Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 11 - Obat Perangsang


__ADS_3

Pemuda yang kini tengah duduk disebuah kursi restoran menatap sendu pada gadis dihadapannya. Gadis yang selalu ia benci, dari dulu hingga sekarang. Namun demi semua rencananya berjalan lancar, pemuda itu harus berkorban diri untuk merayu sang gadis. Mengajaknya untuk bertemu di malam yang indah ini.


Seharusnya, pemuda itu kini merayu seorang gadis yang tengah terbaring di Rumah Sakit, memberikan ketenangan. Namun, sekali lagi. Demi lancarnya sebuah rencana yang ia lakukan, maka ia pun melakukan ini semua.


Merayu seorang gadis yang dengan gampangnya masuk dalam jebakannya yang sudah ia rancang sedemikian rupa. Sudut bibir sang pemuda terangkat dengan licik ketika seorang gadis yang mengenakan dress pendek berwarna merah terang tersebut datang menghampirinya.


"Leo! Ya ampun! Gue seneng banget akhirnya Lo ngajak Gue dinner!" pekik sang gadis kemudian memeluk sang pemuda dengan singkat. Setelah itu, duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sang Kapten Basket.


Menatap semua makanan serta minuman yang sudah ada diatas meja, mata sang gadis memicing curiga. "Lo udah siapin ini semua? Kapan?"


"Lo nggak perlu tahu. Yang jelas, ini istimewa buat Lo. Mari makan, dan kita minum." ucap Leo menjelaskan dengan tatap yang begitu dalam. Tentu hal itu membuat Clara begitu terhipnotis dengan cepat, merasa tatapan itu begitu menggairahkan untuknya.


Meneguk secangkir minuman berwarna merah terang seperti dress yang ia kenakan, gadis itu kemudian terkekeh. "Jadi, maksud dan tujuan Lo ajak Gue dinner apa sih?"


Menyapu pandang pada sekeliling restoran dengan nuansa Luar Negeri tersebut, restoran yang sering disebut restoran Amerika. Mengangguk-angguk seolah begitu senang dibawa ketempat yang teramat indah tersebut. Pemuda dihadapan memang benar-benar pintar menyenangkan hati seorang wanita.


Melihat gadis dihadapannya sudah meminum secangkir saril yang ia suguhkan, bibirnya kembali terlukis senyum puas. "Tolong, jangan sakiti Laras lagi.'' ucapnya dengan tatap penuh harap.


Clara berdecih, kemudian tertawa. " Kenapa?"


"Clara, menyakiti orang itu ada hukumnya. Gue tahu, Lo yang kunci Laras di Kamar Mandi tadi siang kan? Dia sampai dibawa ke Rumah Sakit. Kekurangan oksigen. Kalau dia mati, Lo juga yang akan dipenjara." jelas sang pemuda dengan sabarnya. Menanti sebuah reaksi dari sang gadis yang sudah masuk dalam jebakannya.


"Gue nggak peduli. Selama Gue nggak bisa dapatin Lo, orang lain juga nggak akan bisa. Jadi, baik-baik deh Lo sama Gue." ucap sang gadis dengan tegas, kemudian ia mengibaskan tangannya didepan wajah jelita. "Gila! Panas banget!" keluhnya dengan keringat yang sudah mulai menghiasi keningnya.


"Kita pulang. Gue antar Lo." ucap Leo dengan cepat. Sang pemuda berdiri, kemudian beranjak menggandeng tangan sang gadis menuju mobilnya.


Sedang sang gadis yang semakin merasakan panas di sekujur tubuhnya hanya bisa menggeliat kesana kemari. Sesekali menatap pemuda disebelahnya yang tengah fokus menyetir itu dengan tatapan penuh pengharapan akan di jamahnya tubuh sintal tersebut.


'Teruslah menggila didalam mobil karena obat perangsang didalam saril yang Lo minum.' batin Leo dengan tatap puas. Terus memfokuskan diri untuk menyetir meski gadis disebelahnya ini sudah hampir membuka seluruh dress yang ia kenakan.


Memandang sekitar, keluar jendela. Kemudian, memberhentikan mobil yang ia kendarai dipinggir jalan yang sepi. Sangat sepi karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Saatnya beraksi untuk melancarkan rencananya.


Menatap Clara dibangku penumpang, sangat miris sekali. Dress yang dikenakan gadis itu sudah terbuka bagian atasnya hingga menampilkan dua gundukan kenyal yang dibalut oleh bra berwarna hitam pekat. Terlihat, gadis itu terus *******-***** *********** sendiri dengan mata terpejam. Mendesah kenikmatan akibat ulah tangannya sendiri.


"Saatnya merekam pertunjukkan."


Tengah sibuk memasang kamera yang mengarah kepada sang gadis, tiba-tiba saja gadis itu menyerangnya. Meraih kepala sang pemuda hingga tiba-tiba meraup bibir merah alaminya. Menyesap dan mengecap hingga penuh dengan desah-desah kenikmatan.

__ADS_1


Leo merasa tidak bisa bernafas, kemudian melepaskan tautan bibirnya dengan Clara. Bukan, ini bukan yang pertama kali untuk Leo dan Clara berciuman bibir. Dulu, saat Leo menarget Clara untuk menjadi taruhannya, saat itu ia pernah melakukan ciuman bibir penuh keintiman dengan sang gadis.


"Sialan!" maki Leo dengan kasar. Kemudian, pemuda itu keluar dari mobil. Meraih ponselnya disaku celana kemudian menghubungi seseorang. "Cepat kesini!" titahnya.


Tak perlu menunggu lama, sebuah mobil Pajero keluaran terbaru meluncur kearahnya. Kemudian, berhenti tepat didepan mobil yang tadi dikendarai oleh Leo. "Eksekusi tuh cewek. Terus videonya kirim ke Gue ya. Jangan lupa kembalikan ke Apartemennya. Alamatnya udah Gue kirim ke ponsel Lo." ucap Sang Kapten Basket.


"Siap!"


Dua pemuda itu bertukar kunci mobil, kemudian Leo melenggang menuju Pajero yang tadi dikendarai oleh pemuda tampan yang kini sudah memasuki mobil Leo.


"Haha, makan malam siap." ucap sang pemuda dengan tatapan penuh gairah kearah Clara. Kembali memposisikan kamera yang dipasang Leo hingga mengarah hanya kepada gadis itu saja.


***


Pagi ini, Luna kembali terpekik senang entah untuk yang ke berapa kalinya karena melihat sang sahabat sudah hadir kembali di Sekolah, bersamanya.


Dua hari harus menjalani perawatan intensif, membuat Luna merasa kesepian karena tidak punya teman lain selain Laras.


"Gue senang banget akhirnya Lo sekolah lagi.'' ucap sang gadis sembari memeluk tubuh Laras.


"Lo nggak cerita ke Pak Irawan yang sebenarnya?"


Menggeleng. "Gue nggak mau urusannya tambah panjang nanti."


"Tapi seenggaknya Clara dapat hukuman Ras."


"Udahlah, biarin aja. Gue juga udah bilang kan sama Leo buat nggak ganggu Gue. Karena sebenarnya yang harus dikasih hukuman itu Leo. Kalau Gue cerita ke Bokap Gue, nanti Bokap Gue malah benci sama Leo. Makin runyam deh."


Menaiki anak tangga satu persatu menuju kelasnya, dua gadis cantik itu kemudian dihadang langkah kakinya oleh seorang pemuda yang baru saja mereka perbincangkan.


"Mau apa lagi sih?" kesal Laras menatap pada sang pemuda yang terlihat berbeda hari ini. Begitu dingin, dan raut wajahnya datar. Namun, sorot mata itu selalu tajam menatap. Menghujam hati Laras hingga titik terdalam.


"Gue mau ngomong sama Lo." ucap Leo kemudian tanpa aba-aba menarik tangan sang gadis. Menjauh dari Luna yang hanya bisa terdiam menatap kepergian sahabatnya. Gadis yang memiliki saudara kembar itu menggelengkan kepalanya pelan, kemudian mulai beranjak menuju kelasnya seorang diri. Biarlah urusan cinta sang sahabat diselesaikan dengan sendirinya. Toh kisah cinta yang kini ia jalani juga terbilang sangat rumit.


***


Mendudukkan tubuh sexy nan sintal itu di kursi kantin, Leo kemudian turut duduk dihadapan sang gadis. Menatap serius. "Lomba Basket nanti, Lo datang ya Ras." pinta sang pemuda dengan penuh harap.

__ADS_1


"Malas. Mending tidur." ucap sang gadis dengan santainya. Menyeruput sebuah minuman hangat yang sudah dipesankan oleh Leo beberapa saat yang lalu.


"Gue harus apa biar Lo maafin Gue?"


"Maaf? Emangnya Lo ngapain?" tanya sang gadis dengan raut wajah bingung.


"Lo marah sama Gue karena Clara buat Lo celaka."


"Tentu lah! Dan jalan satu-satunya itu Lo harus jauhin Gue!"


Leo menghembus nafasnya sejenak. "Gue udah bikin perhitungan sama Clara. Gue jamin--"


"Kemarin Lo juga bilang gitu waktu Clara buat jari-jari Gue memar." potong Laras dengan cepat, masih dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Enggak Ras. Kali ini Gue jamin nggak akan ada lagi Clara dalam hidup Lo." jelas Leo dengan yakin.


Melihat tatap ketegasan yang diberikan Leo, sedikit membuat hati Laras meluluh. Ia anggukkan kepalanya sembari berucap, "Gue pegang ya omongan Lo! Kalau sampai Clara buat Gue celaka lagi, awas aja Lo!"


Leo terkekeh. Diancam sedemikian rupa oleh gadis cantik pujaannya sungguh menggemaskan. "Jadi, Lo mau lihat lomba basket Gue kan?"


"Nggak!" tetap berkata dengan tegas dan yakin, membuat Leo sedikit kecewa dengan keputusan sang gadis. Namun, bukankah gadis itu memiliki sifat yang sangat keras kepala hingga tidak akan ada yang bisa merubah keputusannya kecuali moodnya sendiri.


"Gue harus apa sih Ras biar Lo buka hati buat Gue?"


Pertanyaan yang sungguh diluar perkiraan sang gadis. Menatap dengan bingung, ada sorot kekecewaan dalam mata sang Kapten Basket.


"Nggak ada." jawab sang gadis dengan cepat. Bingung harus menjawab dengan kata-kata seperti apa. Hingga hanya kata seperti itu yang bisa ia berikan kepada sang pemuda.


"Apa benar-benar nggak ada tempat buat Gue dihati Lo?" terus bertanya sembari menatap sang gadis lebih dalam. Pemuda itu hanya ingin sebuah kepastian jika kehadirannya tidak mengganggu hidup sang gadis seperti yang Laras ucapkan beberapa hari yang lalu saat di Rumah Sakit.


"Apa Lo nggak ada rasa tertarik sama Gue sedikitpun?"


"Apa Gue benar-benar mengganggu hidup Lo?"


"Apa Gue harus benar-benar pergi dari hidup Lo.?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2