Mencintai Pengobat Luka

Mencintai Pengobat Luka
Bukan Kebetulan


__ADS_3

Bukan Kebetulan


“Ya! Tidak masalah! Bagusnya dia trauma bahkan dan punya phobia sekarang, kan? Ya ... setidak-tidaknya dia tidak akan merepotkan kamu lagi untuk mengurus pesawatnya itu aku bisa menyewakan hanggar itu untuk pesawat lain!”


“Tuan, menurutku, artinya anak itu memang sudah beruntung sejak dia lahir ... siapa yang menyangka dia akan ditemukan oleh perempuan seperti itu, aku sudah menyelidiki latar belakangnya, dia wanita yang luar biasa!”


“Kapan kau mulai menyelidikinya, July?”


“Sejak aku melihatnya di grand opening gerai herbal kita!”


“Bagus kalau begitu, kita harus membuat mereka berdua benar-benar menikah agar aku bisa bebas dari anak itu dan Ayah tidak lagi menuntutku, untuk menyayanginya kalau dia sudah punya istri!”


“Baik ...aku akan mengusahakan agar pernikahan itu benar-benar terlaksana, kalau begitu apa yang akan Tuan lakukan, keluarga itu hanya tertarik pada dunia herbal.”


“Jangan kau berikan hadiah seperti biasa kau beli untuk Tari, carikan dia bibit bunga dan tanaman langka atau sebagian tanah keluarga yang bisa dijadikan untuk berkebun tawarkan dia kerja sama dengan perusahaan kita.”


“Ide Anda selalu brilian, tanah mana yang akan Anda berikan? Semua tanah kita jauh dari tempat tinggal mereka!”


“Kalau begitu, beli saja sebagian tanah yang dekat dengan rumahnya lalu, berikan sertifikat kepemilikan tanah itu padanya, kalau perlu garap tanahnya dan sudah memiliki beberapa tanaman herbal kalau bisa ginseng langka dari Korea!”


“Apa Anda tidak bercanda Tuan, tentu saja bibitnya akan mahal kalau harus kita ambil dari negara itu bukan?”


“Ya ... mungkin sudah waktunya aku harus mengeluarkan tabunganku!”


“Hahaha! Apa Tuan sadar, bahkan Anda akan melakukan semua itu hanya untuk Nakha? Anak itu memang beruntung!”


Deni diam sejenak, lalu, berkata, “Ahk ya! Kau benar, July! Tidak, kalau aku melakukannya anak itu benar-benar beruntung!”


“Jadi?”


“Biarkan saja dia, kecuali kalau dia gagal menikah dengan perempuan ini maka lakukan rencana selanjutnya apa pun yang bisa membuat dia jera, dan mau melakukan tanggung jawabnya di perusahaan.”


“Sepertinya sudah cukup Tuan, hobi dan kelakuan dia yang sangat merepotkan adalah terbang. Jadi, untuk hobi yang lainnya, seperti berselancar dan kebut-kebutan di jalan, aku rasa kita tidak perlu membuat sesuatu yang bisa mengotori tangan kita!”


Deni menganggukkan kepalanya dan Juli terus berkata-kata.

__ADS_1


“Dan, aku pikir dia pasti punya nasib buruk, kita tidak perlu repot-repot melakukan sesuatu agar dia jera, istrinya pasti tidak akan tinggal diam, dua kesenangannya itu sudah sangat berisiko bukan?”


“Ya, ya, baiklah! Aku akan mulai melibatkan dia sekarang di perusahaan, bantu aku mengajarinya!”


“Tentu! Anda tidak perlu khawatir soal itu saya akan melakukan yang terbaik kalau soal perusahaan!”


“Hmm ... kalau dia sudah bisa mengelola semuanya sendiri dan bisa dibebani pekerjaan ini, aku yang akan bersenang-senang dan melakukan hobiku ... Sudah waktunya giliran dia untuk mengurus perusahaan dan memeras tenaga serta otaknya, tidak harus aku!”


July mengangguk disertai seringaian, dia akan punya kesempatan mengerjai Nakha kali ini, dan berharap pernikahan pria itu akan segera terjadi dalam waktu dekat.


$$


$$


$$


$$


Di tempat kerjanya, Rully melamun karena memikirkan hal yang baru dia alami dengan keluarga baru Bimbim. Dia mencoba meyakinkan hatinya sendiri apakah dia memiliki hasrat pada Nakha atau tidak. Dia ingin memiliki rasa cinta yang tulus pada orang yang akan menjadi pendampingnya bukan hanya karena tertarik pada fisik semata.


Cinta bagi orang yang menikah itu bukan hanya kebahagiaan dan nafsu semata, melainkan mau bantu dan bekerja sama di rumah, menyayangi dan menjaga anak-anak bersama, tidak mengganggu saat suami sedang kerja dan menjalankan fungsi masing-masing secara terus menerus sampai batas usia.


Apakah Nakha dan dirinya bisa demikian, sebagaimana ayah dan ibunya? Sedangkan dia tidak melihat hal seperti itu pada kepribadian pria yang telah ditolong olehnya.


“Hai! Kenapa melamun?” tanya Niet sambil menepuk bahu Rully, dan dia duduk di sebelah sahabatnya itu.


“Aku tidak melamun, hanya berpikir saja.” Rully berkata sambil tersenyum dan merubah posisi duduknya.


“Tapi, aku melihatmu melamun, bukan berpikir!”


“Apa bedanya, sama-sama diam dan hanya otak serta hati yang bicara!”


“Kalau otak dan hati tidak bicara maka manusia itu sudah tidak bernyawa.


“Ya! Kau benar, Niet”

__ADS_1


“Ayo! Katakan apa yang bisa kubantu, kebetulan sedang tidak ada pasien.”


Akhirnya Rully bercerita jika Tari, seorang wanita yang pernah mereka temui saat grand opening sebuah gerai herbal di kota, adalah seorang yang berani berbohong tentang apa yang dimilikinya. Niet tahu soal kalung milik keluarga Hau yang dia kira milik organisasi berbahaya, ternyata milik keluarga ternama.


Niet tercengang mendengar ucapan demi ucapan yang dilontarkan Rully tentang pria yang pernah diselamatkan oleh dirinya dan juga pertunangan yang sama sekali bukan keinginannya.


“Aku pikir, orang seperti Tuan Nakha, sangat membutuhkan wanita seperti dirimu, dia akan menghargai jika kau bisa membawanya belajar tentang kehidupan. Ingat, Ru ... cinta akan tumbuh di mana pun, asal dia punya kesempatan untuk ada, walau di tanah berlumpur sekalipun. Cinta itu seperti rumput liar yang, bisa tumbuh walaupun kita tidak pernah mengharapkannya!”


“Tapi, aku ingin memiliki pendamping hidup seperti Ayah!”


“Kita tidak pernah tahu, seperti apa kedua orang tuamu bisa berproses dalam kehidupan dan sikap mereka, hingga menjadi pasangan yang sangat ideal seperti sekarang, cobalah kau belajar dari mereka, aku kira hubungan baik itu tidak terjadi begitu saja tanpa adanya permulaan.”


“Kurasa kau benar, Niet! Aku mungkin harus berpikir ulang!”


“Berpikirlah lebih jernih, satu yang harus kau renungi adalah, kenapa takdir membawamu sampai ke titik ini, kau tidak tahu sebenarnya kebaikan seperti apa yang akan terjadi jika kalian menikah nanti?”


“Apa memangnya?”


“Ayolah! Dia anak yang terkenal urakan dan semau sendiri, sikapnya sangat berlawanan dengan Kakaknya, siapa tahu keluarga mereka mengharapkan dia akan jauh lebih baik, setelah menikah dengan gadis seperti dirimu!”


“Aku tidak sebaik itu, jangan berlebihan!”


“Tidak berlebihan ... ada yang bilang kalung itu akan menjadi milik menantu, jika resmi menikah dengan keturunan dari keluarga Hau! Ru, kenapa tidak kau tanyakan saja pada Sita, bukankah dia juga memakai kalung yang sama? Pasti itu dulu milik suaminya! Dan, kau sudah secara langsung menemukannya! Ini bukan kebetulan, Ruru ... ini bukan kebetulan.”


Rully diam dan menarik napas panjang.


“Aku jadi ingat ucapan Albert Einstein saat dia masih kecil di sekolah,” kata Rully.


“Apa itu?”


“Sebenarnya gelap itu tidak ada, ia muncul karena ada yang menutupi sumber cahaya ... kejahatan itu sebenarnya tidak ada, ia muncul karena hilangnya cinta dari hati manusia!”


“Nah, kalau begitu kemungkinan ada sesuatu yang membuat Nakha bersikap begitu!”


“Baiklah, aku akan memikirkannya lagi!” Rully tersenyum.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2