
Melangkah kan kakinya kesana kemari sembari menggigit kuku-kuku tangannya, Laras benar-benar resah. Pasalnya, hari ini adalah hari dimana pemuda yang selalu hadir disetiap harinya itu mengikuti sebuah lomba basket.
Ingin hadir, namun ia begitu gengsi. Tapi jika tidak hadir, bukankah pemuda itu akan mengira jika memang kehadirannya tidak pernah diharapkan oleh sang gadis?
Jika itu sampai terjadi, jika sampai pemuda itu berpikir demikian, sudah pasti pemuda itu akan menjauh dari Laras. Dan sungguh, hati gadis cantik itu benar-benar tidak rela. Entah mengapa.
"Aduh! Kenapa Gue jadi pusing gini sih!" keluh sang gadis sembari menghempaskan tubuhnya diatas sofa empuk. Menghela nafas berkali-kali untuk mengusir rasa debar dalam hati.
"Ada apa Nak?" tanya Irawan dari kejauhan, namun sesaat kemudian terdengar langkah kaki yang semakin mendekat kearah sang gadis.
"Kamu pusing? Sakit? Kita ke Rumah Sakit ya." ucap sang Ayah dengan raut wajah yang begitu khawatir. Menyentuh jidat anak gadisnya, namun tidak merasakan hawa apapun selain dingin.
"Tapi nggak panas kok." kembali mengeceknya, hingga tangan Laras menghentikan aksi Irawan menjadi Dokter dadakan dikeningnya.
"Ayah! Laras tuh bukan pusing sakit. Tapi pusing bingung!" ucap sang gadis dengan raut wajah kesal. Bibirnya sampai maju beberapa senti meter saking kesalnya. Otaknya benar-benar lelah karena memikirkan hal ini sejak semalam.
Menghela nafas panjang sembari menyandarkan punggungnya disofa empuk, "Ayah pikir sakit. Memangnya bingung kenapa?"
"Leo sama Luna ada lomba. Laras bingung mau lihat yang mana." jelas sang gadis kepada Ayah tercintanya. Meski kenyataannya, gadis itu bingung antara melihat Leo atau tidak. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan gadis bernama Luna.
"Kalau bisa, lihat dua-duanya."
"Caranya?"
"Lihat Luna dulu, baru nanti Leo. Atau sebaliknya. Tinggal lihat saja, jam saat mereka naik ke atas panggung."
"Tapi kalau memang tidak bisa, ya pilih salah satu. Yang terpenting tidak menyakiti hati siapapun."
"Laras bingung!"
__ADS_1
"Nggak usah bingung-bingung Nak. Ikuti apa kata hatimu." mengelus puncak kepala anak gadisnya dengan lembut. Irawan tahu, gadis belia itu masih pliplan dengan apa yang akan menjadi keputusannya. Masih bingung harus memilih yang mana tanpa menyakiti siapapun. Begitu hafal dengan semua sikap dan sifat sang anak.
Menghela nafas resah. Bukan ini kemauan Laras. Namun, mau apa dikata. Mungkin memang saatnya gadis itu membuka tangan atas kehadiran sang pemuda dihidupnya. Meski hati penuh keraguan, namun mencoba tidak pernah ada salahnya bukan?
"Baiklah."
***
Tepat ketika pertandingan babak kedua akan dimulai kembali, sudut mata sang pemuda kemudian menangkap siluet seorang gadis yang berjalan di antara keramaian para penonton.
Senyumnya mengembang sempurna ketika ia memperjelas lagi, siapa gerangan gadis tersebut. 'Akhirnya Lo datang juga.' batinnya dengan sorak sorai yang begitu senang.
Bertekae dalam hati, akan menampilkan sebauh pertunjukkan yang sangat spektakuler hingga mambu membuat gadis itu terpukau oleh aksinya.
Babak utama sudah dimenangkan oleh tim dari pemuda tersebut. Kini, babak kedua pun harus bisa ia kuasai pula, harus bisa membawa sebuah piala yang berkilau keemasan.
"Naga! Naga! Naga!" sorak seluruh penonton meneriakkan nama dari tim yang dipimpin oleh Leo.
Bagaimana saat pemuda itu melempar bola, mencetak poin. Atau saat pemuda itu menghindar untuk menyelamatkan bola dari tangan musuh. Melempar, berlari, menerjang, kemudian kembali mencetak poin entah untuk yang berapa kalinya. Sungguh, semua penampilan Leo ditengah lapangan benar-benar epic, membuat gadis bergengsi besar itu menatap tak berkedip.
Sungguh pula, hadirnya Laras dimenit-menit mencapai kemenangan adalah sebuah penyemangat tersendiri baginya. Ingin menampilkan yang terbaik, dari semua yang baik, hanya untuk gadis itu seorang.
Rela mengorbankan apapun demi mendapatkan hati sang gadis. Merasa, perjuangan sang pemuda tidak benar jika disebut sia-sia. Karena kenyataannya, gadis itu kini hadir melihatnya.
***
"Akhirnya Lo datang juga." ucap Leo dengan senangnya. Lomba sudah selesai, membuat Leo membawa langkahnya menuju tribun penonton kemudian menyeret gadis itu menuju sebuah kantin di tempat lomba tersebut.
"Daripada gabut dirumah. Lagian tadi Gue cuma mau nonton Luna sebenarnya." berucap sembari terus mengunyah makanan ringan dihadapan. Raut wajah gadis itu justru membuat Leo merasa gemas, mengangkat tangannya kemudian mencubit pipi gembul sang gadis. Membuat sang pemilik pipi tersebut berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Gue gemas sama Lo!" ucap sang pemuda dengan santainya. Kemudian, menyeruput minuman dinginnya untuk melancarkan peredaran darahnya yang terasa sempat berhenti sesaat sebelum ia mencapai sebuah kemenangan.
"Btw, selamat ya atas kemenangan Lo." ucap Laras dengan tulus. Benar-benar tulus tanpa ada gengsi yang menghalangi.
Kemudian, soeot mata gadis itu menatap penuh ragu kearah Leo. "Kenapa?" tanya sang pemuda dengan lembut. Tahu jika dari tatap sang gadis seperti ingin berkata sesuatu.
"Cowok yang sama Clara waktu itu, bukan Lo kan?" tanya sang gadis dengan raut wajah polosnya. Membuat tawa sang Kapten Basket dihadapan itu berderai. "Kenapa? Lo nggak rela ya kalau itu Gue?" goda sang pemuda sembari memainkan alisnya.
Menghela nafas sejenak. "Kata Lo, Gua harus nerima Lo dalam hidup Gue. Tapi, kalau kelakuan Lo kayak gitu, Gue nggak bisa Leo."
Terpaku, apa yang diucap gadis dihadapan itu benar-benar membuat jantung Leo terasa mau berhenti detik itu juga. Tak pernah mengira jika gadis cantik yang selalu ia puja-puja itu akan membuka hatinya sedemikian cepat.
"Akhirnya Lo bisa buka hati Lo buat Gue!" pekik sang pemuda dengan senang. Saking senangnya sampai-sampai pemuda itu menggebrak meja kantin dengan heboh.
"Lo atau bukan?" ulang Laras memperjelas semuanya.
"Bukan, sayang!" tanggap Leo dengan cepat dan yakin. Membuat Laras menganggukkan kepalanya percaya. Sesungguhnya, hati gadis itu sangat senang ketika mendengar jawaban Leo yang menyertai kata "sayang" diakhir kalimatnya. Begitu syahdu terdengar ditelinga sang gadis.
Leo tersenyum senang dan gemas dalam waktu yang bersamaan. "Akhirnya Lo nerima Gue."
Mengernyit bingung. "Nerima apa?" gadis itu takut jika Leo menganggapnya sudah menerima sang pemuda menjadi kekasih. Padahal, gadis itu hanya membuka tangan atas kehadiran Leo dihidupnya. Meski tidak tahu bagaimana akhirnya nanti, namun sekali lagi, mencoba tidak pernah ada salahnya bukan?
"Nerima Gue untuk selalu ada dalam setiap hari di hidup Lo."
Menghela nafas lega. Akhirnya, apa yang gadis itu pikirkan tidak benar-benar terjadi. "Jangan buat Gue kecewa ya. Gue nerima Lo jadi sahabat Gue."
"Sahabat aja? Nggak lebih?" tantang sang pemuda semakin berani. Membuat Laras menahan nafas untuk sejenak. "Udah, dipikir nanti aja."
Tersenyum kecil, Leo mendekatkan wajahnya kepada wajah sang gadis kemudian berucap dengan lirih. "Gue nggak akan nyerah buat bikin Lo jatuh cinta terus setiap harinya sama Gue." kemudian pemuda itu mencuri ciuman singkat dibibir sang gadis yang terdiam mematung.
__ADS_1
BERSAMBUNG...