
Kalung Keluarga Hau
“Tiga bulan yang lalu!” lagi – lagi Nakha keceplosan hingga dia menjawab sesuatu yang seharusnya Rully tidak perlu tahu.
“Sudah kubilang pergi!” katanya lagi.
Sementara Rully mengingat jika pernah mengabaikan seorang laki-laki yang lututnya terluka hanya karena tidak mungkin membuka celananya untuk memeriksa. Padahal sangat jelas darah segar mengalir di paha dan dia hanya membebatnya, dengan selembar kain yang dia robek dari kemejanya sendiri.
“Apa mungkin lukanya sampai merusak struktur tulangmu? Tidak mungkin luka biasa membutuhkan waktu sampai tiga bulan untuk sembuh!” tiba-tiba dia merasa bersalah pada pria yang ditolongnya dulu, jika luka itu mengenai tulang, tidak seharusnya dia membebat lukanya terlalu kuat untuk menghentikan pendarahan, sebab justru akan memperburuk keadaan.
“Ya, begitulah kata dokterku! Tapi, biarlah, luka ini akan jadi pengingat!”
“Mengingat apa?”
“Bukan urusanmu!” Maksud Nakha adalah mengingat kejadia buruk itu dan dia tidak akan mengulang perbuatannya yang menyusahkan banyak orang. Termasuk ayah dan ibunya.
Saat semua keluarganya tahu berita kecelakaan itu, Ayah dan Ibu sambungnya datang menunjukkan keprihatinan sekaligus kekecewaan yang mendalam. Ibunya sudah mau mengurusnya dengan baik, tidak dibedakan dari Deni dan, hal inilah yang membuat Deni cemburu karena Leni begitu menyayanginya hanya karena ingin mengambil simpati ayahnya.
“Kau harusnya tidak membuat aku begitu khawatir! Ingat, kau bukan darah dagingku tapi, sudah mengurusmmu! Aku tidak rela anak yang sudah aku besarkan dengan memendam perasaan, mati sia-sia sebelum bisa membalas kebaikan dan kasih sayangku!” kata Leni waktu itu.
Ucapan wanita itu menyadarkan dirinya untuk tidak berbuat seenaknya karena demi membahagiakan wanita yang sudah menggantikan ibunya itu.
“Kau masih muda dan belum menikah, belum waktunya menyusul ibumu!” kata wanita itu lagi.
Saat itu dia begitu mengutuk nasibnya yang lahir ke dunia dengan menukar nyawa ibunya, bahkan sampai sekarang pun dia tidak pernah melihat seperti apa wajah ibunya, karena telah tiada.
Tiba-tiba seseorang mendekat dan berkata, “Kau kenapa?”
__ADS_1
Dia adalah Mentari yang datang setelah lama menunggu Nakha yang tidak juga muncul padahal dia hanya pergi mengambil sampel teh.
Nakha, Rully dan juga Niet yang hanya berdiri sejak tadi, menoleh ke arah sumber suara.
“Aku tidak apa-apa!” jawab Nakha datar, tanpa melihat wajah Tari yang menegang.
“Siapa perempuan ini?” tanya Tari lagi penuh selidik, tatapan matanya bertemu dengan Rully yang tidak lepas melihat pada kalung yang melingkari lehernya.
“Dia hanya teman!” lagi-lagi Nakha menjawab datar
“Oh, teman?” tanya Tari menahan gejolak hatinya yang ingin mengomel melihat Rully tampak begitu dekat dengan orang yang dicintainya.
Sementara Rully mencoba menepis pikiran dan pertanyaannys sendiri demi melihat kalung yang sama dengan yang dia berikan pada Bimbim beberapa hari lalu. Namun, dia tetap berpikir positif jika kemungkinan memang mereka memiliki kalung yang sama.
Dia menggelengkan kepalanya untuk membuang kecurigaan di benaknya, lalu, memutuskan untuk memperkenalkan dirinya begitu juga dengan Niet.
Tari menyambut perkenalan mereka dengan wajah yang biasa-biasa saja, setelah saling menyebutkan nama dia duduk di sisi Nakha.
“Belum, aku tadi baru mencobanya sendiri, rasanya lumayan!” sahut Nakha tanpa beban.
“Lalu, kenapa kau tidak mengambilnya, aku ingin mencoba” kata Tari.
“Baiklah, akan aku ambilkan, tunggu di sini!” kata Nakha, sambil berdiri dan berjalan dengan sedikit pincang sedangkan Tari tersenyum puas pada dua wanita yang ada di dekatnya.
“Dengar! Aku tidak peduli siapapun kalian teman atau bukan, tapi, kalian harus tahu bahwa laki-laki itu hanya mau menuruti mauku! Sebab aku adalah segalanya bagi Nakha!” kata Tari dengan antusias, dia dengan sengaja menunjukkan kedudukannya.
Niet melangkah lebih dekat dan berkata tak kalah sengit, “Memangnya, kau lihat kami seperti mau merebut pacarmu begitu? Hah!”
__ADS_1
“Aku tidak berpikir seperti itu!” sanggah Tari.
“Lalu, apa maksudmu bicara begitu, justru seharusnya kau berterima kasih, karena dialah yang sudah membantunya, kau tahu, pacarmu itu tadi jatuh tapi, kau justru menyuruhnya tanpa belas kasih!” sahut Niet lagi sambil menunjuk Rully.
Tari melihat Rully dan tersenyum, “ Jangan berlebihan, aku tidak melihatnya melakukan apa pun pada Nakha?” katanya.
“Niet! Sudahlah, itu bukan apa!” kata Rully sambil tersenyum pada Tari, “Maafkan Niet, dia memang begitu, tapi, aku senang bertemu denganmu!”
“Hai! Ru! Bukankah dia memakai kalung yang mirip dengan milikmu?” Niet berkata sambil mendekat pada Rully, tapi tetap bisa di dengar oleh Tari.
Tari memegang kalungnya dan berkata, “Ini kalung warisan keluarga dan hanya dimiliki oleh keluarga Hau saja, Nakha sudah memberikannya padaku! Bukankah ini luar biasa?”
Mendengar hal itu, Ruli pun mengerti jika benda yang ditemukannya itu, kemungkinan milik salah satu pria dari keturunan keluarga Hau yang sudah ditolongnya. Dia berniat untuk mengembalikannya saja suatu saat nanti sebab sekarang, dia sudah tahu kalau pemilik kalung itu, maka, dia akan secepatnya bertemu Bimbim dan mengembalikan kalungnya. Toh, tidak ada pengaruhnya memiliki kalung itu atau tidak, dia tidak akan menjadi bagian dari keluarga mereka.
“Ya! Kau luar biasa bisa menjadi bagian dari keluarga mereka!” kata Rully.
“Ruru! Kau juga memilikinya, kan?” kata Niet lagi seolah memprovokasi.
“Niet, siapa tahu hanya mirip, ayo kita pergi!” Kata Rully sambil tersenyum dan melangkah pergi, bersamaan dengan kedatangan Nakha yang membawa segelas air teh.
Rully dan Niet berpisah setelah keluar dari gerai itu sambil membawa barang-barang yang berhasil mereka beli, menuju rumah masing-masing. Sementara Tari, masih memikirkan apa yang baru saja terjadi, dia tidak mungkin salah mendengar tentang Ruru, wanita yang baru saja dikenalnya adalah orang yang disebut Bimbim pada saat bercerita.
Akh, dia pikir dunia begitu kecil hingga bisa bertemu dengan sesuatu yang tidak diinginkan begitu saja dan jika memang benar wanita yang dikatakan Bambim adalah Rully, berarti dia bukanlah wanita tua tukang obat itu melainkan seorang gadis yang sangat cantik.
“Nakha, benarkah wanita yang menolongmu dulu, seorang gadis yang buruk rupa?” Tari bertanya setelah menghabiskan teh-nya.
“Aku melihat wajahnya sekilas karena tertutup cadar, tapi, sepertinya dia memang seorang wanita. Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”
__ADS_1
“Aku hanya .... Ahk, sudahlah, ayo kita pergi!” kata Tari, dia tidak mungkin mengatakan semuanya pada Nakha, apalagi kebenarannya adalah dia mengingkari janjinya pada Bimbim dan dia tidak mengembalikan kalungnya malam hari itu.
❤️❤️❤️