Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 7 - Mengetuk Pintu


__ADS_3

Setelah dua netra bertemu dalam satu garis lurus, Laras membuang pandangannya begitu saja. Ucapan Leo yang berkata bahwa ia tidak salah memilih seorang gadis untuk ia tempatkan dihatinya terus terngiang. Padahal, pemuda yang berkata seperti itu masih ada didepan matanya.


Tak mau hanyut terlalu dalam hanya karena pemuda itu mengobati lukanya dengan telaten. Juga penuh dengan kelembutan. Masih ragu dan takut, jika seandainya pemuda itu...


"Lo pasti pembunuh bayaran kan?" tuding Laras berucap tanpa tedeng aling-aling.


Alih-alih menjawab, pemuda itu justru terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka mendengar ucapan Laras yang membagongkan.


"Lo kenapa sih Ras?" tanyanya dengan wajah kebingungan.


"Lo pasti pembunuh bayaran kan?" ulang Laras tanpa mau menjawab mengapa gadis itu menuduhnya yang bukan-bukan.


"Lo gila ya? Atas dasar apa Lo bilang kalau Gue pembunuh bayaran?"


"Lo dekati Gue setiap istirahat, bahkan baru datang ke Sekolah pun Lo udah nyari Gue."


Kemudian, tawa berderai terdengar ditelinga sang gadis. Itu adalah tawa menyebalkan baginya dari seorang Kapten Basket bernama Leo Nuraga tersebut.


"Lo kenapa sih malah ketawa!" kesal sang gadis menepuk pundak Leo dengan kencang. Membuat pemuda itu hampir terjungkal ke sisi ranjang UKS.


"Jahat Lo!" pekik Bara karena tak siap menerima hentakan dipundaknya. Kini, giliran Laras yang tergelak kencang hingga memegang perutnya karena lelah tertawa.


"Gue kan udah bilang sama Lo."


"Bilang apaan?" Laras menghentikan tawanya karena Leo sudah berubah menjadi serius kembali.


"Gue tertarik sama Lo Laras Anindira Iradia! Tapi Lo selalu nutup pintu, makanya tiap detik harus diketuk biar Lo nggak tidur! Biar Lo buka pintunya!"


"Astaga! Bahkan Lo tahu nama lengkap Gue!" terpekik dengan kencang hingga menutup mulutnya sendiri.


"Gue udah bilang, Gue selalu tahu apapun tentang Lo."


"Sekarang, ayo. Gue antar ke kelas Lo biar nggak dilabrak lagi sama si kunti."


Menggenggam jemari Laras yang tidak terluka, Leo kemudian beranjak mengajak Laras untuk pergi ke kelasnya. Sedang Laras hanya terdiam saja melihat tangan digandeng sedemikian lembut. Jujur saja, gadis itu merasa hatinya berdegup dengan kencang. Terasa seperti deburan ombak yang menghantam hingga membuat hatinya menghentak.


***


Usai mengantarkan gadis pujaan ke kelasnya dan memastikan gadis itu tidak diganggu lagi oleh siapapun, Leo kemudian beranjak menuju kelasnya. Bel masuk Sekolah sudah berbunyi. Membuatnya mengurungkan niatnya untuk mencari Clara dikelasnya.


Sesaat lagi, ia akan membuat perhitungan pada gadis yang sudah melukai orang yang ia cintai. Tidak tanggung-tanggung, ia tahu bagaimana cara menghadapi gadis slengean tersebut.

__ADS_1


"Lo kenapa? Keknya kesel banget." tanya Bara yang melihat datangnya Leo dengan raut wajah datar.


"Clara bikin ulah."


"Sama siapa? Terus apa urusan Lo kalau Clara bikin ulah?" Bayu bersuara dibelakang kedua pemuda tampan tersebut.


"Clara tadi labrak Laras dikelasnya. Terus tangan Laras luka karena kena sabetan penggaris kayu yang dibawa tuh cewek."


"Gas aja lah." ucap Bayu dengan kode yang hanya mereka bertiga tahu.


"Nggak! Bukan level Gue. Bukan Gue nanti yang bakal kasih pelajaran dia kalau masih nekat mencelakai Laras lagi."


"Kayaknya Lo jatuh cinta ya sama Laras? Biasanya Lo nggak bakalan peduli sama siapapun cewek yang dilabrak Clara." pungkas Bara memberikan penilaiannya ketika mendengar cerita Leo disebelahnya.


"Ya, Lo tahu sendiri lah Gue kalau tertarik sama orang pasti nggak tanggung-tanggu. Rasanya, udah lama ya kita nggak nongkrong di tempat biasa."


"Lo doang kali karena selalu nyariin Laras. Kita berdua masih sering kesana kok."


Leo terkekeh ringan. "Dia buat Gue berubah 180° nggak sih?"


"Bener. Dan semoga ini adalah perubahan yang baik buat hidup Lo."


***


Tentu saja itu juga bagi seorang pemuda yang tengah dilanda kasmaran sejak beberapa minggu yang lalu. Malam ini adalah malam yang akan Leo habiskan untuk mendekati sang pujaan serta keluarganya langsung.


Bukankah seorang lelaki harus memiliki sifat yang gentleman?


Kini, pemuda tampan itu sudah berdiri didepan pintu sebuah rumah besar yang menjulang tinggi. Berkata pada satpam gerbang jika ia ada keperluan pada sang Tuan rumah hingga satpam tersebut membukakan pagar untuknya.


Mengetuk sekali, tidak ada jawaban. Dua kali, masih sama. Tepat ketika ia hendak mengetuk untuk yang ketiga kalinya, pintu terbuka begitu saja hingga membuat Leo sedikit berjingkat kaget.


Kaget karena jemarinya hampir saja mengetuk dahi seorang wanita paruh baya yang baru saja membukakan pintu untuknya.


"Eh, siapa ya?" tanya wanita itu dengan sikap yang sangat ramah. Membuat Leo semakin berani untuk memperjelas maksud dan tujuannya datang kemari.


"Apa Pak Irawan ada Tante?" tanya Leo dengan sopannya. Wanita paruh baya itu mengangguk kemudian mempersilahkan Leo untuk memasuki rumahnya.


Menunggu disebuah sofa mewah yang sangat panjang, sepertinya muat untuk sepuluh orang sekaligus.


"Siapa ya?" tanya seorang pria paruh baya yang diyakini oleh Leo adalah Irawan. Sang Ayah dari gadis yang ingin ia ajak kencan malam ini.

__ADS_1


"Malam Om, saya Leo Nuraga. Kapten Basket di SMA Labschool." ucap Leo memperkenalkan jabatan serta namanya yang begitu terkenal di Sekolah.


Irawan menganggukkan kepalanya berkali-kali sembari terus menatap Leo dengan seksama. "Apa ada yang bisa saya bantu Nak Leo?" tanyanya dengan hati-hati. Masih belum mengetahui jika datangnya Leo hanya untuk mengajak pergi anak gadisnya.


"Ada Om, ini menyangkut dengan masa depan saya."


Irawan terhenyak untuk sesaat. "Masa depanmu? Katakan Nak. Apa yang perlu Om bantu?"


Pemuda tampan itu terkekeh untuk sesaat. "Om bisa bantu saya membujuk Laras Om?"


"Laras?" mengernyit juga akhirnya kening yang masih terlihat bugar tersebut. "Ada apa dengan anak saya?"


"Jadi, sebenarnya, saya, mau, mengajak, Laras, untuk, bermain, Om." ucap Leo dengan sekali kata sekali kata. Takut jika Irawan tak mengijinkannya bahkan mengusirnya dengan kasar.


Namun, justru tawa renyah terdengar begitu melegakan ditelinga sang Kapten Basket. Membuatnya ikut tertawa renyah bersama Pria Paruh Baya tersebut.


"Jadi kamu kesini mau mengajak kencan anak saya?" tanya Irawan disela-sela tawanya. "Iya Om."


"Ma, panggilkan Laras. Bilang, Leo disini." ucapnya kepada sang istri yang sempat ikut tertawa mendengar perbincangan suaminya dan sang pemuda tampan tersebut.


"Kamu memang lelaki sekali. Saya suka. Jarang ada anak muda yang mau meminta ijin langsung kepada orangtua si gadis." ungkap Irawan penuh kekaguman dengan tekad Leo yang terbilang cukup berani.


"Orangtua mu sungguh sangat berhasil dalam mendidik anaknya. Pertahankan keberanian kamu ya Leo. Jangan menyerah. Apalagi, anak Om itu memiliki sifat yang keras."


Leo terkekeh sesaat. "Om harus tahu, saking seringnya saya mendekati Laras sampai-sampai dia menuduh saya pembunuh bayaran."


Gelak tawa kembali terdengar riuh diruang tamu tersebut. Cerita-cerita menggelikan terus terlontar dari bibir Leo, ataupun dari sisi sang Ayah.


***


Ketika sebuah pintu menggugah rasa malas Laras untuk beranjak dari tempat tidurnya, hanya bisa menghela nafas kesal.


Enggan untuk membuka pintu, namun suara sang Ibu kemudian terdengar berteriak. "Laras! Buka pintunya!"


Mau tak mau, gadis itu langsung berlari membuka pintu yang sedari tadi diketuk bahkan hingga ketukan itu berubah menjadi sebuah gedoran. "Ada apa sih Ma?" tanya sang gadis dengan wajah yang sangat malas.


"Dibawah ada Leo. Kamu disuruh kebawah sama Papa-mu." ucap sang Ibu dengan santainya. Membuat nyawa Laras kembali merasuk kedalam sukma raganya. Mendengar nama Leo, gadis itu kemudian melongok kebawah melalui bibir tangga yang berada tepat diatas Leo.


"Gila! Ngapain tuh orang disini!" pekik Laras dengan raut wajah yang sangat kaget.


Sang Ibu mendekat, kemudian berucap. "Mau ajak kamu dinner katanya."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2