Mencintai Pengobat Luka

Mencintai Pengobat Luka
Ketahuan Berbohong


__ADS_3

Ketahuan Berbohong


Selama hal itu terjadi, keluarga Tari hanya diam, mereka sudah tahu semuanya dari awal. Demi melihat keakraban yang terjadi pada keluarga Nakha dan Rully, Bella mengusap lembut punggung tangan anaknya untuk menenangkannya.


“Ibu, Ayo! Kita pergi saja dari sini!” kata Tari sedikit tertekan.


Bella dan Bara mengangguk, dia setuju dengan anak gadisnya, mereka bukan apa-apa di keluarga itu. Apalagi dia melihat gurat kesedihan pada anaknya, yang pasti sangat terluka melihat pria yang dicintainya menggandeng wanita lain, padahal mereka akan bertunangan.


Sementara Tari, merasa tidak berdaya karena dia memang dari awal tidak pernah dicintai oleh Nakha. Cintanya bertepuk sebelah tangan, tak lagi bertaut dengan harapan tapi, dipisahkan oleh kenyataan. Dia sadar diri jika antara keinginan diri dan kehidupan yang terjadi, sering kali tak sejalan.


Tari gadis yang lembut, hingga tidak mungkin memaksakan diri, sebab jika melakukannya, maka, dia bagai menggenggam bara api semakin di genggam akan semakin melukai. Oleh karena itu lebih baik pergi, melihat semua yang terjadi di hadapannya bagai melihat film menyedihkan.


Barra yang ada di sampingnya, berbisik, “Apa kau baik-baik saja, kalau kau tidak kuat melihat semuanya, lebih baik kita pergi!”


“Ya! Ayah ... ayo! Kita pulang.


Barra dan Bella merasa malu untuk memutuskan pembicaraan keluarga itu, tapi, untuk terus berada di sana pun tidak lebih baik. Mungkin akan menyakitkan lagi bagi Tari yang dianggap tidak ada. Obrolan mereka seolah terpusat pada satu orang yaitu Rully si pengobat luka, yang dicintai oleh Nakha, dan malangnya lagi, pria itulah yang dicintai oleh anak perempuannya.


Semua anggota keluarga pun tidak bisa mencegah kepergian keluarga tari ketika mereka berpamitan untuk pulang. Tapi, hanya Sita yang mengantarnya sampai di halaman depan dan mengucapkan selamat tinggal.


Namun belum sampai tari masuk ke mobil bersama kedua orang tuanya, Ruli mendekat dengan langkah yang cepat ke arah Tari.


“Tari, maafkan aku ... sama sekali tidak bisa mengendalikan keadaan ini, sungguh aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu, kau tidak perlu pergi, sebab dirimu yang menjadi tunangan Nakha!”

__ADS_1


“Tidak masalah, kau tidak salah ... aku sudah tahu keadaannya sekarang, dan tidak akan mungkin mengharapkan hubunganku akan berlanjut lebih jauh lagi, karena sejak awal memang dia selalu memikirkan gadis penyelamatnya itu, tidak ada yang menyangka bukan kalau orang itu adalah dirimu!”


“Maafkan aku!”


“Tidak ada yang harus dimaafkan, sebab semua yang terjadi bukan kesalahanmu!


Di saat yang sama, Bimbim mendekat dan mengatakan sesuatu pada ibunya yang masih berdiri tedak jauh dari Rully dan Tari.


“Apa Ruru mau pulang, Bu?” tanya anak itu.


“Tidak!” Jawab Sita.


Bimbim seketika ingat sesuatu dan dia mendekati Tari.


“Apa yang kau bicarakan?” tanya Tari dia terlihat cemas.


Bimbim menoleh kepada Rully, bahwa dia baru ingat kalau kalung yang dititipkan itu, sebenarnya dipinjam oleh Tari beberapa hari yang lalu dan kemudian dia tidak pernah mengembalikannya lagi. Anak itu sempat berpikir jika kalungnya hilang.


Mendengar semua cerita anak itu, Rully menatap Tari dengan penuh tanda tanya, dia sempat menebak semua kejadiannya, tapi tidak menyangka jika tebakannya itu benar.


Tiba-tiba Nakha datang mendekat lalu, bertanya pada Rully, “apa yang terjadi di sini, mengapa lama sekali? Apa sudah selesai di urusanmu dengan Tari? Ayah dan Ibuku menunggumu!”


“Oh, baiklah, ayo! Kita masuk dulu.” Rully tampak tidak ingin memperpanjang urusan, karena hal itu tidak penting, yang terpenting bukan soal bendanya, melainkan, siapa yang menjadi pelaku penyelamat si pemilik kalung. Apalagi jika hal ini terkuak maka akan memalukan sekali bagi Tari.

__ADS_1


Namun, pikiran Bimbim berbeda dengan Ruli, yang dia inginkan adalah kalung itu kembali pada pemiliknya, karena begitu berharga bagi temannya.


“Aku benar, kan?” kata Bimbim.


“Apa yang benar?” tanya Nakha, sedangkan Tari sudah gelisah. Sementara kedua orang tuanya yang semula sudah duduk di mobil, kembali keluar demi melihat ada sesuatu yang sepertinya cukup serius.


“Tari ... apa ada masalah, Sayang?” tanya Bella begitu keluar dari mobil dan berdiri di samping anak perempuannya. Tari diam saja, tiba-tiba bibirnya menjadi kelu untuk bicara.


“Sudahlah, Bimbim ... jangan bicara soal itu lagi, oke? Aku sudah lupa soal semua itu!” kata Rully, lagi-lagi berusaha melindungi. Tari menyadari hal itu dan dalam hati dia mengakui kebaikan Rully.


“Ruru, bukankah kau sangat menyukai kalung itu? Ingat! Kau menemukannya di hutan, dan, bilang itu keajaiban bisa ada benda sebagus itu di bawah pohon besar yang menakutkan!” kata Bimbim membuat mata Rully terbuka lebar.


“Apa benar, Ru?” tanya Nakha.


Seketika semua orang yang ada di sekitarnya saling berpandangan satu sama lain. Tidak masalah kalung itu ada di tangan siapa saat ini, tapi, yang lebih penting lagi adalah sebuah kejujuran dari Tari. Dia menipu semua orang, dengan mengatakan jika dia menemukan kalung itu di mobil, padahal dia sudah mengambilnya dari Bimbim.


Rully sendiri tidak mempermasalahkannya tapi, Nakha justru semakin kesal pada Tari. Bukan simpati yang gadis itu dapatkan, melainkan penilaian miring bahwa dia berusaha menjadi kekasih Nakha dengan berbagai cara.


“Ayo! Ikut denganku dulu!” kata Nakha sambil meraih tangan Tari dan dua orang itu melangkah kembali ke rumah yang mulai lengang, karena beberapa tamu sudah berpamitan untuk pulang.


Tari mengikuti langkah Nakha dengan pasrah, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sebentar lagi kebohongannya akan terbongkar . Ayah dan Ibunya, Rully, serta Bimbim dan Sita mengikuti mereka masuk.


Kini semua keluarga kembali berkumpul, di ruang tamu yang masih di penuhi pernak-pernik pesta dan aneka makanan ringan. Hamza dan Leni serta Deni yang masih asyik berbincang pun heran, dengan kembalinya orang-orang yang sudah berpamitan untuk pulang itu.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2