Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 8 - Es Krim Coklat


__ADS_3

Meski malam minggu tiba, tidak merubah apapun dalam kehidupan gadis kecil yang sebentar lagi akan menginjak usia 16 Tahun tersebut. Baginya, malam minggu atau malam-malam lainnya sama saja. Terasa biasa saja.


Tapi mungkin, untuk beberapa tahun kedepan, hari-hari yang Laras anggap biasa, akan menjadi luar biasa karena kehadiran seorang pemuda yang begitu mengganggubhari-hari tenangnya.


Seperti saat ini, saat ia hendak mengistirahatkan tubuh yang lelah setelah beraktifitas seharian penuh, justru malah pemuda yang tidak ia harapkan justru sudah berada dirumahnya. Bercanda dan tertawa bersama kedua orangtuanya.


Hingga pada akhirnya, ia kini sudah berada disebuah taman bermain didekat rumah sang gadis. Sengaja tak mau pergi ketempat yang ramai seperti mall, atau restoran ternama. Biarkan saja pemuda itu kapok jika mau membawanya keluar lagi saat malam minggu itu tiba.


"Lo suka ke taman ya?" tanya Leo memecah heningnya malam minggu ini. Baginya tak masalah mau pergi ke taman, bahkan ke kuburan sekalipun. Asalkan itu bersama gadis yang ia cintai.


"Enggak juga. Tergantung mood Gue sih." ucap Laras seadanya. Matanya terus menyapu pandang pada sisi-sisi taman yang hanya diisi oleh beberapa pemuda pemudi yang tengah berkencan juga.


Cepat memutar otak untuk mencari cara agar segera terbebas dari pemuda yang satu. Sedikit kesal kepada sang Ayah karena sudah mengijinkan Leo membawanya keluar rumah seperti ini. Sedikit kagum juga kepada Leo yang berani menemuinya langsung dikediamannya.


"Lo tahu rumah Gue darimana?"


"Gue se-"


"Selalu tahu apapun tentang Gue." potong Laras sebelum Leo menyelesaikan ucapannya.


"Gue sampai hafal sama omongan Lo." kesal sang gadis dengan mata yang terus menyapu pandang, tak mau sekalipun memandang pemuda disebelahnya yang kini justru berderai tawa mendengar ocehan kesalnya.


"Sebentar lagi Lo akan hafal semua kebiasaan Gue." ucap Leo penuh percaya diri.


"Gue pergi dulu, sebentar aja." pamit sang Kapten Basket meninggalkan Laras begitu saja.


Sedang gadis cantik yang hanya mengenakan dress selutut dengan aksen lengan pendek itu hanya mendengus kesal. Mana ada orang kencan malah ditinggal seperti ini oleh pasangannya?


"Ini buat Lo!" Laras berjingkat kaget ketika dengan tiba-tiba Leo datang dari arah belakangnya. Menyodorkan es krim tepat dihadapannya. Hingga ketika seseorang melihat, maka Leo terlihat sedang memeluk Laras dari belakang.


"Es krim? Coklat?" tanya Laras dengan mata memicing. Ia ambil es krim tersebut dari tangan Leo, kemudian menatap sang pemuda yang kini memposisikan diri kembali duduk disebelahnya.


"Lo nggak beli?" tanya Laras menatap tangan Leo yang kosong.

__ADS_1


"Gue nggak suka es krim." pungkas Leo tersenyum lembut. Entah mengapa, ia justru tidak bisa menguasai dirinya ketika tengah berhadapan dengan Laras. Sungguh jauh berbeda ketika ia berhadapan dengan siswi-siswi sekolah yang pernah ia jadikan target taruhan bersama dua sahabatnya. Atau mungkin, ini semua karena Laras bukanlah target taruhannya?


"Terimakasih es krimnya. Tapi Gue nggak suka coklat." mengucap tak suka coklat, tapi gadis cantik itu menjilat es krim ditangannya dengan senang hati.


"Tapi Lo makan es krimnya?" bingung Leo menatap gadis disebelahnya.


"Kata Papa, kalau ada yang memberi harus diterima dan dihargai."


"Kalau begitu, Gue beri hati Gue buat Lo. Mau terima kan?"


Laras menoleh, menatap netra Leo yang tengah menatapnya dengan sorot penuh harap, sendu, dan sayu. Ada banyak pengharapan didalam sorot netra tersebut kepada sang gadis.


"Nggak!" tanggap Laras kembali mengalihkan pandangnya dari netra sang pemuda tampan. Ya, Leo memang terlihat lebih tampan malam ini. Jika biasanya Laras hanya melihat Leo mengenakan seragam sekolah yang begitu pantas melekat ditubuh gagahnya, kini gadis itu disuguhi pemandangan yang berbeda. Tubuh yang dibalut dengan kaos putih dengan kemeja hitam di luarnya, serta celana jeans berwarna senada dengan kemejanya dan sepatu kets berwarna putih yang membungkus kaki sang pemuda. Sungguh tampan dengan penampilan simple seperti ini.


Leo menghela nafas panjang, "Baiklah. Mungkin Lo butuh waktu." pasrah sang pemuda sembari tersenyum kecil.


"Lo suka rasa apa Ras?" lanjut sang pemuda membuka obrolan ringan. Melupakan rasa sakit akibat ditolak secara mentah-mentah oleh sang gadis. Namun, bukankah gadis itu benar? Waktu yang dibutuh Leo untuk memberikan hatinya terlalu singkat. Tak mau jatuh dilubang yang begitu menyakitkan.


Laras menoleh pada Leo, menyeringai jahil kemudian berucap, "Katanya Lo tahu semua tentang Gue."


Leo menghela nafas sejenak, sudah tahu jika tidak akan mudah mendapatkan apa yang ingin ia dapatkan jika berhadapan dengan sang gadis. Mengusap wajah dengan telapak tangannya pasrah.


Kemudian, pemuda itu mendekatkan wajahnya pada Laras. Membuat sang gadis yang asik menjilati es krim ditangannya berhenti seketika. Jantungnya berdegup dengan kencang ketika hembusan nafas Leo terasa menerpa wajahnya.


"Gue buktikan kalau Gue nggak pernah main-main sama Lo."


***


Malam sudah berlalu. Malam yang begitu menyebalkan sekaligus mendebarkan baginya dalam waktu yang bersamaan. Kini, siang sudah merajai bumi. Memberikan sinar panas melalui matahari yang menyorot penuh semangat.


Laras dan Luna kini tengah berada dikantin sekolah untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Upacara pagi tadi membuat mereka dilanda kelaparan luar biasa karena disengat matahari secara langsung. Padahal tidak ada hubungannya sama sekali.


"Luna, Gue boleh tanya sesuatu sama Lo?" ucap Laras menatap Luna sembari memakan bakso kecilnya. Menu terfavorit dikantin tersebut adalah bakso. Setidaknya itu hanya bagi dua gadis cantik yang kini tengah duduk berhadapan.

__ADS_1


"Tanya apa?"


"Lo kasih tau alamat rumah Gue sama Leo ya?"


Luna terdiam sesaat, kemudian gadis itu tertawa dengan spontan. Membuat Laras bingung dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya tersebut. Namun, gadis cantik itu tetap membiarkan Luna menyelesaikan tawanya sendiri.


Sedikit lama, membuat Laras dilanda kebingungan karena melihat Luna yang belum berhenti tertawa, bahkan tawa gadis itu terdengar disambung-sambung. Kapalan tangan kecil sang gadis sampai memukul-mukul meja saking tidak kuatnya menahan geli diperutnya.


"Lo kenapa sih? Kerasukan?" tanya Laras dengan pandangan aneh, takut, dan bingung.


"Aduh, perut Gue sakit banget." keluh Luna setelah bisa menguasai dirinya.


"Jelasin sama Gue, kenapa Lo ketawa kek gitu?"


Luna mengangguk, menyanggupi. Namun belum sampai gadis itu berbicara, tiba-tiba bibirnya kembali mengeluarkan suara tawa hingga beberapa menit lamanya. Membuat Laras menghela nafas, ingin ikut tertawa namun ia tidak tahu apa penyebab sang sahabat tertawa begitu lamanya.


"Lo kenapa sih Luna!" hentak Laras dengan kesal karena Luna tak kunjung berhenti tertawa.


"Wah gila nih!" pekik Laras semakin kesal.


"Gue mau bilang." ucap Luna tiba-tiba, tawanya ikut berhenti. Namun sesekali gadis itu seperti ingin tertawa meski ditahan dengan kuat.


"Yang pertama, kenapa Leo tahu rumah Lo? Itu karena Lo anaknya Pak Irawan. Gampang buat Leo nemuin rumahnya Pak Irawan, bego!" ucap Luna mulai menjelaskan.


"Terus yang kedua?" tanya Laras dengan rasa penasaran. Pasti yang kedua adalah penyebab Luna tertawa terpingkal-pingkal.


"Tadi, dibelakang Lo Gue lihat ada yang mau pesan makan, udah heboh bawa nampan. Tapi pas dia mau duduk dikursi, dia sampai makanannya tumpah." cerita Luna dengan tawa kembali berderai. Gadis dihadapannya itu ikut tertawa, namun bukan karena cerita sang gadis melainkan karena melihat tawa Luna yang cukup lucu baginya.


Belum selesai keduanya tertawa, seorang pemuda datang dengan percaya dirinya. Membawa sebuah buket mawar putih ditangannya.


"Ini buat Lo."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2