Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 6 - Lo Akan Tenang Setelah Ini


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju kelas dilantai tiga gedung sekolah yang mencapai lima lantai tersebut, Laras terus memikirkan ucapan Luna beberapa saat yang lalu.


Apakah benar bahwa Leo pantas dicurigai karena sudah mendekatinya? Sama seperti Bayu dan Bara? Tapi, bagaimana jika pemuda itu tulus mendekatinya? Benar-benar serius ingin mendapatkannya?


Teringat saat bagaimana Leo menghubunginya saat malam hari, atau hanya sekedar mengirimkan pesan singkat yang memberikannya sebuah semangat, mengingat bahwa ia selalu menolak saat Leo menghubunginya via call.


"Laras! Lo kenapa? Kesambet?" Suara Luna yang begitu melengking ditelinganya menyadarkan sisi lamunannya. Menatap sekitar, menatap Luna, kemudian berucap, "Ngapain kita ke lantai 5?" tanya Laras dengan tangan yang menggaruk kepalanya.


"Gue ngikutin Lo yang jalan terus! Lo ngelamun makanya jalan sampe sini! Ngapain sih?" kesal Luna kepada sahabatnya yang sangat bodoh menurutnya. Melamun saja sampai tidak sadar jika ia sudah berpindah tempat.


"Apa benar, kalau Leo pantas kita curigai?" tanya Laras sembari menggandeng tangan sahabatnya, berjalan menuju anak tangga kemudian turun menuju lantai 3. Dimana letak kelasnya berada.


"Lo mikirin omongan Gue tadi? Beneran? Sampe sejauh ini? Lo suka ya sama Leo?" berondong Luna dengan gemasnya. Matanya membulat dan mulutnya terbuka. Menatap Laras dengan cengo.


"Gila apa ya Gue suka sama cowok modelan kayak Leo. Kayak nggak ada cowok lain aja." kilah Laras dengan pedenya.


"Terus, kenapa Lo mikirin omongan Gue? Kalau Lo nggak suka sama Leo, ya jangan dipikir. Mau dia dekatin Lo apa enggak, ya biarin. Kan itu misinya dia misal dia emang punya rencana yang nggak baik buat Lo. Selagi Lo ragu sama dia, ya Lo tolak lah." ucap Luna panjang lebar, membuat Laras mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya, Gue ragu sama tuh monyet. Masih mikir, gimana kalau dia beneran pembunuh bayaran."


Luna menggelengkan kepalanya mendengar celotehan Laras yang sama sekali tidak dimasuk akal. Sampai sudah 2 gadis cantik tersebut dikelasnya, langsung terduduk karena lelah berjalan dianak tangga 2 kali dengan jarak yang lumayan jauh.


"Laras, tadi Lo dicari sama Leo." ucap seorang gadis yang baru saja datang ke kelas.


"Dimana dia?"


"Dilantai 1, kan kelasnya disana."


Laras mengangguk kecil kemudian gadis yang ditanya oleh Leo beberapa saat yang lalu itu berlalu dari hadapan sang gadis.


"Tuh kan, emang pantas dicurigai. Masa tiap hari nyari Gue. Mana kemarin dia mau anterin Gue pulang. Untung aja Pak Darto cepat datang." cerita Laras dengan mimik wajah yang serius. Baru selesai berucap, gebrakan dimejanya terdengar begitu kencang hingga memekakkan telinga Luna dan Laras. Bahkan, gadis cantik yang digilai oleh Kapten Basket tersebut latah hingga menyebut nama sopirnya berkali-kali.


Dihadapan mereka, sudah ada musuh bebuyutan Laras. Datang dengan tiga antek-anteknya, membawa sebuah penggaris besar berbahan kayu yang biasa dipakai oleh guru killer di Sekolah untuk menghajar anak didiknya yang kurang ajar.


"Sebenarnya Lo pasien rumah sakit jiwa kan?'' tuding Laras begitu saja, menghadapi Clara itu gampang. Hanya membutuhkan otak yang sedikit lebih gila daripada gadis tersebut.


"Lo yang gila! Lo--"


"Lo yang gila! Mana ada orang bawa penggaris segede gaban buat mukulin meja!" ucap Laras memotong ucapan Clara yang hendak menghardiknya.

__ADS_1


Sesaat, gebrakan meja kembali terdengar akibat Clara yang semakin tersulut emosi. Kali ini, penggaris yang dihantamkan Clara justru mengenai jari jemari Laras yang berada diatas meja. Membuat gadis itu terpekik kencang saking sakitnya jemari yang terhantam penggaris besar nan tebal tersebut.


"Mampus Lo! Itu akibatnya kalau Lo masih berani dekati cowok Gue!" hentak Clara sembari menunjuk-nunjuk wajah Laras. Teringat bagaimana akrabnya Laras dan Leo kemarin sore ditempat peneduhan saat ia hendak pulang. Padah, gadis itu tidak tahu apa yang Laras dan Leo bicarakan.


"Emang beneran nggak waras sih Lo!" ucap Luna sembari mendorong kencang pundak Clara. Membuat gadis itu terhuyung kebelakang dan menubruk antek-antek yang dibawanya.


"Nggak usah ijut campur Lo!" pekik Clara kemudian hendak menghantamkan penggaris itu kearah kepala Luna. Namun, bukannya kepala Luna yang terkena, justru penggaris tebal tersebut terhenti ditengah udara kosong.


Sebuah tangan mengambilnya secara paksa kemudian membuangnya ke sembarang tempat. Melihat siapa yang melakukan itu, seisi kelas terdiam.


"Clara! Apa-apaan kamu? Hah!" bentak Pak Kismi, seorang guru killer yang mengetahui ricuhnya kelas 1 akibat ulah sang Kakak Kelas.


"Kakak Kelas yang sama sekali tidak bisa di contoh!'' hardik Luna dihadapan Clara. Hanya agar gadis itu semakin dibentak-bentak oleh sang guru killer tersebut.


"Benar! Harusnya kamu sebagai Kakak Kelas memberikan contoh yang baik! Bukannya malah membuat keributan!"


Clara terdiam, begitu pula 3 teman yang ia bawa untuk memberi pelajaran pada Laras.


"Clara, harus kamu tahu kalau Laras bukanlah tandingan kamu. Maksud Bapak, Ayahnya Laras adalah Donatur disini. Laras mempunyai kuasa untuk meminta ini dan itu. Jangan sampai membuatnya murka dan kamu akan menanggung akibat yang tidak enak nantinya." pungkas Pak Kismi menjelaskan dengan panjang lebar.


"Segera kamu datang ke Kantor Guru. Tunggu saya disana!"


"Iya Pak."


***


Sudut mata seorang pemuda yang kini hendak menaiki anak tangga dengan semangat justru malah menangkap satu sosok gadis yang ingin sekali ia temui tengah berjalan bersama sahabatnya.


Namun sesaat kemudian, keningnya mengernyit ketika sorot matanya terus mengikuti kemana langkah sosok tersebut melangkah.


"Ngapain ke UKS?" gumamnya sembari mengikuti langkah sang gadis dengan perlahan.


Ketika sudah mencapai di sebelah pintu yang terbuka lwbar itu, sayup-sayup ia bisa mendengar obrolan ringan dua gadis yang sudah berada didalam ruangan. Entah apa yang mereka lakukan, pemuda itu pun belum tahu pasti.


"Keterlaluan ya Clara, cuma karena cinta sama Leo sampai segininya bully orang. Jadi kepikiran sama cewek-cewek yang pernah dekat sama Leo. Pasti mentalnya berantakan banget deh kalau dilabrak sama kuntilanak itu." oceh Laras membuka suaranya.


"Ya mau gimana lagi, itu konsekuensi bagi cewek yang mau dekat sama Leo. Udah kayak bodyguardnya Leo aja deh si Clara." sahut Luna. Suaea bedebum benda jatuh terdengar ditelinga Leo, disusul dengan gelak tawa kedua gadis cantik tersebut.


Lalu, suara merintih orang kesakitan mulai terdengar. Tanpa berlama-lama lagi, Leo langsung masuk kedalam ruang UKS. Membuat dua gadis itu terlonjak kaget.

__ADS_1


"Kayak setan aja Lo datang tiba-tiba!" pekik Laras dengan kesal. Sungguh ia sangat kaget karena tengah fokus mengobati lukanya bersama Luna.


Leo menatap tangan Laras yang terlihat membiru, kemudian ia menatap Luna sembari berucap, "Pergi. Gue yang bakal obati dia."


Melihat tatapan tajam serta raut wajah dingin Leo, gadis itu ciut. Langsung pergi begitu saja tanpa berucap apapun.


Usai kepergian Luna, Laras mendengus kesal. Ia tidak bisa mengobati lukanya sendiri, maka ia membiarkan pemuda tampan itu perlahan menyentuh jemarinya kemudian mengobati lukanya.


"Kenapa bisa biru? Diapain sama Clara?" tanya Leo dengan sorot mata yang masih fokus menatap jemari sang gadis.


"Kok Lo tahu kalau ini perbuatan Clara?"


"Apapun tentang Lo, Gue selalu tahu."


Laras menghela nafas sesaat ketika sorot mata Leo menatapnya, penuh permintaan agar gadis itu mau menjelaskan lebih detail. Tak mau jika ia tiba-tiba menodong Clara tanpa tahu penyebabnya. Siapa tahu Laras yang bersalah bukan? Meskipun tangan gadis itu terluka.


"Clara datang ke kelas, bawa penggaris besar punya gurunya. Gila banget!"


"Terus?"


"Dia gebrak meja terus bilang, jangan dekati cowok Gue! Gitu." sesaat Laras menarik jemarinya karena memperagakan Clara saat menunjuk-nunjuk wajahnya. Namun, ia menggunakan wajah Leo untuk ditunjuk-tunjuk dengan jemarinya.


"Terus kenapa jari Lo luka kayak gini?"


"Ya penggarisnya kena tangan Gue yang ada diatas meja. Gimana sih? Kan dia gebrak-gebrak meja!" cerita Laras dengan penuh kekesalan karena pemuda dihadapannya ini begitu lemot berpikir.


"Lo tenang aja, setelah ini Clara bakal dapat balasan yang setimpal karena udah buat tangan Lo luka kayak gini." ucap Leo dengan sangat tegas. Sesaat, Laras bisa merasakan aura yang belum pernah ia lihat dari sisi Leo. Aura yang sangat dingin, dan menakutkan. Sungguh, saat ini Leo begitu cool dimata Laras, membuat gadis itu terus menatap sang pemuda dengan rasa penasaran dan kagum secara bersamaan.


"Lo mau apain Clara?" tanyanya membuka obrolan ringan lagi. Lukanya sudah selesai dibalut oleh kasa berwarna putih tersebut. Kemudian, pemuda yang tadi berdiri dihadapannya kini mendudukkan bokongnya disebelah Laras. Ikut duduk diatas ranjang UKS.


"Nggak usah dipikirin mau Gue apain dia. Yang jelas, Gue nggak akan sentuh dia. Gue cuma mau nyentuh Lo doang."


Laras berdecih. Rasa penasaran dan kagum yang tadi menggebu dihatinya berubah menjadi rasa kesal lagi karena senyum Leo yang begitu menyebalkan baginya.


"Pasti Lo nggak bisa nulis ya?"


"Nggak bisa lah bego!" umpat Laras dengan kesal. Hal itu justru membuat Leo semakin terkekeh ringan.


"Gue semakin yakin buat dapatin Lo." ucap Leo dengan lembut, menyentuh jemari Laras yang tidak terluka lalu memegangnya erat. Menatap hangat pada sosok dihadapan. Benar, Leo benar. Ia sudah jatuh semakin dalam ke kubangan hati Laras.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2