Mencintai Pengobat Luka

Mencintai Pengobat Luka
Persetujuan Keluarga


__ADS_3

Persetujuan Keluarga


Rupanya takdir berkata lain ... wanita itu seperti menukar nyawa dengan anaknya, karena saat kelahirannya Nakha dalam keadaan terlilit tali pusar di lehernya. Perjuangan melahirkan yang luar biasa, mengakibatkan pendarahan hebat tapi, bayi lahir dengan selamat.


Dia membawa bayi Nakha ke rumah keluarganya setelah menguburkan jasad istrinya yang, meregang nyawa karena mengeluarkan banyak darah demi melahirkan putranya.


Berulang kali dia mengakui kesalahannya telah jatuh cinta lagi, lalu, meminta maaf dengan penuh harap pada semua anggota keluarga terutama sang istri.


Awalnya semua orang menolak termasuk kedua orang tua Hamza, tapi, karena ketekunannya merawat bayi mungil tak berdosa itu seorang diri, membuat semua anggota keluarga tersentuh dan menerimanya, termasuk Leni.


Leni begitu marah karena mengetahui suaminya menikahi wanita lain tanpa dia ketahui, tapi, melihat kenyataan pahit yang terjadi, dia merasa kasihan pada suaminya yang terpaksa merawat anak tak berdosa, yang hidup tanpa belaian tangan ibunya. Akhirnya dia membantu mengasuh bayi itu, hingga tumbuh kasih sayang yang tulus dari semua anggota keluarga.


Setelah Nakha mulai beranjak besar, Leni mulai menanamkan rasa balas budi pada anak itu dan dia terus saja mengungkit-ungkit kebaikan dan jasanya baik pada suami, dan juga pada Nakha sendiri. Berulang kali dia mengingatkan jika ibunya sudah tiada dan kalau bukan karena dirinya serta keluarga Hau memberi belas kasihan padanya, maka dia tidak akan selamat.


Oleh karena itu, Nakha begitu menurut pada Leni, tapi, jika dia berada di luar rumah atau pun saat kedua orang tuanya yang sibuk berbisnis itu pergi ke luar negeri, dia akan berbuat sekehendak hati, melampiaskan rasa tertekan atas keadaan, mengungkapkan rasa kecewanya pada takdir dengan cara yang tidak keruan.


Dia sering membuat masalah di sekolah atau melakukan hobinya secara terus menerus tak pernah pulang, kecuali jika Leni kembali dan mengancam akan mencoreng namanya dari ahli waris keluarga Hau yang akan membuatnya miskin.


“Jadilah anak yang baik dan bisa membanggakan ibumu, agar dia tidak sia-sia mengorbankan nyawanya demi kamu!” seperti itu nasihat Leni, dengan maksud agar Nakha menurut setiap kali anak itu membuat ulah.


“Aku sudah menyayangi-mu seperti anakku sendiri dan tidak membedakan antara dirimu dan Deni. Jadi, kau harus menurut padaku!” itu juga kata-kata yang sering dilontarkan Leni pada anak sambungnya.


Namun, laki-laki itu masih sering berbuat semaunya, termasuk hobinya terbang, hanya karena terobsesi sang buyut yang menjadi seorang jendral dan menjadi kepala angkatan udara. Lalu, terjadilah kecelakaan itu yang mengakibatkannya jera menaiki pesawat sampai sekarang.


Setelah diselidiki, penyebab berhentinya baling-baling pada ekor pesawat itu, dikarenakan mesin pada bagian itu yang tidak berfungsi secara sempurna. Bukan karena sabotase dan bukan karena perawatan yang salah.


“Lihat! Deni dan Sita menyetujui pertunangan Nakha dengan Tari!” ucapan Leni, membuat lamunan Hamza pecah, otak memaksanya kembali ke pada kenyataan yang ada di hadapannya jika dia tidak bisa membuat sebuah hukum mirip zaman kekaisaran tempo dulu!

__ADS_1


Setelah itu, keluarga sepakat untuk mengadakan acara tunangan pekan depan, setelah persiapan pesta, pakaian dan cincin pertunangan selesai.


Leni langsung membicarakan kesepakatan dua keluarga itu dengan Nakha, saat dia pergi ke lantai atas dan membubarkan pesta sambutan sahabat yang tidak jelas di matanya.


Nakha duduk berhadapan dengan Leni yang menatapnya dingin, nyaris tanpa ekspresi. Wanita itu bersandar sambil menyilang kan kaki. Menatap keadaan roof top yang berantakan.


“Apa kau bersenang-senang? Semua temanmu pasti puas dengan layananmu di sini!” Leni berkata seperti mengejek.


Nakha diam, dia sebenarnya belum puas berpesta dan belum menang memainkan bilyard nine bollnya. Masih ada satu ronde lagi, hingga dia melemparkan stik mahal itu sampai patah menjadi dua karena kesal.


“Yah! Ibu bisa lihat sendiri, sekarang belum terlalu malam, tapi sudah bubar!”


“Kalau kata Ibu itu cukup, maka itu cukup!”


“Ya! Aku tahu, apa yang membuat Ibu membubarkan acaraku? Apa Ibu tidak bisa bersabar sedikit saja, aku pasti menuruti kemauanmu! Lihat, aku sudah pasrah merayakan pesta di rumah dan bukan di hotel atau villa!”


“Memangnya siapa yang mau menikah?”


“Kau! Aku sudah membuat acara pertunanganmu dan Tari!”


“Tidak! Aku tidak mau dipaksa kalau soal ini! Bu, yang akan menikah adalah aku dan yang menjalaninya juga aku, bukan Ibu! Jadi, siapa pun tidak berhak memaksaku soal pernikahan!”


“Mau tidak mau kau harus melakukannya, aku sudah membuat acara tunangan untukmu pekan depan. Ingat, Tari adalah gadis yang baik, dia yang menolongmu, dia juga pemilik kalung keluarga yang hilang dan dia menemukannya! Itu artinya dia jodohmu!”


“Tapi, Bu ...!”


“Tapi apa? Bagiku ... tidak ada wanita yang lebih tepat menjadi pendampingmu selain dia!”

__ADS_1


Nakha merasa tidak sependapat, dia masih penasaran dengan Rully, gadis yang memakai kalungnya di jalan, dan gadis penyelamatnya di hutan, karena dalam pikirannya ketiga wanita itu adalah orang yang sama. Dia hanya perlu memastikan saja.


Namun, dia tidak bisa menolak Leni secara langsung dan yang bisa dia lakukan sekarang adalah mengajak ibunya itu, untuk ikut memikirkan rasa penasarannya, tentang wanita penolongnya.


Lalu dia pun menceritakan dari awal kejadian setelah dia jatuh dari pesawat dan terluka di hutan, bertemu dengan Rully di rumah Deni, lalu di rumah sakit, hingga pertanyaannya yang tidak mendapatkan jawaban dengan jelas karena Nakha merasa Rully menyembunyikan sesuatu darinya.


“Jadi, wanita penolong sebenarnya bukan Tari dan Ayahnya?” tanya Leni hampir tidak percaya.


“Bukan!” jawab Nakha tegas.


“Kalau kau membutuhkan pendapatku, maka, kau harus mempertemukan wanita itu denganku!”


Saat Leni setuju dan ingin bertemu wanita itu, Nakha baru sadar dengan kebodohannya yang tidak memiliki nomor telepon Rully.


“Baik, Bu. Aku akan membawa perempuan itu ke sini sebelum hari pertunanganku!”


“Lalu, kalau memang benar wanita itu adalah orang yang sama, apa kau akan membatalkan pertunangan dengan Tari?” tanya Leni sambil menegakkan punggung dan menetap Nakha dengan alis yang berkerut.


“Entahlah, bagiku Tari terlalu manja, padahal aku pun anak laki-laki yang manja bahkan aku anak nakal kata Ibu!”


“Ya! Bagus kalau kau sadar anak nakal!”


“Jadi, apa aku yang nakal ini cocok dengan Tari yang manja? Bukankah Ibu ingin aku menjadi lebih baik?”


Leni terdiam.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Maaf telat Update, terima kasih sudah setia, jangan lupa like! ❤️


__ADS_2