Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 2 - Mengaku


__ADS_3

Menutup karena begitu silaunya mata dari pantulan sinar matahari yang menerpa wajahnya, Leo sampai menghadang wajah tampannya dengan lengan kekarnya. Di depan yang tak terlalu jauh dari tempatnya berhenti saat ini, Leo menatap seorang gadis yang baru saja keluar dari sebuah mobil mewah berwarna merah merona tersebut.


Senyum kecilnya terbit begitu saja ketika melihat seorang gadis yang ia cari identitasnya semalaman suntuk keluar dari mobil yang menyilaukan tersebut.


Usai melihat gadis itu semakin menjauh lalu menghilang digerbang utama sekolah, Leo memacu sepeda motornya hingga berhenti diparkiran. Kemudian, ia langsung beranjak mengikuti gadis yang ia lihat keluar dari mobil mewah beberapa saat yang lalu.


"Gue lihat Lo keluar dari mobil merah. Ternyata, Lo bukan anak orang miskin yang setiap hari selalu naik angkot ya?" celetuk Leo jelas menghentikan langkah kaki Laras yang hendak beranjak menuju kelasnya dilantai atas.


Gadis itu, gadis yang semula hanya melirik sekilas pada datangnya Leo kini malah membulatkan matanya lebar-lebar ketika mendengar ucapan sang Kapten Basket tersebut.


Tanpa ijin, Laras langsung membungkam mulut pemuda tampan tersebut. Kemudian membawanya menuju sebuah taman yang lumayan masih sepi diwaktu pagi seperti ini.


Dibungkam mulutnya justru tidak membuat Leo marah-marah dan berakhir menyakiti sang gadis. Ia justru sangat senang bisa disentuh sedemikian intim hingga berada di dekapan sang gadis. Membuat hatinya merasa membuncah dengan tinggi. Sebegitu cepatnya pemuda tersebut menjatuhkan hati kepada sang gadis.


"Lo ngomong apa sih?" ucap sang gadis sembari melepaskan bungkaman tangannya di mulut sang pemuda. Matanya mendelik dengan tajam, setajam silet yang pernah ia pakai untuk melukai dirinya sendiri kala itu.


"Gue tahu, Lo anaknya pak Irawan kan? Donatur terbesar di Sekolah ini." jelas Leo kemudian menjulurkan lidahnya, mengejek pada Laras yang masih kembang kempis menatapnya dengan tajam.


"Sebenarnya, tujuan Lo bilang ke Luna kalau Lo anak orang miskin itu apa? Biar apa?" tanya sang pemuda dengan tangan yang terlipat didepan dada.


"Bukan urusan Lo! Ngapain sih Lo tuh ngurusin urusan Gue?"


"Gimana ya, kalau Gue bilang ke Luna kalau Lo bohong sama dia? Kira-kira, marahnya Luna kayak apa? Apalagi, dia tahu dari orang lain." tak menggubris kejengkelan sang gadis, Leo justru terus membayangi sang gadis dengan kemurkaan Luna atas kebohongan yang dia lakukan.


Mendengar Luna yang pasti akan marah padanya, ia menjadi sangat sedih. Tak mau kehilangan sahabat lagi, hingga membuatnya memelas pada sang Kapten Basket dihadapan. "Plis lah, jangan kasih tahu Luna ya. Gue cuma nggak mau dimanfaatin sama semua orang kalau mereka tahu Gue anaknya Pak Irawan."


Laras menangkup kedua tangannya didepan dada, menampilkan wajah sedih dan memelas khas dirinya. Membujuk sang pemuda agar tidak berbicara apapun pada sahabat sang gadis yang sudah dipastikan bisa menerimanya dalam keadaan susah sekalipun.

__ADS_1


"Oke, Gue nggak akan bilang sama Luna. Tapi, ada syaratnya." ucap sang pemuda dengan santainya. Tentu hal tersebut membuat sang gadis menjadi sangat jengkel.


"Kenapa malah jadi pake syarat segala sih? Ini masalah Gue, kenapa jadi Lo yang menentukan!"


"Ya sudah, Gue bilang sama Luna ya." hendak beranjak meninggalkan Laras seorang diri, namun dengan cepat gadis tersebut meraih lengan sang pemuda agar berhenti berjalan meninggalkannya.


"Iya iya! Apa syaratnya?" hentak Laras dengan hati yang meronta ingin melayangkan tinju pada pemuda dihadapan.


"Lo, harus jadi pacar Gue!" pinta Leo dengan seenak jidatnya. Membuat mata indah Laras membulat sempurna. Bahkan, mulut gadis itu terbuka lebar saking syoknya mendengar penuturan pemuda yang baginya sangat menyebalkan tersebut.


"Pa...pacar?" ucapnya dengan gagap. Pemuda dihadapan tersebut hanya mengangguk dengan senyum tipis selalu menghiasi wajahnya.


Laras memutar otak dengan cepat disela keterkejutannya mendengar permintaan Leo. Mencari cara agar bisa melepaskan diri dari sang pemuda tanpa menyanggupi permintaan aneh menurutnya.


Bagaimana tidak terbilang cukup aneh, jika ia dan sang pemuda saja baru bertemu beberapa hari. Dan baru melakukan komunikasi obrolan hanya 2 kali saja hingga saat ini. Namun tiba-tiba, sang pemuda langsung ingin memintanya untuk menjadi kekasihnya. Ini sungguh mengejutkan baginya.


"Clara?" hentak Leo dengan tatapan tak suka. Memutar bola mata dengan jengah.


"Lo ngapain disini Leo?" ucap Clara mengulang pertanyaannya kepada sang pemuda yang baginya begitu tampan mempesona tersebut.


"Ini, lagi ngajarin pacar Gue baca puisi." kilah Leo dengan santainya. Melirik sekilas kearah Laras yang membulatkan mata kearahnya.


"Lo? Sejak kapan Lo jadi pacarnya Leo?" tunjuk Clara langsung dihadapan wajah Laras. Membuat gadis itu terhentak beberapa langkah kebelakang. Ternyata gadis itu salah, mengira jika suara lembut yang dimiliki Clara adalah sebuah sifat keibuan. 'Ternyata sifat kegilaan.' batinnya menatap tak suka pada sang Ketua Cheerleader tersebut.


"Mana Gue tahu! Tanya sana sama Leo!" ucap Laras sembari menampik tangan Clara yang masih menunjuk wajahnya. Kemudian, ia berlari meninggalkan orang-orang yang baginya sangat menyebalkan tersebut. Tak mau tahu lagi apa yang selanjutnya terjadi pada Leo dan Clara. Entah berdebat, atau malah baku hantam sekalian. Laras tidak peduli.


Yang ia pedulikan dalam pikirannya saat ini adalah, berlari sekencang yang ia bisa lalu menemukan Laras.

__ADS_1


Belum sampai ia berhasil mencapai tangga sekolah, sudut matanya sudah melihat sebuah Limousine mewah berhenti didepan gerbang utama. Langsung saja ia berlari kearah Limousine tersebut, setelah Luna dan kembarannya keluar dari mobil, Laras langsung bergegas menggandeng tangan sang sahabat.


"Luna, Gue mau ngomong sama Lo!" ucapnya dengan nafas tersengal karena berlari dari taman utama hingga gerbang utama. Letak taman dan gerbang tidaklah sama, justru sangat jauh meski sama-sama menyandang kata utama.


Menaiki tangga dengan berlari, Laras tak peduli jika seandainya Luna lelah atau apalah itu. Yang terpenting adalah, ia harus segera membawa Luna kedalam kelasnya agar tidak bertemu dengan Leo.


Usah berlari menaiki tangga demi tangga hingga kini sudah berada dilantai 3 tempat kelasnya berada, Laras mulai memberhentikan acara berlarinya. Kemudian tanpa kata-kata, dua gadis cantik tersebut langsung memasuki kelas dan duduk dengan nafas tersengal hebat. Dada kembang kempis, diiringi dengan tetes keringat yang mengucur deras di dahi mereka.


"Jadi, maksud Lo bawa Gue lari-larian apa Ras?" tanya Luna setelah sekian lamanya berhasil menguasai diri. Berhasil mengembalikan nafas normalnya.


"Gue mau jujur sama Lo."


"Jujur apaan?"


Sebelum berucap, Laras menghela nafas untuk sesaat. Kemudian, netra matanya menatap pada wajah gadis cantik dihadapan. "Sebenarnya, Gue anaknya Pak Irawan."


Luna terdiam mendengar penuturan sang sahabat. Otaknya masih terlalu lemot untuk mencerna ucapan gadis dihadapannya ini. "Pak Irawan?" ulang Luna dengan lirih.


"Partner bisnis Ayah Lo. Sekaligus..."


"Donatur terbesar disekolah ini?" lanjut Luna dengan gemas karena Laras hanya menggantungnya ucapannya.


Gadis dihadapan Luna tersebut mengangguk. Ada sebuah kelegaan tersendiri karena sudah mengakui semuanya tanpa ada campur tangan Leo didalamnya. Namun, hatinya juga sangat tegang melihat ekspresi Luna yang masih diam memandangnya. Takut jika gadis itu marah karena Laras sudah berbohong padanya.


"Apa? Jangan halu deh Ras! Mana ada anaknya Pak Irawan naik angkot!"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2