
Makan Malam Hingga Menjadi Pantas
Setelah berada di rumah, Rully langsung merebahkan dirinya di kamar, membuat Baina merasa aneh, tidak biasanya anak perempuan itu bersikap demikian. Biasanya dia akan menemui dirinya dan membicarakan banyak hal tentang semua yang dia alami selama bekerja, setiap harinya.
“Ru, kamu baik-baik saja?” tanya wanita berumur 60 lebih tahun itu dengan lembut sambil mengusap rambut bergelombangnya.
“Aku baik-baik saja, Bu. Jangan khawatir! Apa Ibu sudah makan?”
“Seharusnya aku yang bertanya begitu, ada apa? Tidak biasanya kau murung?”
“Ya! Aku memang memikirkan sesuatu,” kata Rully ragu.
“Coba ceritakan, mungkin Ibu bisa membantumu!”
“Ibu ingat Nakha?”
Mendengar nama itu di sebut, Baina menarik napas dalam. Dia tidak begitu suka kecuekan laki-laki yang sebaya dengan anaknya bahkan, dis terlihat lebih kekanak-kanakan.
“Ada apa dengan anak itu?” tanyanya ketus.
“Dia melamarku, Bu! Keluarganya mengajak kita makan malam besok!”
“Ibu tidak mau kumpul dengan keluarga kaya seperti mereka,” Baina sudah sangat pengalaman bergaul dengan berbagai kalangan sejak dia kecil, hingga memasuki usia lanjut seperti sekarang, membuatnya tahu betul bagaimana orang-orang akan bersikap sesuai kasta mereka.
“Kalau Ibu tidak mau ke sana, ya, aku juga tidak!”
“Kau tanya saja pada Ayahmu!”
“Kalau Ayah mau apa Ibu juga akan ikut memenuhi undangan mereka makan malam?”
“Tidak, kata Ibu tidak ya tidak!”
__ADS_1
“Itu artinya kalau aku ingin menikah dengan Nakha, pun Ibu tidak merestuinya?”
Baina diam lalu, tersenyum sambil menggeleng.
“Kau sudah dewasa, Ru. Apa pun yang menjadi keputusan dalam hidupmu aku akan mendukung, selama kau menyukainya dan berani memikul tanggung jawab setelah keputusan itu kau ambil!”
“Oh!”
Benar saja, ucapan Baina tidak goyah walaupun Harun membujuknya, dia tidak mau memenuhi undangan untuk makan malam.
Pada keesokan harinya, saat Nakha datang menjemput, pria itu pun kecewa karena pembatalan rencana secara sepihak. Lalu, dia sendiri yang makan malam di rumah Rully mewakili keluarga Hau.
“Bagaimana, apa makanan buatanku enak? Pasti tidak kalah dengan makanan buatan koki di rumah mewah keluargamu, kan?” kata Baina setelah melihat Nakha menyendok beberapa suap makanan ke dalam mulutnya dan dia tidak merasa canggung sedikit pun.
Baina sudah merencanakan ini sejak awal setelah mendengar rencana makan malam dari anaknya. Pertimbangan pribadinya adalah karena tidak mau terburu-buru, untuk menjadikan putri semata wayangnya, sebagai tunangan dari anak keluarga kaya yang baru dikenalnya itu.
Jangan sampai, sikap tergesa-gesa atau terlalu antusias karena memiliki menantu orang kaya, justru membuat anaknya kelak hidup menderita dalam keluarga itu bersama suaminya.
Nakha mengangguk menanggapi pertanyaan Baina, dia baru saja menghubungi ayah dan ibunya tentang penolakan keluarga Rully untuk makan malam bersama.
Saat itu Hamza dan Leni langsung menyepakati untuk mendukung Nakha makan malam di sana, mengakrabkan diri dengan keluarga Rully. Mereka memaklumi semua penolakan mereka dan mengambil kesimpulan jika keluarga Rully, bukanlah orang yang mudah silau karena harta.
“Justru itu baik bagimu, makan malamlah di sana, Nakha ... kau harus bersikap sopan dan ramah!” Leni berkata penuh penekanan pada anaknya itu, saat menghubungi dan membatalkan rencana.
Sebenarnya berat hati Nakha makan malam bersama keluarga asing, apalagi dia juga belum begitu akrab dengan Rully. Hanya ada perasaan yang dia sendiri sulit mengartikannya, jantungnya selalu berdetak lebih kencang jika berdekatan dengan gadis itu.
“Maaf, kami tidak bisa memenuhi undangan keluargamu, mungkin lain waktu. Terlalu cepat bagi kami untuk acara seperti itu sedangkan kalian baru saja kenal, kan?” kata Harun mencoba memberi suasana nyaman saat menikmati makan dan Nakha hanya bisa senyum yang canggung.
Setelah selesai makan malam pertama yang kaku itu, Rully langsung berdiri dari duduk dan hanya membantu Ibunya menumpuk piring kotor saja.
“Ayo! Kita bicara di luar!” kata Rully, mencoba mengakrabkan diri. Nakha mengikuti tanpa banyak protes.
__ADS_1
“Duduklah di sini!” Rully menggamit tangan Nakha agar duduk di sampingnya.
Nakha duduk sambil memandang Rully dan menautkan genggaman tangan lebih erat.
“Jangan tegang begitu dengan Ayah dan Ibu, mereka hanya terlalu menyayangiku,” ucap Rully, sambil memandang dikejauhan.
“Mereka tidak ingin ada hal buruk terjadi padaku, itu saja! Lain kali aku akan datang ke rumahmu!” kata Rully sambil membalas tatapan Nakha dengan lembut.
“Ya! Aku tahu, aku juga tidak akan menyakitimu!”
“Baguslah kalau kau tahu, kita bisa memulai segalanya dari awal.”
“Memang kita ini baru saja memulai, kan? Aku pikir memang tidak perlu terburu-buru! Apalagi aku ini anak tak tahu diri!”
“Siapa yang bilang?” tanya Rully penasaran.
“Banyak!”
“Aku pun pernah menilaimu seorang Casanova!”
“Benarkah? Padahal aku tidak begitu!”
“Hmm ... Wajar, kau anak keluarga berada dan pasti banyak wanita di sekelilingmu, oleh karena itu ibuku begitu khawatir kalau kau mengkhianati cintaku!”
Nakha tersenyum tipis.
“Tidak, aku tidak kan berbuat hal yang sama dengan Ayahku yang menelantarkan Ibuku hanya karena mementingkan perasaan Istrinya!”
“Tunggu dulu ... apa maksudmu? Aku tidak mengerti!” tanya Rully sambil mengerutkan keningnya.
❤️❤️❤️
__ADS_1