
Gebrakan meja terdengar begitu nyaring ditelinga siapapun yang mendengarnya. Semua manusia yang berada di kantin tersebut menoleh secara serempak melihat betapa murkanya seorang ketua Cheerleader yang terkenal dengan sikap lemah lembutnya. Namun kini, semua sikap lemah lembutnya hilang begitu saja ketika melihat 3 Most Wanted Sekolah tengah asik bersama 2 wanita yang notabene-nya adalah juniornya.
Sempat membicarakan betapa galaknya Clara, dan begitu seramnya mata yang melotot tersebut, kini Laras justru dihadapkan secara langsung dengan sang gadis yang begitu menyeramkan baginya. Tentu, 3 pemuda tampan dimeja tersebut hanya melirik sekilas. Kemudian, kembali sibuk dengan obrolan-obrolan ringan mereka.
Sedang Luna dan Laras terus menghela nafas panjang akibat kaget karena gebrakan meja yang dilakukan oleh Clara. "Lo!" tunjuk Clara tepat didepan wajah gadis yang dipuja-puja oleh Leo tersebut.
"Gue tanya sama Lo! Sejak kapan Lo jadi pacarnya Leo? Lo tahu? Leo itu punya Gue! Kalau Lo jadi pacarnya Leo, itu artinya Lo adalah pelakor!" hentak Clara dengan suara menggema kencang. Seluruh siswa dan siswi terus melihat kearah mereka. Bahkan, ada yang sudah bergunjing mengenai Laras karena dituding sebagai Pelakor oleh Clara.
Laras menghela nafas panjang, melihat semua teman-teman kelasnya, maupun siswa-siswi yang berada ditingkat lebih tinggi darinya.
"Gue harus bilang berapa kali sih sama Lo? Gue nggak ada hubungan apapun sama Leo!" ucap Laras dengan datarnya. Malas berteriak-teriak seperti Clara barusan.
Gadis penuh kesinisan itu berdecih. "Mau ngelak? Tadi pagi Gue lihat Lo ditaman sama Leo cuma berduaan! Kalau Gue nggak kesana, kalian pasti udah berbuat yang senonoh. Iyakan?"
Laras melotot, memandang Clara dan Leo secara bergantian. Meminta bantuan pada Leo untuk menjelaskan semuanya kepada Clara, namun pemuda itu hanya tersenyum tipis dalam diamnya.
"Astaga, yang waras dikit dong! Ini Sekolah, mana bisa Gue berbuat hal yang senonoh sama Leo? Makanya kalau Mak sama Bapak Lo lagi bikin anak, jangan ngintip! Kotor kan otak Lo jadinya!" bentak Laras dengan mata melotot juga. Menyaingi Clara yang masih enggak menstabilkan matanya. Gadis kecintaan Leo itu hingga berdiri dari duduknya. Kemudian, tangan mungilnya meraih sebuah botol kecap lalu memuncratkannya kearah Ketua Cheerleader dihadapan.
"Pembully, yang pantas dibully! Dasar otak kotor! Wanita gila Lo!" caci Laras penuh dendam kepada Clara. Usai memuncratkan kecap tersebut, Laras lalu membuang botol kecap tersebut kearah wajah Clara.
Teriakan melengking terus terlontar dari bibir Clara karena disemprot sedemikian brutal bahkan dilempar botol oleh Laras. Hendak membalas, namun gadis dihadapannya sudah berlalu pergi.
Luna berdiri, hendak menyusul Laras. Namun sesaat, ia terhenti dihadapan Clara. Memandang dengan tatapan tajamnya. "Jangan main-main ya sama Laras. Dia anaknya Pak Irawan. Satu-satunya Donatur terbesar di Sekolah ini. Orangtua Lo punya apa?" sinis Luna kemudian beranjak meninggalkan kantin. Menyusul Laras yang pasti jelas pergi ke kelasnya.
Baru kali ini, Luna berani merendahkan orang. Sebelumnya, ia sangat menjaga ucapannya pada siapapun. Namun, gadis seperti Clara memang tidak pantas untuk diberi kesopanan.
__ADS_1
Diam itu emas, tapi tidak semua orang pantas diberi emas.
***
"Laras!" panggil Luna kepada seorang gadis yang kini masih terdiam dikelasnya. Menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang ia lipat diatas meja.
"Lo nggak papa kan?" tepuk Luna pada pundak sang sahabat. Kemudian, tangan mungil Luna mengelus punggung Laras dengan pelan.
"Sialan banget Clara, berani banget ngatain Gue Pelakor." umpat Laras dengan dada yang kembang kempis. Mengingat betapa banyaknya manusia yang menyaksikan keseruan antara Clara dan Laras di kantin beberapa saat yang lalu. Pasti banyak yang percaya dengan ucapan murah sang Ketua Cheerleader tersebut.
"Udah, nggak usah dipikirin. Yang penting kan kenyataannya Lo nggak kayak gitu. Gue udah bilang sama Clara kalau Lo itu anaknya Pak Irawan. Semoga dia nggak seberani tadi deh setelah ini." pungkas Luna masih terus memberi usapan kecil dipunggung sang gadis.
"Leo juga tuh, kenapa malah diam aja sih!" kesal Laras kemudian menghentakkan kakinya diatas lantai kelas. Hal itu tentu mengingatkan Luna kepada saudara kembarnya yang selalu menghentakkan kakinya ketika sedang kesal.
"Udah, nanti pasti Leo juga ngomong kok sama Clara." ucap Luna mencoba menenangkan.
"Luna, Gue mau nanya sama Lo." bisik Laras disela-sela pelajaran yang tengah berlangsung.
"Apaan?" jawab Luna ikut berbisik pula. Takut didengar guru lalu ia dihukum. Meski Laras adalah anak dari Donatur terbesar di Sekolah itu, namun jika melanggar peraturan maka akan tetap mendapatkan hukuman.
"Lo kasih nomor Gue ke Leo ya?" bertanya pada Luna, namun sorot matanya menatap ke depan, pada papan besar yang kini tengah dihadap oleh sang guru.
"Enggak kok. Dia aja nggak pernah bersuara sama Gue. Sejauh ini yang dekat sama Gue kan cuma Bara."
"Tadi malam, Leo telfon Gue. Nggak tahu dapat darimana nomor Gue. Udah kayak mafia aja dia, tau semuanya tentang Gue. Jadi takut."
__ADS_1
"Takut kenapa sih?"
"Jangan-jangan dia pembunuh bayaran yang disuruh buat bunuh Gue karena Bosnya punya dendam kesumat sama Bokap Gue."
Luna menghela nafas panjang sembari menggulung bukunya. Kemudian, ia pukulkan buku itu kearah kepala Laras disebelahnya. "Otak Lo kenapa jadi ikutan nggak waras kayak Clara sih? Kebanyakan nonton sinetron Lo!"
Laras terkekeh pelan. "Siapa tahu kan dia emang intel dadakan."
***
Luna berdiri di depan gerbang utama, sedang Lula bersama dua sahabatnya duduk di kursi yang berada didepan kelas senior dekat dengan gerbang utama. Saling menunggu sebuah Limousine datang menghampirinya.
Namun, bukannya sebuah Limousine yang datang, justru malah Sang Kakak Kelas bersama motor sportnya yang berwarna orange tersebut.
"Luna, pulang bareng Gue yuk!" ajak pemuda tersebut sembari tersenyum manis kearah Luna. Tentu, yang bingung bukan cuma Luna karena diajak pulang bareng dengan tiba-tiba, namun Lula yang berada dibelakang sang kembaran pun juga sama bingungnya.
"Kapan-kapan aja ya Kak." pungkas Luna sembari tersenyum kecil. Pemuda itu mengangguk pelan, "Oke. Kapan-kapan pulang bareng Gue ya."
Mengangguk, hanya itu yang bisa Luna berikan kepada sang pemuda.
Kemudian, terdengarlah deru suara motor sport beradu dengan aspal yang tergores karena decitan ban juga terdengar nyaring ditelinga Luna.
Menoleh kebelakang, kearah saudara kembarnya berada. Gadis itu tersenyum kecil, penuh dengan ancaman. Membuat Luna menghela nafas panjang.
"Kenapa Lo nafas kek gitu? Kayak berat aja beban hidup Lo." ucap Laras yang muncul tiba-tiba disebelah sang gadis.
__ADS_1
"Hidup Gue penuh dengan ancaman." ucap Luna menatap lirih pada sahabatnya yang tengah kebingungan karena ucapannya.
BERSAMBUNG...