Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 5 - Tiga Berkomplotan


__ADS_3

Bukankah seorang saudara adalah tempat ternyaman untuk berbagi keluh kesah? Mungkin itu hanya bagi Laras semata. Mengerti sekali bagaimana perangai Lula sebagai saudara Luna yang justru malah menghadirkan sesak bagi sang gadis. Menghadirkan seribu masalah yang tidak pernah Luna perbuat sama sekali.


Laras hanya bisa mengelus pelan punggung Luna yang masih menunduk dalam diamnya. Sore ini, ia pun berdiri di gerbang utama untuk menunggu jemputannya datang. terbongkarnya identitas Laras membuatnya merasa sia-sia jika terus menerus datang dan pulang Sekolah menggunakan angkutan umum.


Tak berapa lama setelahnya, sebuah Limousine datang dihadapan dua gadis cantik tersebut. Lula yang entah kapan berlarinya tiba-tiba menyeruak diantara Laras dan Luna. Membuat dua gadis itu oleng untuk sesaat.


"Ups, maaf!" ucap Lula dengan gaya pura-pura bersalah. Setelah berucap, gadis tengil itu kemudian beranjak memasuki Limousine dengan senyum liciknya.


"Untung Gue baik ya, kalau enggak udah Gue buang Lo ke laut." ucap Laras dengan perasaan yang sangat dongkol.


Luna menggeleng kecil, kemudian berpamitan pada sahabat satu-satunya. "Gue pulang duluan ya."


"Hati-hati." pesan sang sahabat dengan perhatiannya. Membuat Luna tersenyum sembari mengangguk kecil. Kemudian, gadis berponi mangkuk itu mulai beranjak memasuki Limousine.


Setelah kepergian Luna, Laras mulai kesal dengan sendirinya. Sudah menunggu jemputan yang lama, ditambah dengan jahilnya Lula beberapa saat yang lalu, sungguh sangat menguras emosinya.


"Untung aja Luna pake poni rambutnya. Kalau enggak, pasti udah muntah tiap liat mukanya yang sama persis kayak Lula." Celoteh Laras sembari berjalan pelan menuju sebuah tempat duduk panjang diseberang jalan.


Mendudukkan dirinya dengan perasaan yang masih kesal, gadis itu kemudian merogoh ponselnya dari dalam tas kemudian mencari sebuah nomor. Menghubunginya.


"Papa, kemana Pak Darto?" Celoteh Laras menanyakan keberadaan sopirnya.


"Dijalan Nak, tadi katanya ban mobil bocor dan harus ganti dulu. Kamu yang sabar ya." Ucap Irawan dari seberang sambungan.


"Ya sudah." Pungkas Laras kemudian mematikan sambungan di ponselnya. Sesekali menghela nafas panjang ketika melihat teman-temannya sudah pulang satu persatu.


Tiba-tiba, sebuah motor sport keluaran terbaru berwarna biru dongker tersebut berhenti di hadapannya. Pengemudi yang memakai jaket serta helm full face itu kemudian turun lalu duduk disebelah sang gadis.


Tak ada reaksi apapun dari sang gadis, karena ia tahu siapa pemuda disebelahnya tersebut.


"Ngapain Lo disini?" Tanya Laras dengan wajah datarnya. Lebih tepatnya, wajah yang menahan kekesalan tiada tara.


"Lo kenal Gue?"


"Leo kan? Hafal sama jaket Lo. Tiap hari dipake. Nggak pernah ganti. Pasti nggak pernah Lo cuci kan tuh jaket?"


Leo terkekeh ringan mendengar betapa cerewetnya gadis cantik yang satu ini. "Tiap hari Gue cuci. Kalau kering Gue pake. Kalau enggak, ya ganti yang lain."


"Kenapa gitu?"

__ADS_1


"Hadiah dari mendiang Nenek. Suka aja sama jaketnya. Nyaman dipake."


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya mendengar cerita Leo yang menurutnya cukup menyedihkan. "Mau pulang bareng?" Tawar sang pemuda sembari melepas helm yang ia kenakan.


Lagi, gadis disebelahnya ini hanya menggeleng tanpa bersuara. "Kenapa nggak mau?"


"Lo kenapa sih nggak jelasin semuanya ke Clara? Senang banget lihat orang dicaci maki didepan orang banyak!" ucap Laras dengan tiba-tiba. Sama sekali tidak menyambung dengan apa yang Leo tanyakan beberapa saat yang lalu.


"Gue harus bilang apa?" Tanya Leo merasa bersalah melihat kekesalan Laras padanya. Namun, ia sangat suka ketika melihat Laras yang dengan berani melawan Clara.


"Ya Lo jelasin kalau kita nggak ada hubungan apa-apa. Biar tuh nenek lampir nggak marah-marah lagi sama Gue. Lo nggak takut apa?"


Kening Leo mengernyit heran dengan pertanyaan Laras. "Takut kenapa?"


"Kalau dia marah-marah terus, nanti dia darah tinggi. Kalau tiba-tiba di Sekolah darah tingginya kumat terus kejang-kejang, siapa yang mau tanggung jawab kalau tuh cewek tiba-tiba mati?"


Leo melongo untuk sesaat mendengar cuitan Laras. Kemudian, tawa sang pemuda berderai, terdengar sangat mengejek ditelinga Laras.


"Lucu banget sih! Mana ada orang darah tinggi tiba-tiba kejang? Lo pikir dia kena ayan?"


"Ya mana kita tahu dia punya riwayat penyakit apaan!" Kilah Laras tak mau disalahkan.


"Lah, kenapa?" Laras tentu tak terima dengan ucapan Leo.


"Karena Gue pengen ada hubungan sama Lo."


Kini, giliran Laras yang terdiam mendengar cuitan Leo. Sungguh sangat menyebalkan!


"Oke, kita ada hubungan mulai sekarang!" Putus Laras menatap tajam kepada Leo yang kini justru semakin sumringah mendengarnya.


"Hubungan? Serius?"


"Ya! Hubungan kita itu, Gue nyonya. Lo pembokat. Jadi, Lo dan Gue adalah Nyonya dan Pembokat!" ucap Laras dengan menggebu-gebu. Kemudian, gadis itu beranjak meninggalkan Leo untuk memasuki mobil mewah berwarna merah yang baru saja datang sesaat setelah Laras memutuskan sebuah hubungan apa yang akan terjadi antara ia dan sang Kapten Basket.


"Sialan!" Umpat Leo menatap kepergian Laras dengan wajah kesal. Namun sesaat kemudian, ia terkekeh sendiri. Tertawa, bahkan berteriak seperti orang gila.


"Laras! Gue makin cinta sama Lo!" Teriak Leo terus tersenyum hingga membuat beberapa siswa atau siswi menatapnya dengan bingung.


***

__ADS_1


Tak mau tinggal diam begitu saja ketika Laras meninggalkannya ditempat berteduh didepan Sekolah tersebut. Leo memacu kendaraan bermotornya untuk terus mengikuti jejak kendaraan mobil yang berada tak jauh didepannya.


"Sebentar lagi, Gue akan tahu dimana rumah Lo!" Ucap sang pemuda dengan semangat membara. Baginya, mencari tahu sesuatu tentang gadis yang ia cintai adalah hal yang baru untuknya. Sungguh, Leo pun tak tahu mengapa ia bisa jatuh begitu dalam kepada gadis galak satu ini.


Biasanya, gadis manapun yang Leo dekati akan tergila-gila bahkan sampai menangis-nangis tidak mau diputuskan meski tahu bahwa gadis itu hanya dijadikan taruhan. Namun Laras? Gadis cantik tapi galak versi Leo tersebut justru menolaknya secara mentah-mentah.


Lihat saja Clara? Ketua Cheerleader itu pun adalah bukti nyata betapa Leo sangat digilai oleh seluruh gadis seantero sekolah tersebut. Namu lagi, Clara hanyalah dijadikan sebuah taruhan semata oleh Leo dan dua sahabatnya. Itu sebabnya Leo sama sekali tidak pernah melirik kepada gadis cantik tersebut.


Justru, gadis yang tidak pernah terpikirkan olehnya kini menempati tahta tertinggi dihatinya sejak pertama melihatnya.


"Jadi, disini rumah Lo?" Gumam Leo menatap letak dimana mobil mewah berwarna merah tersebut memasuki gerbang yang terbuat dari besi menjulang tinggi hingga beberapa meter keatas.


Leo berhenti sedikit jauh dari rumah tersebut agar tidak diketahui oleh Laras bahwa ia sudah menguntit sang gadis.


"Oke, Gue udah tahu dimana rumah Lo. Saatnya menjalankan misi selanjutnya." Ucap sang pemuda tampan, kemudian memacu kendaraannya kembali membelah jalanan yang sangat ramai tersebut.


***


Menunggu seorang sahabat ketika baru menginjakkan kakinya di Sekolah adalah hal yang selalu Laras lakukan semenjak memasuki SMA Labcschool tersebut.


Jika ia baru saja datang lalu memasuki kelas dan tidak menemukan dimana tas Luna berada, maka ia akan kembali menuruni anak tangga dengan santai kemudian duduk diseberang jalan dimana letak tersebut sering sekali dipakai untuk menunggu jemputan sekolah seperti yang ia lakukan kemarin hingga akhirnya datang si pengganggu versi Laras tersebut.


Untuk beberapa saat lamanya, setelah menunggu, datanglah sebuah Limousine mewah berhenti didepan gerbang utama. Lalu, keluarlah dua sosok wanita kembar yang salah satunya adalah sahabat kental Laras.


Baru saja hendak mendekati sang sahabat, ia sudah kalah. Kalah cepat, karena gadis itu sudah didahului oleh Bayu. Sang Kakak Kelas yang dengan tiba-tiba mendekati sahabatnya.


Terlihat dari netra indah milik Laras, pemuda itu berbincang dengan senyum manis yang terus mengembang sempurna. Bahkan, pemuda itu terlihat memberikan sebuah coklat kepada sahabatnya.


Usai berbincang, Bayu kemudian beranjak meninggalkan Luna yang masih berdiri didepan gerbang utama. Saudara kembarnya sudah pergi lebih dulu sejak datangnya Bayu menghampiri.


Tak butuh waktu lama, Laras langsung berlari menghampiri sahabatnya yang masih terdiam ditempat. "Tumben banget Bayu kasih Lo coklat.'' ucap sang gadis benar-benar membuat jantung Luna seperti berhenti berdetak.


"Lo tuh bisa nggak sih kasih tanda dulu kalau mau datang!" Kesal Luna sembari mengelus dadanya dengan helaan nafas panjang.


"Maaf ya, tapi Gue benar-benar heran sama Bayu. Eh, sebenarnya yang dekati Lo bukan cuma Bayu sih. Tapi Bara juga. Jadi curiga." Ucap sang gadis dengan gaya berpikirnya.


Luna menggeleng kemudian menatap Laras dengan serius. "Berarti, Lo juga harus curiga dong sama Leo. Kan mereka tiga berkomplotan."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2