Mencintai Pengobat Luka

Mencintai Pengobat Luka
Bukan Gadis Buruk Rupa


__ADS_3

Bukan Gadis Buruk Rupa


Sementara itu, Rully dan Niet bertemu dengan Bimbim yang sedang menikmati Es krim madu di halaman Gerai Herbal yang sedang melakukan perhelatan. Anak laki-laki bertubuh gempal itu berlari mendekati temannya sambil berteriak memanggilnya.


“Ru! Maafkan, aku!” Bimbim berkata setelah dekat dan memeluk pinggang Rully.


“Kenapa kau meminta maaf?” tanya Rully.


“Ru, kalung itu hilang, aku lupa apakah sudah dikembalikan atau belum!” kata Bimbim sambil mengurai pelukannya.


“Siapa yang meminjamnya?” kata Niet menyela obrolan mereka, “Hai, Bim! Apa kau lupa siapa aku?”


Bimbim melihat ke arah Niet sekilas lalu tersenyum, mereka hanya sekali atau dua kali bertemu, tentu saja anak itu lupa.


“Ya! Ada yang meminjam kalung itu, tapi sepertinya dia lupa!”


“Sudah, lah ... tidak masalah kalung itu hilang, lagipula bukan milikku juga!”


“Aku tahu, kau pasti kecewa padaku karena kau menyukai kalung itu!”


“Bim, dengar ... tidak selamanya apa yang ada di tangan kita akan menjadi milik kita, karena semua yang ada itu sebelumnya tidak ada, bukan? Jadi, wajar kalau kemudian semuanya lenyap atau hilang!”


“Jadi, kau tidak marah?”

__ADS_1


“Tidak, bukan salahmu kalung itu hilang buat apa aku marah?”


Disaat yang sama, Sita mendekat dan tersenyum anggun pada Rully dan Niet, dia masih ingat kalau anaknya dan gadis itu berteman.


“Bu! Ruru tidak marah padahal aku sudah menghilang kan kalungnya!”


Wanita itu tidak menjawab dan hanya tersenyum.


“Nyonya, apa kabar?” kata Rully sambil membungkuk hormat begitu pula dengan Niet. Mereka tahu jika ternyata Bimbim di angkat menjadi anak dari keluarga Hau pantas saja!


“Aku baik ... maaf soal kalungmu, aku sendiri tidak tahu kalung seperti apa yang hilang itu ... Kalau boleh tahu, seperti apa bentuknya, siapa tahu aku bisa menggantinya!” kata Sita dengan ramah.


“Itu hanya kalung mainan, Nyonya. Tidak perlu dipikirkan!” sahut Rully, dia tidak tahu apakah harus mengatakan atau tidak, bahwa, kalung yang dia temukan adalah milik keluarga Sita sendiri. Namun, dia memilih untuk tidak mengatakannya karena khawatir ada masalah dengan Bimbim.


Setelah berjanji akan mampir ke rumah Bimbim lain kali, Rully dan Niet pergi bertepatan dengan Nakha yang keluar dari gerai herbal sambil menggandeng tangan Tari.


Tari melihat bagaimana interaksi antara Bimbim dan Rully sekilas, hingga dia kemudian memikirkan sebuah kesimpulan yang tepat jika Rully adalah, wanita yang telah menyelamatkan Nakha tiga bulan yang lalu dan dia pulalah yang telah menemukan kalung itu. Namun, dia hanya memendam rapat-rapat, sebuah kenyataan lain yang lebih penting bahwa, dia bukan gadis buruk rupa seperti penilaian Nakha.


“Aku akan ke rumah sakit, apa kau mau ikut?” kata Nakha pada Tari, saat berada di halaman parkir mobil, “kalau kau tidak mau, aku akan mengantarmu lebih dulu!”


“Apa kau mau memeriksakan kakimu?”


“Ya!”

__ADS_1


“Ayo! Ke rumah sakit saja, tidak ada salahnya, kan? Aku tahu bagaimana kesehatan kaki calon suamiku!”


Sesampainya di rumah sakit, Andre sudah menunggu dan dia juga khawatir mendengar kabar jika Nakha terjatuh dan membutuhkan perawatan. Dokter itu akhirnya memutuskan untuk membuat gips penahan pada lutut Nakha agar tidak terlalu banyak bergerak, dan memintanya untuk tinggal sementara di rumah sakit.


“Seharusnya kau melakukan hal ini sejak tiga bulan yang lalu!” kata Andre.


“Dulu tidak begitu sakit, aku pikir nanti juga akan sembuh dengan sendirinya seperti luka yang lainnya!” Ujar Nakha membela diri.


“Luka di kulit dan daging tidak sama dengan luka di lututmu! Aku sudah pernah bilang, kan ketika melihat hasil rontgen dari kakimu itu ... sedikit mengenai persendian, kau harus melakukan pengobatan ekstra untuk itu tapi, kau seperti biasanya! Akh, dasar pembangkang tahu sendiri sekarang akibatnya!” Andre mengomel.


“Jadi, aku tidak bisa jalan untuk berapa hari?”


“Lebih lama kau tidak menggunakan kakimu, akan jauh lebih baik!”


“Dasar, kau!” kata Nakha.


“Sudahlah, Sayang. Rawat saja lukamu, aku akan menemanimu di sini!” Tari menimpali ucapan Andre.


“Tidak usah repot-repot!” kata Nakha, dia menolak dengan halus karena tidak ingin lebih banyak berhutang budi.


“Aku tidak repot kalau itu untukmu!” sahut Tari sambil tersenyum. Justru dia senang karena punya kesempatan lebih banyak untuk dekat dengan Nakha.


Akhirnya mereka pergi ke rumah sakit

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2