Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 21 - Moscow?


__ADS_3

Sudah terharu diberikan kejutan dari sahabat dan orangtuanya, serta oleh pemuda yang ia cintai juga. Kini, gadis cantik itu terperangah tak percaya dengan apa yang ia dengar dari sang pemuda. Bahkan, orangtua gadis itupun juga ikut terbelalak dan terhentak dengan kaget.


Sesaat kemudian, keadaan menjadi hening dengan manusia-manusia yang terdiam sembari membuka mulut lebar-lebar. Sungguh, permintaan sang pemuda yang kini berdiri dihadapan sang gadis mampu membius mereka-mereka yang mendengarnya.


"Saya bercanda." ucap Leo kemudian tertawa dengan renyah. Membuat Laras, Luna, dan kedua orangtua sang gadis menghela nafas lega.


"Leo, saya kan sudah bilang kalau Laras masih dibawah umur. Kamu boleh menikahinya kalau Laras sudah cukup usia. Oke?" ucap Irawan memperjelas keinginannya untuk kebaikan bersama.


Mengangguk kecil, "Saya tahu Om. Maafkan saya." ucap sang pemuda dengan senyumnya. Kemudian, pemuda itu terlihat berjalan menuju sofa. Mengambil sesuatu dari sana yang ukurannya terbilang sangat besar. Bahkan lebih besar dari tubuh gagah sang pemuda itu sendiri.


"Teddy Bear!" pekik Laras dengan senang. Menatap boneka didalam gendongan Leo yang kemudian terpampang dihadapannya.


"Laras, sorry for our misunderstanding. Do you want to be my girlfriend?" ucap Leo sembari memberikan boneka besar itu kepada sang gadis.


Sedang gadis cantik itu masih terdiam dengan perasaan bimbang. Jika boleh jujur, gadis itu memang memiliki rasa takut tersendiri untuk mengetahui sebuah kenyataan pahit didepan nanti. Takut jika benar ia dijadikan target taruhan oleh sang pemuda.


Namun, melihat Luna dan sang Ayah yang mengangguk dengan yakin, membuat Laras ikut menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kecil. "Iya, Gue mau." jawab sang gadis kemudian menerima boneka besar dari sang pemuda.


"Yes!" pekik Leo mengepalkan tangan kemudian mengayunkannya di udara.


"Tadinya, Leo mau lamar kamu. Ajak tunangan. Sudah mau kasih tahu orangtua nya yang ada di Luar Negeri. Tapi Ayah belum kasih ijin. Kalian masih kecil, pasti pemikiran kalian belum matang. Matangkan dulu hubungan kalian, kalau sudah sama-sama yakin, bisa langsung menikah saja." ucap Irawan merangkul istrinya untuk berjalan mendekati anak semata wayangnya tersebut.


Laras tersipu malu mendengar penuturan sang Ayah mengenai pemuda yang kini sudah menjadi kekasihnya tersebut.


"Yakin aja, Lo pasti bisa mempertahankan hubungan ini sama Leo. Kalian kan saling mencintai." ucap Luna sembari memeluk sahabatnya dari samping. Turut berbahagia dengan apa yang terjadi saat ini.


"Terimakasih ya Luna," ucap Laras memeluk kembali tubuh mungil sahabatnya. Laras sudah yakin dengan apa yang ia putuskan malam hari ini. Terbukti, kini senyumnya mengembang dengan sempurna sembari menatap pemuda dihadapan dengan sorot mata yang sangat malu-malu.


"Padahal, kalau seandainya malam ini Lo masih marah, Leo udah memutuskan buat pergi ke Luar Negeri tau Ras." ucap Luna tersenyum menggoda. Tentu saja penuturan gadis tersebut membuat Laras membulatkan matanya dengan sempurna.


"Lah seharusnya kan perjuangin biar Gue nggak marah. Malah mau ditinggal gitu aja?" ucap Laras dengan sinisnya. Merasa kesal ketika mendengar penuturan Luna yang mengatakan bahwa pemuda itu akan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Karena pasti, gadis itu akan merasa kehilangan.


"Gue putus asa waktu Lo nggak mau ketemu Gue. Hitung aja, Lo udah 1 minggu marah sama Gue." jelas Leo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah, kita pergi dulu ya. Kalian lanjut aja ngobrol diruang tamu sini." ucap Irawan sembari menatap istri dan sahabat anaknya tersebut.


"Luna pamit aja ya Om, Tante. Selamat malam." putus Luna kemudian mencium punggung tangab Irawan dan sang Istri.


"Selamat malam. Hati-hati ya Luna."


"Hati-hati Lun."


Setelah kepergian gadis cantik serta kedua orangtuanya tersebut, Laras kemudian beranjak menuju sofa yang tadi dipakai Leo untuk menyimpan boneka besar yang kini ada dipangkuan sang gadis.


Duduk berdampingan dengan hati masing-masing yang terasa berdebar. Sikap terasa sangat canggung hanya untuk sekedar mengucap satu kata saja.


Namun, bukan Leo namanya jika terus membiarkan gadisnya dirundung dengan kebingungan atau rasa badmood yang selalu datang tiba-tiba. Maka, pemuda itu pun mulai memegang tangan Laras yang terasa begitu dingin tersebut.


"Laras." panggil sang pemuda dengan suara yang lembut. Sungguh, suara Leo kali ini benar-benar membuat candu telinga sang gadis.


"Gue udah jadi pacar Lo. Jadi, Gue boleh kan?'' pertanyaan yang sungguh membuat Laras bingung karena sama sekali tidak jelas dikatakannya.


"Boleh apa sih?" tanya Laras sembari mengerutkan keningnya. Menatap tangannya yang berada digenggaman sang pemuda.


"Gue boleh cium Lo?"


"What?" pekik Laras membuka mulutnya lebar-lebar. Persis seperti yang ia lakukan saat Leo memintanya menjadi istrinya beberapa saat yang lalu. Tentu hal itu membuat Leo terkekeh ringan.


"Kenapa? Lo nggak mau?" tanya Leo menatap dengan serius. Membuat Laras menggigit bibir bawahnya dengan perasaan bimbang. Hatinya sungguh berdebar mendapati pemuda yang terang-terangan meminta ijin untuk menciumnya sekarang juga.


Hal seperti ini tentu saja adalah hal untuk pertama kalinya bagi Laras. Berpikir, mungkin sepasang kekasih memang harus mengasihi agar hubungan mereka langgeng?

__ADS_1


Maka, dengan polosnya gadis itu hanya mengangguk sembari menahan nafas dengan takut. Menatap Leo yang kini sudah tersenyum, hingga lama kelamaan kepala pemuda itu semakin mendekat kearahnya.


Jika seharusnya, saat seseorang berciuman, maka seseorang itu akan memejamkan matanya untuk menikmati ciuman tersebut. Namun tidak dengan Laras. Gadis itu malah membuka matanya lebar-lebar meski Leo kini sudah memejamkan matanya.


Dengan perlahan, bibir merah muda yang terasa kenyal itu semakin mendekat hingga kemudian menempel dibibir manis sang gadis. Hanya menempel, namun mampu membuat dada sang gadis terasa kembang kempis hingga rasanya sangat sulit bernafas.


Maka, ketika Leo mulai ******* bibir sang gadis, pemilik bibir itupun langsung membelalak kemudian melepaskan tautan ciuman mereka. Lalu, sang gadis kemudian mengambil oksigen dalam-dalam.


"Baru pertama kali ya?" tanya sang pemuda dengan nada menggoda. Alisnya bahkan sampai naik turun saking niatnya menggoda sang gadis.


Tentu saja pertanyaan itu membuat Laras merona merah. Karena memang ini adalah hal yang pertama bagi Laras. Dan, sungguh. Hatinya berdebar sangat kencang hingga membuatnya terbatuk-batuk.


"Ini bukan yang pertama buat Lo?" tanya Laras usai terbatuk-batuk.


Leo terkekeh sejenak. "Tenang aja, Lo cinta pertama Gue. Dan...bibir Lo adalah yang pertama buat Gue."


"Lo serius?" pekik Laras tak percaya. Pasalnya, pemuda disebelahnya ini adalah playboy kelas kakap. Mana mungkin bibirnya adalah yang pertama pemuda itu rasakan bukan?


"Iya Ras. Oh iya, Gue ada rencana mau bawa Lo ketemu sama orangtua Gue di Moscow. Mau kan?" tanya sang pemuda sembari menjawil mesra hidung bangir sang gadis. Sekian lama menanti saat-saat ia bisa menyentuh sang gadis, dan kini gadis itu sudah menjadi miliknya. Akan ia jaga apapun yany ada pada tubuh gadis itu. Termasuk hatinya.


"Ke Moscow?" tanya Laras merasa bingung.


"Emangnya Lo udah ijin sama Ayah Gue?''


"Belum sih. Ya kalau Lo setuju, Gue bakal minta ijin ke Om Irawan. Lagian, sekolah sudah memasuki masa libur. 2 minggu mau libur kemana memangnya kalau nggak dibuat healing?''


Laras terdiam sesaat, memandang pemuda yang kini sudah menyandang sebagai kekasihnya. Kemudian, sorot mata sang gadis kini beralih pada bibir merah muda ysng tadi sempat mengecup bibir kenyalnya.


Cepat mengalihkan pandang karena merasa malu, juga berdebar. Debaran yang selalu ia rasakan ketika sejak pertama kali Leo menyentuhnya beberapa bulan yang lalu.


" Jadi, Lo mau ke Moscow?" tanya sang pemuda memastikan dengan sorot yang penuh harap.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


***


__ADS_2