
Pesta Kecil Bimbim
Sesampainya Rully dan ayahnya di rumah, tentu saja Baina menanyakan keberadaan tamu mereka yang memilih pergi tanpa berpamitan padanya. Membuat wanita itu cemberut karena merasa tidak di hargai oleh seorang anak muda.
Nakha hanya berkata kalau dia akan pulang lebih dulu tanpa berpamitan pada sang ibu.
Tibalah hari di mana ulang tahun Bimbim digelar dengan penuh kemeriahan. Rully lebih dahulu datang sebelum kehadiran Nakha dan Tari. Semua karena Bimbim yang terus saja menelepon dan meminta gadis itu untuk membuatkan curos manis bertabur coklat dan keju kesukaannya.
Dahulu di panti asuhan yang menjadi tempat tinggalnya, Bimbim dan banyak anak lainnya yang senang jika hari ulang tahunnya dirayakan. Mereka membuat pesta sederhana dengan kue yang sederhana pula. Hidangan yang selalu ada, hanya curos atau donat dan dibagikan kepada setiap anak, masing-masing hanya dua macam saja.
Di rumah mewah itu Tari muncul bersama dengan Nakha. Wanita itu memintanya menjemput dan datang berdua di acara yang dipenuhi anak-anak, teman sebaya dan satu sekolah dengan Bimbim.
Leni dan Hamza sebenarnya datang sejak pagi, tapi mereka tidak mengenal Rully yang sibuk di dapur untuk memasak kue, hingga suami istri itu mengira jika gadis itu adalah koki yang sengaja di sewa untuk memasak di pesta.
Namun, setelah Nakha tiba, pria itu mencari keberadaan Rully saat acara tengah berlangsung dalam kemeriahan yang menyenangkan. Sementara Tari berbincang dengan calon mertuanya dan juga ikut sibuk beramah-tamah dengan tamu yang hadir bersama Sita dan Deni.
“Kak! Apa kau melihat Ruly?” tanya Nakha pada Sita yang tampil glamor siang itu.
“Ya! Aku melihatnya tadi!” kata Sita singkat lalu, dia kembali sibuk dengan para tamu.
“Paman mencari Ruru? Mungkin dia di dapur! Tadi, dia ku ajak ke sini tapi tidak mau!” kata Bimbim sambil menikmati curos buatan Rully.
Nakha terlihat gelisah, dan bertanya, “Apa? Dia di dapur?”
“Ya! Curos ini kue buatannya!”
Nakha mendengus kesal, bagaimana bisa gadis yang dicintainya dan diharapkan tampil memukau di hadapan keluarganya, justru berada di dapur. Dalam bayangan Nakah, pastilah penampilan Rully akan mirip seorang yang belum mandi.
Dia membandingkan pakaian yang dipakai oleh Tari dan beberapa keluarganya yang lain, maka dia merasa buruk, bila harus memperkenalkan gadis itu dengan keadaan seperti asisten di dapur!
Sementara Nakha melangkah ke dapur, Tari terlihat panik karena mendengar jika Rully ada di sana, bahkan Nakha pun mencarinya. Pantas saja tadi dia terlihat enggan bersamanya. Walaupun dia bersikap baik tapi, tetap saja tidak romantis.
Nakha segera menuju dapur dan dia melihat Rully dengan takjub, penampilannya tidak buruk, walaupun sudah dari pagi dia berada di dapur. Namun, pekerjaannya sudah selesai, hingga dia memilih untuk istirahat di ruangan para asisten dan mengobrol di sana.
Semua cerita dan pengalamannya tentang penyakit dan obat-obatan herbal, membuat dia seperti seorang guru yang mengajarkan sesuatu pada muridnya. Dia tengah mengarahkan seorang asisten mencampur beberapa bahan rempah ke dalam minyak.
__ADS_1
“Lebih bagus semua bahan rempah dan daun-daunan itu dicampur dengan minyak VCO!” katanya.
VCO adalah kepanjangan dari virgin coconut oil yang mengandung medium chanied faitty acid atau MCFA, manfaat kandungan itu adalah membantu sistem tiroid dan endoktrin, yang dapat meningkatkan laju metabolisme tubuh. Minyak itu juga mengandung anti oksidan yang mengurangi peradangan serta meredam ketegangan pada pankreas.
Bedanya VCO dengan minyak kelapa biasa adalah pada proses pembuatannya yang, tidak melalui pemerasan setelah karbonasi atau pematangan santan, melainkan dengan sistem fermentasi atau diendapkan hingga mengeluarkan minyak murni setelah dibiarkan semalaman. Biasanya, hanya sedikit sekali minyak yang dihasilkan dengan cara diendapkan ini, dari sekian butir kelapa yang diperah santannya.
“Minyak yang dicampur dengan rempah itu bisa membuat lukamu sembuh lebih cepat!” katanya lagi.
“Rully! Kau di sini? Ayo! Ikut aku!” kata Nakha, memutuskan pembicaraan Rully dan para asisten yang tampak sedang membuat sesuatu di sela-sela kesibukan mereka.
Sebenarnya Rully hanya sedikit membantu, dia datang untuk memberitahukan kesenangan Bimbim dan bersama-sama memasaknya.
Nakha menggamit tangan Rully keluar dari area dapur dan membawa gadis itu ke teras samping yang tidak ada orang di sekitarnya.
“Apa kau menunggu jawabanku?” tanya Rully langsung pada intinya.
Mereka berdiri saling berhadapan.
“Ya! Dan aku harus memperkenalkanmu pada ibuku!”
“Tidak perlu, sebab aku juga sudah mantap dengan jawabanku, yaitu ... tidak! Maafkan aku Nakha!” katanya.
Rully tertawa mendengar sikap kekanak-kanakan Nakha yang tidak sesuai dengan umurnya. Bagaimana bisa dia membandingkan dirinya dengan orang yang tidak ada di sekitarnya sekarang.
“Nakha, mungkin kau harus belajar bagaimana caranya bersikap wibawa dengan seorang wanita, kau tahu seperti apa sikap romantis itu?”
Nakha hanya diam.
“Eum ... Atau mungkin kau bisa mempelajari caranya menyapa wanita dengan lemah lembut atau belajarlah bersabar serta tidak memaksakan kehendak!”
Nakha tetap diam, dia memang banyak pergaulan tapi, bukan dengan wanita atau orang-orang dewasa, melainkan dengan anak-anak manja keturunan para pengusaha kaya yang selalu mengisi waktu dengan kesenangan semata.
“Untuk itulah aku membutuhkanmu, Ru! Kalau aku harus menikah dengan Tari, yang ada hanyalah aku harus menuruti kemanjaannya dan dia akan lebih sering sakit hati.”
Rully mengerutkan keningnya dan berkata, “Apa kau yakin?”
“Ya!”
__ADS_1
“Aku yang tidak yakin hidup dengan laki-laki seperti dirimu!”
“Ya! Baiklah, aku akan belajar bagaimana mencintai.”
“Sebenarnya, apa yang terjadi padamu, biasanya kalau pria yang jatuh cinta itu akan banyak berbuat sesuatu untuk wanita yang dicintainya.”
“Aku mencintaimu perasaan itu ada di hatiku, Ru! Tapi, aku tidak tahu harus bagaimana bersikap padamu?”
“Ya sudah, ayo! Kenalkan aku pada Ayah dan Ibumu.”
Dua orang itu berjalan beriringan, Rully membiarkan tangannya dipegang oleh Nakha.
Tentu saja hal itu membuat Tari yang melihatnya menjadi cemburu. Dia berpikir bahwa mereka sudah mengetahui kebenarannya satu sama lain.
“Rully!” katanya dengan senyum yang dipaksakan.
Meskipun hatinya hancur tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tahu, Nakha sangat penasaran dengan gadis penolongnya. Seandainya memang sudah tahu, maka, wajar kalau dia lebih mencintainya, karena Rully, si penolong itu bukanlah orang yang buruk rupa.
“Tari, apa kabar?” tanya Rully ramah dan tenang, meskipun ada rasa bersalah dengan apa yang dilakukan Nakha pada dirinya, tapi dia bukan seorang perebut kekasih.
Tari hanya tersenyum, hatinya benar-benar tidak baik, tapi tetap menerima uluran tangan Rully.
Beberapa orang yang ada di ruangan itu menoleh pada Nakha dan Rully hampir bersamaan. Leni, Hamza, Deni, Sita, Bella, bahkan Barra pun ada dan beberapa saudara serta teman di sana juga, kecuali Bimbim, dia asyik bermain dengan teman-temannya.
Nakha memperkenalkan Rully sebagai orang yang sudah menolong, pada semuanya dan mengenalkan ayah serta ibunya, baginya cukup keluarga inti yang harus diketahui oleh Rully, sedangkan orang lain yang ada di sana, tidak penting.
“Oh, jadi kamu yang dari tadi membantu memasak di dapur? Kau yang membuat curos dan donat kesukaan Bimbim?” kata Leni, setelah Rully dan Nakha duduk di antara mereka.
“Ya!”
“Tunggu dulu! Kau bilang dia jelek, kan? Jadi, apa yang terjadi?” kata Hamza ikut penasaran.
Rully melihat ke arah Nakha, kemudian dia menjelaskan tentang alasannya mengapa wajahnya seperti itu. Waktu itu dia sedang terkena racun daun kemadu yang membuat kulitnya merah keunguan dan dipenuhi bintik-bintik kecil seperti ruam di seluruh wajah dan lehernya.
Percakapan pun semakin akrab, membicarakan bagaimana Rully bisa menangani luka Nakha serta pengalamannya membuat curos, atau makanan manis di panti asuhan. Semua cerita yang dikatakan oleh gadis itu menarik perhatian semuanya, kecuali satu orang.
__ADS_1
❤️❤️❤️