Mencintai Pengobat Luka

Mencintai Pengobat Luka
Si Pengobat Luka


__ADS_3

Si Pengobat Luka


 


“Aku harus bertemu wanita itu, bawa dia ke sini secepatnya!” kata Leni pada akhirnya, setelah terdiam cukup lama.


Nakha mengangguk cepat, lalu Leni pun pergi, meninggalkan anak sambungnya yang terlihat gelisah, karena tidak tahu harus bagaimana menghubungi nomor ponsel gadis itu. Salah satu cara yang dia pikirkan adalah, dengan pergi ke rumahnya, sekaligus memeriksa penyeranta yang tertangkap pada layar radar di mobilnya.


Pria itu pergi keesokan harinya, setelah sarapan pagi, dengan terburu-buru. Semalaman dia tidak bisa tidur hanya karena memikirkan Rully dan ingin cepat bertemu, bahkan dia tidak berpamitan dengan ayah dan ibunya.


Nakha harus berkejaran dengan waktu, belum tentu dia bisa bertemu dengan gadis itu hari ini. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi membawa semua harapan yang ada, untuk menemukan Si Pengobat Luka.


Nakha bisa mencapai tepian jalan di dekat rumah Rully, setelah hampir satu jam lamanya padahal jalanan tidak macet, tapi, karena memang jarak tempuh antara rumah mereka sedemikian jauhnya.


Nakha berdiri di depan pintu rumah itu dan tetap bergeming di sana.


“Ru! Pakai masker tepung berasnya sebelum berangkat!” sebuah suara seorang wanita terdengar cukup keras dari luar.


“Ibu! Kenapa warnanya merah? Apa Ibu pakai beras merah?”


“Ya!”


Suara percakapan itu terdengar bersahutan, mereka sepertinya bicara dari ruang yang berbeda. Disaat yang bersamaan, pintu rumah itu terbuka dari dalam, tampak Harun sibuk memasukkan beberapa peralatan dalam karung di sana. Kemudian terjadilah percakapan antara anggota keluarga di sana.


“Ayah! Lihat, Ibu mengambil pucuk daun jambu biji merah, yang baru tumbuh untuk campuran masker wajah kita!”


“Biarkan saja!” kata Harun sambil mengoleskan masker juga ke wajahnya.


“Akh! Wajahku pasti mengerikan sekali kalau memakainya!” kata Rully.


“Tidak ada yang akan melihatmu di hutan, kecuali lebah dan kumbang!” sahut Harun.


“Ayah!” Rully berteriak manja tanpa melirik ke arah pintu sedikit pun.

__ADS_1


“Jangan menggerutu, walaupun warnanya jelek, tapi itu bagus untuk wajahmu, kau tahu, dulu Ibu tidak pernah memakai sun cream atau sun blok ... hanya memakai masker dari beras yang direndam semalaman lalu, ditumbuk halus dan dicampur dengan bengkuang!”


Baina, ibu Rully, terus bicara di ambang pintu sambil mengolesi wajah Rully yang hendak ke hutan,  dengan masker alami buatannya sendiri. Mereka tidak sadar ada Nakha yang tengah menyaksikan aktivitas sederhana keluarga mereka.


“Permisi!” ucapan Nakha yang berdiri di pinggir pintu membuat tiga orang yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing itu menoleh secara bersamaan.


“Ya! Silakan!” sahut Harun saat itu dia yang berdiri paling dekat dengan Nakha.


“Nakha?” kata Rully heran.


“Apa aku mengganggu? Aku ingin bertemu Rully, dan mengajaknya pergi denganku!” kata Nakha tanpa basa-basi.


“Hai! Siapa kamu, enak saja mau ngajak anakku!” kata Baina sambil menarik Rully ke belakang punggungnya, “Apa kau tidak pernah diajari sopan santun?”


Sementara Nakha terkesiap begitu melihat wajah Rully yang sudah dibaluri dengan masker wajah alami dari campuran tepung beras merah, bengkuang dan daun jambu biji merah. Penampilannya baik dari rambut, postur tubuh dan wajah sama persis dengan wanita yang menolongnya.


Rully mengusap wajahnya, dengan tisu, lalu, menyimpan tas ransel dari pundaknya.


“Nakha, masuklah!” katanya.


“Dia Nakha, laki-laki yang pernah aku ceritakan!” kata Rully, pelan, sambil melangkah masuk kembali ke ruang tamu.


Nakha mengikutinya sambil melihat ke sekeliling rumah, lalu, duduk. Diikuti Baina dan Harun yang di sebelah kiri dan kanan Rully di sofa panjang.


“Jadi, perkenalkan dirimu dulu, walaupun kau kenal dengan Rully, tapi, kami tidak kenal ... belajarlah kesopanan, karena tidak semua orang bisa menerima perbuatan semaunya seperti yang kau lakukan!” kata Harun dengan perlahan.


Nakha diam, dia takjub dengan semuanya yang dia lihat dan juga sikap keluarga itu. Setelah itu, dia pun memperkenalkan diri dan keluarganya, termasuk hobi dan juga pertemuan dengan Rully yang begitu berkesan baginya.


Harun dan Baina menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


“Kami mungkin tidak begitu tahu tentang keluargamu yang terkenal itu, sebab pusaran kehidupan kami hanya seputar kebun dan tanaman herbal. Kalian bisa menganggap diri dikenal, padahal belum tentu orang mengenal siapa kalian. Ingat bahwa kita tinggal di salah satu belahan bumi, sedangkan masih ada belahan bumi yang lain!” kata Harun, menanggapi perkenalan Nakha.


“Tadi, kalian mau ke mana?” tanya Nakha penasaran.

__ADS_1


“Ke hutan, kalau kau mau mengajak Rully, besok saja!” kata Baina tampak tidak suka.


“Apa aku bisa menunggumu?” tanya Nakha pada Rully.


“Apa harus hari ini? Untuk apa aku harus ikut denganmu, apa kau ingin di terapi?” tanya Rully, dia akan meminta Nakha pergi ke klinik sinse saja kalau dia ingin tetapi, sebab hari ini bukan gilirannya piket di sana.


“Ya!” kata Nakha.


“Kau bisa pergi ke klinik Sinse saja!” jawab Rully.


“Tapi, aku ingin pergi denganmu!” pinta Nakha.


“Ke hutan, perginya? Ayo!” kata Harun sambil berdiri.


Akhirnya Nakha pergi dengan mobilnya mengikuti Harun dan Nawa yang mengendarai motor. Dia mengikuti semua kegiatan Rully, mencari beberapa tanaman herbal yang hanya tumbuh di hutan itu, seperti lumut dan jamur.


“Apa kau akan membuat semua tanaman ini untuk obat?”


Nakha bertanya saat hanya berdua dengan Ruli berdua, sedangkan Ayah gadis itu sedang pergi mengambil madu. Sejak tadi dia hanya diam, mengamati Ruli dan kegiatan ayahnya sebagai pengalaman pertama dan baru baginya. Namun, ini cukup mengasyikkan selalu berada di dekat wanita itu hatinya terasa nyaman.


Mereka sudah masuk ke dalam hutan yang rimbun dan banyak semak belukar. Meski demikian kawasan perlindungan tanaman itu masih bisa dijangkau dan susuri dengan mudah.


Pria itu memantapkan hati dan pikirannya, meyakinkan diri bahwa wanita penolongnya adalah benar-benar Rully. Dia sudah menyamakan bentuk wajah yang mengerikan dengan muka perempuan di sampingnya yang memakai masker beras merah, mereka sama.


Rully tersenyum, dan menggelengkan kepalanya, “Tidak, sebagian untuk di makan. Aku ingin masak jamur hutan ini! Karena itu aku ikut ayah, sambil menunggunya mencari madu!”


Rully mengeluarkan kantung plastik untuk menyimpan jamur hutan yang, biasa tumbuh di bawah pohon besar dengan tanah yang lembab. Di saat yang sama, Nakha mencium aroma khas rempah-rempah yang menguar dari dalam tas gadis itu. Itu aroma yang sama dengan obat herbal yang dioleskan wanita itu pada lukanya.


“Ru ....!” panggil Nakha lembut.


“Ya!” jawab Rully tanpa menoleh pada Nakha, dia sedang menata hatinya yang berdebar karena laki-laki itu adalah orang yang pernah ditolongnya. Dia ingat beberapa bagian tubuh yang pernah dia sentuh, termasuk wajahnya, semua pas sekali dengan Nakha.


“Aku merasa yakin kalau kau adalah wanita yang sudah menolongku tiga bulan yang lalu!” kata Nakha.

__ADS_1


 


❤️❤️❤️


__ADS_2