
Sore ini Leo sudah berhasil memaksa Laras untuk boleh diantarkan pulang olehnya. Sekalian, pemuda itu ingin menjalankan ide yang telah diberikan Bara siang tadi. Hanya satu tujuannya, yaitu memberantas benalu bernama Clara. Agar apa yang ingin ia lakukan kepada Laras tidak lagi terhalang. Agar gadis yang ia cintai itu pun tidak merasa ketakutan lagi setiap ingin dekat dengannya.
"Gue masuk ya, makasih udah anterin." ucap Laras sembari menyerahkan sebuah helm kepada pemiliknya.
"Ras, Om Irawan dirumah?" meraih benda bundar itu dari tangan sang gadis kemudian meletakkannya didepan perut sixpacknya.
Laras mengernyit heran mendengar pertanyaan sang pemuda. Mata gadis itu langsung memicing curiga. "Ada, mau apa Lo? Jangan aneh-aneh!" ucap sang gadis sembari menudingkan jari telunjuknya didepan wajah sang pemuda.
"Mau minta dinikahin sama Lo." jawab Leo sembari memainkan alisnya, menggoda sang gadis yang kini hanya bisa berdecih kemudian lari terbirit-birit kedalam rumah tanpa mengatakan apapun.
Pemuda itu terkekeh pelan, kemudian beranjak mengikuti langkah sang gadis kedalam rumah. Seringnya Leo berkunjung kerumah Irawan membuatnya sudah dianggap seperti anak oleh sang pemilik rumah itu sendiri.
"Sore Om!" sapa sang pemuda kemudian mencium punggung tangan Irawan dengan santainya. Sudah menganggap Irawan sebagai orangtuanya sendiri. Bagaimana tidak? Jika anak gadis Irawan saja sudah ia anggap sebagai calon istrinya. Ckckck.
"Selamat sore Leo. Tumben sekali kamu kesini? Ada apa?" tanya sang Ayah kemudian mengajak Leo untuk duduk bersama di sofa ruang tamu yang selalu Leo singgahi hampir di setiap malam minggu. Pemilik rumah itupun sudah hafal dengan minuman apa yang selalu Leo minum setiap kali datang kerumah besarnya ini.
"Iya Om, tadi sekalian antar Laras pulang. Sekalian mau bilang sesuatu." ucap Leo langsung pada inti permasalahannya.
"Oh, kamu yang antar Laras pulang?" kejut Irawan tersenyum senang. Berpikir, anak gadisnya itu mungkin sudah luluh dengan pemuda dihadapannya itu hingga mau diantarkan pulang. Biasanya, gadis cerewet itu selalu ogah-ogahan setiap kali Leo datang mengajaknya kencan meski hanya 1 jam lamanya.
"Terimakasih ya! Memangnya, mau bicara apa?"
"Jadi begini Om," ucap Leo sembari menyamankan cara duduknya, kemudian mulai mengucap sesuatu yang menjadi pengganggu utama dalam perjuangannya mendapatkan hati Laras.
Menceritakan seluruh kerusuhan yang Clara ciptakan, hingga sesekali Irawan terlihat terhentak kaget dengan ucapan yang diberikan oleh Leo. Juga akhirnya mengerti sebab mengapa Clara sedemikian berani terhadap Laras dan Leo.
"Mungkin karena Clara sudah kamu jadikan bahan taruhan, makanya dia tidak terima?" ucap Irawan memberikan opininya sembari menatap Leo dengan kening mengernyit.
"Dia jatuh cinta beneran Om sama saya. Tapi, saya buat taruhan dia itu waktu saya sama dia sama-sama kelas 1 SMA dulu."
__ADS_1
"Jadi, Om bisa kan bantu saya?" pungkas sang pemuda ketika ia sudah selesai menceritakan keluh kesahnya. Terlihat, pria paruh baya itu tengah berpikir sesuatu.
"Memangnya kamu serius sama anak saya?" tanyanya dengan sorot mata yang serius.
"Ya serius dong Om! Sebentar lagi Ujian, kelulusan, saya kuliah, terus selesai kuliah nanti saya akan melanjutkan usaha Ayah saya. Saya akan menikahi Laras." ucap sang pemuda meyakinkan sang Ayah.
"Rencanamu memang bagus Leo. Saya sebagai orang tua tentunya bahagia kalau ada yang mau serius dengan anak saya. Tapi, menikah bukan sesuatu yang mudah. Perjalanan kalian masih panjang, bisa saja suatu saat nanti kamu bosan dengan Laras kemudian kalian berpisah?''
" Setidaknya selalu ada perjuangan yang saya lakukan untuk menghempas semua rasa bosan itu Om. Jika pada akhirnya nanti saya kalah, atau bahkan Laras juga kalah, kita akan saling menerima takdir kalau kita memang tidak berjodoh. Yang terpenting saat ini Om. Saat ini tidak ada yang mengganggu saya buat dapatin Laras."
"Kalau Clara terus-terusan mengganggu saya, Laras bakalan menjauh dari saya. Dia nggak bakal mau dekat-dekat sama saya lagi."
Irawan menghela nafas panjang mendengar semua ocehan Leo. "Baiklah, saya bantu kamu. Tapi, tolong jangan sakiti anak saya. Ya?"
"Pasti Om! Leo akan selalu menjaga Laras dari siapapun yang akan jahat sama dia!"
Usai sudah masalah yang mengganggu pikiran Leo saat ini. Misinya untuk mencari pertolongan kepada calon Ayah mertuanya sangat berhasil dan membuahkan hasil. Untuk saat ini, tidak ada lagi yang menganggu acara pendekatannya kepada gadis cantik bernama Laras tersebut. Ya, untuk saat ini.
"Jadi, Lo mau ke Amerika?" tanya Leo kepada sahabatnya yang duduk disebelahnya. Hari ini, ia meluangkan waktunya untuk berbicara berdua dengan sang pemuda. Sahabat yang sudah lama tidak pernah ia ajak ketempat favorit mereka lagi. Rooftop atas gedung sekolah.
Dia, Bara, dan juga Bayu adalah tiga manusia yang sudah bersahabat sejak dulu. Sudah saling mengenal sifat dan sikap satu sama lain. Namun, sejak hadirnya seorang gadis duo kembar bersama satu gadis bernama Laras itu, ketiganya hambar. Tidak ada lagi tongkrongan setiap pagi, atau siang, bahkan sore dan malam sekalipun. Bara dan Bayu yang sibuk mendekati Lula dan Luna, sedang ia juga sibuk menyelesaikan masalahnya dengan Clara dan mendekati Laras.
"Mau gimana lagi, nggak ada harapan buat Gue ada disini lagi." ucap Bara sembari menatap jauh ke depan. Pada langit sore yang sebentar lagi akan menghitam warnanya.
"Luna?"
Terdengar, Bara berdecih dengan sinis. "Dia jatuh cinta sama Bayu."
Leo menghela nafas panjang, merasa bersalah dengan pemuda disebelahnya ini. "Maafin Gue. Karena taruhan konyol itu, hati Lo yang jadi korban."
__ADS_1
"Nggak ada yang perlu dimintai maaf. Jauh sebelum Gue jatuh cinta sama Luna, Gue emang udah mundur dari taruhan itu kan?"
Leo mengangguk sebentar, kemudian kembali menatap sahabatnya disebelah. "Gue sendirian disini kalau Lo ke Amerika."
"Laras?"
Leo terkekeh sembari tersenyum salah tingkah. "Gue masih perjuangin dia."
"Perjuangin selagi Lo bisa. Selagi dia nerima. Sebelum Lo nanti menyesal.'' pesan Bara kepada sahabatnya. Teringat dengan perjuangannya sendiri yang tidak semulus perjuangan Leo kepada Laras.
" Lo udah minta bantuan Pak Irawan?'' tanya Bara memecah keheningan sore ini.
"Udah. Waktu itu Gue antar Laras sekalian ngomong sama Pak Irawan. Dan beliau juga mau bantu." cerita Leo mengenang pertemuannya dengan calon mertuanya.
"Jadi, Lo udah dikasih restu sama Beliau?"
"Bisa jadi." kekeh Leo sembari menggelengkan kepalanya dengan gemas. Membuat Bara ikut terkekeh dengan sendirinya.
"Yang terpenting saat ini, Clara udah nggak gangguin Gue lagi sama Laras." pungkas Leo sembari merenggangkan tangannya, menghirup udara sedalam-dalamnya.
"Semoga, kisah cinta Lo sukses ya! Tanpa hambatan kayak Gue!" ucap Bara menepuk pelan pundak sahabatnya kemudian tertawa bersama sang pemuda.
"Semoga nanti, Lo akan mendapat kebahagiaan di Amerika meskipun bukan Luna orangnya." ucap Leo dengan serius. Menatap sendu kepada sahabat sejatinya. Sahabat yang akan selalu ia kenang, meski nanti mereka sudah tidak bersama lagi. Pada dasarnya, tiga manusia tampan itu adalah sahabat terbaik untuk satu sama lain. Rasa cinta yang menggebu lah yang membuat semuanya terasa semakin runyam antara Bayu dan Bara. Membuat keduanya selalu bersitegang setiap kali bertemu.
"Ya! Lo benar! Gue harus menemukan kebahagiaan Gue disana, meski tidak bersama Luna." pungkas Bara dengan senyum gamangnya.
BERSAMBUNG...
YANG MAU BACA CERITA BARA DAN BAYU ADA DI NOVEL AUTHOR YANG BERJUDUL "DIBALIK SENJA" TERIMAKASIH !!!!
__ADS_1