
Leo Nuraga. Seorang siswa teladan yang saat ini tengah menjalani masa sekolah sebagai pelajar kelas 12 di SMA Labschool. Selain sebagai siswa teladan selama 3 tahun berturut-turut, pemuda tampan itu juga merangkap sebagai Kapten Basket yang begitu digandrungi oleh seluruh siswi dipenjuru sekolah tersebut. Tak terkecuali oleh ketua cheerleader disekolah yang memiliki sikap dan sifat yang sama sekali tidak disukai oleh sang Kapten Basket itu sendiri.
Pagi ini, ia dan beberapa teman kelasnya, juga sederet guru-guru yang bertugas, tengah berdiri di sisi panggung untuk menantikan rampungnya sebuah pidato yang dibawakan oleh Kepala Sekolah untuk menyambut siswa siswi yang baru memasuki SMA Labschool tersebut.
Terlihat, sorot mata pemuda itu menangkap satu siluet gadis yang sungguh menarik perhatiannya. Gadis cantik dengan rambut panjang menjuntai berwarna hitam legam yang menghiasi kepala mungilnya.
''Siapa namanya?" tanya pemuda tersebut kepada salah seorang sahabatnya yang berdiri disisi sampingnya. Sorot matanya terus menatap kepada seorang gadis jauh dihadapan yang tengah bergurau dengan satu gadis lainnya.
Sorot mata sahabat pemuda tersebut turut memperhatikan gadis yang diperhatikan oleh sahabatnya. "Mana Gue tahu, kenalan aja belum. Bukannya dia cewek yang mau dijadikan taruhan?"
Pemuda itu menatap sinis pada sahabatnya. "Bukan itu. Yang satunya."
"Nanti Lo harus memperkenalkan nama dia juga ya." pinta pemuda tersebut dengan nametag Leo Nuraga di dadanya menatap penuh harap pada Bara, sahabatnya.
"Mana bisa, guru cuma meminta yang punya kembaran aja. Bukan dia. Bego Lo." hardik Bara kepada salah satu sahabatnya tersebut. Menatap dengan sinis. Tentu hal-hal seperti ini sudah biasa bagi Leo dan juga Bara. Saling menghardik, mencela, bahkan melirik sinis dan tajam. Bukan hanya Bara dan Leo, Bayu selaku Wakil Ketua Osis pun juga ikut berperan dalam hubungan persahabatan antara Leo dan Bara.
Pemuda bernama Leo tersebut menatap satu gadis lagi dengan hiasan poni mangkuk yang menjuntai menutupi keningnya. Kemudian, senyum liciknya tersungging dengan jelas.
"Gue nggak salah kan ngadain taruhan kali ini? Target Lo benar-benar cantik. Awas, nanti jatuh cinta." gumamnya menatap sang sahabat yang bernama Bara tersebut dengan senyum menggoda. Alis tebal miliknya sampai terlihat naik turun saking niatnya menggoda Ketua Osis tersebut.
"Kayak Armada aja Lo. Awas jatuh cinta." sentak Bara menatap sarkastik kepada sahabatnya yang justru malah terkekeh mendengar ucapannya.
Tak seberapa lama kemudian, pidato-pidato yang disampaikan oleh sang peninggi disekolah tersebut selesai sudah. Kini, giliran Bara yang harus maju keatas panggung untuk memberikan sambutan-sambutan kecil. Reaksi dari salah satu siswi yang melihatnya dengan begitu heboh sungguh menjadi pusat perhatian Leo. Dialah Lula, yang sejak awal memasuki sekolah memang sangat menggandrungi Bara, sang Ketua Osis.
"Kayaknya, Lo bakalan susah dekati tuh cewek kembar." Ucap Leo menatap Bayu disebelahnya. "Kenapa susah?" tanya Bayu tak mengerti. Baginya, menaklukan hati para wanita tidaklah sesulit yang ia bayangkan diawal dulu.
"Yang satunya kayaknya suka sama Bara. Kalau yang satunya, belum ada reaksi apa-apa. Jelas banget nggak tertarik sama siapapun." jelas Leo menunjuk Lula dan Luna secara bergantian. Selain karena tempat mereka berdiri berjauhan, juga karena pemuda tampan itu tidak mengetahui nama para gadis yang ia sebut target taruhan.
Bayu terkekeh ringan. "Itu bukan masalah besar buat Gue. Sejak dulu emang pesona Bara tidak bisa diragukan. Tapi, Gue juga bisa buat mereka klepek-klepek sama Gue." tandasnya penuh percaya diri. Senyum tipisnya selalu terlukis diwajahnya, membuat semua yang melihat merasa penasaran dengan dunia lelaki tampan yang menjadi Wakil Ketua Osis tersebut.
__ADS_1
"Gue udah bilang sama Bara, awas nanti jatuh cinta. Jangan sampai malah Lo dulu yang suka sama tuh cewek." pungkas Leo menatap remeh pada sahabatnya.
***
Siang memang sangat terik hingga membuat kerongkongan dilanda dahaga tiada berkesudahan. Satu-satunya tempat yang selalu dituju oleh seluruh siswa dan siswi disekolah adalah kantin. Tempat ternyaman untuk mengenyangkan perutnya supaya cacing-cacing didalam perut tidak berdansa dengan riang.
Satu buah meja yang sejak dulu hingga sekarang selalu dihuni oleh tiga sahabat bak saudara tersebut terlihat lengang tanpa obrolan. Satu sudut mata dari salah satu pemuda dimeja tersebut menangkap siluet gadis yang sejak pagi tadi menarik perhatiannya saat gadis itu bercengkrama disisi lapangan bersama temannya.
"Tuh, target datang." ucap Leo kepada dua sahabatnya. Atensi kedua pria tampan tersebut kembali teralihkan, menatap dua gadis yang tengah kebingungan ketika melihat sisi mana saja tidak ada tempat untuk mendudukkan diri.
Bara langsung beranjak kemudian menghampiri dua gadis yang sejak tadi berdiri diambang pintu, sedang kedua pemuda hanya memandang dari kejauhan. Bayu terus memperhatikan bagaimana Bara berinteraksi dengan Luna, terlihat begitu lembut dan hangat.
"Menghadapi Luna kayaknya emang harus dengan kelembutan ya." celetuk Leo dengan mata yang terus memperhatikan ketiga manusia dari kejauhan.
'Bisa juga buat dicontoh.' kekehnya dalam hati dengan senyum misteriusnya. Netra matanya terus menatap lekat pada Luna, memperhatikan gadis cantik tersebut dari atas hingga bawah. Reaksi yang diberikan oleh gadis tersebut membuat Bayu berpikir lebih dalam lagi. Sama sekali tidak tertarik pada sahabatnya yang sudah bersusah payah menjalin hubungan akrab dengan gadis tersebut.
Justru, netra mata Bayu berpacu menatap Lula yang dengan tiba-tiba langsung berlari menghampiri Bara dan juga Luna serta Laras. Langsung berdiri disisi sang Ketua Osis tertampan. Senyum misteriusnya kembali merebak dengan jelas di wajah manisnya.
"Lewat jalan pintas boleh kan?" ucap Bayu dengan santainya. Ia seruput sebuah minuman kaleng yang biasa mendinginkan tenggorokannya.
"Ya, boleh saja." jawab Leo tanpa memandang pada Bayu. Pemuda yang selalu digandrungi para siswi seantero sekolah tersebut sedari tadi rupanya tidak memperhatikan apapun yang Bara lakukan.
Sorot mata terus menatap pada Laras, tanpa beralih sedetikpun. Gadis cantik dengan senyum manis di bibirnya sungguh membuat pemuda itu terhipnotis pada pandangan yang pertama. Belum pernah merasa tertarik pada siapapun hingga sejauh ini. Merasa, ini bukanlah rasa sebuah ketertarikan biasa pada seorang gadis.
Tak seberapa lama kemudian, Bara sudah berhasil mengusung dua gadis cantik yang sedari tadi menjadi pusat perhatian seluruh isi kantin karena dengan mudahnya diberi tawaran untuk makan bersama seorang most wanted sekolah. Begitulah mereka biasa menyebut trio pria tampan tersebut.
"Hai kak! Kenalin, nama Gue Laras! Numpang mejanya ya!" ucap Laras dengan senyum manis yang terus melekat dibibir manisnya. Gadis itu kemudian mengajak Luna untuk segera menyantap makan siangnya yang sudah hampir dingin akibat terlalu lama berdebat dengan saudara kembar Luna.
***
__ADS_1
"Laras Anindira Iradia." gumam Leo dengan sorot mata yang terus tertuju pada layar ponselnya.
Pemuda itu, kini tengah berada didalam kamarnya yang besar. Megah. Dan mewah. Mendudukkan dirinya disisi ranjang king size miliknya, senyum pemuda itu kembali merebak dengan sempurna ketika bisa menemukan sebuah akun sosial media milik Laras. Seorang gadis yang ia gandrungi sejak pagi tadi saat berada disekolah.
"Jadi, Laras anaknya Pak Irawan?" gumam sang Kapten Basket dengan kening mengernyit. Sebuah foto yang diunggah dalam postingan sosial media milik Laras menampilkan tiga orang yang tengah tersenyum begitu hangat kearah kamera.
Foro tersebut diunggah beberapa tahun silam, terlihat saat gadis kecil ditengah-tengah dua orangtua tersebut masih memakai seragam SMP.
"Tapi kenapa dia selalu berangkat pakai angkot ya?" terus bermonolog dengan dirinya sendiri hingga pemuda itu kembali menemukan sebuah foto seorang perempuan paruh baya yang diberi sebuah caption bertuliskan "Mama" dan diakhiri dengan emotikon love berwarna merah.
"Kayaknya Gue kenal deh sama Mamanya Laras. Tapi, siapa ya?" kepala lelaki tersebut sampai menengadah keatas, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna abu-abu gelap tersebut. Matanya terpejam sangat erat guna tengah memfokuskan pikirannya untuk mengingat seseorang yang ia yakini sudah pernah ia temui.
"Ah! Sial! Kenapa Gue jadi amnesia gini sih!" keluhnya sembari memijit pelipisnya dengan sangat kesal.
Tak mau berhenti sampai disitu, Leo kemudian terus mencari informasi tentang Laras hingga ia berhasil menemukan sebuah komentar yang menunjukkan beberapa nomor ponsel yang dipakai oleh sang gadis.
"Yes! Akhirnya! Gue dapat nomornya Laras!" pekik Leo dengan senangnya. Saking senangnya ia sampai melakukan selebrasi diatas ranjang empuknya.
"Bego banget nih cewek, nomor disebar-sebar." ucap Leo dengan kekehan ringan diakhir kalimatnya. Setelah berhasil menyimpan nomor sang gadis, Leo berusaha melakukan sambungan telephone kepada sang gadis. Mengecek apakah nomor tersebut masih aktif atau tidak.
"Yes! Tersambung!" pekiknya sekali lagi dengan selebrasi yang sama. Ia tutup sambungan telephone tersebut sebelum Laras berhasil menekan dial hijau diponselnya.
"Laras! Lo akan jadi milik Gue!" teriaknya penuh dengan semangat menggebu-gebu. Ia rebahkan dirinya diatas ranjang empuk dengan helaan nafas lega serta senyum kemenangan terlukis diwajahnya.
Usai sudah tugasnya menjadi seorang intel dadakan malam ini. Hanya untuk sebuah informasi mengenai Laras, gadis yang hanya ia tahu nama dan nomor ponselnya saja.
"Anaknya Pak Irawan akan jadi tantangan yang sulit." gumamnya dengan lirih.
BERSAMBUNG..
__ADS_1
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN INSTAGRAM AUTHOR YA!
FOLLOW IG : nagradr_