Mencintai Pengobat Luka

Mencintai Pengobat Luka
Di Hadapan Puluhan Pasang Mata


__ADS_3

Di Hadapan Puluhan Pasang Mata


Panas matahari seakan membakar bumi, banyak orang menikmati waktu musim panas dengan banyak kegiatan, karena hanya berlangsung beberapa bulan saja dan saat musim dingin tiba masyarakat lebih sedikit mengadakan event atau perhelatan yang menarik perhatian warga.


Rully baru saja keluar dari tempat dia bekerja, menjadi asisten seorang sinse yang membuka praktik di sebuah klinik terapi akupunktur dan pusat herbal yang cukup terkenal di kota.


Namun, ada gerai herbal baru yang jauh lebih besar dan hari ini melakukan grand opening mereka. Banyak orang yang akan datang.


Rully berangkat bersama Niet temannya yang mendapatkan undangannya secara resmi, dua wanita itu cukup antusias dalam perhelatan sebab biasanya akan banyak produk baru dan diskon tentunya.


“Lihat, mereka memiliki teh daun sirsak di sini, apa kau akan membelinya?” tanya Niet saat mereka sedang melihat-lihat banyaknya produk herbal yang dijual di tempat itu.


“Lihat! Ada tester gratis untuk setiap jenis teh, ayo! Kita minum!” kata Rully sambil menunjuk ke sebuah meja, dan dia melangkah lebih dulu dari Niet karena ingin mencicipi rasanya.


Rully mengambil satu gelas kecil teh, bersamaan dengan seorang pria, yang juga melakukan hal yang sama. Kedua mata mereka saling menatap saat selesai minum teh itu dan saling melempar tersenyum, tanpa mengalihkan tatapan mata masing-masing. Ini sebuah kebetulan.


Sementara Nakha, pria itu sebenarnya sudah melihat gadis itu sejak dari pintu masuk.


Nakha pun bertanya, “Gimana rasanya?” sambil menggoyangkan gelas kecil yang isinya sudah kosong.


Rully membalas dengan mengangguk, diai tidak terkejut atau heran kenapa Nakha bisa ada di sana sebab semua orang, siapa pun mereka berhak untuk datang. Jadi, tidak menutup kemungkinan jika pria itu pun ada, wajar.


“Hmm ... ini enak, rasa dan aromanya memang daun sirsak, aku belum membaca kandungannya, apa mereka memasukkan kapulaga di dalamnya?” Rully balik bertanya, dia sebagai orang yang berkutat dalam dunia herbal tentu pandai memberi ulasan.


“Hmm ... kau benar! Coba baca tulisan komposisinya,” Sahut Nakha sambil meletakkan gelasnya, “Bagaimana menurutmu?”


Kini kedua orang itu bercakap-cakap santai di dekat meja tester yang berisi beberapa gelas berisi teh gratis untuk di cicip. Sementara Nawa menganggap pertanyaan Nakha hanyalah obrolan biasa saja sebagai sesama pengunjung.


“Tidak masalah, sejauh tujuan di peracik teh ini!” kata Rully sambil melihat ke arah gelasnya yang kosong.

__ADS_1


“Apa ada solusi yang lebih baik?”


“Semua produk di buat dengan sebuah tujuan, tidak masalah jika mencampur bahan lain sesuai tujuan atau khasiat pada teh ini .... Tapi, kalau dibuat hanya untuk mengeksploitasi fungsi daun sirsak saja, maka, seharusnya sesuai namanya, tidak ada kandungan lain di dalamnya ... kecuali penguat aroma seperti melati yang di tambahkan pada teh hijau!”


Nakha mengangguk, dan bertanya, “Kau sudah lama di sini?”


“Ya, apa kau baik-baik saja sepulang mengantarku kemarin?” tanya Rully sambil mengingat saat pria itu pergi begitu saja setelah menceritakan tentang pobianya.


Nakha mengangguk malas, dia tidak ingin membahas hal itu sebab tidak banyak orang yang tahu tentang kelemahannya, selain dokter Andre dan Ayahnya serta Deni. Dia sepertinya ingin berkata lagi tapi, dia urungkan saat Niet mendekat dan membungkuk hormat.


“Selamat siang, Tuan Hau!” katanya dan Nakha melirik pada Rully, lalu, melangkah pergi.


Namun, baru saja beberapa langkah, Nakha terjerembab secara menyedihkan ke lantai dengan seorang pria bertubuh gemuk menimpanya.


“Aaakhh ....!” pekiknya keras.


Seorang pria gemuk tanpa sengaja terjatuh menimpa Nakha, karena dia berjalan sambil memainkan ponsel, lalu menabrak sebuah benner iklan di hadapannya, hingga membuatnya limbung. Lalu, terjadilah insiden itu.


“Maafkan saya, Tuan!” katanya, dengan wajah memelas dan penuh penyesalan.


Di saat yang bersamaan Rully mendekat dengan cepat dia berlutut di sisi Nakha, jiwa penolongnya tidak bisa membiarkan orang lain terluka, tentu saja dia khawatir karena tahu Nakha memiliki trauma pada memori otak dan juga lututnya.


“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Rully sambil menatap wajah Nakha lekat, sambil memperhatikan ekspresi wajahnya, dia akan tahu jika ada masalah dalam tubuh seseorang dari sorot matanya.


Nakha bangkit dan duduk, dia menjawab pertanyaan Rully tanpa melihat ke arah pria gemuk, “Ya! Aku baik!”


“Tuan! Maafkan aku!” kata pria gemuk itu lagi, sementara beberapa puluh pasang mata yang ada di perhelatan itu mulai menjadikan Nakha dan pria gemuk seperti tontonan gratis.


“Ya! Pergilah!” kata Nakha tanpa ekspresi dan pria gemuk pun pergi dengan wajah tertunduk dan bersyukur orang yang tertimpa tubuhnya tidak mempermasalahkannya.

__ADS_1


Sebenarnya Nakha sangat geram dan ingin melakukan kekerasan pada si gemuk karena sudah membuatnya sial setengah mati, tapi, dia menjadi sangat malu untuk bersikap kasar di hadapan Rully. Gadis itu sudah terlalu banyak tahu tentang kelemahannya.


“Bukankah lututmu terluka, apa tidak sakit?” Rully bertanya setelah pria gemuk pergi.


“Entah, aku tidak merasakan apa-apa!” Nakha berkata sambil mengusap lututnya sendiri.


“Ayo coba! Berdirilah, aku akan membantumu!”


“Tidak perlu, aku bisa berdiri sendiri!” katanya sambil berusaha bangkit sambil memegangi lututnya, tapi, dia sempat meringis karena kakinya ternyata cukup nyeri.


“Ayo!” kata Rully, sambil menyimpan lengan Nakha pada pundaknya, memapah pria itu keluar dari kerumunan manusia yang melihat. Dia melakukannya dengan tenang dan tanpa canggung sama sekali.


Nakha menurut dan dia tidak menolak karena memang sakit, saat Rully membawanya ke salah satu kursi kosong yang memang tersedia di sana, tak jauh dari tempatnya terjatuh tadi.


Niet mengikuti sahabatnya dari belakang tapi, dia tidak berbuat apa-apa, walaupun, heran karena Rully tampak sudah dekat dengan Nakha, seorang pria dari keluarga Hau, yang dikenal sebagai anak pembangkang dan pembuat masalah.


“Bahaimana kau tahu lututku terluka?” tanya Nakha setelah duduk dan Rully tetap berdiri di hadapannya dengan tatapan waspada. Sebab dia biasa berdiri saat membantu sinse melakukan terapi pada pasiennya sedangkan Nakha adalah pasiennya saat ini.


“Kau yang bilang waktu mengantarkan aku malam itu, dan kau juga bilang punya pobia, apa kau lupa?” Rully tetap berdiri dan melipat kedua tangannya di depan dada.


Nakha diam, saat berada di komunitas, membuatnya sadar dan bisa berpikir jernih, hingga dia menyesal. Orang lain tidak boleh tahu kelemahan itu karena akan menurunkan pamor arogansinya. Namun, dia sudah terlanjur mengatakan banyak hal pribadi pada Rully, wanita asing yang baru dikenalnya.


“Aku tidak seharusnya mengatakan semua itu padamu, padahal kau tidak bisa melakukan apa-apa!” kata Nakha.


“Kalau phobia, kau hanya harus melawan rasa takutmu, sedangkan lututmu, ya harus kau obati pada dokter spesialis, pasti sembuh!”


“Aku juga tahu kalau hanya seperti itu! Sudah, pergilah! Aku tidak butuh bantuanmu lagi!”


“Sejak kapan lututmu terluka?” Rully mengabaikan penolakan Nakha.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2