Mencintai Pengobat Luka

Mencintai Pengobat Luka
Maaf Mengecewakanmu


__ADS_3

Maaf Mengecewakanmu


“Aku tidak tahu, tapi denyut nadimu bertambah!” sahut Rully.


Setelah itu, dia pun menekankan jarum secara perlahan di permukaan kulit, membuat Nakha melebarkan pandangan matanya, dan berkata, “Apa ini pengaruh jarumnya?”


“Ya! Apa yang kau rasakan?” tanya Rully.


“Seperti ada yang berputar! Titik apa ini?”


“Itu bukan titik apa-apa, hanya untuk menjaga daya tahan tubuhmu saja!” kata Rully, “Jangan bergerak, biarkan tanganmu tetap seperti itu.


“Apa kau akan melakukannya pada tubuhku yang lain?” tanya Nakha, dengan suara riang.


“Tidak! Cukup itu saja!”


Nakha terlihat kecewa, “Sampai berapa lama aku harus begini?”


“Lima belas menit minimal!”


“Baiklah!”


Rully menghampiri Bimbim, dan melepas jarum dari tangannya, lalu mengajaknya berbincang sambil menunggu waktu pelepasan jarum dari kulit Nakha.


Setelah selesai, gadis itu berpamitan, karena dia akan pergi ke tempat lainnya. Sementara itu, Nakha sudah berada di luar kamar lebih dulu, dia menunggu Rully dekat pintu. Tanpa mereka sadari, ada seorang wanita yang melihat semua kejadian itu dari kejauhan, dia terlihat begitu khawatir dengan kedekatan antara Rully, Bimbim dan Nakha. Takut juga kalau anak itu menceritakan tentang kalungnya.


“Maaf, apa kau bisa ikut sebentar denganku?” tanya Nakha saat Rully sudah berada di luar kamar Bimbim.


“Apa kau butuh bantuanku?” Tanya Rully, dan Nakha mengangguk sambil melangkah secara berjingkat dengan bantuan kruk besi di ketiaknya.


“Di mana kamarmu?” tanya Rully, dia pikir lebih baik berbicara di kamar perawatan Nakha sebab mereka bisa berbincang sambil mengistirahatkan tubuh pria itu, mengingat dia masih butuh istirahat yang cukup.

__ADS_1


“Itu!” kata Nakha sambil menunjuk salah satu kamar tak jauh dari tempat perawatan Bimbim berada, deretan koridor itu semuanya adalah kamar di VIP.


Setelah sampai di kamar itu, Nakha duduk di atas tempat tidur lalu dia merebahkan dirinya sendiri, tanpa dibantu Ruli sedikit pun, kecuali saat dia hendak menyimpan satu kakinya yang sakit, barulah Ruli membantu memegangi bagian bawah gips nya.


“Apa kau hanya sendiri di sini?” tanya Rully sambil melihat ke sekeliling yang sepi.


“Tidak, biasanya ada Tari yang menemani, dia baru saja pulang karena terlihat kelelahan!”


Rully mengangguk dengan raut wajah datar, dan bertanya, “Apa yang bisa kubantu?” tanyanya sambil duduk di kursi yang ada di sisi pembaringan pria itu.


“Aku hanya ingin bertanya sesuatu!”


“Apa itu? Mudah-mudahan aku bisa menjawabnya!”


“Pasti kau bisa, kalau kau memang pernah menyelamatkan seseorang di hutan beberapa bulan lalu?”


“Siapa? Aku tidak pernah melakukan apa-apa di hutan, dengan seseorang!” sahut Rully tegas.


“Ya! Apa ada orang yang diselamatkan di hutan mana? Dan siapa dia?”


CK!


Nakha berdecak kesal dan dia akhirnya menceritakan kisahnya, dari awal kejadian sampai akhirnya diselamatkan oleh Tari dan ayahnya di rumah sakit.


Rully hampir sesak napas mendengarnya, tapi, dia tahu kalau Tari lebih dulu menjadi pilihan pria itu dan menjadikannya sebagai kekasih. Apalagi, Nakha mengira dirinya buruk rupa. Jantugnya berdetak lebih keras dan wajahnya memerah.


“Kenapa kau ingin tahu? Dan menanyakannya padaku?” tanya Rully penasaran.


“Aku hanya ingin tahu saja, benarkah perempuan itu kau atau bukan?”


“Hanya itu?”

__ADS_1


“Ya! Sebab sentuhan tangannya sama dengan sentuhan yang kau lakukan tadi!”


“Oh! Maaf mengecewakanmu, Nakha, tu bukarena itu aku, ada banyak perempuan lain yang bisa melakukannya! Bagaimana kau bisa ingat selama itu, bukankah dia jelek?”


“Karena itu adalah penyelamatan sebuah nyawa, itu adalah perbuatan yang sangat berharga, biarpun perempuan itu jelek!”


“Kalau memang berharga, maka sebaiknya di sembunyikan saja, jangan sampai ada orang yang tahu soal itu ... ingat, Nakha, sesuatu yang berharga itu tidak layak di pamerkan pada orang lain yang tidak berhak padanya!”


“Ya! Kau benar!”


Setelah percakapan antara Nakha dan dirinya berakhir, gadis itu pergi dari rumah sakit dengan perasaan yang sakit. Dia sudah menebak saat meraba tangan Nakha jika pria itu adalah orang yang sudah ditolongnya. Apalagi melihat beberapa bekas luka di kaki dan tangannya, dia tahu dari bekas luka seperti itu adalah luka yang pernah dia obati sebelumnya.


Namun, dia tidak habis pikir jika saat itu, ternyata Nakha tidak pingsan bahkan, bisa melihat semua yang dilakukannya. Hal yang paling menyakitkan adalah saat Nakha berkata jika dia sangat takut melihat gadis berwajah buruk yang menolongnya, meskipun demikian dia ingin mengucapkan terima kasih. Lalu, memberikan hadiah yang pantas sebagai bentuk balas budinya.


Bagi Rully, menolong adalah sebuah kewajiban, dia tidak membutuhkan ucapan terima kasih atau belas kasihan karena fisiknya, tidak! Dia tidak butuh pengakuan soal penampilan, karena bagi seorang terapis seperti dirinya, hanya perlu keahlian. Lagi pula, Rully tidak ingin Nakha tahu, jika dialah yang sudah berbuat kesalahan, hingga luka di lututnya susah untuk disembuhkan.


Ya! Itu adalah kesalahan yang fatal.


Di tempat lain, seorang wanita tersenyum tipis mengetahui sesuatu yang menyenangkan, jika Rully tidak mengakui dirinya sebagai penyelamat Nakha yang sesungguhnya. Dia tidak tahu apa alasan gadis itu berbohong, tapi, itu menguntungkan dirinya.


Sesampainya di rumah, Rully menceritakan semua pengalamannya hari itu kepada kedua orang tuanya, yang selalu mendukung dan menyerahkan semua keputusan mengenai apa pun itu, di tangannya sendiri sebab segala sesuatu hanya akan dilalui dan dirasakan oleh orang yang mengambil keputusan.


Mereka hanya memberi nasihat dan pandangan bila, satu kesalahpahaman akan membuat kesalahpahaman lainnya jika tidak segera diluruskan.


“Apalagi masalah yang berhubungan dengan orang lain, karena kita tidak pernah tahu apakah akan bertemu lagi atau tidak, dengan orang itu!” kata Harun, Sanga ayah.


“Jadi, sebaiknya berbuatlah sesuatu yang terbaik, sebab bila suatu saat waktu berlalu dan menjadi masa lalu, kita bisa menjadikan semua yang terjadi sebagai conyoh atau cerita dan kenangan terbaik yang pernah kita lakukan!” kata Baina—ibunya.


Nasihat kedua orang tua itu, bagai taburan cinamon atau kayu manis yang beraroma manis di atas sepotong kue gulung yang enak.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like


__ADS_2