Mencintai Pengobat Luka

Mencintai Pengobat Luka
Memilih Pasrah Atau Menyerah


__ADS_3

Memilih Pasrah Atau Menyerah


Kilasan masa tiga bulan yang lalu. Nakha pagi itu memberi perintah pada July dan anak buah lainnya untuk menyiapkan pesawat mereka yang, disimpan pada hanggar khusus di salah satu lapangan udara milik pemerintah kota. Bukan hal mudah untuk mempersiapkan semua keinginan bujangan yang ingin melakukan hobi terbangnya itu. Kalau bukan karena kakek buyutnya yang seorang jendral dan memiliki koneksi kuat di kalangan pemerintah serta tentara, mungkin dia tidak akan bisa seenaknya saja melakukan hobinya.


Namun, sudah lama Nakha ingin memiliki hangar pesawat dan landasan pacu pesawatnya sendiri, tapi sang kakak serta ayahnya selalu menghalangi, karena bagi mereka keinginan laki-laki itu terlalu berlebihan. Keluarga mereka sudah memiliki pesawat penumpang pribadi, memiliki pilot yang siap kapan pun mereka butuhkan, itu sudah cukup. Tidak perlu pesawat latih apalagi dia bukan tentara dan hanya hobi terbang saja.


“Kamu bisa olahraga paralayang sepuasnya kalau hanya hobi terbang, tidak perlu punya pesawat latih sendiri, Nakha!” kata Hamza—hayahnya, suatu ketika. Pria itu melarang Nakha bukan karena tidak memiliki uang untuk menurutinya, melainkan karena tidak ingin jika anak itu mengalami sesuatu yang mengenaskan saat menjalani penerbangannya sebab di aman pun, kecelakaan pesawat akan jauh lebih mengerikan dari pada kecelakaan kendaraan lainnya.


“Kalau kalian nanti butuh pesawat, aku bisa menerbangkan sendiri, kalian tidak perlu membayar!” katanya lagi, tapi seluruh anggota keluarga tetap tidak setuju.


Nakha nekad pergi dengan segala alasan, dan akhirnya pesawat latih yang biasa digunakan latihan pilot pun keluar dari hanggar atas permintaannya.


Dia menggunakan pesawat latih jenis KT-1 As 202 yang biasa dipakai latihan terbang oleh para pilot yang sudah mahir menggunakan flight simulator. Itu jenis pesawat yang ringan dengan avionik standar, tanpa senjata atau biasa disebut pesawat armada anti gerilya COIN (counter insurgency) bermesin piston Turboprop, dengan tempat duduk tandem-muka belakang.


Nakha mulai menerbangkan pesawat setelah aba-aba dan mendapatkan izin terbang tentunya. Namun, dia terkejut karena saat dia baru terbang sekitar 1500 kilometer di udara, dia merasakan ada sesuatu yang aneh dan pesawat turun dengan cepat karena baling-baling ekor tidak berfungsi dan mesin pun mati. Lalu, dengan terpaksa dia menarik tuas kursi yang di dudukinya, hingga tubuhnya terlontar begitu jauh hingga terdengar suara ledakan cukup keras dari pesawat latih kesayangannya.


Dia hanya bisa memkik sendiri sambil menoleh pada benda yang sudah berubah menjadi kepulan asap hitam membumbung tinggi ke udara. Sementara dirinya masih melayang sebelum akhirnya parasut terkembang, tapi, hanya sebentar saja, sekitar lima atau enam detik, hingga terjadilah hal yang tidak lebih menakutkan di aman satu dari tali pengaitnya putus membuatnya terjun bebas ke bawah.


Pria itu berteriak sekerasnya saat terhempas kuat di atas sebuah pohon lebat dan tinggi, dia tersangkut di dedaunan, lalu dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan sabuk pengaman yang menyatukan badannya dengan kursi pesawat.


Nasi siap kembali menimpanya saat dia belum selesai membebaskan diri, dahan pohon besar yang menahannya patah, lalu, dia pun terhempas ke tanah dengan kuat, sakit sekujur tubuh, jatuh dengan cara yang menyakitkan dan memalukan.


“Akh!” pekiknya lagi, “Siapa pun, tolong!” katanya karena dia tidak bisa bangun dan lututnya tertusuk dahan yang patah.

__ADS_1


Nakha pasrah dengan keadaan dan dia begitu putus asa, merasa nyawanya akan tamat sekarang juga. Masih ada sedikit tenaga yang tersisa dan dia gunakan untuk mencabut dahan yang menghujam cukup dalam. Darah segar pun keluar dan dia hanya bisa menahannya sekuat tenaga dengan tangan.


Setelah beberapa lama dia hanya bisa pasrah, matanya pun tak mampu terbuka hingga dia mendengar sebuah suara langkah kaki. Tiba-tiba dia begitu resah, tubuhnya gemetar hebat karena khawatir jika yang memdekat adalah binatang buas! Dis membayangkan batapa sakitnya rasa tubuh yang sudah ngilu oleh luka itu, kembali harus di cabik-cabik oleh gigi tajam seekor binatang pemangsa.


Saat itu dia bagaikan dihadapkan pada dua pilihan sulit, antara pasrah begitu saja atau menyerah pada nasib, sungguh tidak ada yang lebih baik.


Ketakutan begitu menguasai dirnya membuat detak jantungnya demikian lemah, sekujur persendian menegang dan keringat membasahi seluruh permukaan kulit, napasnya sesak, hingga tiba-tiba semua menjadi gelap, bahkan tak terdengar apa pun lagi.


“Tenanglah, Tuan! Kau akan baik-baik saja! Bertahanlah!”


Lamat-lamat dia mendengar sebuah suara seorang wanita, dengan napas yang terengah-engah, berusaha menenangkan dan memberinya semangat untuk tetap bertahan hidup. Sementara kedua tangan si wanita, menekan dadanya beberapa kali. Dia tahu kalau wanita tak dikenal itu tengah melakukan CPR atau penyelamatan dasar padanya.


Nakha begitu bersyukur bahwa dia masih hidup dan ada orang yang mau menolongnya, tapi, dia kembali ingin lari dan menghindari sesuatu untuk ke sekian kalinya, setelah berhasil membuka mata, dia melihat wanita yang sangat buruk rupanya. Oleh karena itu dia terpejam kembali, selain karena tidak ingin melihat wajah yang merah serta dipenuhi bintik kecil itu, matanya tak sanggup terbuka terlalu lama.


Saat itu dia sadar, jika wanita pertama yang telah menyeret tubuhnya ke tepi jalan, agar ditemukan oleh orang lain dan bisa memberinya pertolongan lebih lanjut.


“Itu luar biasa, bukan?” tanya Nakha setelah ceritanya berakhir.


“Ya,” kata Tari, tak berdaya.


“Jadi, aku hanya ingin tahu, apa kau kenal dengan seseorang di sekitar hutan itu?” tanya Nakha setelah selesai bercerita pada Tari.


“Tidak, maafkan aku ....”

__ADS_1


“Oh, bukan masalah. Kata dokter Andre, aku tidak akan bisa bertahan dengan luka sebanyak itu kalau bukan karena pertolongan pertama yang dilakukannya!”


“Oh! Jadi, begitu ... Aku pikir kau pingsan waktu itu dan tidak sadar dengan apa yang terjadi di sekitarmu, aku tidak bisa berbuat banyak, aku bukanlah penolong utamamu yang harus kau balas jasanya, maafkan aku sudah merepotkan!”


Tari hendak berdiri, dia merasa hatinya patah bahkan sebelum dicintai, disaat yang sama, Nakha menggamit tangan dan meminta Tari duduk kembali.


“Kau dan ayahmu, tetaplah orang yang sangat berjasa padaku, aku mungkin tidak bisa menemukan wanita itu ... sulit mau menerka ciri-ciri nya sebab aku melihat wajahnya rusak, entah karena apa ..., rasanya aku tidak akan sanggup kalau harus menyukai gadis penolongku itu!” kata Nakha sambil menepuk lembut tangan Tari yang ada dalam genggamannya.


“Tari ... kamulah yang sudah menolongku, kalau bukan karena bantuanmu, mungkin aku tidak bisa melihat dunia ini lagi!” kata Nakha sambil tersenyum.


“Oh, jangan sungkan, itu bukan masalah bagiku dan ayah!”


“Tapi, bersabarlah, untuk sementara kau tidak keberatan kan, kalau kita hanya berteman?”


Tari diam sejenak dan menatap wajah Nakha penuh makna lalu, tersenyum.


“Tentu, itu juga lebih baik dari pada kita tidak saling mengenal sama sekali!”


“Aku senang punya teman seperti dirimu! Oh ya! Kuharap kau tetap memakainya!”


“Apa?”


“Ya, jangan lepaskan kalung itu sebab aku pun tidak pernah melepaskannya saat aku masih memilikinya!”

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2