Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 10 - Menjauh Dari Hidup Gue


__ADS_3

Terus melahap makanan yang ada dihadapannya hingga habis, kemudian menyeruput minuman dingin yang baru saja datang. Luna sama sekali tak memperdulikan Leo dihadapannya yang tengah sibuk dengan ponselnya.


"Laras kok lama banget ya." ucap Luna sembari menyapu pandang pada sekeliling kantin. Hal itu membuat atensi Leo teralihkan, ponselnya ia kantongi dengan segera. Kemudian ikut menyapu pandang.


Namun, yang Leo temukan justru seseorang yang tengah tertawa terbahak-bahak bersama tiga temannya dipojok meja kantin.


"Gue pergi dulu ya." ucap Leo kepada Luna yang hanya mengangguk saja. Merasa tidak ada hal yang harus mereka lakukan, maka gadis itu mengijinkan kemanapun sang pemuda pergi.


Usai kepergian Leo, gadis itu pun juga beranjak pergi. Membawa ponsel Laras yang tertinggal, kemudian melangkah keluar dari kantin. Mencoba mencari gadis itu di setiap sisi sekolah saja. Atau mungkin saja gadis itu sudah kembali ke kelasnya demi menghindari Leo.


Jika benar itu terjadi, ia harus memberi pelajaran pada sahabatnya tersebut karena sudah meninggalkannya seorang diri.


Sedang Leo yang hendak mencari Laras mengurungkan niatnya karena bel masuk Sekolah sudah berbunyi. Mau tak mau, ia harus segera memasuki kelas. Menjaga image siswa teladannya agar tidak runtuh seketika.


***


Entah sudah berapa jam gadis cantik itu terperangkap didalam kamar mandi. Oksigen semakin menghilang rasanya, hingga ingin bernafas saja susah rasanya.


Peluh sudah membanjiri tubuh sang gadis, membuatnya begitu sangat gerah hingga terus mengibaskan tangannya didepan wajah. "Gila! Engap banget! Mau sampai kapan Gue disini?" gumam sang gadis dengan pasrah.


Hanya bisa terduduk karena dirasa tubuh sangat lemas hingga tidak kuat hanya untuk menggedor sebuah pintu kamar mandi. "Ya ampun, siapapun tolongin Gue dong." rengeknya dengan suara yang lirih.


Hingga sesaat kemudian, pintu yang sedari tadi terkunci rapat langsung terbuka lebar dan menampakkan sosok pemuda yang menjadi penyebab gadis itu terperangkap didalam kamar mandi.


"Laras!" pekik sang pemuda, kemudian dengan cepat membawa Laras keluar dari kamar mandi. Gadis yang sudah sangat lemah itu kemudian menutup matanya, pingsan.


"Laras! Bangun! Astaga, bangun Ras!" ucap Leo menepuk-nepuk pipi chubby sang gadis. Namun nihil, tetap tidak ada reaksi apapun dari gadis tersebut.


Langsung saja menggendong sang gadis untuk segera ia bawa ke Rumah Sakit terdekat.


"Astaga Laras!" pekik Luna dengan kencang karena melihat sahabatnya sudah tak sadarkan diri dalam gendongan sang pemuda.


"Lo apakan Laras? Kenapa dia pingsan?"


"Astaga, dia terkunci dikamar mandi. Kita harus bawa dia ke Rumah Sakit." ucap Leo dengan cepat. Ia langsung berlari menuju ruang guru, menjelaskan dengan cepat kemudian meminjam mobil untuk membawa Laras ke Rumah Sakit.

__ADS_1


Luna dan Bara ikut menemani sang gadis yang dibawa oleh Leo. Harus meminta penjelasan kenapa gadis itu terkunci didalam kamar mandi.


***


Mata indah yang sudah lama terpejam itu kini terbuka sedikit demi sedikit. "Aduh, dimana Gue." gumam pemilik mata indah tersebut.


Lama-lama, mata itu terbuka dengan lebar. Membuat tiga manusia yang sedari tadi menunggunya disisi ranjang tersenyum lega. "Akhirnya Lo sadar juga. Kata Dokter, Lo kehabisan oksigen jadi tubuh Lo lemas. Akhirnya Lo pingsan." jelas Leo sembari mengusap puncak kepala Laras.


Sedikit tersenyum, Laras kemudian mengubah posisinya menjadi duduk, menatap sahabatnya juga 2 pemuda yang masih senantiasa bersamanya.


"Terimakasih ya udah nolongin Gue."


"Leo yang tolongin Lo." ucap Luna sembari tersenyum hangat. "Bersyukur banget akhirnya Lo ditemuin. Siapa yang buat Lo terkunci Ras? Jawab jujur." pinta sang gadis dengan wajah yang serius.


"Clara."


"Clara? Sialan! Gadis itu lagi! Mau sampai kapan dia kayak gini terus!" maki Leo dengan emosi yang menggebu-gebu. Luna dan Bara hanya bisa saling pandang. Sedikit banyak mengetahui betapa besar rasa benci Clara kepada gadis dihadapannya ini hanya karena kedekatannya dengan sang Kapten Basket.


"Sampai Lo menjauh dari hidup Gue." pungkas Laras menatap Leo dengan datar. Raut wajahnya benar-benar berbeda dari biasanya. Dan pemuda itu merasakannya.


"Maksud Lo apa Ras?" tanya Leo dengan hati berdebar. Tidak mungkin gadis itu menyuruhnya menjauh bukan? Karena memang ini bukan yang pertama kalinya Laras dicelakai oleh Clara, meski memang ini yang sangat parah.


"Ayah Gue bukan pemilik yayasan. Ayah Gue cuma seorang donatur!"


"Tapi beliau berhak memberi saran kepada peninggi sekolah kita. Ancam saja sekolah untuk tidak akan memberikan donatur apapun jika keputusan beliau tidak disetujui."


"Ayahku bukan orang yang seperti itu Bara!" hentak Laras dengan dada kembang kempis.


"Dan Lo Leo!" tuding sang gadis menunjuk wajah sang Kapten Basket.


"Gue harap Lo menjauh dari hidup Gue!" ucap sang gadis dengan emosi yang menggebu-gebu. Entah mengapa, ada sebuah kekecewaan dari sorot mata indah tersebut.


"Gue capek terus berurusan sama Clara! Dia psikopat, Lo harus tahu itu!"


"Bukan dengan cara menjauhi Lo Ras. Gue bisa tangani dia biar hidup Lo tenang. Tapi plis, jangan suruh Gue buat menjauh dari Lo!" tanggap Leo dengan berat hati. Sungguh, kemurkaan gadis dihadapan itu benar-benar tidak pernah ada dalam benaknya. Mengira, jika Laras adalah gadis yang biasa saja dalam menanggapi semua kekacauan yang Clara perbuat.

__ADS_1


"Gue nggak peduli mau Lo apakan dia. Pada dasarnya, dia itu baik. Cuma karena Lo, karena dia cinta sama Lo akhirnya dia kayak gitu ke semua orang yang dekat sama Lo!"


"Ras, Gue--"


"Pergi dari sini sekarang!" bentak Laras menatap tajam pada sang pemuda.


"Dan pergi dari hidup Gue! Jangan pernah Lo ganggu Gue karena Gue nggak mau diganggu lagi sama Clara! Cukup ini jadi yang terakhir kalinya Gue jadi korban!"


Luna dan Bara hanya bisa terdiam sembari terus menyaksikan pertengkaran dua manusia dihadapannya tersebut.


"Gue nggak akan menjauh dari hidup Lo!" pungkas Leo dengan tegas. "Apapun yang terjadi, Gue nggak akan pernah menjauh dari Lo! Sampai kapanpun!"


"Gue benci sama Lo!" teriak Laras dengan kencang, kemudian ia raih semua barang-barang yang berada dimeja sisi ranjang. Kemudian, ia lemparkan barang-barang tersebut kearah Leo, membuat sang pemuda kelimpungan untuk menghindari lemparan tersebut.


Luna dan Bara mencoba menghalau, menenangkan sang gadis. "Panggil Dokter." perintah Luna kepada Leo, hingga pemuda itu segera bergegas keluar ruangan.


Berlari mencari Dokter dan menyuruhnya untuk segera membantu menenangkan gadis yang kini tengah mengamuk.


Namun, usai kepergian Leo, gadis tersebut tiba-tiba terdiam. Menahan ledakan emosi didalam dadanya hingga terlihat kembang kempis. "Gue cuma mau hidup tenang! Kenapa hidup Gue jadi berantakan setelah hadirnya Leo dalam hidup Gue!" ucap Laras dengan tubuh yang lemas lunglai. Merasa sangat menyesal telah membiarkan pemuda itu hadir dalam hidupnya. Sekarang, ia harus menghadapi kejamnya sikap Clara yang ia yakini tidak akan berhenti untuk menyakitinya.


"Mungkin saran tadi bisa Lo pakai." ucap Bara dengan pelan. Merasa iba juga menatap sang gadis dihadapan. Kita tidak pernah tahu seberapa kuat mental seseorang bukan?


"Kalaupun Clara keluar dari Sekolah, tidak menutup kemungkinan dia bakal berhenti. Justru Gue yakin dia bakal lebih nekat. Cintanya sama Leo udah buat dia gila, tahu gak!"


Luna menghela nafas panjang, merasa bingung juga jika berada diposisi sahabatnya tersebut.


Dokter datang dengan raut wajah bingung. "Mana yang mengamuk?" tanyanya dengan menoleh kesana kemari.


"Saya mengamuk, kalau ada lelaki ini diruangan saya! Tolong buat dia pergi sebelum saya mengamuk lagi!" pungkas Laras dengan tegas. Kembali menatap tajam kepada pemuda yang mematung disebelah sang Dokter.


Gadis itu, begitu membencinya. Hanya karena satu orang yang begitu ia benci juga. Satu jalan yang harus ia lakukan adalah, membuat orang yang menjadi penyebab Laras membenci untuk dibuat menderita pula.


"Tolong mas, segera pergi. Tolong beri waktu Nona ini untuk beristirahat. Tolong jaga kesehatan mentalnya." pungkas sang Dokter menatap penuh harap pada Leo.


Meski berat hati, pemuda itu melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan. Membuka, kemudian menutup dengan keras hingga semua yang berada diruangan tersebut berjingkat kaget.

__ADS_1


"Lo harus merasakan yang namanya penyesalan, Cleorana Clara."


BERSAMBUNG...


__ADS_2