
Keesokan Harinya.
Nayara bangun lebih awal, wanita itu tak lupa untuk langsung membersihkan diri di dalam kamar mandi. Setelahnya, wanita itu langsung bersiap-siap menggunakan pakaian santai agar suaminya tidak curiga dengan dirinya, sebab dia harus pergi ke rumah sakit untuk mengecek keadaan dirinya tanpa ada satu pun orang yang mengetahui itu.
Ia tidak ingin penyakit yang ia idap diketahui banyak orang, apalagi suaminya. Biarkan semua ini menjadi rahasia sampai ia menutup kedua matanya.
Nayara telah selesai bersiap pun segera berjalan keluar dari dalam kamar, meninggalkan suaminya yang masih tertidur pulas di atas ranjang seorang diri.
“Kakak Ipar, kau mau ke mana pagi-pagi seperti ini?”
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Davi membuat Nayara menghentikan langkah kakinya. Perempuan itu sontak membalikkan badannya, menatap ke arah Davi berada.
“Eemm, tidak ada Davi.” Nayara berbohong, wanita itu tampak begitu kaku di hadapan Davi hingga membuat Davi menjadi heran. “A-aku hanya ingin pergi mengelilingi Mansion untuk mencari udara segar saja. Apa itu tidak boleh?” kata Nayara, wanita itu mencoba mengelabuhi Davi.
“Tentu saja boleh Kakak Ipar,” kata Davi, pria itu tersenyum ramah. “Ya sudah kalau begitu, Kak. Aku tinggal dulu, ya? Jaga dirimu baik-baik.”
“Dah, Davi.”
Nayara mengembangkan senyuman indah di wajahnya sembari menatap kepergian adik iparnya sampai menghilang dari pandangan matanya. Perempuan itu bernafas dengan legah saat ia berhasil membohongi Davi.
Dengan gerak cepat Nayara pergi meninggalkan rumah mewah itu. Ia pergi berjalan kaki keluar dari sana secara diam-diam. Lalu, Nayara pun memesan sebuah taxi setelah berada sedikit jauh dari area rumah.
Tak lama kemudian taxi yang ia pesan telah tiba.
Nayara masuk ke dalam sana.
“Pak, tolong antarkan saya ke Rumah Sakit Axxxx, ya?” pintanya pada sang supir.
“Baik, Non. Kita jalan sekarang.”
Supir melajukan mobil dengan kecepatan sedang, menempuh jalan raya yang masih sepi menuju ke jalan raya perkotaan.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian mobil taxi yang membawa Nayara sudah tiba di Rumah Sakit yang dituju. Nayara mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu memberikannya pada sang supir. Wanita itu turun dari dalam kabin mobil, dan tak lupa menutup pintunya kembali.
“Terima kasih banyak, Pak.”
Nayara tak lupa selalu berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantunya.
Perempuan itu segera melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam rumah sakit. Ia telah membuat janji temu dengan salah satu Dokter spesialis terbaik yang bisa menangani penyakit yang telah ia derita sejak beberapa tahun lalu.
“Sus, apakah Dokter Richard sudah ada di ruangannya? Saya sudah membuat janji temu dengan beliau,” tanya Nayara pada salah satu Suster yang baru saja keluar dari dalam ruangan sang Dokter.
“Dengan Ibu Nayara, ya?” tanya Suster itu.
Nayara mengangguk. “Benar, Sus,” jawabnya.
“Dokter ada di dalam, silakan masuk!” perintah Suster.
Nayara tersenyum, kemudian segera membawa kedua kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Good morning, Dok. How are you today?” Nayara menyapa dengan ramah dan tak lupa untuk berjabat tangan terlebih dahulu.
“I’m fine, Nayara.” Dokter menerima jabatan tangan. “Bagaimana keadaanmu hari ini? Kau sudah merasa lebih baik? Atau sebaliknya?” tanya sang Dokter langsung.
“Tidak, Dok.”
Nayara mendudukkan dirinya di sebuah kursi di hadapan sang Dokter.
“Aku merasa bahwa tubuhku semakin lama semakin tidak bisa dikontrol dengan obat-obatan lagi,” jelasnya. “Obat-obatan yang Anda kasih seperti tidak memiliki fungsinya lagi, Dok. Dan aku merasa bahwa aku sudah tidak memiliki harapan untuk bisa sembuh, karena rasa sakit itu begitu hebat menyerang diriku.”
Dokter Richard bisa melihat ada banyak kesedihan di dalam mata Nayara. Ia ikut merasakan duka itu.
“Aku tahu rasa sakitmu, Nay.” Dokter itu bangkit. “Apakah rambutmu sudah mulai habis?” tanya Dokter itu lagi.
Nayara mengangguk. “Setiap harinya rambutku selalu rontok dengan sangat banyak, Dok. Apakah Dokter ingin melihat bagaimana kondisi rambutku saat ini?” tanya Nayara.
__ADS_1
Dokter mengamati wajah Nayara. Nayara pun segera melepaskan wig yang ia kenakan. Ia memperlihatkan bagaimana rambut aslinya di hadapan sang Dokter.
Reaksi sang Dokter sama sekali tidak terkejut karena ia sudah terbiasa melihat para pasiennya dengan kondisi yang serupa. Sebab, pasien yang ia tangani bukan hanya Nayara, melainkan ada banyak. Namun sayangnya tidak ada satu pun pasiennya yang berhasil sembuh melawan kanker otak stadium akhir.
“Sudah sangat parah, Nay. Ada baiknya di cukur habis,” kata sang Dokter memberikan saran pada Nayara.
Nayara menatap penuh harap. “Apakah penyakit ini memang benar-benar tidak ada obatnya, Dok?” tanya Nayara, harapannya untuk sembuh di dalam dirinya masih tersimpan meskipun hanya sedikit.
Dokter Richard mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Jika dirimu memiliki keinginan untuk benar-benar sembuh, maka Tuhan pun pasti akan membantumu Nay,” ucap Dokter Richard. “Apa kau selalu menggunakan wig bila bersama suamimu?” tanya Dokter ingin tahu.
Nayara tak bisa berbohong. “Ya, Dok. Aku belum menceritakan apa pun padanya mengenai kondisiku saat ini sejak dari awal kami menikah,” papar Nayara.
Buliran bening jatuh membasahi kedua pipi Nayara hingga membuat kertas putih yang ada di atas meja di hadapannya menjadi basah. Entah mengapa hatinya mendadak nyeri ketika ia mengingat tentang Dave, suaminya. Bagaimana keadaan Dave setelah mengetahui bahwa istrinya ini penyakitan? Mampukah Dave menerima dirinya yang bernotabene memiliki penyakit ganas yang membuat hidupnya tidak akan bisa bertahan lama di Dunia ini?
“Why, Nayara?” tanya sang Dokter heran.
“Aku tidak sanggup menjelaskan semuanya, Dok,” kata Nayara dengan isak tangisnya.
“Kau harus memberitahunya secepat mungkin sebelum semuanya terlambat. Setidaknya sebelum kau menutup usiamu, kau harus berkata jujur padanya,” saran Dokter. “Bagaimanapun juga dia berhak tahu tentang istrinya!” imbuh Dokter Richard.
“Please, Dok.” Nayara semakin terisak, air matanya turun semakin deras hingga membuat Dokter ikut meneteskan air matanya. “Aku tidak ingin kedua orang tuaku menjadi empuh kemarahan suamiku bila dia mengetahui semuanya. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Jika pun Tuhan memanggilku untuk pergi sekarang, aku akan pergi dalam damai.”
Dokter Richard memejamkan kedua matanya sejenak, pria paruh baya itu mencoba mengusir rasa sesak yang bersarang di dalam dadanya. Melihat kondisi Nayara yang semakin hari semakin memburuk membuat sang Dokter kembali mengingat kenangan pahitnya dulu, di mana anak perempuannya juga mengalami hal sama seperti yang di alami oleh Nayara.
Anak perempuannya pergi setelah ia tidak kuat untuk berjuang melawan penyakit ganasnya.
“Persiapkan dirimu, aku akan meminta para team untuk memeriksa keadaanmu sekarang. Kau harus melakukan banyak kemoterapi!” kata Dokter dengan tegas.
“Baik, Dok. Aku akan mempersiapkan diriku.”
__ADS_1