
Pagi hari rombongan prajurit yang mengejar jejak pengikut Dewa Gelap kembali bersiap siap untuk melanjutkan perjalanan.
Saat ini mereka sedang membongkar tenda dan mengumpulkan segala perlengkapan yang mereka pakai kemarin ke dalam tas penyimpanan.
Rombongan kembali mengikuti jejak yang di tinggalkan oleh pengikut Dewa gelap, meski semakin masuk ke dalam hutan jalan yang di lalui semakin sulit.
Rimbunnya pepohonan dan semak belukar serta medan yang sulit menghambat laju kuda kuda yang mereka tunggai, meski begitu mereka tidak menyerah dan tetap melanjutkan perjalanan meski terkesan lambat.
"Kita tidak bisa meneruskan perjalanan dengan menunggang kuda lagi," kata seseorang yang melihat jalanan di depanya terdapat tanjakan yang terjal dan di penuhi batu batu besar.
Melihat itu mereka lalu turun dari kuda dan menembatkan kuda kuda itu di pohon, mereka lalu meneruskan perjalanan dengan terbang mengunakan qi.
"Jejak pengukut Dewa Gelap semakin sulit di temukan!," teriak seorang yang bertugas mencari jejak untuk rombongan.
"Kirim elang pengintai, dan selidiki wilayah sekitar," perintah komandan pasukan.
Mereka lalu menerbangkan 2 ekor elang pengintai dan elang elang itu mulai terbang menyusuri wilayah gunung dan hutan.
Setengah jam kemudian 2 ekor elang itu kembali, dan melaporkan apa yang mereka lihat.
"Lapor Komandan di depan ada sebuah rumah yang di lengkapi bentang serta pertahanan yang kuat, aku yakin itu markas mereka." Kata pemilik elang itu pada komandan pasukan.
"Kita kesana dan berhenti di sekitar benteng lalu susun strategi dari jarak aman," kata Putri Giok Hong yang ikut mendengarkan laporan itu.
Rombongan kembali melanjutkan perjalanan selama 1 jam dan akhirnya mereka melihat benteng yang mereka tuju dari jarak 200 meter.
Semak belukar setinggi 3 meter dan pepohonan yang rapat menutupi keberadaan mereka, serta memudahkan pasukan untuk mengintai daerah sekitar benteng.
Jiyu yang sedari tadi bersama komandan pasukan ikut mendengarkan arahan sang komandan, tentang strategi yang akan mereka jalankan.
"Pertama tim pencari jejak pastikan tidak ada perangkap di sekitar benteng, ke 2 tim formasi batalkan pertahan benteng dan ke 3 tim penanah bunuh prajurit yang ada di menara dan gerbang benteng."
"Kita akan masuk setelah memastikam kondisi aman. Untuk Tuan Putri tolong jangan ikut masuk ke dalam benteng, sebaiknya anda menunggu di sini." Kata komandan itu dengan ekpresi kekewatiran terlihat jelas di wajahnya.
"Komandan aku ikut rombongan pasukan ini untuk ikut berpartisipasi dalam penyerangan dan ini juga perintah ayahanda," kata Giok Hong tegas.
__ADS_1
"Tapi Putri ...,"
"Cukup Komandan, aku akan baik baik saja. Helio dan pasukan Elitku akan melindungi ku," Giok Hong langsung menyela.
"Itu benar anda tidak perlu kewatir kami akan melindungi anda Yang Mulia Putri," kata salah satu prajurit pasukan elit.
Tim yang mendapat tugas mulai bergerak, mereka merunduk dan berjongkok di semak belukar sambil berjalan dan menyibak rerumputan sepelan mungkin.
Jiyu mendekati putri Giok Hong yang sedang berdiri mengamati daerah sekitar benteng, di temani tunangannya dan pasukan elit yang berjaga di sekitarnya.
"Apakah anda sudah menghubungi pasukan yang lain?," tanya Jiyu.
"Sudah, tapi mereka tidak membalas surat yang aku kirim. Kita juga tidak bisa menunggu mereka sampai, nanti keberadaan kita bisa di ketahui musuh," kata Giok Hong.
Jiyu melihat tatapan Helio yang berubah menajam setiap kali dia mendekati Giok Hong, dan dia juga sering mengganggu percakapan Jiyu dengan Giok Hong.
Jiyu melihat itu hanya bisa menahan kekesalanya dan menelan segala sumpah serapah yang nyaris terlontar.
"Tuan jangan biarkan Putri Giok Hong memasuki benteng, ini jebakan," tiba tiba Jiyu mendengar suara Aro yang mengirim telepati padanya.
"Aro apa yang terjadi, jelaskanlah secara rinci."
"Jika Putri terluka dan darahnya menetes ke altar, sang jendral bisa langsung bangkit."
"Apa kau tau di mana altar itu?" tanya Jiyu.
"Sayangnya tidak, di sini hanya ada gudang harta, kamar penjara dan lantai yang sangat luas serta ruangan yang tidak berbahaya lainya." balas Aro.
"Terus amati yang terjadi di dalam, sebentar lagi kami akan masuk."
Jiyu tidak bisa mencegah putri Giok Hong masuk begitu saja ke dalam benteng tanpa alasan yang jelas, karna itu bisa menimbulkan kecurigaan orang orangĀ padanya. Karna Jiyu tidak mempercayai orang orang yang ada di sekitar sang putri.
Tim pemanah akhirnya berhasil menyelesaikan tugasnya dan mereka bisa masuk ke dalam benteng tanpa jebakan yang terpasang.
"Kita masuk di sekitar benteng aman," Komandan pasukan masuk lebih dulu di ikuti pasukanya.
__ADS_1
Mereka terus masuk ke dalam dan membuka pintu rumah besar itu dengan waspada, mereka juga berhasil dengan mudah membunuh prajurit musuh yang berjaga.
"Ini terlalu mudah, apa mereka sudah pergi dari sini," gumam komandan pasukan.
Jiyu berjalan di belakang Giok Hong dan pasukan elitnya, dia waspada dengan ke adaan sekitar karna hanya dia yang tau mereka di jebak.
"Kenapa sepi mungkinkah benar mereka sudah pergi, sia sia saja kita datang ke sini," gerutu seseorang.
Mereka lalu sampai di sebuah tempat terbuka dengan lantai yang sangat luas dan dapat menampung ribuan orang sekaligus.
Karna mereka mengira musuh sudah pergi kewaspadaan mereka menurun, begitu serangan anak panah tombak dan sihir serta formasi penghancur menyerang mereka banyak prajurit yang langsung mati.
Ratusan orang berjubah hitam dan bertopeng berdatangan dan langsung menyerang mereka dari segala penjuru, segera pertempuran terjadi di tempat itu.
Jiyu tidak memperdulikan keadaan sekitar yang kacau balau oleh suara bising, suara senjata dan terikan tertahan dari prajurit yang terluka.
Jiyu hanya fokus menjaga Giok Hong dari musuh di sekitarnya, dia juga menjaga Helio Dan dan prajurit elitnya tetap dalam pandanganya.
Tanpa sepengetahuan Jiyu salah 1 pasukan pribadi sang putri mengilang, dan prajurit itu memanah sang putri dari kejauhan.
Jiyu memengal kepala musuh yang menyerangnya dari belakang, dia juga menendang dan menghindari serangan yang terus berdatangan ke arahnya.
Sebuah anak panah melesat cepat kearah Giok Hong dan mengenai bahunya.
"aaaaaa," teriakan Giok Hong mengalihkan atensi Jiyu, dia melihat bahu Giok Hong tertancap anak panah.
"Jangan di tarik!," teriak Jiyu melihat Helio mau menarik anak panah itu begitu saja.
"Jangan di tarik nanti darahnya menetes!," Jiyu tergesa menghampiri Giok Hong.
Darah merembes di lengan baju Giok Hong tapi tidak ada setetespun darah yang jatuh ke lantai.
"Aku hanya ingin mengobatinya, bagaimana jika anak panah itu beracun," kata Helio dan dia tetep mencaput anak panah itu begitu saja dari bahu Giok Hong.
Beberapa tetes darah jatuh begitu saja ke lantai tanpa sempat di hentikan Jiyu, dia bahkan sampai lupa kalau dia bisa menghentikan waktu sementara.
__ADS_1
Begitu darah Giok Hong menetes ke lantai, sebuah sinar merah datang dari dalam lantai dan bersinar amat terang.
Lantai juga tiba tiba meledak dan serpihanya membunuh beberapa ratus orang di sana.