
Keesokan Harinya
“Kakau kau sudah selesai, makanlah ... aku baru saja menghangatkan supnya!” kata Baina sambil menyibakkan rambut anaknya, dia melihat bekas luka itu sudah semakin samar.
“Bu, aku akan pergi ke pembukaan gerai toko herbal baru di Laipan, dekat dengan klinik sinse, apa Ibu dan Ayah mau ikut?”
“Kapan?” tanya Harun.
“Lusa!”
“Kau akan bertemu dengan banyak orang, semua syalmu basah, aku lupa mengangkat bajumu di luar, kalau kau akan ke sana, gimana menutupi lehermu?”
Rully melihat leher dan rahangnya, yang masih meninggalkan bekas luka akibat cakaran kukunya sendiri, luka yang cukup mengerikan karena sempat infeksi akibat racun daun neraka yang mengenainya.
“Ini tidak masalah ... seharusnya aku bersyukur masih bisa hidup sampai sekarang!”
Kedua orang tua Rully pun tersenyum menanggapi anak perempuannya dan mereka pun makan bersama malam itu.
Keesokan harinya, saat Rully hendak pergi ke panti asuhan, dia terkejut melihat mobil Nakha yang mengantarnya semalam, masih ada di sisi jalan sekitar beberapa meter dari rumahnya. Rully dengan setengah berlari mendekatinya lalu, mengetuk kaca jendela mobil karena dilihatnya pria itu tertidur di kursi kemudian.
Cukup lama Rully mengetuk kaca itu hingga akhirnya Nakha pun terbangun. Dia menurunkan jendela mobil dengan wajah bingung.
“Apa kau berada di sini, semalaman?” tanya Rully dengan heran dan Nakha pun mengangguk, sambil melihat ke kiri ke kanan, mengumpulkan kesadarannya kembali.
“Apa yang terjadi padamu apa kau baik-baik saja?” Rully kembali bertanya dan Naka pun kembali mengangguk tanpa mengeluarkan suara sedikit wajah bingungnya lambat laun menghilang.
“Apa kau mempunyai phobia ataupun trauma terhadap sesuatu?” tanya Rully.
“Kenapa kau bertanya seperti itu apa ada yang aneh denganku?”
“Ya! Tidak biasanya seseorang menghentikan kendaraannya di tengah jalan dengan cara seperti ini kecuali ada sesuatu yang terjadi, katakan padaku siapa tahu aku bisa membantumu?”
__ADS_1
“Ya! Aku punya trauma suara keras seperti petir, karena dulu aku pernah mengalami kecelakaan pesawat, tapi, tidak masalah .... dan aku yakin kau tidak bisa berbuat apa-apa bukan?” ucapan Nakha mengakui sebuah kelemahan, sekaligus menunjukkan kekasaran.
Ucapan pria itu membuat Rully mengerutkan alisnya seraya berpikir jika Nahka memiliki phonophobia, karena pernah mengalami kecelakaan pesawat. Dan, kemungkinan besar memang hal seperti itu bisa terjadi. Walaupun terdengar kasar, tapi, Nakha benar, dia memang tidak bisa melakukan apa-apa untuk terapi traumanya.
Melihat Rully yang hanya terdiam, Nakha kembali berkata sambil menyalakan mesin kendaraannya, “Aku benar, kan? Kau memang tidak bisa membantuku apa-apa! Akh! Kenapa juga aku harus bicara padamu!”
Setelah itu, dia pun berlalu, membiarkan Rully yang masih termangu.
Sementara di tempat yang berbeda, Bimbim baru saja pulang sekolah, dia memjnta Sita untuk menikmati makanan di food court yang tidak jauh dari sekolahnya dan mereka makan di salah satu meja sampai selesai lalu, anak itu melanjutkan dengan bermain wahana permainan yang ada.
Sementara Sita, duduk sendiri di ruang dekat wahana, sambil menunggu anak angkatnya itu bermain. Diam-diam ada seorang gadis yang mendekatinya dengan antusias.
“Hai Kak Sita!” katanya ramah sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum. Dia adalah Mentari yang biasa dipanggil Tari, gadis yang mulai dekat dengan keluarga Hau sejenak tiga bulan yang lalu.
Dia adalah, wanita yang telah menyelamatkan Nakha bersama ayahnya, setelah mereka pulang dari hutan lindung demi mencari bibit tanaman liar unik, untuk dibudidayakan.
Tari dan Bara—ayahnya, menemukan Nakha dalam keadaan sekarat di sisi jalan, dengan pakaian yang tidak keruan bahkan banyak noda darah di sekujur tubuhnya. Selain itu, ada aroma tidak sedap yang berasal dari beberapa lukanya. Menurut dokter, bau yang menguar dari luka Nakha merupakan aroma khas dari beberapa sejenis tanaman herbal, yang jarang ditemukan dan ternyata bagus untuk kesembuhan luka.
Namun, Tari melarang ayahnya untuk mengatakan semua itu pada keluarga Nakha. Apalagi mereka sudah membiayai perawatannya, dengan fasilitas terbaik di rumah sakit. Jadi, lebih baik menutup informasi itu untuk selamanya. Diam-diam Tari jatuh cinta pada Nahka.
Saat para perawat membersihkan wajah dan seluruh tubuh Nakha, terlihat lah ketampanan dan kesempurnaan tubuhnya, hingga Tari ingin memiliki pria itu sebagai pendamping hidupnya sampai dia tidak.
“Hai, Tari Mentari, aku baik!” kata Sita sambil menyambut uluran tangannya.
“Oh, syukurlah! Apa Kakak menunggu anak gemuk itu? Dia menggemaskan sekali!”
“Ya! Dia baik dan pintar, aku tidak menyesal sudah mengadopsinya!”
“Ya! Aku turut senang mendengarnya.” Tari berkata sambil melihat tas milik Bimbim yang tergeletak dekat Sita, “Apa ini miliknya?”
“Ya!”
__ADS_1
“Boleh aku melihat isinya, Kak? Dia menggambar apa hari ini?”
“Boleh saja, aku baru saja selesai memeriksanya!”
Tari melihat-lihat isi tas sekolah anak itu hingga dia tersenyum karena melihat gambar-gambar yang bagus di buku gambar milik Bimbim.
Tak lama anak bertubuh gempal itu mendekat dengan napasnya yang terengah-engah karena lelah bermain, dia melihat pada Tari tapi, mengabaikannya, sebab orang-orang melihat isi tas dan gambar buatannya adalah hal yang biasa.
“Mama, bolehkah aku makan wa krim?”
Sita mengizinkan keinginan anaknya dan mereka makan es krim bersama di tempat itu, pada saat yang sama, Tari melihat-lihat gambar yang tidak biasa.
“Hai, Bim! Siapa yang kau lukis ini, apa dia ibumu?” tanya Tari sambil melihat ke arah gambar seorang wanita dewasa dan anak kecil.
“Bukan, aku tidak punya Ibu. Ibuku adalah Mama,” kata Bimbim sambil menunjuk Sita.
“Lalu, siapa dia?”
“Itu lukisan lamaku, itu gambar-ku dan Ruru!” kata Bimbim menunjuk gambarnya.
“Siapa Ruru?”
“Dia temanku, dia pandai sekali mengobati dan sering memijit-ku!”
“Dia tukang pijitmu?”
“Ya! Kapan-kapan kau akan aku kenalkan padanya! Dia berjanji akan datang untuk mengambil kalungnya, kau tahu?” Bimbim berkata sambil menunjukkan sebuah kalung pada Tari, “Lihat ... Dia menemukan kalung ini di hutan, waktu menemukan seorang tentara yang terluka dari ledakan helikopter!” Bimbim tampak bercerita dengan antusias.
❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like
__ADS_1