
Terpekik dengan suara seseorang yang berada dibelakangnya. Bukan, itu bukan suara Luna. Melainkan... "Lula? Ngapain Lo nguping pembicaraan Gue sama Luna? Nggak sopan banget!"
"Gue punya telinga, dan telinga Gue itu dengar! Kalian terlalu berisik tau gak!" ucap Lula dengan lantangnya. Baru saja Laras hendak menjawab, tangan mungilnya sudah ditarik oleh Luna untuk keluar dari kelas.
Berjalan bersama menuruni anak tangga satu-persatu sembari bercerita. "Nggak usah diladeni, nanti malah panjang urusannya. Gue percaya kok sama Lo."
"Lo nggak marah Lun sama Gue?"
"Kenapa Gue mesti marah?"
"Kan Gue udah bohong sama Lo."
Luna menggeleng sembari tersenyum. "Yang penting, sekarang Lo udah jujur sama Gue."
Lega hati Laras mendengar semua pernyataan Luna. Ternyata, apa yang Leo katakan jika Luna akan marah saat dia berbohong adalah palsu. Nyatanya, Luna justru malah berterima kasih kepadanya karena sudah berani jujur.
"Luna!" sayup-sayup terdengar sebuah suara seorang lelaki dari kejauhan hingga membuat dua gadis cantik tersebut menoleh secara bersamaan.
"Bara? Ada apa?" tanya Luna setelah Ketua Osis tersebut sudah sampai dihadapannya. Laras hanya diam mendengarkan dua manusia tersebut berinteraksi dengan akrab. Ia begitu menyukai saat-saat dimana Bara ada disisi Luna.
Entah mengapa gadis itu merasa sebuah kehangatan terasa di sekeliling tubuhnya ketika Bara hadir diantaranya dan Luna.
"Lo udah pilih ekstra disekolah ini?" tanya Bara menatap lekat pada sahabat Laras tersebut.
"Udah, Gue mau ikut ekstra seni."
"Bagus. Hari ini kebetulan ada jam ekstra seni musik. Lo harus nyanyi. Gue mau lihat. Oke?" pinta sang pemuda dengan senyum manisnya. Membuat gadis cantik dengan rambut berponi tersebut mengangguk dengan senang.
"Lo nggak ikut ekstra?" tanya Luna menatap kearah Laras disebelahnya.
"Sebenarnya Gue pengen ikut cheerleader. Tapi, ketuanya kayak kuntilanak. Nggak berani Gue." pungkas Laras dengan lesu. Ucapannya benar-benar membuat Luna berderai tawa ketika mengibaratkan Clara sebagai kuntilanak. Teringat, bagaimana saat beberapa waktu yang lalu, kuntilanak versi Laras tersebut memergokinya tengah berdua dengan Leo di taman utama. Sorotan mata Clara yang begitu membulat hingga bola matanya hampir keluar benar-benar menakutkan bagi Laras sendiri.
"Ikut musik aja." usul Bara yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Laras. "Gue nggak bisa nyanyi."
"Kan nanti ada pembimbingnya Ras."
__ADS_1
"Enggak deh, Gue nggak ikut ekstra apa-apa."
"Ya sudah, Gue duluan ya." pamit Bara kemudian melambaikan tangan kepada Laras dan Luna. Pemuda itu kemudian beranjak meninggalkan dua gadis cantik yang masih menatap kepergiannya dengan pandangan yang berbeda-beda.
"Lo harus tahu, tadi Leo minta Gue jadi pacarnya!" celetuk Laras dengan tiba-tiba. Membuat langkah kaki Luna kembali berhenti, kemudian menatap sahabatnya dengan ekspresi wajah yang benar-benar melongo.
"Jadi pacar?" ulang Luna memastikan. Takut jika ia hanya salah dengar. Namun kenyataan berbanding terbalik dengan dugaannya. Sahabat cantiknya kini malah menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Tadi dia lihat Gue keluar dari mobil Papa." ucap Laras mulai bercerita kembali, langkahnya kemudian mulai berjalan kembali menaiki anak tangga menuju kelas bersama Luna yang senantiasa mendengarnya bercerita. Mulai dari keluarnya ia dari mobil mewah berwarna merah terang tersebut, hingga berakhir ditodong oleh Clara karena berduaan dengan Sang Kapten Basket Sekolah.
***
Usai mengisi perutnya yang terasa keroncongan, tiga pemuda yang bersahabat sejak beberapa tahun silam tersebut kini mulai membuka obrolan ringan.
"Kalian tahu Laras? Temannya Luna?" tanya Leo menatap dua sahabatnya. Pembukaan obrolan ringan tersebut dibuka oleh Leo dengan kata-kata tukang gibah. Persis sekali.
"Kenapa emangnya?" tandas Bara menatap Leo sembari memakan makanan ringan dihadapan. Menghabiskan waktu istirahat mereka untuk bersantai di kantin sekolah.
"Ternyata, dia anaknya Pak Irawan cok!" pekik Leo dengan suara tertahan. Imagenya sebagai siswa baik nan teladan tidak boleh tercoreng hanya karena ucapan kasarnya yang terdengar oleh siapapun.
"Pak Irawan? Donatur di Sekolah kita?"
"Terus, kenapa naik angkot setiap hari?" pungkas Bayu membuka suara. Sedari tadi ia hanya diam mendengarkan.
"Dia bilang sama Luna, kalau dia anaknya orang miskin. Makanya pura-pura naik angkot."
"Tahu darimana Lo?" Bara bersuara. Namun kali ini, tidak ada jawaban apapun dari Leo. Pemuda itu hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Bara. Perlu diingat jika Leo sudah menjadi intek dadakan hanya untuk mencari tahu siapa Laras sebenarnya.
"Luna! Sini!" pekik Bara melambaikan tangannya pada seorang gadis yang tak jauh dari tempat duduknya berada. Leo tersenyum tipis ketika melihat Luna berdua bersama gadis pujaannya. Tidak salah jika ia menciptakan sebuah taruhan kepada dua sahabatnya disisi kanan dan kirinya tersebut. Hal itu justru membuatnya semakin dekat dengan gadis yang ia incar seorang diri.
Tak seberapa lama kemudian, Luna dan Laras tiba dimeja yang dihuni oleh tiga sahabat tersebut. Mempersilahkan dua gadis tersebut untuk duduk, Leo sampai menggeser bokongnya agar Laras bisa duduk disebelahnya.
"Luna, cobain bakso Gue." ucap Bayu dengan tiba-tiba sembari memberikan satu buah bakso yang sudah ditusuk garpu oleh Bayu kepada Luna. Semua ikut memperhatikan bagaimana Luna menerima satu suap bakso dari tangan kekar Bayu. Kemudian untuk sesaat, terdengar helaan nafas jengkel dari bibir Bara melihat cepatnya Bayu mendekati Luna.
Leo menatap Laras disebelahnya, kemudian beralih menatap Bayu yang terlihat menggodanya. Alis pemuda itu sampai naik turun saking niatnya menggoda Leo. Memberi kode agar Leo juga melakukan hal yang sama kepada Laras.
__ADS_1
Bukan Bayu tidak tahu apa yang Leo rasakan kepada Laras. Terlihat dari gerak-geriknya mendekati sang gadis, kemudian caranya berbicara ketika menceritakan latar belakang gadis cantik tersebut. Namun, pemuda tampan itu hanya diam saja. Memfokuskan diri untuk menyelesaikan misinya mendekati Luna lalu mendapatkan sebuah mobil dari Leo.
Leo menggelengkan kepalanya menatap Bayu. Bukan saatnya mendekati Laras dihadapan banyak orang. Ia hanya ingin mendekati sang gadis jika berdua saja, menatap dan melihat dari dekat dalam jangka waktu yang lama tanpa ada siapapun yang mengganggunya.
Bukan Laras tak tahu jika sedari tadi ia dipandang lekat oleh Leo. Ia hanya berpura-pura tidak peduli dan tidak tahu. Takut jika salah tingkahnya terlihat begitu kentara dihadapan sang pemuda.
"Menurut Lo, disekolah ini ada setannya nggak?" ucap Laras membuka obralan yang super duper tidak berguna tersebut. Alih-alih untuk mencari tahu yang sesungguhnya tentang sekolah ini, ia sebenarnya hanya menutupi rasa gugupnya karena dipandang terus menerus oleh pemuda disebelahnya.
"Gue kan baru masuk disini Ras. Mana Gue tahu." ucap Luna enggak menanggapi obrolan random tersebut.
"Menurut Gue nggak ada sih. Soalnya Gue disini sudah 3 Tahun. Nggak pernah ada apapun." pungkas Bara membuka suara. Kali ini, justru Laras yang bingung harus menjawab ucapan Bara seperti apa. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya beberapa kali sembari menyeruput kuah bakso dihadapannya.
"Clara emang galak ya orangnya?" ucap Luna dengan raut wajah yang serius. Membuat Leo mengalihkan atensinya kepada sang gadis.
"Emang kenapa sama Clara?"
"Tadi Laras bilang dia marah-marah sama Laras."
Leo memutar bola matanya keatas, seperti mengingat sesuatu. "Oh, itu karena Laras tadi pagi sama Gue di taman."
"Clara suka sama Lo?" simpul Luna dengan cepat. Membuat Leo mengangguk dengan cepat pula.
"Cowok aneh kayak Lo? Ada yang naksir?" pekik Laras seperti tak percaya.
"Nggak percaya?"
"Sama sekali enggak!"
"Tanya aja sendiri sama Clara-nya."
"Ogah banget! Dia kalau melotot tuh matanya kayak mau keluar semua. Kayak zombie." Laras kemudian membuka matanya lebar-lebar dengan kedua tangannya. Memperagakan betapa melototnya mata Clara tadi pagi.
Hal itu tentu mengundang tawa bagi Luna, tawanya berderai karena melihat Laras yang begitu lucu baginya. "Bisa aja Lo." pungkas sang gadis mengakhiri tawanya karena melihat kedatangan sang Ketua Cheerleader yang baru saja menjadi topik hangat diantara ia dan teman-temannya memasuki kantin dengan angkuhnya.
Sorot matanya tajam, menatap pada Laras dan Luna yang berada dimeja Leo dan kawan-kawannya. Sontak, langkah kaki jenjang sang gadis angkuh tersebut berjalan mendekati meja yang dihuni oleh Leo. Apalagi, melihat Laras yang duduk berdampingan dengan Leo membuat darahnya mendidih dengan cepat.
__ADS_1
"Tuh kan, dia kesini. Lihat bola matanya, pasti sebentar lagi copot dari tempatnya." ucap Laras dengan sangat pelan namun masih bisa didengar oleh teman-temannya.
BERSAMBUNG...