Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 12 - 60 Detik


__ADS_3

Berjalan dengan santai namun sangat beraura dingin dengan tatapan yang begitu tajam. Ditangan kirinya, sudah ada sebuah ponsel yang ia pegang untuk memberikan sebuah pertunjukkan besar kepada seorang gadis yang begitu ia benci. Bahkan, sangat ia benci seumur hidupnya.


Memasuki sebuah kelas yang tidak terlalu ramai karena jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, mata pemuda itu langsung mengarah kepada gadis yang ingin ia beri pertunjukkan besar diponselnya. Sangat tepat sasaran karena target sudah ada di lokasi.


"Leo! Astaga! Mimpi apa Gue semalam bisa dicari sama Lo!" pekik sang gadis sembari berjingkat senang. Kemudian, gadis itu bergelayut manja di lengan sang pemuda. Berfikir, mungkin saja usahanya untuk menjauhkan semua gadis dari pemuda itu sudah berhasil. Mungkin saja, pemuda itu sudah melihat betapa keras usahanya untuk mendapatkan hati Sang Kapten Basket tersebut. Hingga akhirnya pemuda tampan itu sudah ada dihadapannya saat ini.


"Gue mau kasih Lo sesuatu." ucap Leo dengan suara yang begitu datar dan dingin. Tatap yang selalu tajam, tak pernah lirih sedetikpun. Kecuali hanya pada satu wanita saja. Pemuda itu kemudian memberikan ponsel yang sedari tadi ada di genggamannya kepada sang gadis.


Kemudian, dengan wajah yang penuh senyum percaya diri, Clara menerima ponsel pemberian sang pemuda yang begitu ingin ia dapatkan. "Maksudnya? Lo kasih Gue hp buat apa?" tanya sang gadis dengan raut wajah bingung.


"Buka galeri. Buka video. Setelah itu, Lo akan tahu apa maksud Gue."


Menurut dengan menganggukkan kepalanya berkali-kali, Kapten Cheerleader itu kemudian menekan ikon foto yang sudah terpampang dilayar utama. Mencari album video, bingung karena hanya ada 1 video saja didalam ponsel tersebut.


Kemudian, menekan video tersebut lalu menekan tulisan "play" untuk segera mengetahui video apa yang dimaksud oleh pemuda yang digandrungi banyak siswi tersebut.


Didalam video tersebut, ada dirinya dengan seorang pria didalam sebuah mobil. Dan pria itu bukanlah Leo. Melainkan, entah... Clara juga tidak mengetahuinya dan tidak mengenalnya. Bukan sebuah video biasa, namun video itu bisa dibilang adalah video syur.


Video yang berdurasi 60 detik itu menampilkan dirinya yang sudah telanjang dada, kemudian seorang pria yang dengan rakus dan bergairah *******-***** dua gundukan indah yang terpampang begitu jelas. Sangat jelas pula suara desah-desah kenikmatan yang berasal dari bibir sang gadis.


Clara terdiam, mematung. Kemudian mematikan layar ponsel di genggamannya, lalu menatap teman-teman di kelasnya yang sangat menguntungkan dirinya karena mereka terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga tidak mengetahui adanya video syur tersebut.


"Leo! Lo jebak Gue?'' pekik sang gadis dengan suara tertahan. Kembali teringat detik dimana ia bertemu dengan Leo, kemudian menenggak satu minuman berwarna merah terang, lalu semuanya hilang. Tidak bisa mengingat apapun kecuali dirinya yang sudah tertidur pulas dikamar Apartemennya. Dadanya begitu kembang kempis melihat dirinya yang sudah dijamah sedemikian intim oleh seorang pria yang tidak dikenalnya.


"Sama seperti Lo yang jebak Laras di Kamar Mandi." tanggap sang pemuda dengan sikap santai. Tersenyum tipis sembari melipat tangan didepan dada.


"Lo dengar baik-baik! Jangan pernah Lo ganggu Laras lagi kalau Lo nggak mau video itu tersebar luaskan."


Mata tajam Clara memicing, melotot, kemudian dengan cepat membanting ponsel yang ada di genggamannya. "Gue nggak peduli! Sekarang, ponsel itu udah hancur!"


Leo terkekeh sinis. "Lo pikir video itu cuma satu?"

__ADS_1


Lagi dan lagi, Clara hanya bisa terdiam karena tidak pernah memikirkan hal yang seperti ini akan terjadi sebelumnya. Mungkin benar, jika pemuda dihadapannya ini sudah jatuh cinta kepada Laras. Harus kalian tahu, Leo tidak pernah sekalipun melarang Clara untuk membully siapapun yang dekat dengannya. Itu berarti, hanya Laras seorang yang Leo pertahankan untuk tetap bersamanya.


"Gue pastikan, Lo akan lebih menyesal kalau berani sama Gue." ucap Leo masih dengan sorot mata yang begitu tajam, kemudian beranjak meninggalkan sang gadis yang kini menghentak-hentakkan kakinya dengan sangat kesal. Rasa bencinya kepada Laras semakin membuncah hebat. Harus melakukan entah cara apa lagi agar apa yang Leo lakukan kepadanya dapat dirasakan pula oleh Laras.


Usai menyelesaikan pengganggu sialan versi Leo tersebut, pemuda itu kemudian beranjak menemui seorang gadis yang sudah beberapa hari ini tidak ia temui. Mengingat betapa mengerikannya amukan sang gadis, juga ucapan-ucapan jahat yang keluar dari bibir sang gadis juga masih membekas dihatinya yang terasa sakit.


Kini, pemuda itu sudah berhasil ada dihadapan seorang gadis yang begitu ingin ia peluk, ia kecup, ia miliki seutuhnya. Sudah berhasil menculik gadis pujaan hatinya kemudian membawanya ke kantin sekolah. Sangat gemas dengan semua penolakan yang gadis itu berikan, hingga hanya bisa memendamnya di dalam hati.


Kini, pemuda itu terus meringsek kepada sang gadis dengan berbagai pertanyaan yang menghentak hati sang gadis. Seharusnya, gadis itu senang jika pemuda dihadapannya merasa tersakiti kemudian menjauh darinya bukan? Namun, mengapa hati seakan tidak rela? Tidak mungkin kan jika ia sudah jatuh kedalam cinta sang pemuda?


"Lo harus jawab semua pertanyaan Gue!" desak Leo dengan sorot mata tak teralihkan. Terus menatap tajam wanita dihadapannya yang terlihat begitu bingung.


"Lo kenapa? Sakit hati sama omongan Gue waktu itu di Rumah Sakit?" hanya itu yang bisa keluar dari bibir Laras. Merasa sangat gugup ditatap sedemikian tajam dan lekat, namun dalam sorot itu begitu banyak kelembutan didalamya.


"Itu Lo tahu."


Melengos malas, Laras mengakui saat itu ia benar-benar dibawa emosi hingga mengatakan kata-kata yang begitu menyinggung hati sang pemuda.


"Kenapa Lo maksa?"


"Lo nggak mau?"


"Lo tuh kenapa sih selalu dekati Gue? Lo mau lihat Gue mati ditangan Clara secara perlahan?"


"Nggak akan ada orang yang bisa nyentuh Lo mulai sekarang. Bahkan Clara sekalipun."


Leo kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari salam saku celananya. Ponsel yang berbeda, bukan ponsel yang dibanting oleh Clara beberapa saat yang lalu. Kemudian pemuda itu mencari sebuah video, lalu memperlihatkannya kepada gadis dihadapan.


Untuk beberapa saat, mata Laras tajam memperhatikan adegan demi adegan dalam video tersebut. Hingga kemudian bibir gadis itu membentuk huruf O dalam keterkejutannya.


"Leo! Lo gila!" pekik sang gadis ketika sudah sadar dengan aksi video syur didalam ponsel sang pemuda.

__ADS_1


"Iya. Segila itu Gue setiap ada orang yang mau sakiti Lo. Segila itu Gue jatuh cinta sama Lo!"


Berdecih sinis. Se-sinis tatapannya kepada sang pemuda yang begitu menjengkelkan baginya. "Lo apakan dia? Kasih uang? Atau kasih......" menggantung ucapannya karena gadis itu tahu, tanpa ia melanjutkan ucapannya pun pemuda dihadapan itu pasti sudah tahu maksud ucapannya.


"Gue nggak serendah itu." ucap Leo dengan tegas dan yakin. Merasa begitu terhormat dengan segala pencapaiannya di Sekolah ini yang bisa membawanya pada title "Siswa Teladan".


"Kalau Lo nggak datang dilomba Gue, berarti ucapan Lo benar-benar dari lubuk hati Lo yang paling dalam."


"Ucapan Gue? Yang mana?"


"Lo nggak mau ada Gue dalam hidup Lo." berdebar hati sang gadis dibuatnya, Ucapan sang pemuda benar-benar menghentak hatinya terlalu jauh. Terlalu dalam. Sungguh, gadis itu sama sekali tidak mengenali hatinya sendiri saat ini.


"Bagus deh." ucap Laras dengan santainya, kemudian melenggang pergi meninggalkan sang pemuda yang kini mendengus kasar. Merasa sebal sekaligus gemas dalam waktu yang bersamaan kepada gadis satu itu.


"Susah sekali." gumam Leo sembari mengepal tangan ke udara.


***


Merasa semua perjuangannya selama ini sia-sia, Leo hanya bisa pasrah menerima semua penolakan sang gadis. Harus kembali menyusun strategi ulang untuk mengambil hati sang gadis.


Hari ini, Leo akan mengikuti sebuah lomba basket. Tentu beberapa hari yang lalu Leo sudah meminta gadis pujaannya untuk datang melihatnya bertanding. Meski bibir gadis itu mengatakan tidak, namun jauh didalam lubuk hati Leo, pemuda itu sangat mengharap kehadiran sang gadis. Menjadi penyemangat untuk dirinya hari ini.


Untuk beberapa saat, tidak ada tanda-tanda gadis itu hadir di aula besar nan megah tersebut. Membuat sang pemuda kembali menghela nafas kecewa. Bahkan, hingga babak pertama pertandingan dimulai pun, gadis itu sama sekali tak terlihat dari sudut mata Leo.


Teringat, sebuah perbincangan ringan di kantin bersama sang gadis yang berujung dengan kecewanya hati sang pemuda karena begitu banyaknya penolakan dari sang gadis. Perbincangan terakhir kali sebelum pemuda itu berubah menjadi dingin seperti sekarang. Bukan tanpa alasan pemuda itu berubah drastis.


Bukan pula karena cintanya pada sang gadis sudah terbuang begitu saja. Hanya, pemuda itu begitu menjaga hatinya agar tidak jatuh terlalu dalam kepada sang gadis. Takut, jika apa yang ia perjuangkan hingga beberapa saat ke depan benar-benar tidak bisa membuat sang gadis berada di pelukannya.


'Mungkin emang dia nggak mau ada Gue dalam hidupnya.'


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2