Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 19 - Emosi


__ADS_3

Malam hari adalah malam yang sangat tepat untuk Leo datang kerumah gadis pujaannya. Hanya satu tujuannya, menjelaskan semua ke-salah pahaman yang terjadi siang tadi saat Luna dengan lantang memarahinya karena sudah menjadikan gadis itu target taruhan. Membuat gadis kecintaannya ikut berpikir yang negatif tentang hubungan mereka. Padahal, hanya tinggal satu langkah saja ia sudah akan berhasil mendapatkan hati sang gadis.


Namun, keinginan untuk segera memberikan penjelasan kepada sang gadis dan berharap semua kegaduhan ini berakhir, justru dipatahkan dengan emosi sang gadis yang selalu tidak terkontrol.


Beberapa saat yang lalu, saat ia meminta Irawan untuk memanggilkan sang gadis agar mau turun menemuinya, malah dibuat terkejut dengan tingkah polah sang gadis yang melempar-lempar barang yang berada didalam kamarnya.


Berpikir, mungkin gadis itu masih ingin sendiri hingga gadis itu benar-benar marah saat ia berusaha menemuinya. Hendak berpamitan, namun pemilik rumah itu terus meringsek dengan berbagai pertanyaan. Bermaksud meminta Leo untuk menjelaskan semuanya.


"Jadi begini Om." ucap Leo memulai penjelasannya kepada sang Ayah. Barangkali saat ia sudah bercerita panjang lebar kepada Irawan, pria paruh baya itu mau membantunya menjelaskan semuanya kepada Laras.


"Dulu waktu awal-awal masuknya anak kelas 10, Saya membuat taruhan antara Bayu dan Bara untuk mendapatkan Luna. Dan Luna itu sahabatnya Laras Om. Tapi, belum sampai taruhan itu berjalan, Bara sudah mengundurkan diri karena tahu Luna adalah anaknya Om Handoko."


"Om Handoko itu memangnya siapanya Bara?" tanya Irawan menyela penjelasan sang pemuda.


"Om Handoko itu atasannya Om Firman. Om Firman itu Ayahnya Bara. Jadi karena takut Om Handoko marah karena tahu anaknya dijadikan target taruhan, jadi Bara mengurungkan niatnya buat menjalankan taruhan ini Om."


"Tapi, karena Bara dan Bayu sama-sama jatuh cinta sama Luna, akhirnya kisah cinta mereka itu riweh sekali Om. Saya sampai tidak paham. Jadi, karena Laras tahu saya yang buat taruhan itu, Laras jadi berpikir kalau saya juga jadikan dia target taruhan Om.''


"Padahal memang sejak awal saya sudah tertarik sama Laras tanpa taruhan atau apapun itu. Saya melihat dia berbeda dari cewek pada umumnya yang selalu ngejar-ngejar sama Om."


Irawan menghela nafas sejenak mendengar penuturan Leo yang kini tengah menundukkan pandangannya dengan lesu. Benar juga jika Laras berpikir bahwa Leo menjadikannya target taruhan karena gadis itu pasti belajar dari kisah Luna.


Tapi bukankah pergi tanpa sebuah penjelasan juga hal yang salah? "Om bisa bantu saya supaya saya Laras mau menemui saya?'' tanya Leo pada akhirnya.


"Om usahakan ya Leo. Tapi, Om tidak bisa janji. Kamu sudah mengenal Laras lama, 1 tahun. Pasti kamu sudah hafal dengan emosi Laras yang begitu menggebu-gebu.'' pungkas Irawan merasa berat hati jika harus membujuk Laras. Sangat tahu jika gadis itu pasti akan selalu menentangnya.


" Baik Om, terimakasih ya. Leo pamit dulu.'' ucap sang pemuda sembari berdiri, lalu mencium punggung tangan Irawan. Kemudian, berlalu dari rumah besar yang selalu ia sambangi 1 minggu sekali tersebut.

__ADS_1


Gadis cantik yang kini masih dipenuhi oleh emosi membara terus menatap gerak-gerik Leo dari jendela kamarnya. Menatap kebawah, dimana pemuda itu tengah berjalan menuju motornya kemudian melajukannya dengan lambat.


Sebelum Laras menutup gorden jendelanya, gadis itu menghela nafas untuk sesaat. "Kenapa serumit ini?" keluhnya.


Gadis cantik itu kemudian meraih ponselnya. Menekan sebuah nomor lalu menghubunginya lebih lanjut untuk menanyakan sebuah pertanyaan yang harus terjawab malam ini juga.


"Sial! Kemana sih Luna!" pekik Laras dengan kesal. Ia lemparkan ponsel tersebut kearah kasur king size miliknya. Kemudian, ia berjalan kesana kemari dengan perasaan yang cemas.


"Apa Luna tahu sesuatu? Kenapa dia bisa bilang kayak gitu tadi?" gumam Laras sembari mengingat semua ucapan Luna digerbang utama siang tadi.


Betapa gadis itu begitu penasaran apakah sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu atau tidak. "Besok aja lah, Gue kerumahnya.''


***


Pagi sudah datang. Sinar matahari pagi kini sudah memasuki celah-celah dari gorden jendela yang tidak tertutup sejak semalam. Mau tak mau, gadis cantik pemilik kamar yang kini sudah berantakan dipenuhi pecahan kaca dari gelas tersebut harus membuka matanya lebar-lebar.


"Gue harus kerumah Luna." putus sang gadis kemudian beranjak menuju kamar mandi dengan berjingkat-jingkat karena menghindari pecahan kaca yang berserakan.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Laras membersihkan dirinya serta merias diri didepan cermin. Kini, gadis cantik itu sudah terlihat rapi dengan jeans berwarna putih yang senada dengan sepatunya, kemudian sweater berwarna pink yang terlihat begitu pas melekat ditubuhnya.


Menuruni anak tangga dengan perlahan, berniat tak mau mengalihkan atensi siapapun yang ada diruang tamu dengan berjalan tanpa suara. Namun, justru ia yang dikagetkan dengan sebuah suara berat nan tegas milik sang Ayah.


"Laras! Nggak sekolah?" tanya Irawan yang kini sudah berdiri dibelakang sang gadis.


Menoleh, sembari tersenyum kecil. "Laras mau kerumah Luna." jawab sang gadis tak mau menatap sang Ayah.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Main saja. Lagian di Sekolah nggak ada pelajaran apapun. Sudah dibebaskan." jelas Luna tak mau diajak berdebat lebih lama.


"Kamu menghindari Leo?"


Laras mendongak dengan kaget. Salah satu tujuannya tidak memasuki sekolah adalah karena pemuda tampan tersebut. Kini justru sang Ayah sudah bisa menebak apa maksud dari perginya sang gadis dari rumah.


"Enggak kok!" kilah sang gadis dengan cepat. Irawan yang melihat anaknya hanya berdiam diri, kini mulai berjalan mendekati anak gadisnya sembari menghela nafas panjang.


"Kamu harus dengar penjelasan Leo." ucap Irawan tanpa berbasa-basi lagi.


"Untuk apa? Nyakiti hati Laras lebih jauh lagi?"


Kan? Sudah dikatakan jika Laras sudah emosi dan memiliki praduganya sendiri maka gadis itu akan sulit sekali dikendalikan. "Ras, Leo cinta kamu dengan tulus."


Laras berdecih kecil sebelum menjawab ucapan sang Ayah. "Cinta karena taruhan? Dia aja buat Luna target taruhan. Pasti dia juga buat aku target taruhan." ucap sang pemuda.


"Ayah sudah dengar semua penjelasan Leo. Dan kamu pun harus mendengarkan pemuda itu. Tahan emosimu untuk sesaat."


"Mana ada Yah? Perempuan yang rela dijadikan taruhan?"


"Kamu nggak dibuat taruhan Laras!" hentak Irawan dengan tegas. Membuat Laras berjingkat karena kaget.


"Leo sudah jelaskan semuanya dan Ayah percaya sama dia!" lanjut Irawan kembali memberitahu sang anak.


"Kamu harus bertemu dengan Leo dan dengarkan semua ucapan sama penjelasannya langsung!" perintah Irawan dengan suara menggelegar. Membuat nyali Laras sedikit menciut untuk sekedar menolak.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2