Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 15 - Permainan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Sesaat setelah kepergian Bara dan Luna yang merasa jijik dengan sikap bucin Leo kepada Laras yang terlalu berlebihan kini hanya menyisakan Leo dan Laras yang justru terpingkal-pingkal melihat kepergian dua manusia yang juga dirasa tengah jatuh cinta tersebut.


"Gaya aja tuh Bara ajak Luna pergi karena ilfeel sama Gue. Padahal cuma mau berduaan saja sama Luna." celetuk Leo sembari memasukkan baksonya kedalam mulut.


"Gue yakin sih itu." tanggap Laras dengan tawa yang masih berderai. Apa yang Leo lakukan beberapa saat yang lalu memang terasa lucu bagi sang gadis. Namun, apa yang Leo katakan pula terasa menggetarkan hatinya yang paling dalam.


'Apa benar Gue mulai suka sama Leo?' batin Laras dengan sesekali menanggapi ucapan Leo yang dirasa sangat random hari ini. Semakin hari dirasa gadis itu semakin nyaman saja menanggapi hal-hal yang begitu sangat aneh untuk dirinya. Namun, jika Leo yang melakukan itu, sungguh, gadis itu benar-benar bisa menerima.


"Sayang, kamu lagi apa?" ucap seorang gadis dengan suara manjanya. Kemudian tanpa aba-aba, gadis itu langsung duduk disebelah Sang Kapten Basket lalu bergelayut manja di lengan Sang Pemuda.


Leo dan Laras tentu merasa kaget dengan kedatangan gadis yang sama sekali tidak diharapkan kedatangannya tersebut. Namun, bukan Leo dan Laras namanya kalau tidak bisa mengatasi debu sekecil itu.


"Lo tahu nggak sih Ra, Lo itu kayak penyebab kenapa jelangkung dipanggil." ucap Leo tanpa melepaskan tangan Clara daro lengannya. Sesekali pemuda itu melirik kepada Laras yang merasa masa bodo dengan apa yang terjadi antara dirinya dan wanita pengganggu tersebut.


"Kenapa tuh sayang?" tanya Clara dengan senang. Mengira Leo akan memberikan gombalan mautnya kepada sang gadis.


"Datang tak dijemput. Pulang tak diantar. Jelangkung jelangkung. Disini ada setan." jawab Leo sembari memperagakan gerakan bermain Jelangkung menggunakan sendok dan garpu miliknya. Meski dirasa menjengkelkan bagi Clara, namun tawa Laras justru terdengar berderai.


"Nggak ada yang lucu!" bentak Clara dengan kesal, kepalan tangannya sengaja dihantamkan dimeja dengan mata melotot kearah Laras. Sangat tidak diterima dia disamakan dengan setan.


"Tapi menurut Gue itu lucu. Hati Lo aja yang gelap makanya apa-apa terdengar nggak lucu!" ucap Laras masih dengan tawa yang berderai. Sedang Leo hanya terkekeh saja dengan gaya cool-nya. Tidak ada yang boleh melihat gaya konyolnya kecuali Laras, Luna, dan dua sahabatnya.


"Leo, kasih Gue gombalan maut Lo yang dulu dong. Waktu awal-awal Lo mau nembak Gue." ucap Clara kembali pada gaya manjanya. Matanya sengaja melirik kearah Laras setelah mengatakan itu semua. Dengan pengharapan gadis itu akan merasakan panas luar dalam.


Namun justru, gadis cantik dihadapannya itu terkekeh dengan lembut. "Kenapa sih Lo masih ingat-ingat masa kelam Lo?"


"Masa kelam gimana maksud Lo?" tanggap Clara kembali pada mode mata yang melotot. Entah, mengapa gadis itu begitu mudah membolak-balikkan ekspresi wajahnya.


"Waktu awal-awal Leo nembak Lo? Oh, waktu Leo jadiin Lo taruhan itu ya?" tawa kembali terdengar dari bibir Laras. Sungguh, itu membuat Clara terasa mati kutu dihadapan semua orang yang menyaksikan mereka di kantin.


"Jangan sok tahu Lo! Baru kenal Leo berapa hari sih Lo? Yakin banget kalau Lo bukan target taruhan Leo?" hentak Clara sembari berdiri dari mejanya. Tentu saja hal itu semakin membuat atensi seluruh siswa siswi di kantin teralihkan kepadanya.


"Ya jelas beda dong!" Laras semakin santai saja menanggapi semua ocehan penuh emosi yang dikeluarkan Clara untuknya.

__ADS_1


"Bedanya itu adalah, Lo mengejar, sedang Gue dikejar! Iyakan Leo?" ucap sang garis meminta persetujuan kepada sang pemuda.


"Tentu saja." jawab Leo sembari tersenyum senang. Meski sedikit takut jika gadis dihadapannya ini akan kembali meraung marah dan memintanya untuk segera pergi dari hidupnya seperti beberapa hari yang lalu.


"Gue pergi dulu ya." pamit Laras kemudian beranjak meninggalkan meja tersebut. Tentu Leo akan mengikuti kemanapun gadis pujaan hatinya pergi. Meninggalkan Clara seorang diri yang kini hanya bisa berdiam diri dengan dada yang kembang kempis.


'Baiklah, kita akan mulai permainan yang sebenarnya Laras.' batin Clara menjerit marah.


***


Laras kembali kedalam kelas dengan wajah yang sedikit masam, membuat Luna mengernyitkan keningnya dengan heran. Pasalnya, sesaat sebelum ia pergi bersama Bara dari meja yang dihuni oleh Laras dan Leo, dua manusia itu tengah terpingkal-pingkal akibat ulah Leo yang membuat Luna merasa jijik melihatnya.


"Kenapa Lo?" tanya sang gadis kepada sahabatnya yang kini sudah duduk disebelahnya.


"Sebenarnya, Clara ada masalah apa ya sama Gue? Suka banget ganggu hidup Gue."


"Masalahnya Clara itu ada di Leo. Bukan di Elo. Kalau Lo jauh sama Leo, pasti Clara nggak bakalan ganggu Lo lagi." ucap Luna yang kini sudah mengetahui penyebab masamnya wajah sang gadis cantik. Namun sesaat kemudian, Luna lalu menyadari ucapannya yang sama sekali tidak ia sadari.


"Laras, maksud Gue itu Gue nggak nyuruh Lo buat jauhin Leo ya. Itu cuma opini Gue aja kalau sebenarnya Clara cuma punya masalah sama Leo. Jadi yang harus menyelesaikan masalah ini tuh Leo, bukan Lo." ralat Luna dengan cepat ketika melihat tatapan Laras yang mulai ragu tersebut.


Luna membulatkan matanya sembari menahan tawa yang ingin meledak rasanya. "Jadi Lo udah mulai suka ya sama Leo? Cie cie." kompor Luna sembari menyenggol-nyenggol pundak sahabatnya.


Yang disenggol tentu saja merasa salah tingkah. Ia saja belum bisa mengatakan apakah benar ia sudah menaruh hati pada Leo atau tidak, ini malah di beri kompor oleh sahabatnya sendiri.


"Jangan gitu Luna! Gue tuh nggak ada rasa sama Leo!" kilah sang gadis sembari menyembunyikan rona merah di pipi chubby-nya.


"Mana ada nggak ada rasa tapi kesel waktu ada cewek lain dekati doi." semakin menjadi juga akhirnya saat Luna terus menggoda Laras. Bahkan sesekali terdengar siulan merdu dari Luna untuk semakin membuat Laras salah tingkah.


Untung saja bel masuk untuk pelajaran selanjutnya sudah berbunyi, membuat Luna menghentikan aksi brutalnya dalam menggoda sang sahabat.


"What the ****! Ini gila!" pekik Laras dengan tawa berderai diakhir kalimatnya.


***

__ADS_1


Jika sang gadis tengah dilanda kebingungan atas hatinya sendiri, pemuda ini justru resah dengan hadirnya Clara diantara hubungannya dengan Laras bahkan disaat hubungan itu belum berstatus dengan jelas.


Berulangkali menghela nafas kesal sembari melempar-lempar bolpoin ditangannya dengan resah. Mengundang atensi Bara yang duduk disebelahnya. "Lo kenapa?" tanya sang pemuda dengan suara yang pelan, bahkan nyaris berbisik.


Didepan sana masih ada seorang guru killer berkumis tebal yang tengah menulis sesuatu dipapan yang sangat besar. Entah apa isi dari tulisan tersebut, tidak ada sama sekali yang masuk kedalam otak Leo saat ini.


"Gue bingung." jawab Leo dengan suara yang berbisik pula. Meski mereka hanya duduk bersebelahan, namun tetap saja tidak bisa berbicara sebebasnya sebab kelas dirasa sangat sepi sekali. Semuanya hening dan diam, tidak ada yang mengeluarkan suara kecuali Leo dan Bara tersebut.


"Bingung kenapa?"


"Clara nyari masalah terus. Menurut Lo Gue harus apa?"


"Lo-"


"Anak-anak, untuk hari ini sampai disini dulu saya mengajar kalian. Selanjutnya akan diberikan tugas oleh Bu Pur yang sebentar lagi akan mengambil alih tugas saya. Selamat siang." ucap Guru killer tersebut dengan tiba-tiba. Setelah mengatakan hal itu, guru dengan perut membuncit dan kumis tebal itu melenggang keluar dari kelas. Hingga kemudian kelas kembali riuh dengan suara siswa dan siswi yang bercerita ini dan itu sembari menunggu seorang guru lagi yang akan menggantikan guru killer tersebut.


Termasuk Leo dan Bara yang kini sudah menetralkan suara berbincangnya. "Lo kasih ancaman aja ke Clara." lanjut Bara dengan saran yang menurutnya baik tersebut.


Leo mengangguk. Kemudian, meraih ponselnya lalu memberikan sebuah video yang didalamnya adalah Clara sebagai bintang utamanya.


"Dear lord! Totalitas banget!" pekik Bara dengan mata membulat sempurna.


"Gue udah pake cara ini, tapi nggak mempan. Benar sih dia nggak ada bikin Laras celaka, tapi sekarang yang jadi incaran utamanya itu Gue. Dia goda-goda Gue."


"Dan Lo harus tahu, tadi waktu Lo sama Luna udah pergi, tiba-tiba tuh nenek lampir udah datang terus gelendotan dilengan Gue. Mana tuh bukit kembar ditempel-tempelin pula ditangan Gue." kesal Leo ketika mengingat kejadian di kantin beberapa saat yang lalu.


Mendengar itu, tawa Bara berderai-derai. Sangat tahu betapa besar nafsu yang dimiliki oleh sahabatnya tersebut. "Kenapa nggak Lo remas aja sih?" ucapnya dengan terpingkal-pingkal.


"Gila aja Lo! Ada Laras disana! Kalaupun nggak ada pun Gue nggak tertarik sama Clara!"


"Lo bilang aja sama Pak Irawan soal Clara. Pasti Beliau bisa bantu." saran Bara untuk yang kesekian kalinya. Membuat Leo berpikir untuk sesaat.


"Kayaknya ide Lo bagus!"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2