
Itu Kalungku
Sementara Tari memperhatikan kalung yang ada di tangan Bimbim, dengan saksama. Dia tahu, kalung itu milik keluarga Hau dan, dia pun tahu persis di mana Bimbim diadopsi, daerah itu sangat jauh dari lokasi di mana dia menemukan Nakha. Oleh karena itu dia heran lalu, memikirkan berbagai kemungkinan jika seorang tukang obat yang dikatakan Ayahnya adalah, seorang wanita tua bernama Ruru yang dimaksud oleh Bimbim. Wanita itulah yang telah memberikan pertolongan pada Nakha, sebelum dia dan ayahnya.
“Bolehkah aku meminjamnya? Aku akan memberikannya padamu nanti malam, aku ingin meniru desain buah itu!” kata Tari sambil berlutut pada Bimbim.
Sementara Sita hanya melihat interaksi antara Tari dan anak angkatnya itu dari kejauhan, sambil tersenyum sebab dia sedang menerima panggilan telepon.
Bimbim mengangguk dengan polosnya, sambil menghabiskan es krim.
“Kau janji?” tanyanya pada Tari.
“Ya!”
“Baiklah, aku akan menunggumu nanti malam!”
“Oke!” Tari berkata penuh keyakinan dan senyum tulus, sambil membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan jempolnya.
Dia tetap duduk menemani Bimbim sambil menghubungi Nakha, dan setelah telepon tersambung, dia langsung mengatakan maksud ingin bertemu dengannya sekarang, di suatu tempat dan pria itu langsung menyetujuinya.
Tari mematut dirinya di cermin mobilnya, sebelum kedatangan Nakha, dia berjanji akan menemuinya di lobi salah satu hotel keluarga Hau. Dia mengenakan kalung dari Bimbim di lehernya, hanya karena ingin memastikan bahwa, Nakha yakin jika dialah wanita yang sudah membantunya, tidak ada orang lain lagi.
Saat melihat mobil Nakha menepi di tempat parkir, Tari pun turun dengan perlahan dari kendaraannya penuh percaya diri dan, tersenyum pada pria yang juga baru turun. Mereka berjabat tangan lalu berjalan beriringan menuju sofa yang ada di lobby hotel itu mereka duduk berdua secara berdekatan.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya tari memulai obrolan sambil membelai punggung tangan maka yang ada di atas pahanya.
“Ya!” sahut Nakha sambil melihat ke arah Tari dengan alis yang berkerut, tatapannya fokus pada kalung yang ada di leher gadis itu.
Dia heran, kemarin dia melihat kalung itu ada di leher seorang wanita tak dikenal dan sekarang, bagaimana bisa kalung itu ada di leher Tari.
Buyutnya tidak membuat kalung seperti itu dalam jumlah banyak, hanya tiga saja yaitu yang ada padanya dan Misella serta, pada ayahnya tapi, bagaimana bisa tari memakainya sedangkan seingatnya, kalung itu hilang bersama penyeranta miliknya saat kecelakaan.
__ADS_1
Nakha memang menjadi orang yang kuno saat berlatih, dia hanya memakai penyeranta dan tidak membawa telepon genggam bila terbang. Dia bukan tentara angkatan udara, tapi, dia sering dan senang melayang di udara, dalam setahun dia bisa beberapa kali melakukannya jika ada waktu luang. Dan hari itu adalah saat latihannya yang paling naas.
“Dari mana kau mendapatkan kalung itu?” tanya Nakha.
Tari tidak akan mengatakan jika kalung itu dia dapatkan dari Bimbim.
“Aku menemukannya di mobil Ayah, beberapa hari yang lalu saat akan membersihkannya! Aku juga tidak tahu milik siapa tapi, ini kalung yang bagus jadi aku memakainya.”
“Sepertinya itu kalungku!” kata Nakha antusias.
“Benarkah?” kata Tari sambil melepaskan kalung itu dan memberikannya kembali pada pria di sampingnya.
“Ya, saat kecelakaan aku kehilangan kalung itu, tapi seharusnya ada dalam dompet dengan penyeranta milikku, apa kau juga menemukan dompet dan penyeranta di mobil Ayahmu?”
Tari diam sejenak, lalu menggelengkan kepala, sambil berkata, “Tidak, mungin saja hanya kalung ini yang tersangkut di bajumu!”
Meskipun heran, namun Nakha mengangguk, sambil memastikan kalung itu benar-benar miliknya yang, akan menjadi milik wanita pendamping hidupnya kelak.
“Terima kasih!” Tari terlihat bahagia dan dia pun memakai kalung itu kembali.
“Oh, ya! Ada hal penting apa sampai kau ingin menemuiku?”
“Apa harus ada hal penting dulu baru aku bisa bicara denganmu?”
Tiba-tiba Nakha menjadi tidak enak, karena Tari terlihat cemberut dan kesal. Dia merasa bersalah setiap kali mengabaikan Tari tapi, hatinya sendiri yang tidak menyukainya. Sejak pertama kali bertemu dengannya, sikap dan kemanjaan gadis itu terlalu jelas mengharapkan perhatian dan kasih sayang, serta menuntut sesuatu sebagai balas budi karena sudah menolongnya.
“Sebenarnya, apa yang kau harapkan dariku?” Nakha bertanya dengan serius.
“Apa maksudmu, apa kau sudah lupa bawa aku dan ayahku lah, yang sudah menolong dan menyelamatkanmu, padahal kau sedang sekarat waktu itu?”
Sebenarnya Nakha bosan dengan ucapan Mentari itu, karena dia selalu mengungkitnya setiap kali mereka bertemu.
__ADS_1
“Lalu, apalagi yang harus aku berikan padamu dan kedua orang tuamu, apakah semua hadiah yang aku berikan selama ini sebagai ucapan terima kasihku, masih kurang, jangan bilang kau mengharapkan diriku!”
“Memangnya, apa salahnya kalau aku mengharapkan dirimu, Nakha?”
“Oh, jadi begitu? Apakah harus seorang yang dibantu, menikah dengan orang yang sudah membantunya sebagai balas jasa? Tari ... kita bukan hidup di negeri dongeng bukan?”
Ucapan Nakha membuat Tari mengerti jika pria itu tidak menyukainya, tapi dia yakin bila cinta akan datang seiring waktu.
“Aku harap kau tidak kecewa dengan ucapanku, kalau kau memang mengharapkan aku maka, tunggulah ... aku masih berusaha untuk membuat hatiku bisa menyukaimu, sungguh perasaanku tidak bisa kau paksakan apalagi, kalau kau mengharapkan pernikahan, mungkin kau harus lebih bersabar, apa kau bisa?” kata Nakha lagi dengan lemah lembut.
“Baiklah, akan kucoba dan aku tidak akan memaksamu!” Tari berkata dengan air mata yang hampir saja menetes. Dia tidak menyangka jika Nakha terlalu blak-blakan seperti ini.
“Apa kau memiliki seorang kekasih? Tapi, aku selalu melihatmu sendiri?” Tari bertanya dengan penasaran.
“Ya, dulu aku mencintai seseorang dan sudah hampir menikah tapi, dia pergi dengan seorang laki-laki yang mempunyai skill terbang lebih tinggi dan lebih baik dariku!”
“Jadi, karena itu kau rajin berlatih padahal kau bukan seorang tentara angkatan udara atau pilot?”
“Ya! Tapi, sekarang aku butuh waktu untuk sembuh dari trauma, sebelum terbang lagi!”
“Oh, jadi begitu!”
“Oh, ya! Saat kau menolongku apa kau melihat kursi pelontar yang aku gunakan serta parasutku yang rusak terlihat di sekitar tempat itu?”
Tari kembali tertegun untuk berpikir sebab selama ini Nakha tidak pernah mempertanyakan semua hal tentang dirinya saat ditemukan. Namun, dia heran kenapa sekarang pria itu menjadi sangat banyak bertanya.
Sementara Nakha hanya memastikan tentang penemuan barunya, setelah pendeteksi radar pada mobilnya menangkap sinyal dari penyerantamya yang hilang. Dia beranggapan bahwa dengan ditemukannya segala sesuatu yang berhubungan dengan ledakan itu, maka, lebih mudah pula mengetahui tentang wanita penolongnya.
Dia kemudian menceritakan bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi.
❤️❤️❤️
__ADS_1