
Jika bagi Leo membiarkan Laras pergi untuk menenangkan dirinya sementara waktu, justru tidak bagi gadis cantik tersebut. Tak dikejar saat ia pergi membuat gadis itu berpikir bahwa Leo memang benar-benar membuatnya sebagai target taruhan semata.
Matanya terus melotot dengan bibir yang sesekali dibasahi oleh salivanya karena terasa sangat kering. Sesekali pula gadis itu menoleh kebelakang hanya untuk memastikan jika Kapten Basket Sekolah tersebut benar-benar mengejarnya.
Namun nihil. Leo bahkan tidak memanggil namanya hanya untuk sekedar berbasa-basi agar langkah sang gadis terhenti. "Sudah tertangkap basah, makanya nggak ada reaksi apapun waktu Gue pergi!" gumam sang gadis sembari terus berjalan menaiki anak tangga satu persatu menuju kelasnya.
Teman satu kelasnya yang melihat raut wajah sang gadis yang terlihat begitu murka hanya bisa menatap, tak berani bertanya. Takut jika tiba-tiba ia dibentak lalu dicaci maki karena emosi sang gadis yang terlihat begitu tinggi berada di ubun-ubun.
"Mampus Lo nggak bisa dapatin Gue kan! Untung aja waktu itu Gue nggak terlena sama mulut buaya darat Lo!" terus bergumam dengan kesal hingga akhirnya gadis itu sampai dikelasnya.
Melihat Luna yang sudah mengemasi barang-barangnya, memasukkan semuanya kedalam tas, Laras yakin jika gadis itu pasti akan cabut dari Sekolah. "Mau kemana?" tanya Laras mencoba berbasa-basi. Takut jika Luna juga ikut marah kepadanya karena ulah Leo.
"Gue mau pulang duluan ya Ras. Lagian disekolah juga nggak ada pelajaran apapun. Sudah free semua." pungkas sang sahabat sembari terus memasukkan barang-barangnya kedalam tas.
"Lo marah ya sama Gue?" Laras berjalan mendekati Luna dengan was-was.
"Marah kenapa? Lo nggak ada salah sama Gue?" tanya Luna menatap dengan senyum hangatnya. Ia tahu, pasti Laras merasa tak enak hati kepadanya atas perlakuan Leo yang menjadikannya target taruhan.
"Leo jahat banget ya! Gue benar-benar nggak nyangka! Plis, Lo jangan marah sama Gue." pinta Laras memegang tangan Luna dengan erat. Raut wajah yang semula emosi kini berubah menjadi memelas. Menatap dengan iba.
"Laras! Gue nggak marah sama Lo! Gue juga nggak marah sama Leo! Gue cuma kecewa aja sama dia!" tegas Luna memberikan pernyataan kepada sang sahabat yang terus saja merengek kepadanya.
Mendengar itu, Laras mengangguk sembari bernafas lega. Apa yang Leo perbuat ternyata tidak berdampak pada persahabatannya dengan sang sahabat. "Jadi, Lo mau pulang? Dijemput?" tanya Laras kembali, ikut berjalan mengantarkan Luna hingga sampai digerbang utama. Bahkan gadis itu juga ikut menunggu jemputan Luna, memastikan sahabatnya itu sudah dijemput lalu pulang.
Tahu, betapa sakitnya hati Luna yang sudah dipermainkan oleh dua pemuda sekaligus. Ia yang merasa dipermainkan oleh Leo saja merasa sakit hati, bagaimana dengan sahabatnya ini?
__ADS_1
Luna menoleh sesaat kepada Laras sebelum ia memasuki Limousine yang kini sudah hadir dihadapannya. "Lo harus percaya, apa yang dikatakan sama Leo setelah ini." ucap Luna membuat lamunan Laras buyar seketika.
Sedang Laras, hanya menatap sang sahabat tanpa berkata apapun. Masih mencerna apa yang dikatakan oleh Luna beberapa saat yang lalu.
"Leo nggak pernah jadiin Lo target taruhan. Dia beneran tulus sama Lo." ucap Luna kembali menyadarkan Laras. Kemudian, gadis itu memasuki Limousine sembari melambaikan tangannya kepada sahabat karibnya tersebut.
Gadis itu sengaja berkata demikian karena tahu, sahabatnya itu pasti berpikir bahwa ia juga dijadikan target taruhan. Maka, ia pun langsung menjelaskan betapa tulusnya Leo mencintai dirinya karena mengingat betapa besar perjuangan yang Leo lakukan untuk sahabatnya tersebut. Yakin, jika perjuangan yang Leo lakukan bukanlah semata karena taruhan.
Tahu jika pemuda itu yang berkata, maka Laras pasti tidak akan mau mendengarkannya.
Sedang Laras, masih belum bisa menerima apapun yang Luna katakan beberapa saat yang lalu. Hatinya masih bergemuruh hebat. Sungguh, saat ini kepala gadis itu terasa ingin pecah saja. Betapa pusingnya memikirkan hal yang begitu rumit.
Makax gadis itu pun memutuskan untuk segera berlalu juga dari Sekolah, memberi pesan singkat kepada sopir pribadinya agar segera meluncur menjemputnya. Lalu, pulang kerumah kemudian mengistirahatkan tubuhnya untuk sesaat.
***
Laras kembali terdiam memikirkan hal yang terjadi siang tadi. Bagaimana saat Luna mengeluarkan semua emosinya di Ruang Musik, kemudian saat ia mengetahui bahwa Leo adalah dalang dari kecewanya sang sahabat kepada dua pemuda sekaligus. Lalu, saat ia bertanya tentang sebuah target taruhan yang sama sekali belum ada jawabannya.
Sejak ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Leo di Ruang Musik, pemuda itu sama sekali belum memberikan penjelasan apapun kepadanya hingga saat ini. Malam ini bukanlah malam minggu, tidak mungkin pemuda itu akan berkunjung kerumahnya.
Juga, gadis itu semakin merasa malas saja untuk bertemu sang pemuda. Bahkan, gadis itu sudah merencanakan sebuah jadwal untuk tidak memasuki sekolah selama 1 minggu lamanya. Sekolah sudah selesai, tinggal menunggu hasil pengumuman kelulusan saja. Jadi, tak apa bukan jika tak masuk sekolah selama itu?
"Laras!" ketukan pintu terdengar begitu nyaring ditelinga sang gadis. Berbarengan dengan sebuah suara menggelegar milik Irawan yang kini sudah berada didepan pintu kamarnya.
Gadis itu terlonjak kaget untuk sesaat. Kemudian, berdecak kesal sembari berjalan menuju pintu kamarnya yang sengaja ia kunci. "Ada apa sih Yah?" tanya sang gadis dengan lesu. Masih juga memikirkan hal yang dirasa menyakitkan hatinya, kini malah diganggu oleh sang Ayah tanpa rasa bersalahnya.
__ADS_1
"Turun gih! Dibawah ada Leo." ucap Irawan memberitahu. Membuat Laras langsung menggeleng cepat. "Nggak mau! Suruh dia pulang!" perintah sang gadis dengan lantang.
Kemudian, gadis cantik itu segera membalikkan tubuhnya memasuki kamar. Tak lupa, pintu yang tadi terbuka lebar kini ia tutup bahkan ia kunci kembali. Tahu jika Ayahnya pasti akan meraung-raung, memaksa dirinya agar mau menemui pemuda menyebalkan baginya tersebut.
"Laras! Buka pintunya! Nggak baik mengabaikan tamu!" ucap Irawan sembari terus menggedor daun pintu kamar sang gadis.
"Nggak mau!" ucap Laras dari dalam kamarnya. Gadis itu kini duduk diatas kasurnya sembari memeluk lututnya sendiri. Ada rasa takut untuk menemui sang pemuda. Takut jika penjelasan pemuda itu benar-benar menguras hatinya, mematahkan seluruh harapan indahnya. Ya, gadis itu sudah jatuh kedalam lubang cinta sang pemuda.
"Laras! Jangan buat Ayah malu!'' pungkas Irawan untuk yang kesekian kalinya. Hafal dengan gelagat Laras saat didatangi oleh pemuda yang baginya begitu baik dan sopan tersebut. Namun kali ini, sungguh gadis itu terus menjawab dengan sebuah teriakan, membuatnya merasa bingung sendiri. Sebab, jika Irawan sudah menyuruhnya untuk yang kedua kalinya, anak gadisnya itu akan langsung menurut. Namun kali ini sungguh berbeda.
" Laras, ayo bicarakan baik-baik masalahmu. Jangan seperti anak kecil.'' ucap Irawan memberikan nasihat. Berpikir pasti kedua anak muda tersebut memiliki masalah yang harus diselesaikan.
"Nggak mau!"
Hentakan dari dalam kamar sang gadis semakin menjadi. Bahkan, terdengar suara benda yang dilempar hingga hancur terhantam lantai.
"Jangan lempar-lempar gelas! Ayah akan bicara sama Leo!" putus Irawan menghela nafas panjang dan bingung. Sesaat sebelum pria paruh baya itu menemui sang pemuda di ruang tamu, ia merauo wajahnya dengan kedua tangan.
"Leo? Sebenarnya ada apa? Laras selalu menolak bertemu denganmu. Bahkan tadi, anak itu melempar gelas saking kesalnya karena Saya selalu memaksanya untuk menemuimu." tanya sang Ayah sekaligus memberikan ulasan kepada Leo betapa kekehnya sang gadis tak mau menemuinya.
Tentu saja hal itu membuat Leo terhentak kaget. Bahkan pemuda itu hanya bisa terdiam saat mendengar penuturan pria paruh baya dihadapan tersebut. Membayangkan Laras yang mengamuk didalam kamarnya pasti sama saat gadis itu mengamuk di Rumah Sakit saat dulu.
'Sebenci itu Lo sama Gue Ras?' lirih Leo didalam batinnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
.