
Seorang pemuda tampan dengan senyum yang terus merekah kini tengah duduk berdampingan dengan seorang gadis yang selalu menjadi pujaan hatinya. Berdalih merenggangkan otot-otot tangannya dengan cara merentangkan kedua lengannya, namun berakhir memeluk hangat pundak seorang gadis yang terdiam, duduk disebelahnya.
Malam ini adalah malam minggu. Sudah rutinitas Leo untuk mengajak Laras berkencan diluar rumah. Entah hanya pergi ketaman seberang jalan, atau mall yang tidak terlalu jauh dari rumah sang gadis. Meski terkadang ogah-ogahan, namun jika Irawan sudah berkata "berangkat!" maka tidak ada pilihan lain bagi gadis itu untuk menolaknya.
Entahlah, gadis itu juga begitu heran karena Irawan sangat menyukai pemuda disebelahnya ini. Pemuda yang secara diam-diam sudah merajai hatinya entah sejak kapan.
Perjuangan yang pemuda itu lakukan sungguh diakui oleh Laras begitu besar. Hampir 1 tahun berlalu, dan pemuda itu masih terus memperjuangkan hatinya. Bukankah itu perjuangan yang tulus? Adakah alasan lain untuk Laras menolak pemuda itu lagi?
"Jadi, Lo udah tahu apa rasa kesukaan Gue?'' tanya Laras menatap sang pemuda disebelahnya. Jantungnya tengah gugup saat ini karena dipeluk oleh sang pemuda meski hanya pundaknya saja.
"Tahu dong! Rasa cinta kan?'' jawab Leo dengan senyum percaya dirinya. Membuat Laras memutar bola mata dengan kesal. Selalu saja bercanda saat ia tengah serius begini.
"Besok udah mulai Ujian. Harusnya Lo mengurung diri dikamar terus belajar yang bener. Bukannya ajak anak orang keluyuran kayak gini."
"Ayahnya aja kasih ijin. Ya udah Gue gas!''
"Pasti Lo maksa bokap Gue kan?" tuding Laras dengan mata memicing.
"Mana ada? Emang pada dasarnya Bokap Lo itu Bokap Gue juga!" ucap sang pemuda masih dengan senyum percaya dirinya. Kemudian, pemuda itu beralih posisi menghadap sang gadis.
"Jadi, gimana Ras?"
"Apanya yang gimana?" pertanyaan sederhana dari Leo justru semakin membuat jantung Laras tidak karuan dibuatnya. Namun sebisa mungkin, gadis itu menutupinya dengan anggun. Tak mau membuat pemuda itu semakin terbang keatas awan karena gelagatnya yang menujukkan begitu salah tingkah.
"Lo mau jadi pacar Gue?" ucap Leo dengan tatapan yang serius. Sungguh serius. Senyum menggoda yang sejak tadi terlukis diwajahnya kini sudah menghilang. Berganti dengan sorot mata yang membuat Laras tidak bisa berpaling dari tatap mata itu.
__ADS_1
Sungguh, gadis cantik itu begitu terpaku ditempatnya. Begitu terkunci dengan tatap mata elang yang diberikan oleh Leo. Merasa, mata pemuda itu begitu indah hingga gadis itu benar-benar terpana. Atau mungkin karena selama ini gadis itu tidak pernah berani menatap mata sang pemuda? Hingga saat untuk yang pertama kalinya menatap, gadis itu baru menyadari betapa indahnya mata dihadapannya saat ini.
Lalu, jika mata pemuda itu begitu menghanyutkan, bagaimana dengan pelukan hangatnya? Ah, pasti sangat menyenangkan berada didada bidang milik pemuda tampan tersebut.
"Lo nembak Gue?" tanya sang gadis pada akhirnya. Mengalihkan pandang dengan berat hati.
"Gue cuma menyatakan perasaan Gue." ungkap Leo membuat gadis disebelahnya ini melengos.
Namun, bukan Leo namanya jika membiarkan gadis disebelahnya itu terus merajuk. Maka, ia raih kedua tangan sang gadis kemudian menggenggamnya. Kembali mengunci gadis itu dengan tatapan mautnya.
"Sejak dulu, sejak pertama kali Gue lihat Lo. Nggak tahu kenapa, Gue selalu punya keinginan buat dapatin Lo. Buat miliki Lo seutuhnya. Jadi, Gue bertekad buat dapatin Lo sampai akhirnya Gue berada dititik ini. Berada disebelah Lo saat ini."
"Lo beneran cinta sama Gue?" pungkas Laras merasa ragu.
"Apa perjuangan Gue selama ini masih kurang Ras? Apa Lo masih belum percaya?"
"Nembak Lo pake pistol misalnya?" tanya sang pemuda dengan bingung.
Laras pun dengan entengnya meninju lengan sang pemuda dengan gemas. "Kasih Gue hal yang romantis. Setelah Ujian selesai! Oke? Setelah ujian!" ucap sang gadis dengan yakin memberikan sebuah tantangan kepada sang pemuda.
"Gue terima tantangan Lo!"
***
Hal yang seharusnya melegakan bagi Leo sebentar lagi akan tiba. 1 minggu yang lalu, gadis pujaannya memberikan tantangan untuk menyatakan cinta dengan cara yang romantis. Namun, hingga Ujian Nasional sudah selesai pemuda itu masih bingung ingin mengungkapkan perasaannya dengan cara apa.
__ADS_1
Bertanya ini dan itu kepada sahabat-sahabatnya, namun tidak ada jawaban yang bisa ia gunakan untuk melangsungkan rencananya membuat gadis kecintaannya itu akan terpukau.
Maunya Leo adalah, ini akan menjadi momen yang sangat indah dan tidak akan terlupakan untuk sang gadis, namun sungguh, kali ini ia masih sangat bingung.
Disaat kebingungannya dalam menyatakan cintanya kepada sang gadis masih melanda, masalah kini malah berdatangan kepadanya. Mulai dari ditinggalnya Bara dan Bayu yang entah mereka akan pindah kemana tempatnya, hingga kini Laras mengetahui bahwa dirinyalah penyebab Luna dijadikan taruhan oleh dua sahabatnya.
Tepat diruang musik yang hampir tidak pernah ia singgahi, pemuda itu datang bersama Laras melihat aksi Luna menyanyikan sebuah lagu yang sangat menyentuh hati tersebut. Namun, bukan sebuah perbincangan hangat yang ia dapatkan dari Luna maupun Laras. Justru, pemuda itu dicecar berbagai pertanyaan yang menghujam hatinya dari gadis berponi seperti mangkuk dihadapan tersebut.
Mengatakan, mengapa pemuda itu sangat tega dengan gadis tersebut. Mengapa pemuda itu begitu mudah mempermainkan hati seseorang tanpa menimbang apakah permainannya akan benar menyakiti atau tidak.
Namun, bukankah berakhirnya Bara dan Bayu yang saling jatuh cinta kepada Luna itu bukan kekuasaannya? Ia sudah menghentikan taruhan jauh sebelum Bara dan Bayu saling memberikan hati mereka kepada gadis tersebut.
Leo mencoba menjelaskan semuanya, namun ternyata tidak ada perubahan apapun. Luna masih menyalahkannya dan bergegas pergi entah kemana. Sedang gadis kecintaannya, kini hanya diam mematung sembari menatapnya dengan tajam. Bahkan, mata gadis itu terlihat sudah berkaca-kaca. Pasti, gadis itu juga akan marah kepada sang pemuda.
'Damn! Pasti Laras juga bakal salahin Gue!' batinnya menghela nafas panjang dengan pasrah.
"Apa Gue juga Lo jadikan taruhan?" pertanyaan singkat dari gadis dihadapan ini membuat Leo sedikit terpaku.
"Taruhan? Buat apa Gue jadiin Lo taruhan Ras?" ucap Leo dengan tak percaya jika gadis dihadapannya ini berpikir yang tidak-tidak kepadanya.
"Lo jadiin Luna taruhan! Dan Gue sahabatnya Luna. Besar kemungkinan Lo juga jadiin Gue taruhan kan? Lo tuh jahat tau nggak! Lo manusia terjahat setelah Clara yang Gue temui!" ucap Laras dengan hentakan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Mendorong tubuh gagah sang pemuda kemudian pergi entah kemana.
Leo pun tak ingin mengejar. Ia memang ingin menjelaskan semuanya jika gadis itu bukanlah sebuah target taruhan. Namun, menjelaskan semuanya disaat kepala masih panas bukankah sama saja? Bukankah semuanya akan percuma dan sia-sia?
Maka, Leo membiarkan Laras pergi. Membiarkan gadis itu bertarung dengan pikiran-pikirannya yang entah bagaimana. Mungkin malam nanti, Leo bisa berkunjung kembali kerumah yang setiap satu minggu sekali ia kunjungi tersebut.
__ADS_1
"Sialan! Kenapa jadi Gue yang kena dampaknya!" ucap sang pemuda dengan melayangkan tinjunya ke udara kosong.
BERSAMBUNG...