Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 20 - Selamat Ulang Tahun!


__ADS_3

Meski sudah diberi bentakan oleh sang Ayah berkali-kali, namun gadis yang selalu dikuasai oleh emosi itu terus saja mencari alasan demi menghindar dari sang pemuda. Pergi kesebuah tempat dimalam hari misalnya. Tahu, jika pemuda tampan itu pasti akan selalu datang setiap malam kerumahnya sampai gadis itu mau menemuinya.


Sudah beberapa hari sejak gadis itu memutuskan untuk menjauh dari sang pemuda, kini gadis itu sendiri yang merasa kesepian dan kehilangan. Hatinya sudah terlalu jauh jatuh kedalam lubang cinta sang Kapten Basket.


Memutuskan untuk tidak memasuki Sekolah selama berhari-hari rupanya tak mampu menghilangkan emosi yang menggebu didalam dadanya. Meski rindu, namun pesan ratusan yang dikirimkan oleh sang pemuda tetap ia abaikan hanya karena gengsi yang terlalu besar.


Malam ini adalah malam minggu. Malam yang sudah menjadi keputusan Laras untuk bertanya lebih lanjut mengenai kesalah pahaman yang terjadi dengan sang pemuda. Tak mau terus hidup dengan kegelisahan tanpa kejelasan. Benar apa kata sang Ayah, jika ia memang harus meminta penjelasan untuk kelangsungan hidupnya sendiri.


Laras pun bingung karena Luna yang sama sekali tidak ada kabar apapun semenjak kejadian diruang musik tersebut. Ditelepon pun tetap tidak ada kabar sama sekali. Padahal, tujuan Laras menghindari Leo adalah karena ia ingin bertanya lebih dulu kepada sang sahabat. Mungkin sahabatnya itu mengetahui sesuatu hingga gadis berponi seperti mangkuk itu berkata sama seperti yang dikatakan Irawan?


"Tapi darimana Luna tahu kalau Leo nggak jadikan Gue bahan taruhan juga?" gumam Laras terus menerka-nerka sejak beberapa hari yang lalu. Membuat kepalanya sangat pusing dan tidak bisa berpikir apapun lagi.


Kini, gadis itu tengah berada didalam kamarnya. Tidak tahu lagi harus beralasan pergi kemana untuk menghindari Leo yang selalu datang setiap malam. Maka, gadis itu memutuskan untuk tetap tinggal dirumah. Perkara nanti sang pemuda datang, biarlah ia mencari alasan sebisanya.


"Ah gila! Gue gila!" teriak Laras sembari merebahkan tubuhnya diatas peraduan. Menatap langit-langit kamar yang begitu cerah karena berwarna putih terang.


Namun, kecerahan itu musnah seketika saat lampu kamarnya tiba-tiba redup. Bahkan mati. Gadis itu sampai tidak bisa melihat-lihat sekelilingnya. Akhirnya, hanya bisa meraba dimana letak ponselnya berada. Ada didalam kegelapan adalah hal yang sangat dibenci oleh Laras.


"Akhirnya." lega sang gadis ketika sudah menemukan benda pipih tersebut. Menyalakan senternya, kemudian beranjak menuju pintu lalu membukanya.


Suasana diluar juga sangat gelap gulita. Gadis itu masih terdiam didepan pintu kamar, mencoba mendengarkan suara-suara yang bisa ia dengarkan. Entah suara siapapun itu. Setidaknya, jika ia mendengar suara, maka itu berarti dia tidak sendiri dirumah tersebut.


"Ayah! Ibu!" teriak Laras masih berdiri diambang pintu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, tak ada sahutan dari siapapun. Membuat gadis itu sedikit takut untuk melangkah keluar mencari sebuah lilin dilantai bawah. Namun, jika ia tidak bersama siapapun dirumah besar tersebut, mau tak mau ia juga yang harus mencari lilin tersebut kan?


Maka, dengan segenap keberanian yang ia punya, gadis itupun mulai melangkahkan kakinya menuju tangga yang melingkar kearah bawah. Menapakinya dengan perlahan karena senter ditangannya sungguh hanya menyinari dengan redup.


Selama perjalanan menuju lantai bawah, Laras terus terdiam tanpa suara. Berharap, ia mendengar suara Ayah atau Ibunya. Atau asisten rumah tangganya saja ia pasti sudah akan lega. Dadanya yang kembang kempis membuat nafasnya yang memburu terdengar karena keadaan rumah yang begitu sepi.


Tepat ketika gadis itu sudah menapakkan kakinya diruang tamu, secercah cahaya menyala tak jauh dari tempatnya berdiri. Cahaya yang tercipta dari api sebuah lilin berbentuk angka.


Mata Laras melebar sempurna melihat siapakah gerangan yang membawa lilin tersebut. Tidak, lebih tepatnya sebuah lilin yang menancap pada sebuah kue berwarna kuning yang dipegang oleh seorang pemuda.


Keadaan sekitar yang gelap gulita membuat Laras bisa menyadari siapa pemuda yang kini tengah membawa kue beserta lilin yang menghadirkan sebuah cahaya temaram diantara mereka. Belum lagi senter hp Laras yang masih menyala dan diarahkan kepada pemuda tersebut. Semakin membuat wajah pemuda tersebut jelas dimata Laras.


"Hai, gadis cantik. Selamat ulang tahun! Selamat berbahagia dengan bertambahnya usiamu yang sudah genap 17Tahun. Semoga kebahagiaan selalu datang kepadamu." ucap sang pemuda sembari terus berjalan hingga sampai dihadapan sang gadis.


Maka, pemuda yang ternyata adalah Kapten Basket tersebut pun menyodorkan kue ditangannya kepada sang gadis dihadapan. Memberi kode untuk gadis itu segera meniup lilin dengan sebuah harapan yang dilukiskan untuk masa depan.


Tak mau berlama-lama lagi, Laras segera memejamkan matanya kemudian meniup lilin yang masih memberi cahaya untuk dirinya dan sang pemuda. Maka, ketika lilin itu mati karena ditiup, saat itu pula lampu-lampu dirumah sang gadis berpendar dengan terang.


"Selamat ulang tahun!" teriakan dan sorak sorai heboh datang dari sisi kanan sang gadis. Tak jauh dari tempatnya berdiri, sudah ada Ayah dan Ibunya, serta Luna dan asisten rumah tangga yang bekerja dirumahnya tengah menatapnya dengan binar-binar bahagia.


Laras hanya bisa terpaku dan terharu. Tak menyangka ada yang mengingat hari ulang tahunnya disaat ia sendiri melupakannya. Masih tak menyangka pula dengan hadirnya sang pemuda yang kini masih setia dihadapannya. Membawa sebuah kue ditangannya.


"Gue sudah tahu rasa apa yang Lo suka." ucap Leo sembari tersenyum hangat.

__ADS_1


"Ini semua rencana Leo! So sweet banget kan?" ucap Luna sembari berjalan mendekati sahabatnya yang masih terdiam bingung.


"Waktu itu, Leo datang kerumah Gue. Dia minta maaf karena udah buat kekacauan dengan ngadain taruhan. Dan dia juga bilang sama Gue kalau dia sama sekali nggak ada taruhan dengan siapapun buat dapatin Lo. So, kenapa masih ragu?" jelas Luna dengan panjang lebar. Tahu, mengapa sahabatnya itu hanya terdiam tanpa berbicara apa-apa.


Laras yang mendengar itu semua segera memeluk Luna dengan erat. "Lo sengaja kan nggak kasih kabar ke Gue? Mana Gue kerumah Lo nggak ada." ucap Laras dengan sedikit kesal.


"Iya, kan Lo kau ulang tahun. Jadi Gue kerjain aja sekalian." jelas Luna mengangguk kecil.


"Laras Gue udah minta ijin sama Om Irawan dan Tante buat bilang ini sama Lo." ucap Leo dengan serius. Kemudian, memberikan kue bernuansa kuning tersebut kepada Luna.


Gadis yang sudah tahu apa rencana Leo itu hanya bisa mengangguk kemudian berjalan kembali mendekati orangtua Laras. Meninggalkan muda mudi tersebut agar memberikan hati satu sama lain. Meski ia sendiri terluka, namun melihat apa yang dilakukan Leo untuk sahabatnya benar-benar membuatnya ikut bahagia.


Leo terdiam untuk sesaat, memandang kedua orangtua sang gadis dengan yakin. Kemudian, memegang kedua tang Laras dengan erat. Degupan jantungnya terasa berdebar dua kali lipat saat ia hendak berucap.


"Lo mah ngomong apa sih lama banget?" kesal Laras menghentakkan tangan sang pemuda. Membuat orang-orang yang menyaksikan itu ikut tertawa pelan.


Kemudian, Leo mengambil nafas panjang hingga akhirnya berkata...


"Laras, will you be my wife?"


"What!?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2