Mencintai Pengobat Luka

Mencintai Pengobat Luka
Batalnya Pertunangan


__ADS_3

Batalnya Pertunangan


“Ada apa, Nakha?” tanya Hamza dengan tatapan menyelidik pada Tari yang terlihat pias sambil menunduk dalam-dalam.


“Duduklah!” kata Nakha dengan suara keras.


Mereka duduk saling berhadapan.


“Katakan pada kami semua di sini bagaimana kau mendapatkan kalung itu? Benarkah apa yang di katakan Bimbim bahwa, kau meminjam dan tidak mengembalikan padanya?”ujar Nakha lagi.


“Ya! Paman, aku baru ingat kalau kalung itu dititipkan padaku, dia berjanji akan mengambilnya lagi suatu saat kalau mengunjungiku, aku tahu dia begitu menyukainya, Paman! Dan, aku yakin Rully pasti kembali untuk mengambilnya!” Bimbim menyahut dengan suara polos khas anak-anak.


Tari diam. Ayah dan Ibunya ingin membela dengan mengatakan sesuatu tapi, Nakha tidak mendengar karena yang terpenting baginya adalah pengakuan langsung dari Tari.


Nakha memang terkenal dengan sikapnya yang urakan dan semau sendiri tetapi, dia tidak pernah sekalipun mengingkari janji, apalagi menipu orang-orang terdekatnya bagaimana mungkin dia bisa percaya jika Tari, gadis yang sudah dipercayai sedemikian rupa, tega berbohong padanya. Padahal, dia sama sekali tidak pernah membohongi Tari.


Termasuk saat dia menjawab keinginan Tari untuk menjadi kekasih dan bertunangan, Nakha secara jujur mengatakan jika dia tidak bisa memaksakan hatinya untuk menyukai dan menerima perjodohannya, karena dia memang tidak ingin berbohong ataupun dibohongi.


Nakha tidak mau mengumbar janji pernikahan yang tidak ringan, karena dia tidak ingin mengingkari. Apalagi kemudian, di tengah jalan memutuskan hubungan hanya karena dari awal mereka memang tidak pernah saling mencintai. Dia mungkin sedikit nakal, tapi dia tidak ingin mempecundangi janji pernikahan, dia pun ingat hubungan ayah dan ibu kandungnya dulu.


“Bagaimana bisa kau membohongiku Tari?” kata Nakha dengan tajam menatap Tari.


“Tari ... Aku sudah percaya padamu selama ini. Kau tahu apa artinya kalung itu? Jika seseorang dari keluarga ini sudah memberikan pada pasangannya maka, dia akan sepenuhnya memegang teguh janjinya, dan kau sudah berbohong sebelum kita mengawali, kurasa tidak baik bukan? Bila sebuah hubungan diawali dengan kebohongan?”


Semua orang diam, apalagi Rully, dia merasa tidak berhak bicara walaupun, dia sebagai orang yang menemukan kalung itu, tapi, dia bukan siapa-siapa di sana.

__ADS_1


“Maafkan aku!” kata Tari sambil terisak dan dia melepaskan kalung di lehernya dengan perlahan dan menyerahkannya pada Bimbim.


“Bim! Ini aku serahkan padamu!” kata Tari masih dengan berurai air mata.


“Terima kasih!” kata Bimbim tersenyum lalu, menyerahkannya pada Rully, “Ru! Ini kalung kesayanganmu! Pakailah!”


Seketika suasana mendadak canggung antara Rully dan Tari, dua wanita itu saling bertukar pandangan dengan sejenak.


“Tari, aku ....”


“Rully, itu memang kalung yang kau temukan, aku meminjamnya dari Bimbim,” kata Tari dengan suara bergetar, mengakui kebohongan di mata banyak orang tentu sangat memalukan, tapi, ini masih jauh lebih baik dari pada memendamnya lebih lama lagi.


“Nakha ... aku memang tidak menemukannya di mobil, aku hanya mengarang cerita seolah-olah aku menemukannya di sana, karena kalung itu terjatuh dari tubuhmu,” lanjut Tari sambil memegang tangan Nakha lembut.


Nakha tidak menjawab, dia hanya menatap Tari dengan tatapan tajam. Lalu, memalingkan wajah sesaat kemudian. Sementara semua orang yang ada di sana bagaikan figuran yang hanya diam dalam sebuah adegan.


“Kalau begitu, semua jelas sekarang, kan?” Nakha berkata setelah sekian lamanya diam.


“Apa maksudmu? Nakha!” kata Leni, wanita itu merasa tidak enak dengan Bella mereka berdua sudah akrab akhir-akhir ini.


“Jadi, Bu! Aku tidak mau tunangan ini diteruskan, hubungan antara aku dan Tari tidak mungkin dilanjutkan lebih jauh lagi ... apalagi sampai ke jenjang pernikahan, kalian dengar sendiri, kan? Sekarang antara aku dan dia hanyalah sekedar teman!” kata Nakha pada akhirnya.


“Aku akan mendukung apapun keputusanmu!” Hamza menyahut ucapan anaknya datar. Sedangkan Deni hanya tersenyum sinis, semua yang terjadi bukan hal besar baginya.


“Ayah!” kata Leni manja, dia masih melirik ke arah Bella dan Tari.

__ADS_1


“Tidak masalah Nyonya Leni ... Apa pun yang menjadi keputusan Nakha adalah, hal yang harus dia jalani dalam hidupnya ... kami tidak berhak untuk mengatur apalagi meminta lebih dari dirinya, semua yang sudah dia dan keluarga ini berikan sebagai ucapan terima kasih kepada kami, karena menolong Naka waktu itu sudah lebih dari cukup!” kata Bella, mengurai kecanggungan yang ada.


Bella merasa tidak seharusnya berada di tempat itu lebih lama, karena semua sudah jelas bahwa, mereka tidak lagi melanjutkan pertunangan. Sebenarnya sampai saat ini, hubungan mereka sudah bukan apa-apa sejak dari awal. Jadi, dia memilih pergi, berpamitan dengan berat hati untuk, kembali menjalani ke rumah mereka sendiri.


Dia ingin segera menenangkan perasaan buah hatinya sendiri ketika sampai rumah nanti. Sebagai ibu, dia tidak kuat melihat anaknya terus-menerus menitikkan air mata, walau, terlihat tersenyum dan tegar di hadapan Ruli. Namun, dia tahu gadis itu hatinya terluka.


Beberapa kali Tari jatuh cinta dan menjalin hubungan, tapi, selalu sama pada akhirnya, gagal!


Mungkin, demikianlah nasib tari selama ini. Padahal sebelumnya dia berharap bahwa jatuh cinta pada Nakha, adalah cinta untuk terakhir kali, tapi, justru yang terjadi adalah hal yang lebih menyakitkan daripada hubungan yang pernah kandas sebelumnya.


Setelah kepegia tari dan keluarganya dua orang tua nakal kemudian menyepakati sesuatu yaitu ingin meneruskan pertunangan dengan Rully.


Suasana di rumah itu tiba-tiba berubah menjadi tenang. Bimbim sudah teridur di sofa, sementara para orang dewasa saling berbincang, karena kelelahan bermain dan kekenyangan. Rully kini berhadapan dengan satu keluarga yang sangat asing baginya.


“Bagaimana Rully, apa kamu bersedia melanjutkan hubungan Nakha yang sebelumnya dengan Tari?” kata Hamzah memulai percakapan lebih dulu saat Rully sudah terlihat tenang.


“Ya! Kau boleh mengenalkan kami kepada kedua orang tuamu kalau sudah sepakat nanti, dan, kami siap kapan pun kalian ingin bertemu!” Leni menimpali ucapan suaminya, seraya tersenyum ramah pada Ruli.


Rully tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya, dia menyerahkan kalung perak, kepada pemiliknya dan meletakkannya di tengah-tengah meja.


“Maafkan saya, sebelumnya Tuan dan Nyonya, saya sudah membicarakan hal ini pada Nakha, saat dia sudah mengetahui kebenarannya tentang saya, tetapi, saya sudah mengatakan dengan jujur bahwa, saya tidak ingin bertunangan dengan siapa pun untuk saat ini,” kata Rudi dengan tenang senyumnya tak kalah ramah dengan senyum Leni.


“Kenapa? Apa kau sudah punya pria lain selain anakku?” Hamzah kembali bertanya dengan pernyataan yang tidak mengenakkan bagi yang mendengar.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2