
Keheningan tercipta di antara mereka berdua. Suasana hati Lucio kian memburuk disaat sikap Devania terlalu berlebihan menurutnya. Entah ada apa dengannya, dia sendiri juga tidak tahu.
Devania yang merasa tidak enak hati pun merasa bersalah karena telah membuat Lucio kini berdiam diri saja di hadapannya. Wanita itu perlahan menaikkan pandangan matanya menatap pria yang sedang melamun tanpa menatap ke arahnya. Sepertinya ada sesuatu yang tengah mengusik pikiran Lucio, pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Hei!” Devania mengibaskan tangannya ke hadapan Lucio. “Mengapa kau melamun saja?” Devania mencoba mencairkan suasana canggung di antara mereka.
Lucio mendesahkan nafasnya pelan ke udara, lalu membalas tatapan bocah kecil itu di hadapannya. “Tidak ada.” Dia menggelengkan kepalanya berulang kali. “Seperti yang kau lihat tidak ada apa-apa, memangnya apa yang kau pikirkan tentangku?” Alisnya terangkat ke atas menatap Devania sedikit sinis.
Devania memajukan bibirnya ke depan. “Kau terlalu cuek, dan tidak asik. Aku tidak suka itu!” celetuk Devania blak-blakan di hadapannya.
Lucio mengangkat kedua bahunya, menatap Devania dengan tajam. “Lalu apa yang harus aku lakukan padamu? Bukankah kau yang mengajakku kemari untuk bertemu? Sedangkan aku mengatakan untuk besok kita bertemu di sebuah pesta, tetapi kau yang memaksaku untuk datang hari ini,” jawab Lucio berterus terang dengan jujur.
Mendengar jawaban yang dikatakan pria itu membuat raut wajah gadis kecil bernama Devania itu sedikit kecewa akan perkataan yang didengarnya saat ini. Raut wajah yang terlihat girang menjadi sedih. Namun Devania menutupinya dengan senyuman indah di wajahnya. “Because, i love you.” Perkataan itu keluar dengan sendirinya tanpa dia sadari. Tatapan kosong mengunci ke arah Lucio berada.
Lucio mendengar pernyataan itu membulatkan bola matanya penuh. Apa yang dikatakan bocah ini? Apakah mungkin gadis ini hanya berhalusinasi saja?
“Apa yang kau katakan?”
Devania menyadari apa yang baru saja keluar dari sudut bibirnya, dengan cepat wanita itu membungkam bibirnya. Raut wajahnya sedikit memerah merona, dia menahan malu akibat ulahnya yang keceplosan di hadapan Lucio. Dia pun mengutuk dirinya berulang kali. “A-aa anu, abaikan saja.” Dia menyengir lebar bak kuda yang menunjukkan barisan giginya yang rapih.
__ADS_1
“Kau sangat unik.” Lucio tersenyum miring. “Baru kali ini aku bertemu dengan bocah unik sepertimu, bagaimana bisa kau menyatakan cinta kepada pria yang baru berjumpa denganmu satu malam saja,” kekeh Lucio tertawa gemas melihat tingkah lucu Devania.
Tingkah konyol Devania berhasil mencairkan suasana keheningan, melihat Lucio kembali berbahagia membuat Devania ikut merasa bahagia. Meskipun dia harus menahan malu karena ulahnya sendiri, tetapi di sisi lain dia sangat merasa senang telah mengembalikkan senyuman yang hilang dari pria itu. Melihat Lucio tersenyum lepas tanpa beban adalah kebahagiaan tersendiri baginya.
Benar adanya bahwa melihat orang yang kita cintai berbahagia adalah suatu kebahagiaan tersendiri.
“Meskipun cintamu masih berlabuh kepada dia, akan kupastikan kau akan menjadi milikku selamanya, dia masa lalumu, dan aku masa depanmu, mendapatkanmu adalah prioritasku saat ini.” Devania membatin.
...****************...
Seorang pria dengan pakaian rapih tengah menikmati pemandangan indah di sebuah balkon di luar kamarnya, dia adalah seorang pria yang mencintai alam. Keindahan alam tak pernah berhenti menunjukkan pesonanya kepada siapa pun. Di tengah embusan angin di siang hari yang sedikit terik, dia menikmati secangkir jus apel. Begitu terasa menenangkan sekali. Pikiran yang tengah berkecamuk di dalam otaknya kian meredah.
Saat tiba-tiba melamun, seseorang menepuk pundaknya. Dave terkesiap, dan melihat siapa yang datang. Senyuman di wajah tampannya terhias ketika mengetahui siapa yang datang.
“Ada apa?” Dave tersenyum bertanya, lalu dia menarik tubuh ramping istrinya itu untuk duduk di pangkuannya.
Nayara tak dapat menolak apa yang dilakukan oleh Dave—suaminya, dia terduduk di atas pangkuan suaminya. Dia mendapatkan ciuman mesra dari suaminya mendarat di pipinya.
“Aku mencintaimu.” Dave berbisik di telinga Nayara. “Tetaplah bersamaku hingga akhir hayatku, Nay.”
__ADS_1
”Me to, Dave.” Nayara tersenyum manis, tangannya menggapai pipi suaminya, lalu dia ikut mendaratkan sebuah ciuman di sana. “Terima kasih telah hadir di hidupku, Dave. Terima kasih telah mengakhiri penderitaanku dari orang tuaku. Kau segalanya bagiku.” Nayara membatin menatapi bola mata suaminya dengan begitu dalam. “Entah sampai kapan aku bertahan di dunia ini, tetapi aku harap, detik terakhirku berada di sisimu.” Nayara lanjut membatin.
Nayara membuang wajahnya dari Dave, seketika dia teringat akan perkataan seorang Dokter Pribadinya dahulu, yang kini telah pergi entah ke mana. Beliau seperti disembunyikan di sebuah tempat oleh orang tuanya, tetapi Nayara tidak tahu pasti apakah benar atau tidak. Dia akan menyelidiki kasus hilangnya Dokter tersebut.
Dokter Maya, Dokter yang sangat berjasa di hidupnya, selalu membatunya disaat terpuruk dibuat oleh orang tuanya. Nayara hampir saja terbunuh disiksa oleh ayahnya, namun Dokter Maya menolongnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Dihancurkan fisiknya, dan mentalnya dihancurkan. Nayara adalah anak yang tidak pernah diinginkan oleh ayahnya, karena ayahnya tidak menginginkan anak perempuan. Bagi ayahnya, anak perempuan adalah anak yang tak pantas untuk dilahirkan, sebab mereka hanya menjadi sebuah beban tanpa bisa di andalkan menjadi penerus keluarga.
Nayara kerap kali hendak dibunuh, namun dia masih bertahan di dunia ini. Seakan dunia tidak mengizinkan Nayara untuk pergi.
Akan tetapi, penderitaan kanker otak yang dia alami sudah memasuki stadium akhir. Di mana dia hanya menunggu kapan dia akan pergi, penyakit ini telah dia derita, dan dia sembunyikan tanpa satupun orang yang tahu selain dirinya dan Dokter Maya.
Nayara selalu berharap bahwa dunia akan membiarkannya pergi dalam keadaan tenang dan damai. Dia ingin detik terakhirnya di habiskan bahagia bersama Dave, pria yang tanpa disengaja menyelamatkannya dari neraka dunia yang terus saja menyiksa dirinya kala itu.
“Bisakah aku meminta untuk lebih lama hidup bersama di sisimu, Dave? Aku ingin kita memiliki seorang putri yang akan menemanimu disaat aku telah pergi nanti, setidaknya kau tidak akan lupa bahwa aku pernah hidup bersamamu sebelum kau akan menggantikan posisiku kepada wanita lain yang akan menjadi istrimu kelak.” Nayara membatin. Dia tanpa berkedip menatap wajah tampan Dave Brawster. Pria yang sangat manis dan begitu sempurna di mata Nayara.
“Jika ini takdir yang telah tertulis, maka aku iklash untuk menjalaninya, Dave.”
Bersambung ....
__ADS_1