
Mendengar keheningan yang tercipta di dalam kamar, Nayara membalikkan badannya menatap ke seluruh ruangan. Sudah tak ada tanda-tanda sang suami berada di dalam kamar ini. Ke mana perginya dia? Apakah pergi menemui adiknya itu? Batin Nayara bertanya.
Wanita itu mendudukan dirinya, kemudian menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa, dia memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya kembali. Embusan nafasnya tidak teratur. Nayara meraih sebuah catatan kecil yang bernama Diary Book di bawah bantalnya. Dia meletakkannya di sana semenjak berpindah kemari.
Dia membuka lembaran kertas itu perlahan, lalu memulai menulis tentang apa yang dia rasakan saat ini. Buku kecil itu menjadi saksi atas kepedihan yang dia rasa, buku kecil yang menyimpan sejuta kepahitan dan kepedihan yang di alami gadis manis itu.
“Aku tak tahu kapan aku menutup usiaku, Tuhan. Tetapi sebelum aku menutup usiaku, kumohon izinkan aku untuk berbahagia dengan takdirku walau sebentar saja.”
Nayara menuliskan sebuah catatan singkat di buku miliknya itu. Butiran bening menetes dari kelopak mata indah itu, rasa sesak dan haru mulai merayap perlahan masuk ke dalam hati.
“Kau belum tidur?”
__ADS_1
Suara itu membuat Nayara terperanjat kaget, dia dengan cepat menyembunyikan buku kecil itu agar tak diketahui oleh Dave. Dia tidak ingin Dave—laki-laki yang saat ini bersamanya tahu tentang segala apa yang dia sembunyikan.
Biarlah semua rasa sakit. Dia yang menanggungnya sendiri.
“Be-belum, kau dari mana saja?” tanya Nayara dengan sedikit gugup, dia mencoba bersikap netral di hadapan pria itu.
“Mencari udara segar.” Dave berjalan masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu kamar dengan cepat. Langkah kakinya mendekat ke arah ranjang, di mana Nayara berada. “Apa yang kau sembunyikan dariku?” Dia bertanya heran melihat tangan Nayara berada di belakang tubuhnya.
Nayara yang mendengar pertanyaan itu membulatkan bola matanya dengan penuh. “Tidak ada yang aku sembunyikan.” Dia berusaha untuk tetap tenang saat pertanyaan yang menjebaknya itu mulai keluar, membuatnya tak nyaman.
“T-tidak ada!” pekik Nayara refleks saat Dave menarik lengannya. Buku yang ada di dalam genggamannya itu terpelanting jatuh ke atas lantai hingga menimbulkan suaranya.
__ADS_1
“Kau membohongiku?” Dave melontarkan tatapan tajam, bola matanya melirik ke arah buku kecil bewarna pink yang terjatuh di atas lantai. “Nay, apa itu?” selidiknya.
Nayara terdiam di tempatnya, tubuhnya seakan membeku tiba-tiba. Bibir ranumnya terbungkam. Tak mampu untuk berbicara pada laki-laki yang menuntut jawaban yang pasti darinya. “Tidak ada yang aku tutupi darimu, Dave.”
“Tidak ada?” Dave berdecak kesal. “Lalu itu apa?” Laki-laki itu menggeram. Dia bangkit dari tempatnya duduk dan berniat mengambil benda kecil itu. Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh Nayara?
Nayara hanya bisa pasrah dengan keadaan. Entah apa yang akan terjadi setelahnya.
***
Seorang pria tengah menunggu di sebuah ruang perawatan, menunggu sang pujaan hati tercinta untuk membuka kelopak matanya. Dia ingin menjadi orang pertama yang dilihat si gadis saat membuka matanya. Menunggu tanpa lelah dan letih.
__ADS_1
“Kapan kau akan sadar? Aku tahu bahwa kau adalah anak yang kuat, Angeli. Kau tidak lemah. Ayo buka matamu, aku di sini, di sini menemanimu.” Darren mengelus punggung tangan wanitanya, dia sangat mencintai wanita ini. Meski dia tahu bahwa hati wanita yang dia cintai bukanlah miliknya.
Tapi tak mengapa meski cinta itu bertepuk sebelah tangan.