
Berkunjung
Selain itu, Nakha sering mengunjungi Rully baik di rumah atau di tempat terapinya dengan alasan melakukan terapi pada tubuhnya yang tidak fit! Maksud di balik itu adalah menjalin kedekatan dan juga memupuk rasa cinta agar terus bersemi.
“Kamu kenapa lagi, kemari?” tanya Rully saat Nakha datang ke klinik tempat Rully bekerja, untuk kedua kalinya dalam satu bulan.
“Aku mau terapi lagi,” jawab Nakha lembut sambil menatap Rully dengan penuh cinta.
“Apa keluhanmu?” tanya Rully sambil menyiapkan buku pasien yang akan menjadi rekomendasi pada sinse yang akan memriksanya nanti.
“Sepertinya, ada yang tidak beres dengan jantungku.”
“Apa?” Tentu saja Rully terlihat cemas dengan pengakuan Nakha yang justru senang dengan reaksi yang diperlihatkan oleh wanita itu.
“Ya. Aku sepertinya butuh akupunktur pada titik meredian jantung.”
Rully diam dan dia segera memeriksa dengan nadi Nakha dan mencatatnya sambil menatap Nakha intens.
“Kau normal dan baik-baik saja kau tidak perlu mendapatkan terapi pada titik Meridian itu!”
“Lalu titik Meridian yang mana yang harus aku dapatkan sebab jantungku selalu berdebar-debar setiap kali berdekatan denganmu!”
Rully memalingkan pandangan dengan menyembunyikan senyum tipis, akhir-akhir ini, Nakha seringkali memberikan rayuan manis seperti itu kepadanya.
Naka yang melihat reaksi Ruli juga ikut bahagia, dia mendapatkan semua pelajaran rayuan itu dari Juli, pria itu juga yang selalu mengusulkan untuk membawa bunga atau makanan manis, saat berkunjung ke rumah wanita yang dicintainya itu. Bukan hanya itu, dia juga sering membawa beberapa hadiah sederhana lainnya. Bukan barang yang mewah dan mahal tetapi semua merupakan benda yang benar-benar dibutuhkan oleh Rully, ketika pergi bekerja atau mencari tanaman herbalnya.
“Titik Meridian itu ... titik yang menyebar seperti jala pada kulit yang semuanya saling berhubungan dengan sistem kerja dan fungsi pada setiap organ tubuh manusia. Jadi, Nakha ... tidak ada titik terapi karena melihat seseorang dan kemudian hatinya berdebar!” kata Rully membuat Nakha tertawa.
Demikianlah kedekatan dan keakraban demikian cepat terjalin antara Nakha dan Rully, hingga kasih sayang dan cinta tumbuh semakin kuat. Kini, Ruli tidak segan-segan lagi menggandeng tangan pria itu bila bertandang ke rumahnya. Bahkan dia tidak lagi malu kepada kedua orang tuanya jika harus menerima panggilan video dari Nakha.
“Apa kau sekarang benar-benar mencintainya?” tanya Harun suatu malam saat Rully baru saja selesai menghubungi Nakha dan lamat-lamat pria itu mendengar, anak perempuannya mengatakan rindu pada laki-laki yang meneleponnya.
__ADS_1
Mereka bercakap-cakap di dalam kamar Rully yang pintunya dibiarkan terbuka.
“Ayah?” Ruli bertanya sambil duduk dan meletakkan ponselnya di tempat tidur, sebab saat menerima panggilan dia dalam keadaan rebahan.
“Apa Ayah mengganggumu?”
“Tidak!”
“Ru, sekarang sudah lewat dari tiga bulan sejak kalian saling kenal dan Nakha mengantarkanmu pulang malam itu .... Ayah lihat kalian semakin akrab dan aku ingin yang terbaik untuk anakku. Kalau kau siap untuk menikah dengannya maka, akan aku lakukan mengadakan pernikahan secepatnya, daripada kalian selalu seperti ini lebih baik kalian tinggal bersama.”
“Apa Ayah tidak senang aku tetap tinggal di sini?”
“Bukan begitu ...” ucap Harun sambil membelai rambut anak perempuan satu-satunya itu.
“Dengar, kalau kalian sudah menikah nanti dan memang ingin tetap tinggal di sini maka, ajaklah Nakha untuk tinggal bersama kita, kalau memang dia mencintaimu pasti akan melakukan apa pun yang kau senangi dan kau minta bukan? Tapi, sebagai wanita kau juga tidak boleh egois apabila dia tidak bisa melakukannya, karena kewajiban dan tanggung jawabnya.”
Rully terlihat diam sambil memikirkan ucapan ayahnya, di saat yang sama Baina datang dan duduk di antara suami serta anaknya.
“Ibu ....” gumam Rully.
“Apa? Lihat memang seperti itu sifat orang kaya ... dan kalau mereka belum mendapatkan dirimu, aku yakin mereka akan terus memberi barang-barang yang tidak berguna sama sekali itu!”
“Ibu bisa menjualnya lagi!” kata Harun.
“Bukan menjual tapi, membagikannya!” sahut Baina.
“Ya sudah lakukan saja!” tandas Harun.
“Ya kalau begitu, nikahkan saja mereka secepatnya Ayah!”
“Ibu ....!” lirih Rully dengan cemberut.
__ADS_1
“Apa, apa aku salah lagi?” tanya Baina sambil melihat Rully dengan senyum lucu.
“Hmm ... kalau begitu besok malam kita datang ke rumahnya, buatkan makanan dan aku akan memberi obat-obatan herbal yang bagus untuk kesehatan mereka!” kata Harun.
“Ya, jangan lupa, katakan terus terang agar mereka membuat pesta pernikahan untuk Naka dan Putri kita secepatnya.” Baina menimpali.
“Baiklah aku akan membantu Ibu dan Ayah menyiapkannya sebaik mungkin besok malam!”
“Itu, harus!” sahut Baina sambil memeluk anaknya.
“Apa aku perlu menghubungi Nakha agar menjemput kita Ayah?” Rully berkata setelah ibunya melepaskan pelukan.
“Tidak perlu, pakai saja mobil lama kita, ini akan jadi kejutan untuk mereka!”
“Apa mobil itu masih bisa jalan, Ayah?”
“Bisa! Kau pikir Ayah membiarkannya saja selama ini? Aku merawatnya dengan baik, mobil itu sekarang termasuk langka dan antik, kalau dijual, harganya bisa tiga kali lipat dari harga sebelumnya.”
“Benarkah?”
“Eum ....” Harun bergumam sambil mengangguk, “orang yang memiliki pengetahuan tentang mobil dan mempunyai selera tinggi, pasti akan tertarik dengan mobilku dan aku tidak akan menjualnya kecuali, aku tiada nanti, kau bisa melakukan sesukamu pada kendaraan Ayah itu!”
Pada keesokan harinya, sejak dari sore, Rully dan Baina sudah menyiapkan beberapa makanan tradisional dengan bentuk dan tampilan luar biasa, termasuk empat botol racikan herbal terbaik yang terbuat dari bahan pilihan. Dua wanita itu mengemasnya dengan rapi dan bagus. Cukup pantas dibawa sebagai oleh-oleh atau hadiah saat mengunjungi keluarga kaya.
Mobil antik Harun pun sudah dipoles sedemikian rupa, hingga terlihat berkilau seperti baru. Pakaian mahal pun melengkapi penampilan tiga orang keluarga kecil itu. Baina sengaja beli dengan uang tabungannya selama ini. Sama sekali bukan hasil dari menjual barang pemberian dari keluarga Nakha. Semua hasil kerja keras mereka.
Mereka terlihat sederhana tapi, bukan berarti tidak memiliki dan tidak tahu barang berkelas seperti, yang mereka kenakan kali ini.
“Rully, Ayah?” ujar Nakha begitu terkejut, saat mobil Harun berhenti di depan halaman rumah mewah milik keluarga Hau. Saat masuk tadi, para penjaga pintu gerbang mempersilahkan mereka masuk dengan begitu hormat, setelah tahu, Rully ada di dalamnya.
❤️❤️❤️
__ADS_1