Mengejar Cinta Cewek Galak

Mengejar Cinta Cewek Galak
Bab 9 - Tolongin Gue


__ADS_3

Leo berjalan seorang diri di lorong yang sepi. Sorot matanya menyapu pandang kesana kemari, kemudian langkah kakinya hendak beranjak menuju sebuah tempat yang ia yakini ada seorang gadis yang tengah ia cari.


Akhir-akhir ini, Leo begitu disibukkan dengan misinya mendekati Laras. Sama halnya dengan Bara dan Bayu. Namun, bukanlah Laras tidak sama dengan Luna? Gadis itu bukan sebuah target taruhan.


"Mau kemana?" tanya seorang gadis dengan suara lembutnya. Begitu sensual, menggoda, dan merayu. Namun justru, sang pemuda yang ditanya malah mengabaikannya begitu saja.


Tentu sang gadis tidak akan tinggal diam, ia meraih lengan Leo hingga keduanya berhadapan. "Bunganya buat Gue kan?" tanya sang gadis untuk yang kedua kalinya. Matanya melirik kearah bunga mawar putih yang berada digenggaman tangan sang pemuda.


"Buat Laras." ucap Leo dengan tegas dan yakin. Menatap tajam kepada gadis dihadapannya yang sejak dulu selalu menaruh rasa padanya.


Melihat kancing seragam sang gadis yang terbuka pada bagian atas, Leo mendengus kesal. Pemandangan yang indah, bisa melihat dua gundukan kenyal yang menyembul saat ia melihat dari atas. Tinggi badan yang melebihi tinggi sang gadis mampu melihat dua gundukan itu tanpa bersusah payah.


"Gue dulu yang berjuang buat dapatin Lo. Kenapa Lo nggak pernah lihat itu Leo? Gue bahkan terima saat Lo cuma jadiin Gue bahan taruhan, gue terima apa adanya. Kenapa Lo malah pergi dari Gue?"


"Karena sejak awal, Gue emang nggak pernah tertarik sama Lo. Nggak pernah ada alasan untuk Gue menetap sama Lo."


Melangkah pergi, meninggalkan Ketua Cheerleader itu seorang diri di lorong sepi. Leo bergegas menghampiri gadis yang akan ia berikan bunga di genggamannya.


Gadis yang kini tengah tertawa terpingkal-pingkal bersama sahabatnya. Ah, tawa itu. Ingin selalu Leo lihat dalam setiap waktu. Tawa yang mampu menghipnotisnya. Tawa yang mampu membuatnya ikut tertawa ketika mendengar.


"Ini buat Lo." ucap sang pemuda ketika sudah berada didekat Laras. Mengambil alih kursi disebelah sang gadis, kemudian menyerahkan bunga mawar putih kehadapan sang gadis.


"Mawar putih? Lo tahu darimana Gue suka mawar putih?"


Leo terkekeh. "Gue selalu tahu apapun tentang Lo."


Laras mendengus. Mengambil alih mawar putih dari tangan sang pemuda, lalu menghirup aroma menyejukkan itu dalam-dalam. Meminta sang sahabat untuk ikut menghirupnya.


Gadis itu selalu suka aroma yang menenangkan, seperti aroma bunga mawar putih yang kini berada dalam genggamannya. Bunga mawar putih dianggap mewakili kemurnian dan keanggunan. Bahkan, pengantin tradisional mengenakan renda putih dan membawa mawar putih sebagai simbol kesucian.


Menandakan cinta murni


Jika mawar merah identik dengan cinta yang penuh gairah. Sementara itu, mawar putih menandakan cinta murni. Dan Laras selalu mendambakan cinta yang murni, tulus, dan menerima apa adanya.

__ADS_1


"Enak ya aromanya. Nggak terlalu wangi, tapi bikin nyaman." pungkas Luna memberikan pendapatnya tentang mawar putih tersebut.


Laras mengangguk. "Itu sebabnya Gue suka mawar putih. Terimakasih Leo."


"Terimakasih kembali karena Lo udah mau nerima pemberian Gue." tanggap Leo tersenyum penuh percaya diri.


"Gue selalu nerima pemberian orang, apapun itu. Entah nanti akhirnya Gue buang atau Gue pake, yang penting diterima dulu." ucap Laras mengendikkan bahunya. Membuat Luna terkekeh sembari menunduk, takut dianggap mengejek sang pemuda.


"Bara dimana Kak?" tanya Luna dengan cepat, menghadang Leo untuk berbicara panjang lebar kepada sahabatnya.


"Sibuk." jawab Leo dengan singkat, padahal pemuda itu sama sekali tidak tahu dimana Bara berada.


"Aduh, Gue ke toilet dulu ya." ucap Laras dengan tiba-tiba. Tanpa menunggu jawaban dua manusia disebelah dan dihadapannya tersebut, ia langsung berlari ngibrit ke arah toilet.


"Keknya udah diujung tanduk." ucap Leo menatap kepergian Laras dengan prihatin.


Dari kejauhan, seseorang menatap adegan demi adegan yang terjadi antara Leo dan Laras. Senyum liciknya tersungging dibibir merah tersebut.


"I got you."


"Ah, leganya." gumam Laras dengan senang. Air seni yang sedari tadi ingin keluar namun ia tahan akhirnya terbuang dengan cepat. Membuat hatinya merasa lega.


Kemudian, gadis itu kembali memakai seragamnya. Rok yang semula ia tarik ke atas kini sudah ia benahi hingga rapi kembali.


Namun ketika hendak membuka pintu kamar mandi, keningnya mengernyit. Kunci di pintu sudah ia buka, namun kenapa pintunya tak kunjung bisa dibuka?


"Kenapa nih pintu?" gumam Laras sembari terus memutar-mutar gagang pintu yang terasa percuma. Tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Wah sialan! Gue terkunci dari luar!" pungkas sang gadis merasa yakin bahwa ia terkunci dari luar.


Mencoba menggedor-gedor pintu dengan berteriak nyaring.


"Woi! Bukain! Siapapun! Tolongin Gue!" teriaknya dengan kencang. Namun, suaranya malah memantul seolah tidak terdengar dari luar.

__ADS_1


Kembali menggedor-gedor pintu dengan kalap, kembali berteriak, namun tetap tidak ada suara siapapun diluar. Hati gadis itu berdebar hebat, bagaimana jika ia terus terkunci dikamar mandi tersebut hingga pagi besok? Atau, bahkan hingga besoknya lagi? Bukankah ia akan mati konyol jika itu terjadi?


"Hai Laras." suara seorang gadis terdengar begitu nyaring ditelinga Laras. Yakin jika didepan pintu kamar mandi ada seseorang yang berbicara kepadanya.


"Hallo, siapapun Lo! Tolongin Gue dong! Gue terkunci nih!" teriak Laras sembari terus menggedor-gedor pintu.


Terdengar tawa justru berderai dari seseorang diluar sana. "Percuma dong Gue kunci nih pintu kalau akhirnya Gue juga yang harus buka."


Laras mematung. Jantungnya semakin berdegup dengan kencang bahkan lebih kencang dari pembalap moto GP sekalipun.


"Sialan! Lo Clara kan? Woi! Bukain pintunya! Lo bakalan menyesal udah main-main sama Gue!" teriak Laras dengan kalap. Bingung harus berbuat apa agar ia bebas dari kurungan tersebut.


Kembali, tawa terdengar berderai dari bibir gadis licik itu. "Lo yang akan menyesal karena udah berani dekat sama Leo. Harus Lo tahu dan harus Lo ingat kalau Leo itu cuma milik Gue!"


Gadis didalam kamar mandi itu menepuk jidatnya, kesal dan marah bercampur menjadi satu. Membuatnya ingin meluapkan kemurkaannya detik itu juga. "Lagi lagi karena Leo!" gumam sang gadis dengan pasrah.


"Selama Lo masih dekat sama Leo, selama itu pula Gue akan terus berbuat yang kejam sama Lo. Bahkan lebih kejam daripada ini!" suara Clara kembali terdengar.


"Sekarang, Lo nikmati hidup Lo didalam kamar mandi sampai ada orang yang mau bantuin Lo!"


Suara hentakan kaki menjauh mulai terdengar. Yakin jika gadis didepan pintu kamar mandi tersebut sudah pergi entah kemana. Yang jelas, tidak ada lagi siapapun orang didalam ruang kamar mandi yang luas tersebut. Hanya ada Laras seorang.


"Sialan! Leo lagi Leo lagi!"


Meraba kantong seragam, mencoba mencari sebuah benda pintar yang selalu ia kantongi, namun nihil. Tidak ada sama sekali. Ia baru ingat jika ponselnya diletakkan dimeja kantin saat ia menyantap bakso ternikmat itu bersama Luna.


"Sampai kapan Gue disini." bingung sang gadis sembari duduk diatas closet yang tertutup.


"Leo, Gue benar-benar nggak tahu harus gimana menghadapi Lo sama Clara."


"Setelah ini, Gue harap Lo mau berhenti ngejar-ngejar Gue." terus bermonolog dengan pandangan yang kosong. Hanya itu yang bisa Laras lakukan saat ini selain berdoa agar ada yang mau menolongnya.


"Capek banget Gue harus berurusan terus sama nenek lampir itu." mengusap wajah yang sudah dibanjiri oleh peluh, terasa sangat frustasi.

__ADS_1


"Setelah ini, Gue harap nggak akan ada lagi Lo dalam hidup Gue."


BERSAMBUNG...


__ADS_2