 3 yang melihat keberadan 3 orang itu dan mendekati mereka, dengan mendesis dan mengeluarkan lidahnya yang bercabang.
Air bergejolak ketika ular itu mendekat, ular itu menatap Jiyu dengan tatapan lapar.
''Ternyata ada manusia bodoh yang mengantarkan diri kemari," kata kepala bagian kiri.
''Dia masih muda," kata kepala bagian kanan.
"hehehe ... pasti dagingnya enak," kata kepala yang ada di tengah sambil tertawa terkekeh melihat Jiyu.
''Sudah puas tertawa, sekarang saatnya aku membalas kalian,'' kata Jiyu dengan dingin dan dia lalu memukul salah 1 kepala ular itu.
Duuukkk
Ular itu mundur kembali ke tengah sungai, air sungai yang keruh kehitaman menciprat ke sekitarnya membuat rumput mati.
''Manusia sialan!.'' Ular itu mendesis marah dan menyeburkan bisanya ke arah Jiyu.
Jiyu menghindar ke samping dan bisa itu mengenai tanah tempat Jiyu berdiri yang langsung menghitam.
Jiyu melayang di udara, dia mencoba kembali menyerang dengan pukulanya.
Ular kepala 3 itu cerdas, dia tidak membiarkan Jiyu mendekat. Setiap di dekati ular itu akan menyemburkan bisa dan menyabetkan ekornya seperti cambuk.
Jiyu terbang di sekitaran ular itu, melancarkan pukulan tepat ke pangkal kepala ular berkepala 3 yang langsung terpental.
''Keras juga kulit ular itu,'' Jiyu melihat ular kepala 3 tanpa luka hanya terpental sejauh 5 meter.
Ssssss
Ular itu mendesis, dia ternyata memanggil Remis air. Sebuah hewan air yang dapat meyerap puluhan kubik air dan menyebapkan kekeringan.
Jiyu melihat monster berkaki 8 mirip kutu merayap sangat banyak dan langsung menyerang Jiyu.
__ADS_1
''Jarum angin dan air,'' Jiyu membuat jarum sebesar lengan. Jleeeep jleeeep jleeeep
Jarum jarum itu langsung menusuk para Remis membuat mereka mati seketika, tapi Remis yang terbesar mampu membelah diri sampai berjumlah ribuan dan mengepung Jiyu.
Selagi Jiyu bertarung dengan Remis, Ular kepala 3 juga tidak menghentikan seranganya. Mereka terus saling menyerang Jiyu bergantian, membuatnya sedikit kewalahan.
''Penjara 8 sisi,'' Jiyu membuat tanah setinggi 10 meter yang mengurung semua moster itu.
''Dentuman piramid.''
Boooommmmm
Jiyu membuat bongkahan tanah sebesar rumah yang langsung menimpa semua monster di bawahnya.
Prok Prok Prok Prok
''Dokter Jiyu memang hebat, selain seorang alkemi kau juga seorang kultivator. Siapa yang mengira kau juga mampu membunuh anak anakku,'' kata seorang kakek bungkuk berusia 90th berbaju coklat dan memiliki wajah peot.
Jiyu terkejut dengan kedatangan kekek itu yang dari atas.
''Siapa kau Kakak Tua, ?'' tanya Jiyu ke kakek itu yang mendarat di depanya.
''Kau membunuh anak anakku Dokter,'' Kakek itu melewati Jiyu begitu saja dan menghampiri monster monter itu yang sudah mati.
Kakek itu berbalik dengan tinju terkepal yang di selimuti petir menyerang Jiyu.
Jiyu memiringkan kepala dan membalas dengan tinju petir yang sama.
''Kau sudah membunuh anak anakku, kau harus mati Dokter Jiyu, !!'' seru Kakek itu marah dan menyerang Jiyu dengan ganas.
Mereka saling beradu tendangan dan pukulan tanpa henti dengan kecepatan yang tidak mampu di lihat mata awam.
Jiyu menunduk ketika sebuah tendangan menyasar ke kepala, dan balas menukul perut kakek itu yang mampu di hindari.
''Mereka monster legenda, tidak mungkin mereka bisa ada di sini. Jika bukan karna di perintah olehmu Kakek Tua, !'' seru Jiyu.
''Apa tujuanmu menracuni Desa Jinwu Kakek Tua, katakan, !!'' Seru Jiyu marah sambil terus bertarung di udara.
Booommmm
Bunyi tubrukan kekuatan terdengar keras, mereka berpisah dan saling berhadapan.
''Pedang petir,'' Jiyu mengambang di udara membuat pedang dari qi, dan siap untuk pertarungan ronde ke 2.
Jiyu langsung menyabetkan pedang petir ke si Kakek tua, yang menyilangkan pedang di depan dada menghalangi serangan Jiyu.
Trang trang trang trang
Bunyi beradunya pedang terdengar, mereka saling serang tanpa henti.
__ADS_1
''Pedang membelah gunung''
''pedang pusaran angin''
''Pedang cahaya''
Jual beli serangan hanya dalam 1 menit terjadi dengan cepat.
Jiyu menusuk ke paha tapi menyasar perut, mengarah ke leher tapi menyabet pinggang.
Jiyu lalu meningkatkan ritme pedangnya dengan cepat, dia menusuk menyabet menyayat dan memengal Jiyu lakukan. Sampai membuat Kakek tua itu kewalahan.
Dua orang prajurit yang menyaksikan pertarungan Jiyu dari awal hanya bisa terbengong, dan kagum dengan pertarungan yang tersaji di depanya.
''Selain kemampuan alkeminya yang luar biasa, ternyata dokter Jiyu seorang kultivator yang kuat.''
''Apakah dia itu dewa, kenapa seorang alkemi bisa sekuat itu. Biasanya seorang alkemi kultivasinya lemah,'' kata 2 orang prajurit itu.
Buuummmm
Si Kakek Tua bungkuk terjatuh dan telentang di tanah, setelah perutnya tertusuk pedang dan di tendang Jiyu.
''Sekarang. Beritau aku apa tujuanmu meracuni penduduk Desa Jinwu, !'' seru Jiyu sambil menginjak perut si Kakek sampai muntah darah.
''Aku tak akan mengatakannya.''
uhuuuk uhuuuk
Jiyu lalu meletakkan jari telunjuknya di kening si Kakek, mencoba membaca pikiranya.
''Keras kepala juga orang ini.'' Kata Jiyu ketika pikiran orang tua itu tidak mudah di tembus.
Jiyu lalu terus mengarahkan qinya untuk mengorek informasi dari Kakek tua itu.
Aaaaaa
Kakek Tua bungkuk itu menjerit dan berguling. Ketika Jiyu mengobrak abrik isi pikiranya, membuat kepalanya sakit serasa mau pecah.
Sejumlah informasi di dapat Jiyu, ternyata Kakek tua itu sudah meracuni puluhan desa. Dan membunuh mereka dengan tangane sendiri ketika mereka melemah.
Jiyu menembakkan qi ke jantung si Kakek tua dan membuatnya mati seketika.
''Ergo keluarlah dan pergilah ke Kaisaran Tang, cari seluruh pengikut Dewa gelap dan beritau aku." Suruh Jiyu.
Ergo lalu keluar dari dalam cincin semesta dan terbang memenuhi perintah Jiyu.
Jiyu menghela napas. ''sudah ribuan tahun tapi pengikut Dewa gelap masih saja ada dan berkeliaran.''
Jiyu lalu kembali ke Desa Jinwu dan menemui ke 3 muridnya.
__ADS_1
''Semoga ini bisa membantu dan mengembalikan desa ini,'' Kata Jiyu sambil membagikan semua koin emas yang dia ambil sebelumnya dari gudang hasil tambang Desa Nandao.
Jiyu lalu mengajak muridnya pulang ke sekte lebih dulu, meninggalkan rombongan Cho Ko yang masih membantu di sana. Sedangkan tugas Jiyu dan muridnya sudah selesai.