
Rahasia Selamanya
Di sebuah rumah mewah dengan pagar besi dan taman bunga yang indah, tampak seorang wanita dan seorang pria dewasa sedang berbincang-bincang di teras. Bukan hanya aneka bunga, yang mengelilingi mereka, tapi, ada banyak tanaman langka menghiasi halaman rumah itu.
“Ayah, apa yang harus aku lakukan kalau aku bertemu Nakha? Apakah aku harus jujur padanya, kalau wanita buruk rupa yang menolongnya adalah seorang gadis yang bernama Ruru? Dia ternyata sangat cantik, Ayah!” kata Tari, gadis berlayut manja di lengan ayahnya sambil menyusut air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya.
Anak dan ayah itu bercakap-cakap dengan serius, membicarakan hal yang dialami Mentari sejak pagi. Di mana gadis itu mengetahui sebuah fakta jika wanita yang di cari oleh kekasihnya selama ini, adalah gadis yang sering ditemuinya beberapa hari terakhir.
Tari mengatakan semuanya pada sang ayah, Bara. Pria itu pun sebenarnya cukup mengenal sosok Harun, si tukang obat dari desa Karakas yang merupakan orang tua Rully, gadis yang diceritakan anaknya. Wajar sekali bila Nakha sembuh karena pertolongan pertama yang diberikan oleh anak tukang obat itu.
“Kau anak gadisku yang cukup pandai, pikirkan dengan baik sebelum mengambil keputusan untuk hidupmu sendiri, kalau kau memang merasa perlu menyembunyikannya, maka, biarlah rahasiamu selamanya akan tetap menjadi rahasia!”
“Tapi, Ayah! Nakha tidak sungguh-sungguh menyukaiku karena dalam hatinya, selalu tersimpan perbuatan gadis yang sudah menolongnya.”
“Bukankah kau juga gadis yang sudah menolongnya lalu, apa bedanya?”
“Tapi, aku sudah melihat semuanya dan gadis itu justru merahasiakan apa yang sudah dilakukannya dulu pada Nakha, aku tidak tahu mengapa dia berbuat seperti itu?”
“Bukankah itu menguntungkan? Jadi, kau tidak perlu merasa bersalah karena dia memilih untuk menyembunyikan hal yang sebenarnya!” Kata Bara.
“Ya, hal itu pun bukan masalah bagiku, tapi, aku takut dinilai terlalu jahat dan serakah bila aku tidak jujur, apalagi soal kalung yang seharusnya menjadi mmiliknya!”
“Pikirkan kenyamanan hatimu, Sayang! Ayah ingin anak Ayah bahagia ... kalau kau memang mencintai Nakha dan ingin hidup bersamanya ... aku akan mendukungmu tapi, kalau kau ingin jujur ... maka jujurlah, kemudian serahkan keputusannya di tangan pria itu biarkan dia memilih!”
“Tapi, Ayah! Bagaimana kalau dia lebih memilih Ruru?”
“Apa kau takut dengan kemungkinan itu?” tanya Bara.
__ADS_1
Tari menganggukkan kepalanya, Bara pun meraih tangan anaknya dan menggenggamnya dengan kuat. Dia berkata, “Kakau kau takut, maka jadikan semua ini sebagai rahasia kita!”
Tari tersenyum kemudian memeluk ayahnya erat, dia memilih memegang rahasia tetapi dia juga tidak ingin berbuat curang, karena dia ingin hidup dengan tenang, bersama orang yang dicintai dan mencintainya.
Sejak kecil ayahnya selalu mendidiknya dengan kebaikan bahkan, merawat tanaman dengan penuh perasaan. Bagaimana mungkin dia bisa menyakiti orang lain, tapi, semua adalah perjuangan demi mendapatkan Nakha, laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta. Kalaupun suatu saat kebenaran terkuak, dia tetap akan berusaha mempertahankan pria itu kemudian, melihat di mana takdir akan berpihak.
Tari berjalan ke kamar sambil menimang-nimang kalung ditangannya dia akan menyibukkan diri dengan ponsel, untuk mengirim beberapa pesan manis serta penuh perhatian pada Nakha.
Pria itu selalu berkata agar dia tidak terlalu mengharapkannya, dengan alasan jika dirinya sibuk atau melakukan hobinya berselancar di pantai yang kebetulan dekat dengan villa keluarga.
Seperti malam itu, ketika Tari mengirimkan pesan, dia pun tidak terlalu berharap Nakha akan membalas pesannya. Dia hanya menunjukkan kesungguhan mencintai dan siap menjadi pendamping pria itu sampai akhir hayatnya. Dan, benar saja sampai keesokan harinya pesan itu tidak mendapatkan balasan juga.
$$
$$
$$
$$
Kedua keluarga sudah dekat, sejak pertemuan pertama di rumah sakit, saat Nakha diselamatkan oleh keluarga Bara dari kecelakaan pesawat yang dialaminya. Tari ikut andil dalam menyelamatkan salah satu pewaris keluarga Hau.
“Aku sudah lama ingin menjodohkan Tari dan Nakha ....” kata Leni, di hadapan Bara, Tari dan Bella—ibunya.
Tiga orang yang menjadi lawan bicaranya itu tersenyum.
“Bagaimana, Sayang?” tanya Leni, pada Hamza—suaminya.
__ADS_1
Pria itu mengangguk setelah menyeruput kopi dan meletakkan cangkirnya di atas meja, seraya berkata, “Aku setuju saja bagaimana baiknya untuk anak-anak ..., kita akan membicarakan dengan Nakha kalau semua temannya sudah pergi.”
Suara musik dari lantai atap, tempat Nakha dan para sahabatnya berkumpul untuk main bilyard, masih terdengar, menandakan bila acara anak-anak muda itu belum juga usai. Namun semua itu tidak mengusik pembicaraan serius para orang tua di lantai dasar.
“Yang penting, kita sudah sepakat, dan Tari pun setuju, bagaimana Tari?” kata Leni, antusias dan orang yang ditanya pun mengangguk senang, inilah harapannya.
“Apa tidak lebih baik kita bicarakan dulu dengan Nakha?” kata Bara, di sambut anggukan kepala oleh Bella—isrtinya.
“Tidak perlu, soal Nakha, bair jadi urusanku!” sahut Leni.
Leni, berkata penuh dengan rasa percaya diri, dia tahu kelemahan Nakha, hingga yakin kalau anak sambungnya itu akan menurut padanya.
“Setidaknya mintalah pendapat Sita dan Deni bagaimana?” Kata Hamza.
“Baiklah, aku akan mengirimnya pesan kalau hanya untuk meminta pendapat saja aku yakin mereka pasti setuju!” ujar Leni sambil mengetik pesan di layar ponselnya.
“Ibu apa tidak terlalu terburu-buru?” tanya Tari, sedikit berbasa-basi, padahal dia sudah senang apabila pertunangannya diputuskan lebih cepat lagi.
“Jangan kuatir ini sudah tepat, aku sudah lelah mengarahkan dan menasehati anak itu aku akan bersyukur kalau dia lebih cepat memiliki seorang istri yang bisa memberinya arahan menjadi lebih baik ... Dia selalu merepotkan aku! Dan aku pikir tadi adalah wanita yang tepat!” kata Leni.
“Anda Ibu yang hebat Nyonya Leni, merawat Nakha dengan baik seperti anakmu sendiri itu, luar biasa belum tentu ada wanita lain yang mau bersabar seperti itu!”
“Anda terlalu berlebihan Nyonya Bella, aku melakukannya hanya karena mencintai suamiku dan aku bersyukur karena dia lebih memilihku!”
Dalam hati Hamzah berpikir bahwa, dia tentu saja memilih Leni karena ibu yang mengandung Nakha sudah tiada saat melahirkan bayinya. Dia tetap akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat, karena semua berawal dari kesalahannya.
Saat jatuh hati pada ibu Nakha, Hamza sempat berharap, apabila hukum di negaranya bisa seperti hukum di zaman kaisar dan raja-raja yang memperbolehkan banyak selir selain ratunya. Tentu dia akan menjadikan ibu Nakha adalah bagian dari keluarganya, walaupun, dia menikahi wanita itu secara siri.
__ADS_1
Namun, Hamza tidak menyangka jika setelah melahirkan anak laki-laki itu istrinya akan tiada. Dia benar-benar jatuh cinta untuk kedua kalinya kepada wanita lemah lembut dan miskin itu, dia bahkan berniat ingin mengangkat derajat dan kehidupannya selama dia mampu.
❤️❤️❤️