Mencintai Pengobat Luka

Mencintai Pengobat Luka
Dia Baik-baik Saja


__ADS_3

Dia Baik-baik Saja


Nakha kemudian menceritakan siadirinya, cepat atau lambat, Rully harus tahu hal yang sebenarnya, bahkan, dia tidak pernah tahu seperti apa wajah wanita yang sudah melahirkannya ke dunia. Mereka bagai manusia yang hidup dengan menukar nyawa.


“Aku tidak tahu jika dalam keluarga terhormat seperti dirimu ada kejadian seperti itu, aku pikir mereka adalah orang yang menjunjung tinggi harga diri bahkan katanya mereka menganggap nama baik adalah segalanya.”


“Tentu saja, karena nama baik keluarga adalah nyawa bagi perusahaan, makanya dalam berbisnis kami sangat menjaga sebuah komitmen, janji dan kontrak kerja, apabila salah satu pihak membatalkan atau menodai kerja sama harus membayar kompensasi, semua karena pentingnya sebuah harga diri.”


“Hmm ... lalu, apakah menikahi orang biasa seperti diriku tidak melukai harga diri keluargamu, Nakha?”


“Tidak, aku menyukaimu, apalagi kau wanita luar biasa bagiku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau menolakku!”


“Kita masih bisa berteman, bukan? Lagi pula kita akan baik-baik saja!”


Nakha menatap Rully dan merasa tidak siap untuk patah hati. Dia akan tetap menjalin hubungan walaupun secara perlahan, asalkan gadis di hadapannya itu tidak menaruh hatinya di hati pria lain.


“Kau cinta pertamaku, Rully, dan akan jadi cinta terakhirku juga, aku tidak akan seperti Ayah! Kalau kau tidak mau melakukannya tahun ini, kita bisa merencanakan untuk menikah tahun depan.”


“Kurasa itu terlalu cepat!”


Nakha kembali menatap Rully dengan intens dan dia tidak ingin lebih lama lagi menahan diri untuk menikahinya. Mengingat usianya juga sudah cukup dewasa, pria seusianya banyak yang punya anak lebih dari dua.


“Baiklah aku akan bersabar!”


Mencari kepercayaan agar kekasihnya tidak berpaling itulah yang Nakha pikirkan, membuatnya penasaran dengan pria yang pernah diceritakan Rully. Lalu, saat dia bertanya pada gadis yang disukainya itu, dia hanya mendapatkan jawaban sekedarnya jika pria itu sudah tidak ada di kota mereka.


Rully tidak lagi memikirkan pria yang sempat disukainya itu sebab dia tidak berharap terlalu banyak, apalagi pertemuan mereka jarang terjadi. Jadi, tidak ada gunanya terus memupuk cinta, kalau pada akhirnya bunga yang tumbuh pun tidak akan memberinya manfaat.


“Jadilah dirimu sendiri agar kau bisa memahami kehidupan yang akan kita jalani dengan baik,” kata Ruli di akhir ceritanya.

__ADS_1


“Aku sering menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan Ibu dan kalau aku melakukan apa pun yang aku sukai di luar sana adalah pelampiasan akan rasa kecewa kenapa aku harus lahir ke dunia?”


“Jadi, kau menyesal telah dilahirkan? Bukankah lebih baik kau mengukir sejarah hidupmu, dengan kebaikan dari pada menyesali sesuatu yang tidak bisa kau ulang dari awal?”


“Seperti apa misalnya?”


“Seperti kelahiranmu, kau tidak bisa mengulangi lagi, apa kau akan reinkarnasi? Arti dari sebuah reinkarnasi adalah bekerja keras, Nakha ... bekerja keras! Lalu, wujudkan sesuatu yang berbeda!”


Nakha diam, terus mencerna ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Rully, meresap ke dalam hatinya, menyadari sebuah kesalahan jika selama ini, dia banyak melakukan hal yang sia-sia.


Setelah sama-sama diam untuk beberapa saat, Nakha meraih tangan Rully dan menatap gadis itu lekat.


“Rully, apa kau mau menungguku untuk jadi lebih baik?”


Rully diam sejenak dan kemudian mengangguk singkat.


“Tentu, jadilah pria baik seperti harapan Ibu dan Ayah!”


Mendengar ucapan Nakha yang memang selalu blak-blakan, Rully tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa. Namun, dia merasa tersanjung sebab secara tidak langsung pria itu memuji dan begitu menghargainya.


Di tempat yang berbeda, Deni, July dan Hamza, tengah duduk dalam satu meja di ruang kerja Hamza. Pria itu sengaja memanggil Deni dan July karena Nakha. Mereka baru saja menikmati hidangan yang sejatinya akan disajikan untuk makan malam tamu, tapi akhirnya mereka dan para asisten yang menghabiskannya hingga kenyang.


“Ada apa Ayah mencariku, apa masih kurang dengan semua yang sudah aku lakukan untuk anak Ayah itu?” kata Deni tanpa bicara basa-basi terlebih dahulu.


“Kau juga anak Ayah, Deni!” kata Hamza tegas.


“Ya, ya, tapi Ayah terlalu pilih kasih! Dia bebas melakukan apa pun selama ini tanpa harus kau Bebani dengan tanggung jawab perusahaan, sedangkan aku?”


“Kau lebih kompeten dalam menjalani ilmu bisnis, kau pandai bernegosiasi, apa aku salah mempercayakan semuanya padamu? Kalau aku tidak kelak, kau akan menjadi komisaris utama, sedangkan Nakha hanya akan menjadi direktur biasa, apa kau kurang puas dengan semua itu?”

__ADS_1


“Ayah ... bukan begitu maksudku, aku hanya—“ suara Deni melunak.


“Aku tahu apa yang akan kau katakan!” sergah Hamza, “Aku kira dia punya kelemahan seperti ibunya, karena itu aku tidak membebaninya dengan banyak pekerjaan, dia punya penyakit bawaan sejak lahir dan aku pikir membiarkannya akan membuatnya senang!”


“Apa Ayah yakin? Bukankah dia menyukai olahraga ekstrim!”


“Ya! Dia mencoba melawan ketakutannya, dia sengaja menarik perhatianku, dan aku bersyukur dia baik-baik saja sampai sekarang! Kalau sewaktu-waktu dia tidak bisa menjalani kehidupan sempurna seperti sebelumnya, aku tidak akan menyesal!”


“Ayah! Dia baik-baik saja, aku dan July sudah memeriksanya secara diam-diam, gen Ayah lebih dominan, dia sehat!”


July yang sedari tadi diam, hanya mengangguk dan menunjukkan beberapa gambar serta laporan seorang dari surelnya.


“Apa selama ini pihak dokter itu berbohong padaku?”


Semua orang yang ada dalam ruangan itu diam, tenggelam dalam pikiran dan tebakan masing-masing tentang laporan kedokteran yang berbeda dari yang ada di tangan Deni dan Hamza.


“Kalau Tuan tidak percaya dengan laporan yang ada pada saya, Anda bisa menanyakan semuanya pada dokter ahli di luar daerah yang independen!” kata July dalam ketenangan yang luar biasa.


“Hmm ...” gumam Hamza sambil memegangi dagunya dan mengangguk.


“Kalau begitu, izinkan aku dan July mulai melatihnya besok.”


“Besok?”


“Ya! Ayah tenang saja di rumah dan nikmati pensiun Ayah!” kata Deni sambil tersenyum tipis, kemudian berdiri dan keluar dari ruangan Hamza diikuti oleh July yang juga menyeringai.


“Apa yang akan kita lakukan padanya, Tuan?” July bertanya setelah sampai di tempat parkir, dan membuka pintu mobil untuk Deni.


“Lakukan sesuai rencana!”

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2