
Sentuhan Tangannya
Beberapa hari setelah itu Nakha dirawat di rumah sakit dan Tari selalu menemaninya. Kakinya di gips dan dia harus rutin minum obat. Hanya sesekali saja dia boleh keluar kamar kalau bosan, dengan menggunakan kruk agar tetap bisa berjalan.
Tari dengan setia menemaninya, kini mereka duduk di kursi samping rumah sakit sambil makan roti isi. Di saat yang bersamaan, Deni menjenguk dan menemui Nakha di sana.
“Di sini kalian rupanya!” kata Deni.
“Dari mana Kakak tahu aku di sini?”
“Dari asisten di kamarmu!”
“Ada perlu apa menemuiku?”
“Apa tidak boleh? Bimbim demam tinggi sejak semalam, jadi aku membawanya ke sini tadi pagi!”
“Oh!” Nakha bergumam.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Sebenarnya aku baik dan tidak perlu di infus, hanya Andre butuh observasi sedikit, untuk melihat perkembangannya, kalau dalam sepekan aku baik, dia memastikan aku tidak membutuhkan operasi!”
“Hmm ... mudah-mudahan kau baik lebih cepat! Kalau begitu, aku akan kembali ke kamar anakku! Apa kau mau ikut?”
Nakha mengangguk, sambil menoleh pada Tari, lalu berkata, “Aku akan menemui keponakanku dulu, sebaiknya istirahatlah dulu, atau pulang pun tidak masalah, kau sudah terlalu letih menemaniku!”
Tari tersenyum menanggapi ucapan Nakha dan menyetujui permintaannya, karena dia memang tidak ingin bertemu dengan Bimbim. Dia khawatir jika anak itu mengingat tentang kalungnya saat terakhir mereka bersama. Kalau hal itu terjadi, maka, dia harus berterus terang tentang apa yang sudah dilakukannya. Dia belum siap untuk menyerahkan kalung itu kepada orang yang berhak, karena dia ingin memperjuangkan cinta Nakha sampai akhir.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan menemui mu besok!” kata Tari.
“Tentu!” sahut Nakha.
Nakha dan Deni pergi ke kamar perawatan Bimbim, ternyata ada Rully di sana, membuat Nakha heran, sedangkan Deni, baru saja berkenalan dengan gadis yang di minta oleh Bimbim untuk datang.
Deni yang menghubungi Rully, setelah Bimbim memberikan catatan nomor teleponnya pada ayahnya itu, begitu dia masuk rumah sakit. Dia melihat gadis berbincang akrab dengan anaknya bagai dua sahabat dekat.
“Kau sudah lama di sini?” tanya Nakha pada Rully, sambil meluruskan kaki, karena di gips membuatnya tidak leluasa duduk atau melipatnya.
“Ya! Lumayan,” kata Rully datar.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Deni heran, dia duduk di sebelah istrinya. Sementara Sita yang duduk dengan tenang dan sibuk melihat layar ponselnya, seolah tidak terganggu dengan kedatangan suami dan adik iparnya.
“Ya!” jawab Nakha singkat, “Hai jagoan! Cepat sembuh ya!” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Bimbim.
“Apa yang kau lakukan pada Bimbim?” tanya Nakha yang melihat Rully memegangi tangan keponakannya.
“Ini aku menerapinya dengan jarum, entahlah, cuma dia yang suka melakukannya, padahal semua anak seusianya selalu takut!” ujar Rully lugas.
“Paman! Kau cobalah, ini enak!” kata Bimbim.
“Boleh!” sahut Nakha antusias, diam-diam dia tertarik dengan semua yang ada pada Rully, apalagi sentuhan tangannya yang hangat dan lembut, mengingatkannya pada gadis di hutan waktu itu!
“Jangan gerakkan tangamu, aku akan melakukannya pada Paman Nakha sebentar!” kata Rully sambil berdiri dari duduknya di sisi tempat tidur anak kecil itu.
Bimbim mengangguk setuju, dia sudah sering mendapat terapi seperti itu dari Rully, dia senang walau, itu adalah titik meredian yang paling mudah dan ringan.
__ADS_1
“Maaf, Tuan! Ulurkan tanganmu dan rileks ... kau harus rileks ....! Ini tidak sakit dan kau akan baik-baik saja!” kata Rully, suara lembut itu menyusup ke telinga Nakha seperti melodi. Mereka duduk bersebelahan.
Rully menekan beberapa bagian pada telapak tangan Nakha dan berhenti pada pusat denyut nadi di pergelangan tangannya, sampai selesai menghitung.
“Nirmal. Sebaiknya kau banyak minum air putih, dan jangan sering lembur atau begadang dalam keadaan terlalu letih!” kata Rully sambil membuka kotak jarumnya.
“Kenapa?” Tanya Nakha.
“Aku tidak bisa memfonis apa penyakitmu, tapi ada titik yang tidak bagus ... kalau kau memang kurang minum dan suka begadang, maka, sebaiknya dikurangi!”
“Coba jelaskan padaku!” Nakha berkata sambil mengulurkan tangannya agar kembali di sentuh. Rully menurut dan menyimpan tangan pria itu di atas pahanya.
“Ini ada warna keunguan, tandanya banyak sekali udara dalam lambung dan usus!” kata Rully sambil menunjuk area bagian dalam tengah dekat ibu jari, “dan di sini, ada beberapa tanda kau kurang minum, sayangi gunjalmu!” katanya lagi sambil menunjuk area tengah telapak tangan yang cekung dan ruas-ruas jari tangan.
Nakha melihat dan mengikutinya, “Apa? Aku tidak merasakan apa-apa di sini!”
“Kalau ingin tahu, kau harus belajar dulu! Ayo! Sekarang kepalkan tangamu seperti kau akan memukul, tapi jangan terlalu kuat!”
Semua yang dilakukan Rully adalah pemeriksaan secara tradisional, tidak menggunakan alat-alat canggih seperti di rumah sakit dan kedokteran.
Setelah Nakha mengepalkan tangannya, Rully kembali memegangi dengan lembut, sementara tangan lainnya sudah memegang jarum steril kecil, siap menerapi area tertinggi di dekat ibu jari.
Sebelum menekankan jarum, Rully menatap Nakha lekat dan pria itu membalasnya dengan hangat.
“Nakha, kau harus tenang,” kata Rully.
“Apa kau tahu, hatiku berdebar melihatmu?” kata pria itu secara spontan.
__ADS_1
❤️❤️❤️