
Tunggu Jawabanku
Rully menoleh sebentar, menatap Nakha datar, dia sudah tahu semuanya! Kemudian gadis itu, melepaskan topi dan penutup wajah lalu, membereskan semua isi tasnya tapi, tidak mengomentari ucapan Nakha.
“Kau mau aku tunjukkan sungai yang sangat bening dan pemandangan bagus di sini? Ayo! Ikut aku!”
Ruly berkata sambil menyimpan tas Ransel di pundak, menggamit tangan Nakha dan berjalan beriringan menuju sungai yang membelah kawasan hutan lindung, tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Apa kau mencoba mengalihkan pembicaraanku?” tanya Nakha sambil berjalan, dia membiarkan Rully menggenggam pergelangan tangannya.
Gadis itu hanya tersenyum dan terus berjalan sampai akhirnya mereka tiba di sebuah sungai yang airnya cukup jernih. Rully membasuh wajahnya di air sungai sampai bersih, setelah menyimpan tas ranselnya.
Lalu, dia duduk sambil mengikat rambut dan menatap Nakha yang berada di sampingnya, pria itu yengah memperhatikan semua yang dilakukannya.
“Dari mana kau tahu aku perempuan yang sama, bukankah kau tidak mengenali wajah-ku waktu itu?”
“Aku hanya menyimpulkan dari sentuhanmu, rambutmu, suara, dan juga keahlianmu!”
Rully mengangguk.
“Aku tahu siapa dirimu, Nakha, tapi, apa pun yang aku lakukan di masa lalu, itu tidak penting. Aku sangat bersyukur kau sehat sekarang. Tari yang sudah menyelamatkanmu!” kata Rully sambil tersenyum dan menatap Nakha penuh arti.
“Bagiku itu penting! Aku ingin menikah denganmu, bukan dengan Tari!”
Rully tertawa mendengar ucapan Nakha yang tidak bisa basa-basi, bahkan dia tidak punya sikap romantis sama sekali, membiarkan wanita membawa tas ranselnya sendiri. Tidak ada inisiatif melindungi. Sejak dari masuk hutan, dia tidak melakukan apa pun yang memudahkan Rully, bahkan dia tidak menawari tumpangan karena ada sang ayah.
Aakh! Pria macam apa dia! Batin Rully.
“Kau tidak tidak perlu menikahi wanita yang sudah menyelamatkanmu, hanya karena merasa berhutang budi! Kita bukan berada di negeri dongeng!”
“Ya! Aku jadi ingat cerita The legend of mermaid karangan Hans christian Anderson! Tapi, kau bukan Puti duyung dan aku bukan pangeran tampan, aku hanya seorang laki-laki yang membutuhkan wanita kuat seperti dirimu!”
“Apa itu artinya kau laki-laki lemah?” Rully berkata sambil tertawa.
“Ya! Aku harap kau mau menikahi laki-laki lemah seperti aku!”
__ADS_1
Rully diam, sambil terus menatap Nakha, seolah-olah mencari sesuatu dari sorot mata pria yang sudah mengakui dengan jujur jika dirinya lemah. Bukankah ini lucu, pikirnya.
Ya Tuhan, mana ada laki-laki yang ingin dinilai dirinya lemah, baru kali ini aku tahu! Biasanya laki-laki itu akan sekuat tenaga menutupi kelemahannya! Kata Rully dalam hati.
“Kau tahu, Nakha? Aku tidak suka cerita itu .... mengapa putri duyung itu harus berakhir menjadi buih ombak laut? Bukankah lebih baik dia mati atau setidaknya menjadi hal yang lebih berguna!”
“Sebaiknya kau bertanya pada pengarangnya, oh ya, aku tidak meminta jawabanmu sekarang ... kau bisa memikirkannya lebih dulu dan aku akan meminta jawabanmu beberapa hari lagi aku akan datang lagi.”
“Tidak perlu datang lagi!”
“Kenapa tidak boleh, apa aku mengganggumu?”
“Bukan soal itu ..., kau tahu? Akulah yang sudah membuat luka di lututmu itu sembuh terlalu lama, bahkan dia berbekas bukan?”
“Ya! Kenapa?”
“Aku sudah melakukan kesalahan, yang membuat luka di lurutmu semakin parah waktu itu!”
Lalu, Rully mengatakan apa kesalahannya saat menolong Nakha waktu itu, hanya karena sungkan untuk membuka sebagian pakaiannya.
“Baiklah kalau itu tidak masalah bagimu ..., aku akan datang di pesta ulang tahun Bimbim tiga hari lagi, kita bisa bertemu di sana, dan aku akan memberikan jawabanku.”
“Bagaimana kau tahu anak itu akan ulang tahun?” tanya Nakha heran.
“Dia yang meneleponku tadi malam dan dia ingin aku datang.”
“Kau punya nomor teleponnya?”
“Ya!”
Untuk sesaat pria itu merasa kalah satu langkah dengan Bimbim keponakannya sendiri.
Setelah itu, Rully mengajak Nakha melihat lokasi di mana dirinya terjatuh, menunjukkan pohon besar di mana tempat parasut dan kursi pesawatnya yang tersangkut. Lalu, mengatakan semua hal yang sudah dia lakukan pada Nakha sebelum dia sadar dari pingsan sampai akhirnya tari menemukannya.
“Nakha, semua yang terjadi pada dirimu adalah takdir Tuhan, jadi kau tidak perlu membalasnya dengan menikahiku, Tari sudah mencintaimu lebih dulu dan dia begitu mengharapkanmu sebagai kekasih. Dia pernah mengatakannya terus terang padaku, apa jadinya kalau nanti kau justru menikah denganku? Bukankah kau akan mematahkan hatinya?”
__ADS_1
Pria itu tak menjawab pertanyaan Ruli, dan hanya mendongak ke atas, melihat pada parasut dan kursi pesawatnya yang tersangkut di pucuk pohon yang tinggi menjulang. Dia bukannya tidak mendengar tetapi, mengabaikan pertimbangan Rully, untuk memikirkan Tari yang sudah lebih dulu mencintai.
“Apa kau sudah punya kekasih, Ru? Kalau kau memang sudah punya ... aku tidak akan mengganggumu, aku mungkin hanya bisa berharap semoga kau bahagia dengan laki-laki pilihanmu, dia tentu jauh lebih baik dariku bukan?”
Rully diam dia tidak tahu apakah harus mengakui jika dia tidak memiliki kekasih untuk saat ini. Dia menyukai seorang pria yang sangat pandai dalam meracik herbal, mereka bertemu saat pertama kali mengikuti ayahnya mengantarkan pesanan ke sebuah klinik terapi.
Namun, dia tidak tahu ke mana perginya pria itu, setiap kali ikut ayahnya ke klinik yang sama, pria itu tidak ada. Walaupun sekarang Rully, menyukai Nakha, tapi dia bukan wanita yang suka menyakiti orang lain dan dia tidak ingin Tari akan sakit hati karenanya.
“Aku dulu pernah menyukai laki-laki dan aku pikir memang dia jauh lebih baik darimu tapi, sekarang dia tidak ada, aku tidak tahu dia di mana,” kata Ruli.
“Seperti apa laki-laki itu apa dia tampan?”
“Ya dia tampan seperti dirimu!”
Nakha diam dalam senyuman manis, tiba-tiba dia meraih tangan Rully dan menggenggam erat. Selayang pandangan hangat dia berikan pada gadis yang membuatnya nyaman itu.
“Terima kasih, untuk semua yang sudah kau lakukan padaku, aku tidak bisa membalasnya dengan apapun juga, oleh karena itu aku ingin menikahimu karena mungkin aku bisa membalasnya dengan cintaku ....”
Nakha berhenti bicara untuk sesaat.
“Ruly ... aku mengajakmu menikah bukan karena ingin membalas budi tetapi, sejak aku melihatmu, aku sudah menyukaimu, padahal aku tidak tahu bahwa, kau adalah orang yang sudah menolongku, bahkan, aku ingin terus bersanding di sampingmu karena aku nyaman ... apakah aku salah punya perasaan seperti itu?”
Rully tersenyum dan berkata, “Oh! Jadi, begitu ... terima kasih juga sudah menyukaiku, aku hargai perasaanmu, Nakha, tapi, untuk menikah denganmu ... entahlah aku belum siap!”
“Kapan kau siap, aku akan menunggu!”
“Tidak perlu, ada wanita lain yang lebih siap mendampingimu, kenapa harus aku?”
“Maksudmu, Tari? Entahlah ... aku tidak punya perasaan apa-apa padanya!”
“Baiklah, aku akan memikirkannya, tunggu jawabanku saat hari ulang tahun Bimbim nanti!”
Demikian percakapan itu berakhir hingga mereka pulang, tidak ada ucapan lain yang berarti.
❤️❤️❤️
__ADS_1